Home » Gagasan » Islam Liberal » Tentang Asal-Usul dan Mengapa “Islam Liberal”

Tentang Asal-Usul dan Mengapa “Islam Liberal”

3.5/5 (2)

Para pemikir liberal seperti Farid Esack (Afrika Selatan), Asghar Ali Engineer (India), Hassan Hanafi (Mesir), dan Djohan Effendi (Indonesia), meyakini bahwa hubungan antar-agama pada dasarnya adalah hubungan dialogis dan bukan hubungan konfrontatif. Agama adalah persoalan keyakinan yang tidak bisa dipaksakan kepada seseorang.

Keimanan adalah masalah “hidayah” yang tak boleh dipaksakan. Karena itu, bagi Djohan Effendi, kita dituntut untuk bersikap toleran, bukan hanya kepada pemeluk agama lain, tapi juga kepada orang yang tidak meyakini agama.[9] Alasannya sederhana, selain Islam mengajarkan kita bahwa “hidayah” Tuhan tak bisa dipaksakan kedatangannya, beragama dengan cara pemaksaan hanya akan memunculkan hipokrasi dan kemunafikan, sebuah sikap yang sangat dikecam Islam.

Dalam masalah kebebasan berpikir atau kebebasan berpendapat sikap Islam Liberal jauh lebih tegas ketimbang sikap kalangan konservatif yang cenderung inaktif dan sikap kalangan fundamentalis yang cenderung rejektif. Bagi intelektual liberal, seperti Abdul Karim Soroush (Iran), Shabbir Akhtar (Pakistan), dan Abdullahi Ahmad an-Naim (Sudan), kebebasan berpendapat adalah bagian dari wilayah ijtihad yang selama berabad-abad –oleh ulama konservatif– ditutup.

Para intelektual liberal itu meyakini, pintu ijtihad tak pernah ditutup dan kalaupun pernah ditutup, maka ia harus dibuka. Syarat-syarat klasik yang biasanya menjadi kualifikasi terberat dalam melakukan ijtihad sudah seharusnya ditinjau ulang. Karena, syarat-syarat itu, selain tidak masuk akal, hanya akan membatasi kemajuan kaum muslim.

Argumen utama kaum liberal adalah bahwa manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan bebas. Dan kebabasan adalah anugerah terpenting yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kebabasan berpendapat, selain itu, juga merupakan hak individu yang tak seorangpun berhak mencegahnya.

Bahkan, dalam sebuah ayat Alquran, Tuhan pun tak mampu mencegah makhluknya untuk berpendapat (QS. 2:30). Kebebasan berpikir adalah bagian dari syarat kemajuan sebuah masyarakat. Masyarakat yang terkekang dan tak boleh mengemukakan pendapatnya, adalah masyarakat mandek yang tak memiliki masa depan.

Parameter terakhir yang membedakan antara pemikiran konservatif atau fundamentalis dengan pemikiran liberal adalah penyikapan terhadap progresifitas dan kemajuan. Jika Islam konservatif bersikap sangat pasif dan bahkan cenderung defensif terhadap perubahan, Islam Liberal berusaha untuk selalu melihat perubahan sebagai bagian dari dinamika untuk meraih kemajuan dan perbaikan hidup. Karenanya, alih-alih berorientasi ke masa silam seperti yang dilakukan oleh kaum konservatif dan fundamentalis, Islam Liberal mengarahkan orientasinya ke masa depan.

Para pemikir liberal semacam Mahmud Mohamed Taha (Sudan), Fazlur Rahman (Pakistan), dan Mohamed Arkoun (Aljazair) menganggap progresifitas sebagai bagian tak terpisah dari Islam. Arkoun bahkan menganggap Islam sebagai modernitas itu sendiri.

Prinsip progresifitas inilah yang mengilhami Mahmud Taha untuk mengambil hanya ayat-ayat Makkiyah (diturunkan di Mekah) yang universal, ketimbang ayat-ayat Madaniyah (diturunkan di Madinah) yang lokal dan temporal. Ayat-ayat Madaniyah, menurut Mahmud Taha, bisa menghambat progresifitas kaum muslim jika tidak dipahami dalam konteks ruang-waktu di mana ayat-ayat itu diturunkan.

Penutup. Sebagai sebuah pemikiran, Islam Liberal sesungguhnya bukanlah fenomena baru. Ia telah ada sejak gagasan kebangkitan dan pembaruan pemikiran Islam muncul pada awal abad ke-19. Penamaan “Islam Liberal” yang baru beberapa tahun belakangan populer, hanyalah merupakan reinkarnasi dari istilah yang pernah digunakan baik secara eksplisit maupun implisit oleh penulis-penulis sebelum Kurzman, seperti Albert Hourani dan Asaf Ali Asghar Fyzee.[10]

Penggunaan kembali istilah “Islam Liberal” sesungguhnya merupakan upaya untuk mengembalikan semangat kebangkitan (nahdhah) pemikiran Islam yang sejak satu abad silam telah dibajak oleh konservatisme dan fundamentalisme agama.

Bagaimanapun, istilah “Islam Liberal” hanyalah tatakata (nomenklatur) sekadar untuk memudahkan kita merujuk sebuah gagasan atau gerakan yang memiliki cita-cita untuk membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan kejumudan, satu hal yang sesungguhnya merupakan raison d’etre kebangkitan Islam sejak dua ratus tahun silam.

 

Catatan Kaki

 

* Disampaikan dalam seminar sehari Mendialogkan Post-Tradisionalisme Islam dan Islam Liberal dalam Gairah baru Pemikiran Islam di Indonesia, di Hotel Wisata, Jakarta. Rabu, 14 November 2001.

[1] Hourani, Albert (1983); Arabic Thought in the Liberal Age 1798-1939.Cambridge University Press.

[2] Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.

[3] Lihat misalnya Issa J. Boullata. Trends and Issues in Contemporary Arab Thought. SUNY 1990. hal. x.

[4] Tak bisa dipungkiri, ada banyak persoalan yang harus disikapi Islam Liberal, dari masalah ekonomi, politik, hingga masalah-masalah sosial lainnya. Dengan menyebut konservatisme dan fundamentalisme, saya hanya ingin menunjukkan kunci persoalan yang dihadapi umat Islam modern, karena dua “ideologi” ini sering dianggap sebagai sebab utama yang mempengaruhi sikap keberagamaan –yang selanjutnya mendorong sikap-sikap sosial-politik—umat Islam.

[5] Pemikiran Arab modern secara longgar kerap dibagi menjadi dua fase: masa kebangkitan dan formasi yang berakhir hingga tahun 60-an, dan masa revitalisasi dan pematangan yang bermula sejak kekalahan bangsa Arab dari Israel pada perang enam hari tahun (1967) hingga sekarang.

[6] Charles Kurzman, Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global. Paramadina, 2001, hal. Xliv.

[7] Lihat karya monumentalnya al-Islam wa Ushul al-Hukm: Ba’ts fi al-Khilafah wa al-Hukumah fi al-Islam (Islam dan dasar-dasar pemerintahan: Kajian tentang khilafah dan pemerintahan dalam Islam). Cetakan pertama, Cairo, 1342/1925.

[8] Lihat misalnya surat-surat Nurcholish Madjid dengan Mohamad Roem yang telah dibukukan, Tidak Ada Negara Islam: Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid-Mohamad Roem, Jakarta Penerbit Djambatan, 1997.

[9] Lihat wawancara selengkapnya dengan Djohan Effendi “Harus Ada Kebabasan Untuk Tidak Beragama” di website Islam Liberal.

[10] A.A.A Fyzee menggunakan istilah “Islam Liberal” secara eksplisit dalam bukunya A Modern Approach to Islam. London: Asia Pub. House, 1963.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.