Home » Gagasan » Islam Liberal » Tiga Jenis Kajian Islam di Indonesia
(Photo: Danial Chitnis)
(Photo: Danial Chitnis)

Tiga Jenis Kajian Islam di Indonesia

4.71/5 (31)

IslamLib – Keragaman jenis kajian Islam (atau yang dalam konteks modern sering disebut “dirasat Islamiyyah”, Islamic studies) adalah hal yang sangat positif. Yang tidak sehat adalah manakala Islam, baik sebagai agama atau praktek sosial, hanya dikaji dengan satu jenis pendekatan kajian saja. Kajian Islam yang monokromik (satu warna) tidak merangsang percakapan ilmiah yang hidup dan sehat.

Di Indonesia, saat ini, ada sekurang-kurangnya tiga jenis kajian Islam. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Yang pertama adalah kajian Islam yang sepenuhnya untuk tujuan propagasi, dakwah, penguatan iman, dan penanaman nilai-nilai agama. Ini saya sebut sebagai “faith based Islamic studies”, kajian Islam yang berbasis iman. Kajian Islam semacam ini biasa kita jumpai di pesantren atau madrasah. Lembaga-lembaga ini bisa kita sebut sebagai semacam “Islamic seminaries”.

Jenis kedua adalah kajian Islam yang berlangsung di perguruan tinggi Islam seperti IAIN, STAIN atau UIN. Kajian kedua ini masih bersifat “faith based”, berbasis iman dan propagasi, tetapi sudah mulai mengadopsi pendekatan-pendekatan ilmiah yang beragam. Kajian ini juga sudah mulai meletakkan “Islam” bukan sekedar sebagai iman saja, tetapi obyek yang dikaji. Di sini, Islam sudah diletakkan dalam suatu jarak untuk kemudian ditelaah secara “epistemologis” dengan pendekatan tertentu.

Istilah “pendekatan” menarik untuk kita renungkan sebentar. Ini adalah padanan untuk istilah “approach” yang lazim dipakai dalam lingkungan akademis di Barat. Istilah “pendekatan” sudah pasti mengandaikan adanya jarak antara “al-‘alim”, subyek yang memiliki pengetahuan, dan “al-ma’lum”, obyek yang menjadi sasaran tindakan mengetahui. Ada “epistemic distance”, jarak pengetahuan antara “aku” yang mengkaji dengan “barang” yang menjadi obyek kajian.

Karena adanya jarak itulah, kemudian dibutuhkan sesuatu yang membuat keduanya menjadi dekat. Obyek yang semula jauh dan “gaib”, tak diketahui, menjadi dekat karena ada pendekatan yang membantu seorang pengkaji memahami obyek kajiannya.

Pengandaian adanya “jarak” semacam ini tak dikenal dalam kajian Islam di pesantren dan madrasah. D lembaga terakhir ini, “al-‘alim” dan “al-ma’lum”, pengkaji dan yang dikaji, begitu dekat dan intimnya sehingga keduanya sebetulnya menyatu. Di universitas-universitas Islam, kajian Islam mulai mengadopsi tradisi ilmiah “sekuler” dengan mengadopsi suatu corak kajian yang relatif berjarak dengan obyeknya. Kajian Islam di sana sudah membuka diri pada banyak kemungkinan pendekatan.

Buku yang dengan baik mewakili corak kajian Islam semacam ini adalah karya lama alm. Prof. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Buku ini memang semacam “primer” yang sederhana, tetapi mengenalkan “cara pandang” yang sama sekali baru. Buku itu membuka ruang percakapan ilmiah baru tentang Islam yang multi-aspek, dan bisa ditelaah dengan multi-pendekatan.

Yang dihasilkan dari kajiann semacam ini bukan sekedar “stetement of faith”, pernyataan iman, seperti dalam kajian Islam yang berlangsung di pesantren, melainkan “statement about faith”. Perbedaan sederhana antara “of” dan “about” membawa perbedaan yang mendasar, suatu “gap epistemologis” yang lebar sekali: antara kajian Islam di madrasah dan kajian Islam di universitas Islam.

Bagi kalangan yang terbiasa dengan model kajian Islam ala madrasah dan pesantren, kajian ala Harun Nasution ini bisa mengagetkan dan sekaligus sumber ancaman. Sebab, Islam tidak lagi dipandang sebagai ajaran normatif yang monolitik, tunggal, melainkan suatu praktek keagamaan yang terbentuk oleh lingkungan dan konteks historis yang berbeda-beda. Model kajian ini sudah mulai “mengimani” adanya aspek “social conditioning”, pengaruh-pengaruh sosial terhadap formasi atau pembentukan sebuah ajaran.

Ada semacam “materialisme” tersembunyi dalam model kajian ini.

Model yang terakhir adalah kajian atas Islam yang dikerjakan dalam model “religious studies” yang berkembang di Barat. Di sana, Islam sudah sepenuhnya dianggap sebagai “obyek kajian” yang sama kedudukannya dengan obyek-obyek kajian yang lain. Sebagai “obyek”, Islam tak beda dengan “masyarakat” yang menjadi kajian ilmu sosiologi, atau partikel dan benda-benda fisik solid yang menjadi kajian ilmu fisika. Sama dengan kadaver atau tubuh yang menjadi kajian ilmu anatomi dalam kedokteran.

Dalam kajian semacam ini, faith/iman sama sekali bukan prasyarat utama. Kajian ini tidak berbasis iman, tetapi berbasis metode ilmiah yang kurang lebih obyektif. Karena itulah, seorang non-Muslim atau bahkan ateis bisa menjadi pelaku kajian Islam yang “scientific” semacam ini. Sebagaimana seorang pengkaji agama Hindu tidak harus seseorang yang mengimani ajaran agama itu.

Kajian Islam model ketiga ini sifatnya saintifik dan “non-faith based”. Kalangan yang datang dari tradisi kajian Islam ala madrasah akan terheran-heran: “Kok bisa orang Kristen menguasai ilmu tafsir dan kajian Quran seperti ulama? Kenapa dia tak masuk Islam saja?” Seorang santri madrasah masih sulit membayangkan keterpisahan antara pengkaji dan obyek yang dikaji. Mereka terbiasa dengan semacam “unionisme epistemologis”, kesatuan antara “al-‘alim” dan “al-ma’lum”.

Ada kekuatan dan kelemahan dalam masing-masing kajian ini. Model pertama dan kedua memiliki kekuatan dalam satu hal ini: kajian Islam di sana bisa berfungsi sebagai alat pengajaran, pendidikan, dan propagasi/dakwah Islam. Kajian Islam di sana bukan tujuan dirinya sendiri, melainkan untuk memperkuat iman kepada Tuhan.

Komunitas agama (agama manapun, termasuk Islam), butuh kajian semacam ini. Mereka butuh mencetak orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai ulama, pastor, pendeta, bikkhu, yang bisa mengajarakan kebenaran “mutlak” kepada umat.

Kelemahan kajian semacam ini tentu ada. Biasanya kajian ini cenderung konservatif dan menjadi bagian dari mekanisme “politis” kaum ortodoks untuk memagari kepentingannya sendiri melawan kelompok-kelompok lain yang dia anggap menyimpang dan sesat.

Dalam bentuknya yang keras dan rigid, kajian semacam ini bisa berujung pada “epistemic closure”, penutupan ilmiah dan pemberangusan suara-suara yang berbeda. Kebebasan kurang ditekankan di sana. Yang lebih penting adalah loyalitas pada ortodoksi atau jalan yang benar.

Kajian Islam model ketiga memiliki keunggulan dalam beberapa hal. Karena tak dibebani oleh “bagasi iman”, dia bisa bergerak bebas, kreatif, dan dengan leluasa mengembangkan pendekatan-pendakatan baru yang dinamis.

Hal tersebut terlihat dari produksi ilmiah yang dihasilkan oleh kajian semacam ini. Di dunia akademis Barat, hampir setiap bulan, kita bertemu dengan buku, artikel ilmiah dan monograf peneltiian Islam baru, dengan pendekatan yang terus segar.

Keunggulan lain: Kajian Islam model ketiga ini mengikuti prosedur ilmiah biasa yang berlaku untuk semua “scientific enterprsise”, kegiatan ilmiah. Dia menawarkan sebuah tesis yang kemudian diuji dalam sebuah penelitian. Hasilnya bisa disanggah oleh penelitian berikutnya yang menemukan data dan mengajukan interpretasi yang lain. Kajian di sini sifatnya dinamis, produktif, dan sangat kreatif.

Seringkali, kajian Islam yang “scientific” menawarkan kesimpulan-kesimpulan yang tak mungkin dipikirkan oleh orang Islam sendiri. Karena pelaku kajian Islam jenis ketiga ini kerap  berasal dari luar Islam, mereka kadang lebih bisa melihat obyek kajiannya dengan jernih dan kritis.

Ini tentu alamiah saja. Seseorang yang ada di luar biasanya bisa melihat sesuatu dengan lebih jelas dan “netral” ketimbang orang yang ada di “dalam”. Masalah “outsider” dan “insider” memainkan peran penting di sini.

Kekurangannya, kajian jenis ketiga ini bisa membawa kesimpulan-kesimpulan yang menyalahi pakem iman dan mengganggu “stabilitas” keyakinan seorang Muslim. Sebab, kajian ini memang tak memiliki beban apapun untuk memasuki kawasan-kawasan yang dianggap sensitif oleh orang Islam. Kajian jenis ketiga ini sudah tak mengenal lagi wilayah yang mungkin bisa kita sebut “sacred” atau “angker”.

Saya berpandangan bahwa tiga jenis kajian Islam ini diperlukan. Ketiga-tiganya memperkaya perspektif kita tentang Islam. Dialog antara tiga jenis diskursus Islam ini juga perlu dikembangkan.

Selama ini, usaha mendialogkan secara serius ketiga model kajian Islam ini, terutama di Indonesia, jarang atau malah tidak pernah terjadi. Masing-masing kajian itu berlangsung secara terpisah, seperti kegiatan yang tak terhubung satu dengan yang lain. Bukan hanya tak terhubung, tetapi juga bisa saling mencurigai.

Sudah saatnya, umat Islam mulai membuka diri terhadap tiga model kajian Islam ini, memberinya ruang yang cukup, dan belajar dari ketiganya secara terbuka. Umat Islam tidak harus percaya dan mengamini semua kesimpulan yang dibawa oleh kajian Islam model kedua atau, malahan, ketiga. Soal menerima atau tidak, itu biarlah menjadi pilihan masing-masing orang.

Yang kita perlukan adalah keterbukaan umat Islam pada ketiga model diskursus Islam itu. Saya yakin, ketiganya, dengan caranya sendiri-sendiri, bisa memperkaya perkembangan ilmu-ilmu keislaman, selain memajukan mutu kehidupan umat Islam secara umum.[]

 

** Disampaikan sebagai bahan ceramah dalam diskusi tentang pengembangan ma’had ‘ali dan pesantren yang diadakan oleh Kementerian Agama hari ini, Kamis 22 Oktober 2015, di Serpong.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.