Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Islam Liberal » Tentang Asal-Usul dan Mengapa “Islam Liberal”

Tentang Asal-Usul dan Mengapa “Islam Liberal”

3.5/5 (2)

Berdasarkan kriteria liberalisme itu, siapa saja –terlepas ia berada di mana dalam taksonomi lama– bisa masuk dalam barisan “Islam Liberal,” selama mereka memiliki state of mind yang jelas terhadap enam kriteria di atas. Para intelektual itu, bisa seorang akademisi (Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun), ulama (Ali Abd al-Raziq, Mahmud Taleqani, Yusuf Qardhawi), aktivis (Chandra Muzaffar, Fatima Mernissi), ahli ekonomi (Jomo K.S, Timur Kuran), maupun politisi (Muhammad Natsir, Benazir Bhutto).

Karena itu, saya melihat tidak tepat agaknya mempertentangkan “Islam Liberal” dengan taksonomi lama (tradisionalis, modernis, revivalis) atau yang baru (neomodernis, posmodernis, atau apapun namanya). Karena gagasan “Islam Liberal” itu sesungguhnya merupakan kombinasi dari unsur-unsur liberal yang ada dalam kelompok-kelompok pemikiran modern itu.

Konservatisme dan Fundamentalisme

Jika Islam Liberal tak bisa dipertentangkan dengan kelompok-kelompok dalam taksonomi (model) lama, maka apakah yang menjadi “musuh” utama kelompok ini? Dalam kaitannya dengan pembaruan pemikiran keagamaan, saya melihat ada dua “musuh” utama Islam Liberal.

Pertama, konservatisme yang merupakan musuh historis yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya.[4]

Konservatisme telah lama dianggap sebagai “ideologi” yang bertanggung-jawab terhadap kemunduran dan keterbelakangan kaum muslim. Pandangan-pandangan konservatif selalu dianggap berbahaya karena ia bertentangan dengan semangat pembaruan dan kemajuan.

Sejak gerakan kebangkitan Islam muncul di Mesir pada awal abad ke-19, konservatisme menjadi target utama para pembaru muslim. Tokoh-tokoh seperti Rifa’at Rafi’ al-Thahtawi, Muhammad Abduh, dan Ali Abd al-Raziq, baik secara radikal maupun perlahan-lahan mengikis ajaran-ajaran konservatif.

Begitu juga, tokoh-tokoh dari generasi selanjutnya, termasuk generasi pasca-67,[5] semacam Hassan Hanafi di Mesir, Tayyib Tizzini di Suriah, dan Mohammed Abed al-Jabiri di Maroko, mendeklarasikan perang yang sama terhadap konservatisme.

Begitu juga dengan fundamentalisme yang dianggap sebagai “ideologi” berbahaya bagi pluralitas dan inklusivitas Islam. Islam Liberal melihat fundamentalisme sebagai penyimpangan terhadap ajaran-ajaran Islam, khususnya tentang kedamaian (salam) dan keberagaman (syu’ub wa qabail).

“Ideologi” ini menolak pluralitas karena menganggap “kebenaran” hanya satu, yaitu kebenaran dirinya sendiri. Dalam bentuknya yang ekstrim, kelompok-kelompok fundamentalis tak jarang memaksakan keinginan mereka dengan cara-cara kekerasan. Tentu saja, Islam model ini, bagi para pemikir liberal, adalah sebuah versi Islam yang salah tafsir.

Kita bisa melihat sikap-sikap konservatif dan fundamentalis dengan menggunakan enam kriteria yang dijadikan parameter oleh Kurzman. Dalam bidang politik misalnya, kaum konservatif cenderung tak mau tahu atau tak pernah tegas dengan pilihan bentuk negara.

Ketidaktegasan atau ketidakmautahuan ini kembali kepada sikap keberagamaan mereka yang tidak terbuka dan cenderung protektif terhadap isu-isu perubahan. Sementara kaum fundamentalis, dalam persoalan ini, sering kali bersifat ahistoris, karena mengambil model negara yang tak pernah memiliki preseden dalam sejarah Islam sendiri.

Sementara bagi para intelektual liberal, persoalan politik adalah persoalan pendapat (ijtihad) manusia yang harus sepenuhnya disikapi secara manusiawi. Mereka menolak gagasan negara teokrasi atau pemerintahan Tuhan, semata-mata karena Islam pada dasarnya tidak menekankan ideologi negara, tapi lebih pada penciptaan masyarakat yang adil dan makmur.[6]

Sebagai media (washilah) untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur tersebut, bentuk negara sepenuhnya diserahkan kepada manusia, tak jadi soal apakah bentuknya republik, sosialis, demokratis, atau sistem-sistem lain yang memungkinkan tujuan (ghayah) itu tercapai.

Para intelektual liberal, sejak awal kebangkitan, telah menuntaskan persoalan ini dengan menyatakan bahwa bentuk negara adalah sesuatu yang didiamkan oleh syariah (silent sharia). Karena didiamkan, maka menjadi hak dan tugas manusialah untuk mencarikan bentuknya. Di antara intelektual yang berbicara tentang masalah ini adalah Ali Abd al-Raziq[7] di masa silam atau Nurcholish Madjid[8] di masa sekarang.

Dalam persoalan menyangkut hak-hak kaum perempuan, pandangan konservatisme mendukung sikap fundamentalisme. Kaum perempuan selalu dipandang sebagai makhluk nomor dua yang tak banyak bisa diandalkan.

Kalangan konservatif dan sebagian besar kaum fundamentalis menganggap perempuan hanya separuh harga laki-laki, baik dalam hal ekonomi (warisan), hukum (kesaksian), politik (tak boleh jadi pemimpin), dan hak-hak individu (harus selalu lewat laki-laki).

Kendati banyak sekali ajaran-ajaran Islam yang secara eksplisit maupun implisit menghormati kedudukan kaum perempuan, kaum konservatif dan fundamentalis agaknya lebih suka meletakkan kaum wanita di belakang kaum laki-laki, baik dalam pengertiannya yang harafiah maupun takwiliyah.

Bagi intelektual liberal, seperti yang bisa dilihat pada figur-figur semacam Qassim Amin (Mesir), Fatima Mernissi (Maroko), Amina Wadud Muhsin (Amerika Serikat), dan Muhammad Shahrour (Suriah), persoalan hak-hak kaum perempuan harus dilihat dari kacamata yang lebih luas dan “obyektif.”

Doktrin-doktrin awal Islam yang cenderung memojokkan kaum perempuan harus dilihat dalam konteks dan lokalitas khusus. Karena itu, penafsiran terhadap syariah (interpreted sharia) menjadi penting, demi untuk menyelaraskan prinsip-prinsip Islam paling mendasar tentang kaum perempuan dengan konteks sosio-historis doktrin-doktrin Islam tentang perempuan.

Persoalan yang berkaitan dengan hak-hak non-muslim menjadi tolok ukur lainnya yang membedakan antara pemikiran liberal dengan pemikiran konservatif dan fundamentalis. Jika kaum konservatif dan fundamentalis melihat persoalan ini lewat teologi lama dengan meletakkan kaum non-Islam sebagai kelas dua (dzimmi, harbi, dll), Islam Liberal melihatnya sebagai bagian dari komunitas (ummah) yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Agama adalah sarana bagi orang-orang beriman untuk memperbaiki kualitas moral mereka, bukan untuk saling memusuhi dan meniadakan. Alquran, seperti diyakini orang-orang liberal, adalah kitab suci yang sangat menghargai kaum beriman dan menempatkan mereka di tempat yang tinggi (lihat dan bandingkan ayat-ayat berikut: 2:62, 3:64, 5:66, 5:69, 49:10-13). Karena itulah, Alquran juga mengajak kaum beriman untuk mencari kesamaan-kesamaan (kalimat sawa) di antara mereka sebagai makhluk Tuhan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.