Home » Gagasan » Islam Nusantara » Danarto: “Awalnya, Saya Salat Berbahasa Jawa”
Danarto

Danarto: “Awalnya, Saya Salat Berbahasa Jawa”

5/5 (1)

Dalam belajar agama, apakah Anda tidak berguru pada seseorang?

Tidak, karena waktu itu saya bekerja sebagai pemahat relief, lebih kurang seperti pemahat relief di Borobudur itu. Jadi saya bekerja di satu rumah orang kaya. Ketika saya tersadar oleh tuntutan spiritual, saya langsung saja salat. Saya tidak sempat berguru, padahal di sekeliling itu banyak para kiai.

Apakah ketika itu Anda sudah banyak menulis cerpen?

Sudah. Dari situlah muncul cerpen-cerpen sufistik saya, yang biasa disebut para kritikus modern bercorak realisme-magis. Itulah yang terkumpul diGodlob. Jadi, cerpen-cerpen saya itu murni sufistik sebenarnya. Tapi ada juga yang menyebut karya seperti itu bersifat surealistik. Ya, saya kira memang bisa campur baur seperti itu.

Tadi Anda mengatakan berkenalan dengan tasawuf lebih dulu, baru kemudian agama. Bagaimana kok bisa begitu?

Jadi begini. Dulu saya punya seorang teman pelukis yang bernama Pak Rustamaji. Beliaulah yang membukakan saya pada wacana tasawuf. Saya membaca banyak bukunya. Beliau kini sudah meninggal, dan semoga Allah mengaruniai beliau kebahagiaan di alam kubur dan alam akhirat.

Sampai usia 80 tahun, beliau itu masih aktif menulis. Sebenarnya, tulisannya tidak bisa dibaca karena bersifat repetitif. Lalu saya benyak berburu buku-buku tasawuf mulai karya Abu Bakar Aceh, Hamka, dan lainnya. Dari situlah saya mulai terbuka.

Saya bisa berkenalan dengan Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan Ibnu Arabi. Dari situ saya mengira Al-Hallaj itu gurunya-guru, termasuk guru filsuf-filsuf besar Eropa. Dia itu gurunya Nietzsche, Bergson, ataupun Sartre.

Lantas, apa Anda mendapat semacam pencerahan dari mereka?

Semuanya itu menurut saya bagian dari wajah Tuhan. Saya mengalami pengalaman sipirutual yang luar biasa pada tahun 1968. Ketika itu saya berusia 28 tahun. Saya bangun pagi di rumah orang kaya di jalan Dago Bandung. Lantas saya mendapatkan seorang supir yang Tuhan.

Anda mengalami itu sungguh-sungguh?

Sungguh-sungguh. Saya melihat Tuhan ada di mana-mana; kucing yang (manifestasi) Tuhan, ayam yang Tuhan, dan lain-lain. Jadi dari situlah saya merasa cocok dengan paham wihdatul wujud. Jadi sebetulnya di dunia ini tidak ada yang lain kecuali Tuhan. Dari situlah mengalir terus cerpen-cerpen saya.

Lalu, bagaimana posisi agama menurut pandangan Anda?

Agama itu sebenarnya mengendalikan semua laju kendaraan (kecenderungan spiritual, Red) kita yang suka ngebut. Jadi harus dikendalikan dengan salat lima waktu, puasa, membayar zakat, kurban, dan hal-hal yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah.

Apakah tasawuf membuat Anda ngebut, sehinga perlu direm?

Dia merupakan samudera yang dalam, dan sangat nikmat dijadikan arena untuk mengembara. Dan itu tanpa ujung. Misalnya, ketika saya berhadapan dengan Anda, Mas Ulil dan Nong, semuanya menjadi abstrak. Saya tidak mengenal Anda kecuali ini Tuhan. Apa sih Ulil itu, dan apa sih Nong ini? Jadi, (Anda) seperti gundukan daging yang abstrak saja, sebenarnya.

Apakah Anda pernah membaca literatur tasawuf Jawa yang bersifat kejawen?

Pernah. Memang ada perbedaaan antara tasawuf lokal dengan import. Tapi saya begitu terkesan oleh Al-Hallaj, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Al-Atthar. Itu karena mereka lebih memberikan daya dorong.

Anda mempelajari Syeikh Siti Jenar?

Tidak mempelajari, tapi sekedar membaca. Saya melihat Syekh Siti Jenar terpengaruh oleh Al-Hallaj. Tapi pengalaman spiritualnya dihayati betul oleh Siti Jenar. Jadi tetap berbeda dengan Al-Hallaj. Dan ini merupakan sisi ruhaniyah pengalaman Siti Jenar, karena dia mendapat pencerahan dari tasawuf. Mungkin persis seperti waktu saya di Bandung dulu itu. Jadi saya melihat orang yang Tuhan, binatang yang Tuhan dan lain sebagainya.

Anda tidak takut dikatakan sesat?

Saya tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, karena saya tetap salat lima waktu dan saya tambahkan lagi shalat Dhuha dua rakaat. Saya membaca Al-Qur’an dua kali sehari: subuh dan maghrib. Saya juga membayar zakat, berpuasa Ramadlan, naik haji dan umrah, serta membayar kurban.

Saya pernah menuliskan pengalaman haji saya dalam buku “Orang Jawa Naik Haji”. Ini buku pertama tentang pengalaman haji yang ditulis orang Indonesia. Saya merasakan ketika saya naik haji, penuh keajaiban di Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi. Pengalaman yang luar biasa.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.