Home » Gagasan » Islam Liberal » Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal

Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal

4.2/5 (5)

Ibadah sebagai “I-Thou

Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan.

Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia.

Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak ada pemahaman yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecuali pemahaman seperti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno.

Saya melihat, pandangan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam adalah Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan.

Ini jelas suatu citraan manusia yang tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang setuju dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yang negatif dalam sejumlah hal.

Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek.

Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan “I-it“, “aku-dan-dia”. Allah, dalam kerangka penyembahan semacam itu, telah “dibendakan”.

Allah yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu.

Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou“, aku-Engkau. Agama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif.

Penyembahan pada Tuhan tidak mempunyai makna apa-apa jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayyanar rushdu minal ghayy“, telah jelas jalan kebaikan dan kesesatan.

Fa man sya’a fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur’an dan Hadis.

Tetapi, proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan.

Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggunya saya hendak menegaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri.

Dan sebaiknya kata liberal dalam “Islam liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam akal manusia itu sendiri.

Dengan menekankan kembali dimensi kebebasan manusia, dan menempatkan manusia pada fokus penghayatan keagamaan, maka kita telah memulihkan kembali integritas wahyu dan Islam itu sendiri.

Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.