Home » Gagasan » Islam Liberal » Tentang “Hate Speech”
hate speech

Tentang “Hate Speech”

4.48/5 (46)

IslamLib – Akhir-akhir ini pembicaraan tentang “hate speech” tengah berlangsung hangat di tengah-tengah publik. Salah satu pemicunya adalah surat edaran Kapolri yang diperuntukkan untuk kalangan internah kepolisian dan berisi perintah untuk menindak tegas setiap tindakan yang bisa dikategorikan sebagai “hate speech”.

Pengertian sederhana mengenai hate speech ialah segala bentuk ujaran yang mengandung kebencian. Contoh yang gampang disebut ialah rasialisme, provokasi untuk menyerang sebuah kelompok (terutama secara fisik seperti membunuh), menjadikan kelompok sosial tertentu sebagai sasaran kebencian secara sistematis, dsb.

Ujaran yang mengandung kebencian jelas tidak bisa diterima dalam masyarakat yang beradab, dan karena itu negara, melalui aparat penegak hukumnya, harus turut campur untuk mencegahnya. Meskipun perkara ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pengertian mengenai hate speech seperti saya sebut di atas memang tampak sederhana. Tetapi di lapangan, kerap kali kita jumpai kasus yang berada di wilayah abu-abu. Saya akan berikan beberapa contoh di bawah ini.

Akhir-akhir ini, kita dihadapkan kepada fenomena merebaknya kelompok-kelompok keagamaan yang memiliki pemahaman yang keras/radikal. Sebagian dari kelompok itu malahan mengampanyekan kebencian kepada glongan lain memiliki paham yang berbeda. Sebagian dari mereka ada juga yang menolak ideologi negara, dan menganggap tindakan hormat pada simbol-simbol negara sebagai sebentuk kekufuran (tindakan yang membangkang Tuhan).

Jika kita melakukan kampanye secara terus-menerus agar mewaspadai kelompok semacam ini, apakah ini masuk dalam kategori “hate speech”? Apakah kewaspadaan kepada kelompok yang mengobarkan intoleransi di tengah-tengah masyarakat bisa kita masukkan dalam ujaran kebencian?

Yang lebih mendasar lagi: Apakah kritik terhadap suatu kelompok karena pemahaman keagamaannya yang kurang tepat bisa kita masukkan dalam tindakan “hate speech”? Atau lebih jauh lagi, apakah mengkritik gagasan seseorang sama saja dengan membenci orang itu? Apakah kritik atas suatu ide sama dengan intoleransi?

Jawaban atas pertanyaan semacam ini memang tak mudah. Sebagai bottom-line dan pegangan dasar, saya ingin mengemukakan kaidah pokok yang saya anggap tepat: toleransi bukan berarti toleransi terhadap intoleransi. Menoleransi intoleransi sama saja dengan melakukan bunuh diri sistem. Toleransi tentu ada batasnya, sebagaimamana kebebasan juga ada batasnya.

Batas kebebasan ialah kebebasan orang lain. Sementara itu, batas toleransi, menurut saya, adalah intoleransi. Kita bisa menoleransi dan menenggang apa saja, kecuali satu hal: yaitu intoleransi itu sendiri. Mengatakan bahwa kita harus menoleransi pandangan orang yang intoleran sama saja dengan mengatakan bahwa kebebasan berarti mencakup kebebasan untuk mencuri hak milik orang lain. Tentu tak ada orang yang begitu bodohnya sehingga beranggapan bahwa jika kita bebas, maka kita bebas untuk melakukan apa saja, termasuk memukul orang lain.

Sebagian kelompok koservatif sudah mulai men-“twist” atau memlintir isu “hate speech” ini, seperti saya baca dari sejumlah opini yang berkembang di media sosial. Mereka mencoba memperluas cakupan hate speech itu sehingga meliputi tindakan mengkritik pandangan seseorang tentang agama. Jadi, menurut mereka, jika kita tak setuju dengan tafsiran seseorantg tentang suatu doktrin dalam agama, dan menyampaikannya secara publik, itu masuk dalam tindakan hate speech yang bisa dikriminalisasikan.

Menurut saya, kritik atas suatu gagasan, sekeras apapun, tidak bisa dikategorikan sebagai hate speech. Jika kritik dan kontra-kritik kita masukkan dalam kategori hate speech, maka ini jelas akan mematikan kebebasan berpendapat dan berpikir dalam masyarakat.

Ini sesuai dengan tujuan golongan konservatif pada umumnya: mereka memang cenderung tak menyukai pertukaran pendapat secara terbuka, kritik dan kontra-kritik. Mereka umumnya menginginkan agar di runag publik hanya berkuasa satu pendapat saja, yakni pendapat mereka yang dianggap mewakili kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan. Pandangan-pandangan yang berbeda harus disingkirkan, antara lain dengan diberikan sebutan sebagai penodaan atas agama. Seolah-oleh pendapat seseorang/golongan tentang agama sama dengan agama itu sendiri.

Setelah reformasi ini, kita memang menyaksikan perkembangan yang begitu hidup dan beragam dalam masyarakat Islam, sebagia akibat dari pengaruh global, sebagian yang lain dikarenakan oleh dinamika internal sendiri. Salah satu perkembangan itu ditandai dengan munculnya gagasan-gagasan keagamaan yang ekstrim dengan ciri-ciri mudah melakukan penyesatan, pengkafiran, dan demonisasi (pengiblisan) kelompok-kelompok yang berbeda.

Salah satu dari kecenderungan demonisasi itu tergambar dalam ucapan-ucapan yang bernada kebencian kepada suatu kelompok, bukan sekedar kritik. Sekali lagi, kita harus bedakan antara kritik dan kebencian. Kritik adalah tindakan yang sah, sementara ujaran kebencian tak bisa diterima. Kebencian dengan sendirinya bermakna intoleransi. Maraknya kebencian sama saja dengan maraknya intoleransi.

Salah satu alasan kenapa kita harus mencegah ujaran kebencian persis terletak di titik yang baru saya sebut itu. Kebencian sama saja dengan intoleransi. Kita tak hendak membangun masyarakat yang intoleran. Yang kita hendak tegakkan di negeri ini ialah masyarakat yang toleran, sesuai dengan semangat bhinneka tunggal ika. Ujaran kebencian jelas-jelas berlawanan dengan falsafah politik negeri kita ini, dan karena itu harus dicegah.

Tetapi, kita haruslah hati-hati. Kebencian harus dibedakan secara kategoris dari sekedar berpendapat atau mengkritik pendapat orang lain. Jika seorang anggota Ahmadiyah memiliki pendapat yang beda mengenai Islam, meskipun itu dianggap “sesat” oleh kelompok yang ada di seberangnya, orang itu tidak bisa kita sebut memproduksi ujaran kebencian. Sebab berpendapat secara berbeda bukan berarti kebencian.

Kebencian juga harus dipisahkan secara tegas dari perasaan suatu golongan. Jika ada golongan tertentu merasa sakit hati karena pendapat golongan lain yang berbeda pendapat, itu bukan pertanda bahwa golongan yang berpendapat itu telah melakukan tindakan “hate speech”.

Menganggap seseorang telah melakukan hate speech hanya gara-gara pendapatnya telah menyakiti kita, sama saja dengan memperkarakan seseorang yang memiliki sepeda motor baru, karena itu telah melukai perasaan kita. Jika ada seseorang terluka perasaannya karena tetangganya memiliki kendaraan baru, yang salah bukan si pemilik kendaraan, melainkan orang itu sendiri.

Isu “hate speech” ini memang bisa diplintir secara kurang proporsional, apalagi di tengah-tengah maraknya konservatisme keagamaan akhir-akhir ini. Karena itu, diskusi mengenai isu ini harus dilakukan dengan sikap “vigilant”, awas.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.