Home » Gagasan » Islam Nusantara » Danarto: “Awalnya, Saya Salat Berbahasa Jawa”
Danarto

Danarto: “Awalnya, Saya Salat Berbahasa Jawa”

5/5 (1)

“Nah, ketika saya pertama kali Salat dan mengucap takbir: “Allahu Akbar”, seluruh kawasan itu seolah menyahut dengan ucapan yang sama: Allahu Akbar, Allahu Akbar... Jadi, seperti ada sambutan dan dalam jumlah ribuan orang. Luar biasa.. Pengalaman itu berlangsung sampai satu minggu. Ketika itu saya salat sendiri di rumah.”

Demikianlah sekelumit pengalaman spiritual yang dituturkan sastrawan Danarto, penulis novel dan cerpen bercorak sufistik atau realisme-magis seperti Godlob dan Asmaraloka serta buku perjalanan hajinya itu Orang Jawa Naik Haji kepada Ulil Abshar-Abdalla dan Nong Darol Mahmada dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dalam wawancara Kamis (13/5). Berikut petikannya:

 

Mas Danarto, saya pribadi mengikuti pengalaman spiritual Anda dalam buku-buku yang Anda tulis, sangat dalam dan menyentuh. Sebenarnya bagaimana persepsi Anda tentang Tuhan?

Sederhana saja, kita rupanya tidak mungkin melepaskan diri dari kekuasaan Tuhan, karena Beliaulah yang mencipta alam semesta beserta isinya. Bahkan Tuhan sendiri berfirman, dibanding mencipta alam semesta, mencipta manusia itu amat sangat gampangnya. Nah, saya membayangkan Tuhan itu sebagai Yang-tak-terbayangkan. Jadi kita memberi nama beliau itu Zat.

Agak aneh juga menyebut Tuhan dengan sebutan “Beliau”. Biasanya kita menggunakan kata ganti “Dia” (dengan D Kapital) !

Ya, ini disebabkan kekurangan rasa bahasa Indonesia. Kalau menggunakan bahasa Jawa sebenarnya agak longgar. Bahasa Jawa memakai kata ganti Gusti atau Pangeran. Di bahasa Indonesia tidak ada (kata ganti) seperti itu, hanya ada kata Tuhan.

Tapi kenyataan bahwa manusia sudah berhasil memberi nama Tuhan, yaitu Zat yang Maha Suci, itu merupakan kreativitas manusia sebenarnya. Sebab dalam Al-Qur’an sendiri Tuhan belum pernah menyebut Aku atau Dia itu siapa.

Bagaimana proses yang Anda alami dalam mengenal agama?

Saya sebenarnya belajar tasawuf lebih dulu dari pada beragama. Selama proses itu, saya tunggang-langgang. Lalu saya sadar, “lho, ini kok belum-belum sudah meloncat ke angka sepuluh!” Mestinya kan dari angka satu dulu.

Apakah latar belakang Anda Jawa-Abangan?

Ya, saya orang Jawa-abangan. Sampai sekarang saya buta huruf Al-Qur’an. Jadi tidak bisa ngaji. Saya berdo’a dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dulunya waktu masih belajar, saya salat memakai bahasa Jawa. Pengalaman itu indah sekali. Dan sebenarnya saya agak terlambat salat. Setelah umur 27 tahun, saya baru menunaikan salat.

Masih pakai bahasa Jawa?

Pakai bahasa Jawa dulu. Misalnya: Duh, Gusti. Mugi nebihaken kawulo saking dosa kados anggen paduko nebihaken antawis plethek lan suruping suryo (Ya Allah, semoga Engkau menjauhkan saya dari dosa, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara terbit dan tenggelamnya matahari). Ketika saya berdoa seperti itu, saya sempat tertawa; lho, ini wayang kulit, bukan salat (tertawa).

Mengapa Anda tidak memakai bahasa Arab; apakah ada perbedaan kedua bahasa itu dari segi penghayatan?

Saya kan buta huruf Arab dan tidak bisa mengaji sampai sekarang. Bahasa asing tidak ada yang nyanthol pada saya. Seperti bahasa Inggris, saya sudah keliling dunia, tapi bahasa Inggris yang saya bisa cuma “I love you, Don’t leave me, if you leave me I will die.

Nah, waktu saya pakai bahasa Jawa, rasanya enak sekali. Luar biasa, karena saya menghayati rasa bahasa itu. Tapi lama-lama, kok salat saya kayak pertunjukan wayang orang atau wayang kulit. Akhirnya saya betul-betul belajar salat sebagaimana Rasulullah. Jadi sekarang sudah pakai bahasa Arab.

Memang ada perbedaaan rasa bahasa di sini. Misalnya sami’alLâhu limanhamidah itu kalau dalam bahasa Jawa artinya sama dengan gajah Hamidah.Sami’alLâh itu sama; liman itu gajah (bahasa jawa halus), midah itu nama cewek. Jadi terjemahannya kira-kira sama dengan gajah Hamidah (ketawa).

Apakah keluarga Anda mengajarkan pendidikan agama secara formal?

Sebenarnya langsung tasawuf, karena ayah suka membaca buku-buku tasawuf Al-Ghazali, Agus Salim, bahkan Leadbiter, seorang tokoh teosufi, dan Krisnamurti. Jadi ayah saya membaca banyak pelbagai literatur keagamaan, walau sehari-hari belepotan lumpur. Jadi kalau dia pulang kerja, dia membaca buku-buku tasawuf dalam yang ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Jawa.

Apa Anda pernah belajar agama di madrasah atau surau?

Tidak, karena saya tinggal di kota yang boleh dikatakan tidak ada pesantren, atau saya tidak tahu pesantrennya. Jadi saya sekolah biasa, dan ternyata saya tidak maju. Saya berkenalan secara resmi dengan agama ketika berumur 27 tahun. Waktu itu saya di desa Leles Garut, saya memperhatikan bibit padi yang disiram air secara pelan-gemericik. Pemandangan itu menyadarkan saya. Bayangan saya, kalau bibit padi ini diguyur air satu tong, dia tentu bisa hanyut dan mati. Makanya harus disiram secara perlahan-gemericik.

Dari situ pikiran saya terbuka; saya harus salat ini!, tekad saya. Lalu saya membeli buku “Tuntunan Salat” seharga Rp 15.000, dan mulai salat. Nah, ketika saya pertama kali mengucap takbir: “Allahu Akbar”, seluruh kawasan itu seolah-oleh menyahut dengan ucapan yang sama: Allahu Akbar, Allahu Akbar. Jadi seperti ada sambutan dan dalam jumlah ribuan orang. Itu berlangsung sampai satu minggu. Ketika itu saya salat sendiri di rumah. Dan itulah pengalaman spiritual saya yang pertama kali.

Dalam belajar agama, apakah Anda tidak berguru pada seseorang?

Tidak, karena waktu itu saya bekerja sebagai pemahat relief, lebih kurang seperti pemahat relief di Borobudur itu. Jadi saya bekerja di satu rumah orang kaya. Ketika saya tersadar oleh tuntutan spiritual, saya langsung saja salat. Saya tidak sempat berguru, padahal di sekeliling itu banyak para kiai.

Apakah ketika itu Anda sudah banyak menulis cerpen?

Sudah. Dari situlah muncul cerpen-cerpen sufistik saya, yang biasa disebut para kritikus modern bercorak realisme-magis. Itulah yang terkumpul diGodlob. Jadi, cerpen-cerpen saya itu murni sufistik sebenarnya. Tapi ada juga yang menyebut karya seperti itu bersifat surealistik. Ya, saya kira memang bisa campur baur seperti itu.

Tadi Anda mengatakan berkenalan dengan tasawuf lebih dulu, baru kemudian agama. Bagaimana kok bisa begitu?

Jadi begini. Dulu saya punya seorang teman pelukis yang bernama Pak Rustamaji. Beliaulah yang membukakan saya pada wacana tasawuf. Saya membaca banyak bukunya. Beliau kini sudah meninggal, dan semoga Allah mengaruniai beliau kebahagiaan di alam kubur dan alam akhirat.

Sampai usia 80 tahun, beliau itu masih aktif menulis. Sebenarnya, tulisannya tidak bisa dibaca karena bersifat repetitif. Lalu saya benyak berburu buku-buku tasawuf mulai karya Abu Bakar Aceh, Hamka, dan lainnya. Dari situlah saya mulai terbuka.

Saya bisa berkenalan dengan Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan Ibnu Arabi. Dari situ saya mengira Al-Hallaj itu gurunya-guru, termasuk guru filsuf-filsuf besar Eropa. Dia itu gurunya Nietzsche, Bergson, ataupun Sartre.

Lantas, apa Anda mendapat semacam pencerahan dari mereka?

Semuanya itu menurut saya bagian dari wajah Tuhan. Saya mengalami pengalaman sipirutual yang luar biasa pada tahun 1968. Ketika itu saya berusia 28 tahun. Saya bangun pagi di rumah orang kaya di jalan Dago Bandung. Lantas saya mendapatkan seorang supir yang Tuhan.

Anda mengalami itu sungguh-sungguh?

Sungguh-sungguh. Saya melihat Tuhan ada di mana-mana; kucing yang (manifestasi) Tuhan, ayam yang Tuhan, dan lain-lain. Jadi dari situlah saya merasa cocok dengan paham wihdatul wujud. Jadi sebetulnya di dunia ini tidak ada yang lain kecuali Tuhan. Dari situlah mengalir terus cerpen-cerpen saya.

Lalu, bagaimana posisi agama menurut pandangan Anda?

Agama itu sebenarnya mengendalikan semua laju kendaraan (kecenderungan spiritual, Red) kita yang suka ngebut. Jadi harus dikendalikan dengan salat lima waktu, puasa, membayar zakat, kurban, dan hal-hal yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah.

Apakah tasawuf membuat Anda ngebut, sehinga perlu direm?

Dia merupakan samudera yang dalam, dan sangat nikmat dijadikan arena untuk mengembara. Dan itu tanpa ujung. Misalnya, ketika saya berhadapan dengan Anda, Mas Ulil dan Nong, semuanya menjadi abstrak. Saya tidak mengenal Anda kecuali ini Tuhan. Apa sih Ulil itu, dan apa sih Nong ini? Jadi, (Anda) seperti gundukan daging yang abstrak saja, sebenarnya.

Apakah Anda pernah membaca literatur tasawuf Jawa yang bersifat kejawen?

Pernah. Memang ada perbedaaan antara tasawuf lokal dengan import. Tapi saya begitu terkesan oleh Al-Hallaj, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Al-Atthar. Itu karena mereka lebih memberikan daya dorong.

Anda mempelajari Syeikh Siti Jenar?

Tidak mempelajari, tapi sekedar membaca. Saya melihat Syekh Siti Jenar terpengaruh oleh Al-Hallaj. Tapi pengalaman spiritualnya dihayati betul oleh Siti Jenar. Jadi tetap berbeda dengan Al-Hallaj. Dan ini merupakan sisi ruhaniyah pengalaman Siti Jenar, karena dia mendapat pencerahan dari tasawuf. Mungkin persis seperti waktu saya di Bandung dulu itu. Jadi saya melihat orang yang Tuhan, binatang yang Tuhan dan lain sebagainya.

Anda tidak takut dikatakan sesat?

Saya tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, karena saya tetap salat lima waktu dan saya tambahkan lagi shalat Dhuha dua rakaat. Saya membaca Al-Qur’an dua kali sehari: subuh dan maghrib. Saya juga membayar zakat, berpuasa Ramadlan, naik haji dan umrah, serta membayar kurban.

Saya pernah menuliskan pengalaman haji saya dalam buku “Orang Jawa Naik Haji”. Ini buku pertama tentang pengalaman haji yang ditulis orang Indonesia. Saya merasakan ketika saya naik haji, penuh keajaiban di Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi. Pengalaman yang luar biasa.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.