Home » Gagasan » Islam Liberal » Sisi Liberal Abu Zayd
Abu Zayd (kedua dari kanan) bersama Gus Mus (Foto: libforall.org)
Abu Zayd (kedua dari kanan) bersama Gus Mus (Foto: libforall.org)

Sisi Liberal Abu Zayd

4/5 (1)

Ada beberapa sisi kecil kehidupan Nasr Hamid Abu Zayd yang dapat kita tangkap ketika pemikir asal Mesir yang hidup dalam pengungsian di Belanda itu berada di Indonesia selama dua pekan kemarin (akhir Agustus-pertengahan September). Sebelum berdiskusi tentang Liberalisme dan Antiliberalisme dalam Diskursus Islam Modern di Teater Utan Kayu, Abu Zayd sempat minta ke kamar kecil untuk sekedar “membuang bensin”.

Waktu itu, Ulil Abshar-Abdalla menawarkan toilet yang lebih layak untuk cendikiawan sekaliber Abu Zayd, saat dia nyaris masuk ke toilet umum. Abu Zayd tapi menampik: “I am going to the public toilet!” Tanpa sungkan, dia nyelonong ke toilet umum, berlomba dengan para peserta diskusi yang sedang antri dengan hajat yang sama.

Bagi saya, sikap Abu Zayd yang tidak mau diperlakukan istimewa itu, sekalipun dia layak mendapatkannya, cukup punya makna. Selain tidak terlalu suka diperlakuan khusus (begitulah mestinya pemikir sejati) Abu Zayd juga termasuk pemikir Arab yang tidak sekedar mencari kontroversi, sangat bersahaja, dan cukup berempati dengan masyarakat dan tradisi non-Arab.

Abu Zayd misalnya, tidak sungkan-sungkan malahap tempe-tahu; menu yang kebetulan masih tersisa di Kedai Tempo menjelang diskusi. Dalam diskusi informal maupun formal, Abu Zayd sangat apresiatif terhadap teman bicaranya, dan selalu antusias mendengarkan pandangan kita tentang banyak hal.

Pendek kata, ketika bertukar pendapat tentang wacana keagamaan dengan kita-kita yang berada jauh dari “jantung Islam” ini, kesan tentang superioritas Arab yang umum terjadi, sudah jauh dari kepribadian Abu Zayd.

Di atas semua itu, yang paling menarik dari kisah Abu Zayd adalah etos liberalnya yang sudah tertanam sangat dini sejak level keluarga. Dalam forum diskusi, Abu Zayd banyak bercerita tentang liberalisme pemikiran sebagaimana yang dia alami.

Sejak usia 14 tahun, Abu Zayd sudah merasa dibebani tanggung jawab sebagai kepala keluarga, berhubung ayahnya meninggal muda. Ibunya lalu menjadi single-parent yang bertarung dengan kehidupan demi mebesarkan anak-anaknya di sebuah kota kecil Thanta, di Mesir.

Dari pengalaman ibunya, Abu Zayd tahu bahwa ayat arrijâl qawwâmun `alan nisâ yang selalu disitir untuk menegaskan budaya patriarkhi, sudah kehilangan konteksnya. “Bagaimana bisa ibu saya diremehkan kemampuannya karena dia perempuan. Dia lebih kuat dari sepuluh laki-laki sekalipun!” tegas Abu Zayd.

Dari pengalaman keluarga Abu Zayd, teks Alqur’an yang normatif itu tidak lagi mendapatkan konteks yang empiris. Dari sini pula kita sedikit banyak bisa memahami penegasan Abu Zayd yang berulang-ulang tentang pentingnya konteks dalam kegiatan menafsirkan Alqur’an.

Kisah lain Abu Zayd menegaskan semangat liberal pada dirinya. Ketika adik perempuannya yang masih berusia 17 dilamar seorang pemuda kaya, Abu Zayd yang berusaha memosisikan dirinya sebagai “kepala keluarga”, menolak mentah-mentah. Alasannya sederhana: adiknya masih belia dan belum lagi merampungkan studi.

Intuisi Abu Zayd berkata, adiknya kelak potensial menjadi sosok yang subordinat dalam rumah tangga, terlebih ketika diperisteri seorang yang berpunya. Pola hubungan tidak seimbang antara adiknya yang masih hijau dengan suaminya yang kaya raya mungkin saja terjadi.

Dalam batin Abu Zayd, pada kali pertama adiknya memang akan menjadi isteri. Tapi selanjutnya—atas pertimbangan kuatnya budaya patriarkhi dalam masyarakat Mesir—dia mungkin saja akan menjadi “jongos” di dalam institusi rumah tangga.

Abu Zayd mengabaikan calon ipar yang kaya demi memperjuangkan pola hubungan yang seimbang bagi adiknya; sebuah upaya liberalisasi sejak level yang paling mikro. Perkawinan mereka ditunda tujuh tahun, hingga adiknya tamat kuliah dan punya penghasilan sendiri. Kisah itu berakhir happy-ending, karena si pemuda rupanya setia menunggu.

Kisah-kisah tadi menegaskan bahwa Abu Zayd benar-benar telah mengupayakan liberalisisasi sejak dalam pikiran dan cara bertindak. Tanpa segan, dia menentang kultur yang cenderung tidak membebaskan. Bagi Abu Zayd, menjadi liberal harus bermula dari level yang paling mikro: lingkungan keluarga.

Tentu dia berharap akan iklim liberal pada level yang lebih makro. Ia memang sempat mengecap pengalaman pahit saat dikafirkan dan diharuskan bercerai dari di tanah kehalihirannya di Mesir. Namun Abu Zayd dan istri tercinta menegaskan dirinya tetap muslim, dan hijrah ke Leiden untuk mengajar di sana sejak 1996.

Kebebasan politik pada level negara sunguh sangat dia damba. Namun demikian, dia tidak terlampau terobsesi dengan hal-hal sebesar itu. Buktinya, kebebasannya dalam berpikir mendapat sokongan pemerintah. Dia juga ditawarkan proteksi keamanan diri oleh rezim Mubarak dari teror kaum fundamentalis.

Tapi bagi Abu Zayd, hidup dalam proteksi rezim tidak demokratis, tidak lebih nikmat daripada hidup dalam kultur kebebasan, sekalipun secara exile. Pada akhirnya, etos liberal yang benar-benar sejati, kita temukan pada sosok Abu Zayd, sekalipun dalam perjumpaan yang sekilas.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.