Home » Highlight » Obsesi Terhadap Islam Tunggal
Perempuan mengenakan burqa (Foto: Abc.net.au)
Perempuan mengenakan burqa (Foto: Abc.net.au)

Obsesi Terhadap Islam Tunggal

4.56/5 (9)

IslamLib – Kontroversi seputar Islam Nusantara tampaknya belum akan berhenti. Para pengkritiknya terus melancarkan serangan dalam bentuk kecaman dan cemoohan. Mereka datang dari berbagai latar-belakang, dari kaum terpelajar yang sudah dirasuki pemikiran Wahabisme hingga kelompok kurang terpelajar yang biasa mengumbar kata-kata kotor di sosial media. Yang terakhir ini sebagian besar adalah pendukung partai politik Islam yang terlatih menggunakan cara-cara kotor dalam berkampanye di internet.

Para pengkritik Islam Nusantara itu kerap melontarkan argumen seragam, yakni bahwa Islam adalah satu, tidak bisa dikasih embel-embel atau kata sifat apapun. Menurut mereka, Islam ya Islam, tidak bisa dikasih tambahan, baik itu “Islam modern,” “Islam tradisional,” “Islam fundamental,” “Islam liberal,” maupun “Islam Nusantara.” Pokoknya, Islam ya Islam, titik.

Tidak ada orang yang tak sepakat bahwa Islam itu satu. Tapi, hanya orang bodoh yang menganggap bahwa ekspresi dan tafsir atas Islam juga satu. Ketika para sarjana atau para kiai menggunakan kata sifat/imbuhan “modern,” atau “liberal,” atau “fundamental,” atau “nusantara” pada Islam, yang mereka maksudkan tentu saja ekspresi dan pemahaman Islam, bukan yang lain.

Tapi, orang yang pikirannya penuh dengan prasangka, tak mau tahu dan enggan menerima penjelasan. Buat mereka, menggunakan istilah “Islam Nusantara” keliru, salah, bid’ah dan bertentangan dengan Islam. Bagi mereka, tidak ada Islam Arab, tidak ada Islam Turki, tidak ada Islam Indonesia. Islam ya Islam, titik.

Ideologi Wahabi. Ironisnya, mereka yang selalu berdalih di balik argumen Islam tunggal adalah mereka yang sesungguhnya sedang mengkampanyekan salah satu ekspresi dan tafsir tentang Islam, baik itu tafsir Wahabi, tafsir Salafi, tafsir Ikhwani, atau tafsir-tafsir Islam lain, yang mereka gunakan tapi mereka sembunyikan dalam retorika “Islam tunggal.”

Mengkampanyekan Islam tunggal tapi diam-diam mengusung satu pemahaman/ideologi tertentu bukan hanya curang, tapi juga berbahaya. Curang, karena mereka sesungguhnya sedang mengusung satu pemahaman/ideologi tertentu (yang belum tentu benar) sambil mengklaimnya sebagai Islam yang sah. Bahaya, karena jika tafsir mereka keliru terhadap Islam, maka yang rugi adalah nama besar Islam dan kaum Muslim secara umum.

Para pendukung “Islam tunggal” yang selama ini mengecam Islam Nusantara umumnya adalah orang-orang yang telah dirasuki ideologi Wahabisme atau orang-orang yang telah dipengaruhi paham totaliter yang mirip dengan Wahabi. Mereka umumnya menganggap bahwa kebenaran itu satu, yakni kebenaran yang mereka anut. Di luar itu, sesat, keliru, dan menyimpang.

Wahabisme adalah contoh sempurna dari ideologi totaliter yang mengusung “Islam tunggal.” Kaum Wahabi meyakini bahwa hanya ada satu Islam, yaitu Islam versi mereka. Di luar itu, sesat, keliru, dan menyimpang. Orang-orang Wahabi memandang kelompok/mazhab lain, seperti Syi’ah dan Ahmadiyah kafir (keluar dari Islam), atau paling sedikit sesat.

Sejak beberapa tahun belakangan, jumlah pengikut dan simpatisan Wahabi semakin besar di negeri kita. Kampanye pemerintah Arab Saudi sejak tahun 1970an rupanya cukup berhasil. Lewat pembangunan mesjid dan sumbangan ke lembaga-lembaga pendidikan agama di Indonesia, paham Wahabi perlahan-lahan menghinggapi sebagian masyarakat kita.

Salah satu ciri ajaran Wahabi adalah sikapnya yang kaku (rigid) dalam menerima perbedaan. Di negara asalnya, di mana kaum Wahabi berkuasa, tafsir-tafsir lain atas Islam diharamkan. Tidak boleh ada tafsir lain selain versi resmi yang diadopsi pemerintah.

Ketika ulama Wahabi memahami bahwa memelihara jenggot bagi kaum pria adalah wajib, maka para lelaki di seluruh negeri itu harus berjenggot. Ketika ulama Wahabi menganggap perempuan harus dibungkus dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pakaian serba hitam, maka seluruh perempuan di negeri itu harus mengikutinya. Tak ada pilihan lain.

Tidak Tunggal. Sama seperti kaum Wahabi, para penolak gagasan Islam Nusantara atau Islam dengan imbuhan apapun, tidak suka dengan keragaman. Mereka hanya meyakini satu tafsir dan satu ekspresi terhadap Islam, yakni Islam yang tunggal. Juga sama seperti kaum Wahabi, yang mereka maksud dengan Islam tunggal itu tidak lain dan tidak bukan adalah Islam versi mereka sendiri.

Tanpa mereka sadari (atau sebetulnya sadar cuma tidak diakui), Islam yang mereka anut adalah hanya salah satu versi atau pemahaman saja dari begitu banyak pemahaman Islam. Mereka menutup mata dengan keragaman Islam dan bersembunyi di balik retorika “Islam tunggal” untuk menyebarkan pemahaman mereka yang belum tentu benar.

Perilaku seperti itu bukan hal baru. Ia bisa diekspresikan dengan banyak sebutan tapi memiliki karakter yang sama, yakni memaksakan kehendak atas nama “Islam tunggal.” Dahulu kala, pada masa-masa awal Islam, perilaku seperti itu diwakili oleh kaum Khawarij, yang tak mau menerima keragaman dan mengambil jalan kekerasan terhadap siapa saja yang mereka anggap berbeda.

Pada masa kini, retorika Islam tunggal dianut oleh Wahabisme dan kelompok Taliban di Afghanistan. Baik Khawarij, Wahabi, maupun Taliban punya kesamaan; mereka mendukung Islam yang satu sambil menyembunyikan karakter aseli mereka. Mereka tak mau dibilang “Islam Khawarij,” “Islam Wahabi,” atau “Islam Taliban,” meski tafsir yang mereka usung sesungguhnya adalah tafsir Khawarij, atau Wahabi, atau Taliban.

Di negeri ini, para pengikut Wahabi dan simpatisan Taliban, juga tak mau disebut sebagai “Islam A” atau “Islam B” meski mereka jelas-jelas mempraktekkan satu jenis Islam dan secara politik berafiliasi kepada Partai Islam X.

Sama seperti kaum Wahabi dan Taliban, agenda politik mereka adalah menguasai atau mempengaruhi pemerintahan, untuk selanjutnya memerangi tafsir-tafsir berbeda dan menggantinya dengan versi resmi yang mereka adopsi.

Berhati-hatilah !

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.