Home » Gagasan » Islam Liberal » Bolehkah Muslim Mempelajari Kitab Suci Agama Lain?
Istana Alhambra, lambang kosmopolitanisme Islam klasik.
Istana Alhambra, lambang kosmopolitanisme Islam klasik.

Bolehkah Muslim Mempelajari Kitab Suci Agama Lain?

4.43/5 (7)

IslamLib – Ada banyak tanggapan menarik terhadap esei saya tentang definisi murtad. Seorang pembaca mengisahkan pengalaman traumatik. Puteranya meninggal. Ia sedih, tentu saja. Ia lalu berkenalan, dan pelan-pelan mempelajari Buddhisme. Dan ia menemukan ketenangan di sana.

Ia, saya kutipkan secara harafiah pengakuannya di sini, “malah menemukan cahaya kebijaksanaan hidup dalam ajaran dhamma budhis, dan itu mampu membantu[nya] lebih bisa memahami ajaran-ajaran akhlak luhur Rasul Muhammad, dan berlaku lurus dalam hidup.”

Tapi ia was-was: Apakah saya murtad? Apakah saya masih Muslim? Ini pertanyaan yang sah dan masuk akal. Mari kita telaah.

Islam adalah agama kosmopolitan dan universal. Kosmopolitan dalam pengertian ia agama dengan wawasan “kota dunia”. Seorang kosmopolit mudah bergaul dengan pelbagai budaya. Ia mampu membebaskan dari provinsialisme, sikap tertutup ala katak dalam tempurung.

Dengan baik sekali, kosmpolitanisme Islam ditunjukkan oleh pengalaman sejarah pada era Abbasiyah, sebuah empayar Muslim yang berkuasa hampir sepanjang delapan abad (8-16 M). Jenius peradaban Islam lahir di sana. Di era itulah peradaban Islam lahir dengan menerima secara terbuka elemen-elemen peradaban lain: Yunani, Persia, India, dll.

Peradaban Islam lahir di Baghdad, ibu kota empayar Abbasiyah,  seperti sebuah “melting pot”. Ia seperti panci yang menampung banyak ragam peradaban dari pelbagai penjuru. Peradaban Yunani paling besar sumbangannya dalam formasi peradaban Islam klasik ini.

Karya-karya filsafat dan medis dari orang-orang bijak Yunani (hukama’) dengan penuh antusiasme diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Buku Prof. Dimitri Gutas Greek Thought, Arabic Culture (1998) mengurai dengan baik pengaruh peradaban Yunani terhadap peradaban Islam klasik.

Islam adalah universal dalam pengertian ia bukan agama yang provinsialistik. Ia agama yang watak ajarannya bisa menyesuaikan diri dengan segala tempat dan zaman. Islam memang lahir di Arab. Tetapi ia bukan agama Arab. Ada unsur-unsur Arab dalam dirinya. Tapi itu bukan elemen esensial. Yang Arab dalam Islam bisa kita buang jika tak relevan dengan zaman sekarang. Yang relevan, tetap bisa kita pakai.

Watak Islam yang kosmopolit dan universal inilah yang memungkinkah lahirnya peradaban besar di masa lampau. Ciri-ciri kosmopolitanisme: cara berpikir yang terbuka, mudah bergaul dengan kebudayaan dan peradaban manapun, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beragam (adaptability), dan pluralistik.

Semua peradaban besar, entah di masa lampau atau masa kini, punya ciri yang kurang lebih sama: kosmopolitanisme. Roh yang berjaya di sana bukan puritanisme, tetapi kesediaan diri untuk menerima “yang lain” (QS 49:13). Bukan menutup diri terhadap hal-hal yang baru, tetapi terbuka.

Ada sebuah hadis menarik riwayat Abu Hurairah: Al-Kalimah al-hikmah dlallat al-mu’min, fa-haithu wajadaha fa-huwa ahaqqu ‘l-nas biha. Kebijaksanaan (hikmah) adalah barang hilang milik seorang mukmin. Di manapun ia menjumpainya, ia paling berhak dari siapapun atas barang itu.

Saya tahu, ini hadis lemah. Tapi maknanya benar. Maknanya sangat mendalam, penuh kebijakan. Apa artinya sebuah hadis sahih tapi maknanya berlawanan dengan akal sehat? Lebih baik hadis lemah tapi maknanya bagus, mendalam, dan sesuai dengan ajaran universal (golden rule).

Dengan watak Islam yang kosmopolit ini, kita bisa menjawab kegundahan pembaca esei saya tadi. Apakah ia murtad dengan mempelajari ajaran Buddha? Saya mengatakan: Tidak. Ia tidak murtad. Ia telah menjalankan ajaran Islam sebagaimana tercermin dalam hadis di atas. Ia telah menerapkan asas kosmpolitanisme Islam.

Saya sendiri suka membaca sejumlah Kitab Suci agama lain. Usai membaca Quran tiap pagi, saya kerap meneruskannya dengan membaca Perjanjian Lama (PL) atau Perjanjian Baru (PB). Bagian yang paling saya suka dalam PL adalah Kitab Amsal. Inilah kitab yang indah, sarat dengan pasemon (amsal) yang menggugah.

Sementara bagian PB yang selalu memukau saya adalah Khutbah di Bukit (Sermo in Monte) dalam Injil Matius. Apa yang kita baca di sana adalah semacam upaya menafsir ulang secara radikal dan mistis hukum Torah (hukum Musa). Di sana saya menjumpai ajaran tasawwuf yang tak beda jauh dengan ajaran sufisme Islam.

Saya memandang agama seperti taman bunga yang terhampar luas. Bunga warna-warni tumbuh mekar di sana. Semuanya indah. Masing-masing bunga memiliki keindahan yang khas pada dirinya. Kita tak bisa mengatakan bunga lili lebih indah dari bunga mawar. Tiap bunga indah dengan caranya masing-masing. Tiap agama adalah indah dan benar dengan caranya sendiri-sendiri.

Seorang yang datang ke taman bunga “agama-agama” bisa belajar tentang keindahan pelbagai ragam bunga. Ia bisa saja jatuh cinta pada satu jenis bunga, misalnya anggrek. Tapi itu tak menghalanginya untuk menikmati keindahan bunga-bunga yang lain.

Seorang Muslim bisa tetap menjadi seorang pemeluk iman yang teguh (true believer), seraya menikmati keindahan “bunga” agama-agama yang lain. Dia bisa memetik keindahan dan “kebenaran” dari bunga yang warni-warni untuk memperkaya wawasan spiritualitasnya sendiri.

Seorang Muslim yang belajar tentang kebijaksanaan Buddha tidak membuatnya menjadi seorang Buddhis. Ia malahan memperkaya wawasan spiritualitasnya dengan menelaah sumber-sumber ajaran moral dari berbagai tradisi. Kemuslimannya justru diperkaya dengan tindakan “melintas” (passing over) semacam itu. Kemuslimannya menjadi lebih berkualitas dan meluas. Wallahu a’lam bissawab.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.