Home » Gagasan » Husein Muhammad: “Qurban Memutus Tradisi Membunuh Manusia Demi Tuhan”
KH Husein Muhammad
KH Husein Muhammad

Husein Muhammad: “Qurban Memutus Tradisi Membunuh Manusia Demi Tuhan”

4.5/5 (2)

Hari raya Idul Adha dan peristiwa qurban tidak hanya dimaknai sebagai wujud kepasrahan Nabi Ibrahim yang total kepada Tuhan. Keduanya juga mempunyai makna pembebasan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan dari kesemena-menaan manusia atas lainnya.

Ketika Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba, tersirat pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya. Drama tersebut juga ingin menegaskan bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah manusia.

Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia dan harkat kemanusiaan itu sendiri dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan.

Demikian sebagian perbincangan Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan KH Husein Muhammad, Pimpinan Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjowinangun Cirebon, yang juga telah menulis buku berjudul Fiqh perempuan: Refleksi Kiyai atas wacana Agama dan Gender pada Kamis, 29 Januari 2004.

 

Pak Kiai, hari ini umat Islam merayakan Idul Adha. Bagi Anda, apa makna dari Idul Adha ini?

Idul adha berarti kembali kepada hari raya qurban. Di dalam ritual idul adha itu terdapat apa yang biasa disebut udlhiyah, atau penyembelihan hewan qurban. Pada hari itu kita menyembelih hewan tertentu dalam rangka qurban. Qurban berasal dari bahasa Arab yang bermaknaqurbah atau mendekatkan diri kepada Allah. Saya kira itu pengertian Idul Adha yang sangat sederhana.

Bila kita berbicara tentang Idul Adha, terbayang dalam ingatan kita peristiwa pengorbanan yang sungguh heroik yang dialami ayah dan anak: Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim…

Ya, karena itu Idul Adha juga berarti merefleksi sejarah masa lampau. Intinya mengenang perjuangan monoteistik dan kemanusiaan yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

Saya kira, seluruh ritual haji dan hari-hari berikutnya, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, mengandung makna-makna simbolik keagamaan, untuk keteladanan sebuah perjuangan kemanusiaan yang pernah diperankan Nabi Ibrahim.

Jadi dalam konteks ini, mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, saya kira memang petunjuk Tuhan untuk mengejawantahkan sebuah perjuangan maha berat. Tapi saya ingin menyatakan bahwa, kesemua itu hanyalah pesan simbolik dari agama, bukan dalam artian kejadian yang hakiki.

Maksudnya, peristiwa itu tidak riil terjadi?

Kalau kita memaknainya sebagai pesan simbolik, sesungguhnya peristiwa itu bukan sesuatu yang riil. Hanya saja, keyakinan kebanyakan umat Islam memang menegaskan bahwa kejadian itu riil terjadi pada masa yang lampau. Saya kira, agak sulit memasukkan peristiwa ayah yang rela hati (akan) menyembelih anaknya itu ke dalam akal pikiran kita, tanpa ditopang unsur keyakinan.

Peristiwa itu memang agak sulit diterima oleh akal, kecuali kalau kita meletakkannya dalam kerangka keyakinan kepada Tuhan; Tuhan memerintahkan itu, sehingga itu mungkin terjadi.

Biasanya drama penyembelihan Nabi Ismail itu dimaknai sebagai wujud kepasrahan total kepada Tuhan?

Ya, memang bisa dimaknai seperti itu. Peristiwa itu bisa dimaknai sebagai pesan simbolik yang menunjukkan kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah. Tapi penilaian yang lain mungkin bisa juga diungkapkan misalnya, apakah mungkin peristiwa penyembelihan itu dilakukan terhadap orang tertentu tanpa dilandasi kesalahan yang dia perbuat.

Jadi, peristiwa ini berbeda dengan kasus pembunuhan yang bisa dibenarkan, karena yang dibunuh melakukan kezaliman atas kemanusiaan. Itu yang sebetulnya ingin saya pahami. Tapi, saya kadang juga bisa merespon peristiwa itu sebagai simbol penyerahan diri yang total kepada Tuhan, sekalipun dalam bentuk tindakan penyembelihan terhadap sosok seorang anak yang dicintai.

Apakah Pak kiai ingin mengatakan bahwa tafsiran tentang kepasrahan itu sebetulnya tidak berkesesuaian dengan watak agama Ibrahim yang tidak membenarkan pembunuhan tanpa dasar?

Tepat. Saya kira itu yang saya tangkap dari makna yang tersirat dari kisah Al-Qur’an itu.

Ali Syariati, intelektual asal Iran, pernah berkomentar mengapa Tuhan membarter Ismail dengan domba. Menurutnya, itu merupakan pesan penting dimana Tuhan ingin mempermaklumkan bahwa pengorbanan diri manusia dan harkat kemanusiaannya sebenarnya tidak dibenarkan oleh Tuhan. Menurut Pak Kiai, apa makna terdalam aksi barter tersebut?

Saya setuju dengan pendapat Ali Syari’ati itu. Pengorbanan diri manusia dan harkat kemanusiaannya memang tidak dibenarkan oleh Tuhan. Sebab, Nabi Ibrahim sendiri tampil untuk menegakkan martabat kemanusiaan itu sendiri.

Saya setuju dengan Ali Syariati ketika dia mengatakan bahwa Tuhan Ibrahim itu bukan Tuhan yang haus akan darah manusia. Jadi, persepsi tentang Tuhan kemudian diralat, tidak sebagaimana tradisi masyarakat waktu itu, yang mengorbankan diri manusia untuk dipersembahkan dan diabdikan kepada Tuhan.

Jadi, pesan ini juga dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus tradisi membunuh manusia demi “kepentingan Tuhan”. Membunuh manusia hanya dibenarkan dalam kerangka kemaslahatan kemanusiaan yang lebih besar. Artinya, kita tidak dibenarkan mengorbankan manusia lainnya dengan dalih yang manipulatif, sekalipun dengan klaim demi kepentingan Tuhan.

Dengan pemaknaan seperti itu, sebetulnya Idul Adha juga mengandung semangat pembebasan bagi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan?

Persis seperti itu. Lebih dari itu, saya ingin menegaskan dua hal penting yang terkandung di dalam Idul Adha. Pertama semangat ketauhidan, keesaan Tuhan yang tidak lagi mendiskriminasi antarmanusia atau membeda-bedakan satu dengan lain. Di dalam ketauhidan itu, juga terkandung pesan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apapun.

Yang kedua, Idul Adha juga dapat diletakkan dalam kerangka penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti penekanan solidaritas dan kesatuan kemanusiaan tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan ketuhanan itu sendiri.

Kalau mencermati peristiwa qurban dan haji, kita menemukan keterkaitan yang kuat antara tradisi Nabi Ibrahim dengan agama Islam. Bagaimana menurut pak Kyai?

Saya kira kita sudah sangat memahami bahwa dalam Al-Qur’an maupun Hadis, Nabi Ibrahim disebut-sebut sebagai bapak dari nabi-nabi yang membawa teologi tauhid atau keesaan Tuhan. Inti pesan inilah yang kemudian diwariskan Nabi Ibrahim kepada nabi-nabi sesudahnya, dan tetap menjadi corak agama-agama sesudahnya.

Karena itu, agama-agama yang berafiliasi kepadanya sesungguhya memiliki akar yang sama, yaitu akar ketauhidan. Makanya, sebagian ritualnya yang tidak bertentangan dengan akar ketauhidan tetap dipelihara dan diikuti oleh umat-umat sesudah Nabi Ibrahim.

Di dalam Al-Qur’an kita dianjurkan agar mengikuti agama Nabi Ibrahim yang hanif. Yaitu, anittabi’ millata ibraahim hanifan, hendaklah kamu mengikut agama Ibrahim yang lurus, atau tidak menyimpang. Selain disebut hanif, agama Ibrahim juga disebut agama yang penuh samaahah, atau agama yang penuh toleransi terhadap manusia lain.

Pak Kyai, kita sudah berbicara tentang qurban sebagai ritual. Sekarang, bagaimana makna qurban secara sosial?

Saya kira, di dalam khutbah-khutbah keagamaan, kita perlu menegaskan bahwa ritual-ritual keagamaan selalu mempunyai dua dimensi. Dimensi keyakinan atau keimanan kepada Tuhan, dan dimensi sosial-kemasyarakatan. Hal ini dikarenakan agama memang diperuntukkan bagi manusia dan untuk memperbaiki tatanan sosial kemanusiaan.

Terkait dengan dimensi sosial, kita menyaksikan betapa sulitnya membangkitkan dimensi sosial menjadi sebuah ritual. Karena penyadaran akan dimensi sosial tersebut seperti peristiwa qurban ini, bersifat musiman saja. Menurut Anda, kenapa itu?

Saya kira kesulitan itu juga dilatarbelakangi sejarah yang sangat panjang, dimana risalah sosial-kemanusiaan Islam yang sebetulnya menjadi tujuan utama sebuah agama, tereduksi oleh ritualisme aspek ibadah kepada Tuhan. Seakan-akan agama hanya untuk kepentingan individu dengan Tuhan semata, terlepas dari kepentingan sosial-kemanusiaan yang umum.

Saya menyebut kejanggalan seperti ini sebagai keberagamaan yang terlalu teosentris, atau menganggap bahwa hanya Tuhanlah ujung dari semua pengabdian kita, sembari mengabaikan faktor manusia. Pola keberagamaan seperti ini sangat terpusat kepada Tuhan, dan bersifat sangat personal. Saya kira, problem kemanusiaan jauh lebih penting untuk ditanggapi dan sangat besar nilainya di hadapan Allah.

Menurut pak Kyai, adakah hal yang sangat krusial dalam ritual qurban ini yang berkaitan dengan persoalan yang sedang kita hadapi sekarang?

Saya tidak bisa memilah salah satu persoalan yang paling krusial yang kita hadapi saat ini, karena begitu kompleksnya persoalan yang kita hadapi. Tapi persoalan kita yang paling mendasar menurut saya adalah soal ketidakadilan antarmanusia. Kita melihat, kemiskinan lebih banyak dirasakan orang, sementara kekayaan hanya dicicipi segelintir orang.

Maka dari itu, saya kira problem utama kita adalah problem menegakkan keadilan. Kalau problem itu yang kita pilih, maka relavansi Idul Adha kali ini adalah sebagai simbol keharusan untuk mewujudkan keadilan sosial di antara manusia.

Terkait dengan itu, yang penting juga adalah problem kemiskinan yang kita alami. Makanya, yang perlu kita usahakan adalah bagaimana menegakkan keadilan dalam bidang-bidang ekonomi, sehingga kekayaan tidak menumpuk pada sekelompok orang saja.

Terakhir, apakah dalam konteks sekarang masih ada “Ismail-Ismail” yang bersedia berkorban demi kemanusiaan?

Saya kira, simbol Ibrahim dan Ismail memang sudah sangat sulit kita dapatkan lagi pada zaman sekarang. Simbol Ibrahim yang pasrah kepada Tuhan, demi mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan sudah mulai memudar. Simbol Ismail yang pasrah kepada tuntutan-tuntutan ketuhanan juga langka saat ini.

Sekarang, kita memang membutuhkan dua sosok simbol itu. Yaitu, bagaimana memaknai simbol Ibrahim sebagai perjuangan pembebasan kemanusiaan itu sendiri, dan bagaimana menjadikan Ismail sebagai simbol untuk bersama-sama menegakkan nilai-nilai ketuhanan di tengah-tengah masyarakat.

Saya kira, kedua hal itu sangat kurang kita rasakan, karena pemahaman keagamaan mayoritas kita masih dalam frame kepentingan-kepentingan pribadi, tidak dalam frame kepentingan masyarakat secara luas.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.