Home » Gagasan » LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern
sexuality 7BW

LGBT, Agama, Teks Alkitab, dan Temuan Sains Modern

Yesus tidak pernah mengucapkan satu kata pun tentang homoseksualitas. Dalam semua ajarannya tentang banyak hal, tidak pernah dia menyatakan bahwa seorang gay harus dikutuk. Aku pribadi berpikir sangatlah indah jika seorang gay menikah dalam suatu upacara sipil. (Jimmy Carter)

Homoseksualitas yang terisolasi sendirian sangat tidak umum di dalam alam ini.”(Frans de Waal)

Yesus yang saya cintai tak pernah mengajar dan meminta saya untuk membenci siapapun. Bahkan terhadap orang yang memusuhi, Yesus meminta untuk musuh itu disayangi dan dicintai lalu dibimbing supaya rasa permusuhan dalam dadanya sirna. Sesama manusia, apapun orientasi seksual mereka, ya ada untuk kita cintai, dan cinta berarti mengakui hak mereka untuk hidup. Agama yang saya yakini adalah agama kebaikan hati, bukan agama kebencian atau permusuhan. (Ioanes Rakhmat)

IslamLib - Pada tahun 1973 The American Psychiatric Association (APA) mencabut homoseksualitas dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental, dan dengan demikian posisi sebelumnya (tahun 1952) yang melihat homoseksualitas sebagai suatu penyakit mental klinis dihapuskan./1/ Langkah yang progresif ini kemudian di tahun 1975 diikuti oleh The American Psychological Association (APA) dan juga oleh The National Association of Social Workers (NASW) di Amerika Serikat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB pada 17 Mei 1990 juga sudah mengambil posisi yang sama. Kemudian, dengan dilandasi sejumlah pertimbangan penting yang diuraikan dalam sebuah kertas kerja Komisi HAM (HRC) PBB tanggal 24 September 2014, Komisi HAM PBB ini akhirnya memutuskan (26 September 2014) untuk mendukung dan mengakui sepenuhnya HAM kaum LGBT sebagai bagian dari “HAM yang universal”./2/

Ketiga lembaga yang telah disebut pada alinea pertama di atas (APA, APA, dan NASW) sudah memberi batasan-batasan yang jelas terhadap konsep modern “orientasi seksual” sebagai “suatu pola kelakuan atau watak yang menetap pada seseorang dalam mengalami ketertarikan seksual, romantik dan afeksional khususnya terhadap laki-laki, perempuan, atau sekaligus terhadap laki-laki dan perempuan.”

Karena didorong orientasi seksualnya ini, seseorang “membangun suatu hubungan pribadi yang intim dengan mitra pilihannya untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, persekutuan dan keintiman yang sangat kuat dirasakannya”, hubungan yang dipandangnya “memuaskan dan memenuhi semua harapannya dan merupakan suatu bagian esensial jati diri pribadinya”./3/

Orientasi seksual (OS) ini khas, berbeda dari komponen-komponen seks dan seksualitas lainnya, seperti seks biologis (hal-hal yang mencakup anatomi, fisiologi dan genetika yang membuat seseorang menjadi laki-laki atau perempuan), identitas gender (penghayatan psikologis sebagai laki-laki atau perempuan), dan peran sosial gender (menyangkut perilaku maskulin atau perilaku feminin, yang definisinya diberikan berdasarkan norma-norma kultural yang berlaku dalam suatu masyarakat).

Biasanya OS ini dilihat mencakup tiga golongan, yakni heteroseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks dari lain jenis), homoseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks sejenis), dan biseksual (tertarik secara seksual romantik terhadap mitra seks lelaki dan mitra seks perempuan sekaligus).

Bagaimana sikap Indonesia? Dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III) edisi 1993, Departemen Kesehatan RI, homoseksualitas telah dihapus dari daftar gangguan jiwa./4/ Pada halaman 288 buku PPDGJ III tercantum dengan jelas kata-kata ini:

Catatan: Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai suatu gangguan.

Dinyatakan juga bahwa yang termasuk orientasi seksual adalah heteroseksualitas, homoseksualitas dan biseksualitas. Ditulis juga di halaman yang sama bahwa meskipun bukan suatu gangguan jiwa, OS LGBT seseorang dapat menimbulkan penderitaan karena ketidakpastian tentang identitas jenis kelaminnya atau orientasi seksualnya yang menimbulkan kecemasan dan depresi.

Harus jelas buat anda: OS apapun bukan gangguan mental; tetapi ketidaksiapan si individu untuk menerima OS-nya yang LGBT (lantaran stigma negatif banyak diarahkan masyarakat kepada orang LGBT, juga oleh orangtua sendiri) dapat menimbulkan gangguan mental pada dirinya, mulai dari rasa cemas, stres, depresi, kecanduan narkotik, hingga kemungkinan bunuh diri, atau dia berusaha mencari bantuan untuk diterapi untuk menjadi heteroseksual. Dalam psikologi, LGBT jenis ini digolongkan sebagai LGBT tipe distonik.

Sangat disayangkan, saya membaca sebuah berita di koran online Kompas, 19 Februari 2016, bahwa psikiater dan direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza di Kemenkes RI, dr. Fidiansyah SpKJ MPH, pada acara Indonesia Lawyers Club di TV One 16 Februari 2016, menyatakan kepada publik Indonesia bahwa OS LGBT adalah gangguan jiwa sebagaimana, menurutnya, telah dinyatakan dalam buku tebal PPDGJ III yang sudah dirujuk di atas.

Tak lama sesudah acara di TV One itu, muncul cukup banyak kritik di berbagai media massa (online dan cetak) terhadap dr. Fidiansyah yang dinilai telah memelintir dan menutupi kebenaran ketika dia dengan sengaja tidak membaca bagian-bagian penting dari buku PPDGJ III yang dengan terang menegaskan bahwa OS LGBT bukan gangguan mental, sebagaimana sudah diungkap di atas./5/

Lebih memprihatinkan lagi, saya dapat kabar tak bagus dari sejumlah teman yang mereka kirim dalam bentuk screenshots lewat HP dan juga lewat akun FB dan akun Twitter saya. Konon (!) pada 19 Februari 2016 Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) telah mengeluarkan sebuah pernyataan sikap sepanjang dua halaman yang pada intinya sejalan dengan pendapat dr. Fidiansyah.

Pernyataan sikap ini ditandatangani oleh Ketua Umum PP PDSKJI, dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ (K). Mereka menyatakan bahwa homoseksualitas dan biseksualitas dapat dikategorikan sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), dan kalangan transeksualitas sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Menurut mereka juga, semua kalangan OS ini perlu “direhabilitasi”, dan riset tentang OS perlu diadakan dengan berbasis kearifan lokal, budaya, aspek religi dan spiritual bangsa. Sekarang ini situs web www.pdskji.org sudah tidak bisa diakses lagi, entah mengapa (dan juga saya tak berminat untuk tahu).

Hemat saya dalam hal ini PP PDSKJI telah mengubah fakta ilmiah yang telah memperlihatkan bahwa OS LGBT memiliki basis kuat pada genetika dan biologi―dan dengan demikian sama sekali bukan suatu gangguan kejiwaan―dengan menjadikan riset OS LGBT sebagai riset tentang hal-hal yang non-genetik: kearifan lokal, budaya, agama dan kerohanian bangsa sendiri.

Kita semua tahu, hasil riset ilmiah yang menemukan basis kuat genetis untuk OS LGBT sama sekali tidak bisa dipelintir atau diubah menjadi riset tentang hal-hal yang non-genetik itu. Tentu saja, pendekatan yang komprehensif terhadap usaha memahami dan menjelaskan OS LGBT sangat disambut baik oleh siapapun sejauh usaha ini tidak menutup fakta terpenting bahwa OS LGBT juga punya basis kuat pada gen manusia, sebagaimana nanti akan saya bentangkan panjang lebar.

Selain itu, belum lama ini Menristek RI, Muhamad Nasir, sempat mengeluarkan sebuah larangan untuk semua bentuk kegiatan yang terkait dengan LGBT (misalnya seminar, diskusi, konsultasi, konseling) di semua kampus di seluruh NKRI.

Tapi bagi mahaguru psikologi Universitas Indonesia, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, sikap Menristek ini hanyalah sebuah reaksi bertahan (defense mechanism) yang mewakili salah satu unsur dalam masyarakat yang melihat kaum LGBT sebagai suatu ancaman yang membahayakan masyarakat. Selanjutnya, Prof. Sarlito Wirawan menegaskan bahwa “Saya yakin LGBT di Indonesia tidak akan punah, karena LGBT itu sebagian dari sunatullah juga.”/6/

Legalisasi perkawinan sesama jenis seks di Amerika. Jumat, 26 Juni 2015, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengambil sebuah keputusan penting melegalisasi perkawinan sesama jenis seks untuk seluruh warganegara Amerika di semua 50 negara bagian. Keputusan ini diambil dengan kemenangan tipis kubu para hakim agung yang liberal versus kubu para hakim agung yang konservatif (5:4).

Hakim Agung konservatif John G. Roberts Jr. membuat sebuah pernyataan tertulis yang dibacakannya setelah keputusan diambil:

Jika anda berada di antara orang Amerika, apapun orientasi seksual anda, dan telah memilih untuk memperluas perkawinan sesama jenis seks, rayakanlah keputusan hari ini dengan segenap hati. Rayakanlah tujuan yang diinginkan dan yang telah dicapai.

Rayakanlah kesempatan untuk mengekspresikan secara baru komitmen kepada pasangan anda. Rayakanlah manfaat-manfaat baru yang sudah tersedia. Tapi jangan rayakan UU. Perayaan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan UU.

Di Rose Garden Gedung Putih, atas keputusan Mahkamah Agung Amerika ini, Presiden Barack Obama menyatakan hal berikut ini,

Ketentuan perundang-undangan ini adalah sebuah kemenangan bagi Amerika. Keputusan ini mengafirmasi apa yang jutaan orang Amerika telah percayai dalam hati mereka. Di saat semua orang Amerika diperlakukan setara, kita menjadi lebih bebas lagi. /7/

Tapi janganlah kita yang berpikiran jernih dan mengetahui segi-segi homoseksualitas merasa senang dulu. Reaksi-reaksi keras dan negatif dari banyak aliran agama-agama akan pasti bermunculan, di seluruh dunia, terhadap keputusan MA Amerika itu. Malah mungkin juga, kalangan pedofilik di Amerika akan menuntut hal yang sama, yakni meminta untuk pedofilia dipandang sebagai sebuah orientasi seksual lain lagi, bukan sebuah tindak kriminal.

Begitu juga, inses juga bisa saja nanti diminta untuk dipandang sebagai suatu kewajaran, bahkan sah di mata hukum. Tentu saja, dua kemungkinan ini sangat tidak masuk akal, sementara ini. Tetapi, di Amerika, apapun mungkin untuk terjadi. Jika ini terjadi (semoga tidak!), persoalan seksualitas manusia memang kembali akan makin rumit. Nekrofilia tidak usah kita persoalkan, karena sudah jelas perilaku seksual jenis ini adalah suatu kelainan jiwa.

Tetapi bagaimana pandangan rakyat Amerika sendiri terhadap perkawinan sesama jenis? Sebelum MA Amerika mengambil keputusan melegalisasi perkawinan sesama homoseksual, Pew Research Center telah melakukan survei pendahuluan yang luas yang berkaitan dengan isu-isu seksualitas manusia, isu homoseksualitas dan perkawinan sesama jenis khususnya, dalam hubungan dengan berbagai isu sosial, etnisitas, politik, kultural, keagamaan dan lain-lain. Survei PRC yang diadakan 12-18 Mei 2015 mengungkapkan kondisi-kondisi berikut.

Kurang lebih tiga perempat (73%) orang Amerika yang mengenal banyak gay dan lesbian, dan dua pertiga (66%) dari orang-orang yang memiliki teman-teman dekat atau anggota-anggota keluarga yang gay atau lesbian, menyatakan bahwa mereka mendukung perkawinan sesama jenis seks.

Dan hampir separuh (48%) orang Amerika yang memiliki banyak kenalan yang gay, dan 38% dari mereka yang memiliki sahabat-sahabat dekat atau anggota-anggota keluarga yang gay, dengan kuat mendukung kalangan gay dan lesbian untuk menikah resmi.

Tetapi ada jauh lebih sedikit dukungan terhadap perkawinan sesama jenis seks di antara orang-orang yang memiliki sedikit atau sama sekali tidak mempunyai kenalan-kenalan yang gay atau lesbian. Begitu juga keadaannya di antara orang-orang yang tidak mempunyai teman dekat atau anggota keluarga yang gay atau lesbian.

Hanya 32% dari orang-orang yang tidak mempunyai kenalan yang gay atau lesbian yang mendukung perkawinan sesama gay atau sesama lesbian, dan 58% menolak (dengan 30% menyatakan bahwa mereka menolak keras perkawinan sesama jenis)./8/

Reaksi gereja-gereja di Indonesia. Bagaimana dengan sikap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terhadap legalisasi pernikahan sejenis? Kepala Biro Hubungan Masyarakat PGI, Jeirry Sumampow, menyatakan, “Kita masih dalam proses untuk melakukan kajian karena di lingkup PGI hal itu masih kontroversial, dengan beberapa pertimbangan.”/9/ Sebaliknya, Sekretaris Umum PGI, Pdt Gomar Gultom, menegaskan bahwa gereja tidak akan merestui dan memberlakukan perkawinan sejenis karena hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan./10/

Gereja Roma Katolik di Indonesia lewat Romo Benny Susetyo sudah menyatakan sikap mereka. Katanya, “Karena mengikuti sikap tahta suci Vatikan dan pendapat Paus (Fransiskus), GRK di Indonesia sejak awal tidak mengakui perkawinan sejenis karena menyalahi kodrat manusia yang diciptakan Tuhan berpasangan laki-laki dan perempuan."

Menurut sang romo, MA Amerika dapat melegalisasi perkawinan sejenis karena Partai Demokrat yang sedang berkuasa, yang memang liberal, mendukung perkawinan sejenis. Jadi, keputusan MA Amerika Serikat itu adalah keputusan politik. Kata sang Romo, “Nanti juga akan diubah lagi jika partai yang nanti akan berkuasa adalah Partai Republik yang memegang pandangan lain (yang konservatif).”/11/

Apakah keputusan MA Amerika itu hanya bersifat politis, tanpa didukung kajian-kajian ilmiah terhadap seksualitas manusia, etika dan prinsip-prinsip HAM, biarlah sang romo itu yang mencari tahu sendiri.

Selain itu, jika sang romo ini benar bahwa keputusan MA Amerika itu murni sebuah keputusan politik, hemat saya keputusan politik ini dungu, sebab tidak populer dan pasti akan ditentang sangat banyak rakyat Amerika sehingga akan menggoyahkan partai yang sedang berkuasa. Apa betul, MA Amerika itu dungu? Lagi pula, apa betul MA Amerika bisa diintervensi oleh partai politik yang sedang berkuasa?

Sosok-sosok penting di PGI dan di GRK itu, kendatipun mereka, di satu pihak, menolak legalisasi perkawinan sejenis, namun, di lain pihak, mereka masih bisa menyatakan bahwa mereka, juga gereja-gereja, akan tetap menghargai dan menerima kalangan LGBT untuk hidup, atas nama HAM dan toleransi, bahkan, tegas mereka lagi, gereja-gereja tetap mencintai kalangan ini.

Tetapi hemat saya, bagaimana mungkin mereka bisa total menerima kalangan gay dan lesbi sementara kalau kalangan ini mau menikah dengan sesama jenis, sosok-sosok terhormat di dua gereja itu menolak dengan tegas. Ada dualisme di sini dalam diri mereka masing-masing. Setengah hati merangkul, dan setengah hati lagi mendepak.

Salah satu hak untuk hidup, sebagai bagian dari HAM, adalah hak untuk menikah. Tanpa hak untuk menikah diakui dan diwujudkan, ya HAM juga dilanggar.

Saya sedang berpikir-pikir, apakah tepat jika mereka saya katakan munafik, berwajah ganda? Selain itu, mereka juga masih memegang pandangan keagamaan yang kuno bahwa ikatan perkawinan dibangun untuk tujuan mendapatkan keturunan; dus, perkawinan sesama jenis tidak bisa dilegalisasi. Siapa bilang, orang menikah hanya untuk tujuan prokreasi?

Juga, siapa bilang, perkawinan sesama jenis tidak memungkinkan mereka mempunyai anak yang mereka akan besarkan bersama? Maksud saya, bukan dengan cara mengadopsi anak, tetapi lahir dari tubuh mereka sendiri! Aah, yang benar? Mana mungkin? OK, mari kita berpaling ke sains!

Suatu tim ilmuwan dari Universitas Cambridge, Inggris, dan Weizmann Institute of Science, Israel, baru-baru ini telah berhasil menemukan sebuah teknik genetika untuk menghasilkan bayi manusia dari sel-sel kulit orangtua si bayi dengan menggunakan gen yang dinamakan SOX17.

Gen SOX17 digunakan untuk memprogram ulang sel-sel kulit manusia untuk menjadi “sel-sel germ primordial” (“Primordial Germ Cells”, atau PGCs, yakni sel-sel pendahulu telur dan sel-sel sperma), yang kemudian akan berkembang menjadi janin-janin manusia.

Proses ini dapat dijalankan untuk memberikan bayi-bayi baik bagi pasangan heteroseksual yang mandul maupun bagi pasangan homoseksual. Selain itu, teknik mutakhir reproduksi ini juga dapat menghilangkan mutasi-mutasi epigenetik yang menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan pada sel-sel tubuh manusia ketika orang mulai menua, yakni dengan cara menyetel ulang dan meregenerasi sel-sel yang sudah tua./12/

Posisi Paus Fransiskus. Di akhir Juli 2013, di saat sedang dalam penerbangan kembali ke Vatikan sehabis berkunjung selama seminggu sejak 22 Juli di Rio de Janeiro, Brazil, Paus Fransiskus mengadakan acara jumpa pers selama satu jam lebih. Banyak hal yang dipercakapkan, di antaranya tentang homoseksual. Di saat sedang membicarakan kaum gay, Paus Fransiskus menyatakan bahwa:

Ketika aku berjumpa dengan seorang gay, aku harus membicarakan kondisi mereka sebagai gay dan sebagai bagian dari suatu lobby. Jika seseorang itu gay dan dia menerima Tuhan dan berkemauan baik, siapakah aku sampai aku harus menghakimi mereka? Mereka harus tidak dimarjinalisasikan. Kecenderungan [ke homoseksualitas] bukan masalahnya,… mereka saudara-saudara kita. /13/

Jelas, sang Paus hanya berbicara tentang gay yang “menerima Tuhan”, maksudnya: para gay yang menerima dan percaya pada Yesus Kristus, yakni para gay warga GRK, dan bisa juga semua gay yang Kristen saja. Sang Paus pernah juga bercerita pendek, tuturnya:

Suatu kali seseorang bertanya kepadaku dengan nada yang provokatif, apakah aku menyetujui homoseksualitas. Aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan lain: ‘Katakan kepadaku, ketika Allah melihat seorang gay, apakah Allah mendukung kehidupan orang ini dengan cinta-Nya, ataukah menolak dan mengutukinya?’ Jadi, kita harus selalu mempertimbangkan si individu yang gay itu!”/14/

Kelihatan jelas dari ucapannya ini, Paus Fransiskus menghargai martabat dan kehormatan kalangan homoseksual, kendatipun, pada sisi lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah para gay Kristen yang berkemauan baik.

Tetapi belum lama ini, ketika Irlandia baru saja melegalisasi perkawinan sejenis, Vatikan menegaskan bahwa langkah Irlandia itu “sebuah kekalahan bagi kemanusiaan!” Sebagaimana sudah diketahui, ada sepuluh negara yang berlatarbelakang kuat GRK yang sudah melegalisasi perkawinan sejenis, yakni Belgia, Kanada, Spanyol, Argentina, Portugal, Brazil, Prancis, Uruguai, Luxemburg, dan Irlandia./15/

Sulit bagi kita untuk menyamakan GRK dengan kemanusiaan, tentu saja. Mengapa sang Paus menjadi tidak konsisten padahal dia sudah dikenal sebagai pemimpin GRK sedunia di abad ke-21 yang mampu berpikir bebas?

Selain itu, dalam sebuah wawancara terhadap Paus Fransiskus yang dimuat dalam buku Andrea Tornielli dan Giacomo Galeazzi, This Economy Kills: Pope Francis on Capitalism and Social Justice (2015), sang Paus mengejutkan sekali menyetarakan teori gender (yang melihat seksualitas manusia membentuk sebuah spektrum warna-warni yang lazimnya disebut spektrum LGBTIQ) dengan senjata nuklir yang dapat melenyapkan kehidupan. Kata Paus Fransiskus:

Mari kita pikirkan persenjataan nuklir, yang mampu melenyapkan sangat banyak manusia dalam sekejap. Mari juga kita pikirkan manipulasi genetik, manipulasi kehidupan, atau teori gender, yang tidak mengakui orde ciptaan. Dengan semua sikap ini, manusia sedang membuat sebuah dosa besar baru yang melawan Allah sang Pencipta./16/

Betulkah teori spektrum seksualitas manusia sama bahayanya dengan ledakan sebuah bom nuklir? Ya jelas tidak! Ada baiknya anda usahakan bertanya langsung ke Vatikan apa yang dimaksudkan oleh sang Paus atas pernyataannya itu. Terus terang, saya merasa iba juga pada sang Paus, karena dia bagaimanapun juga harus tunduk pada dogma dan doktrin GRK, meskipun dia sendiri punya pikiran yang bebas.

Agama sayangnya lebih sering memenjarakan manusia ketimbang membebaskan. Agama juga sering membelah kepribadian manusia. Agama semacam ini bukan agama yang cerdas. Pertanyaan sufi dari Persia yang terkenal, Jalaluddin Rumi (1207-1273), selalu saya ingat, “Mengapa anda terus berdiam dalam penjara sementara pintu-pintunya terbuka lebar?” Rumi juga memerintahkan, “Jadilah langit! Ambil sebuah kapak lalu runtuhkan dinding penjara itu! Lepaskan dirimu!”

Dalam sebuah komentar panjangnya tentang pertemuan pribadi Paus Fransiskus dan Ms. Kim Davis (panitera di Kentucky yang belum lama ini menolak mengeluarkan surat izin nikah bagi pasangan sesama jenis seks), yang berlangsung di Kedutaan Besar Vatikan di Washington, D.C., 24 September 2015, German Lopez antara lain menyatakan bahwa

Paus Fransiskus kadangkala mengucapkan hal-hal…yang kelihatannya bersahabat dengan kalangan gay. Tetapi ketika dianalisis lebih jauh, ajaran-ajaran dasariah GRK dan Paus Fransiskus tidak berubah sama sekali: homoseksualitas masih dipandang sebagai suatu dosa, para gay masih diminta untuk hidup suci, dan perkawinan sesama jenis seks tetap dilawan./17/

Posisi Dalai Lama XIV. Dalam suatu wawancara di bulan Maret 2014 oleh sosok beken di dunia radio dan TV Amerika, Larry King, tentang perkawinan sesama jenis seks, Dalai Lama XIV menegaskan bahwa “jika dua orang―sebagai pasangan―sungguh-sungguh merasa bahwa cara itu lebih praktis dan lebih memuaskan, dan kedua mitra sepakat sepenuhnya, itu OK saja!”

Tetapi Dalai Lama tetap menghargai sikap dan posisi masing-masing agama lain ketika dia menegaskan bahwa umat setiap agama harus mengikuti kaidah-kaidah moral agama mereka masing-masing di bidang seks.

Tentang homoseksualitas di kalangan orang tidak beragama, Dalai Lama menegaskan bahwa:

itu terserah mereka. Ada banyak bentuk seks yang berbeda―sejauh itu aman, OK saja. Juga kedua mitra harus sepakat sepenuhnya.” Jika para homoseks “di-bully, diperlakukan sewenang-wenang, itu salah sama sekali. Itu melanggar HAM./18/

Jelas ya, Dalai Lama XIV berpandangan jauh lebih maju ketimbang Paus Fransiskus. Selanjutnya adalah tugas para pakar medis Buddhis untuk menjabarkan makna dan cakupan kata “aman” dalam hubungan seksual para homoseksual, yang telah dikatakan Dalai Lama.

Surat terbuka muslimin Reza Aslan dan Hasan Minhaj. Ahli agama Reza Aslan dan komedian sekaligus wartawan Daily Show Hasan Minhaj, keduanya Muslim Amerika, pada 7 Juli 2015, bersama-sama menulis sebuah surat terbuka kepada sesama Muslim Amerika mengenai perkawinan sesama jenis yang baru dilegalisasi oleh MA Amerika dan berlaku di seluruh 50 negara bagian. Surat mereka cukup panjang, dimuat pada web Religion Dispatches, 7 Juli 2015. Saya kutipkan bagian-bagiannya yang hemat saya penting diperhatikan, berikut ini./19/

Kini perkawinan sesama jenis sudah legal di Amerika. Keadaan ini mengguncang iman kalian. Kalian jadi khawatir tentang masa depan, dan bertanya apa artinya masa depan untuk anak-anak kalian. Kalian tahu, hak-hak kaum gay makin luas diterima, tapi secara pribadi kalian sesungguhnya tidak dapat merangkul perubahan ini.

Kalian dapat merasa tidak ada masalah jika berteman dengan gay atau mereka menjadi rekan-rekan sekerja kalian. Bahkan kalian dapat sepakat bahwa menjadi gay tidak membuat kalian terdiskualifikasi sebagai seorang Muslim. Tetapi secara pribadi, diam-diam kalian merasa bahwa adanya komunitas-komunitas LGBT adalah suatu kontradiksi yang real terhadap kepercayaan-kepercayaan yang telah diwariskan kepada kalian.

Sebagai Muslim, kita adalah orang yang telah termarjinalisasi dengan dalam di dalam kebudayaan arus utama Amerika. Lebih dari separuh orang Amerika memandang kita dengan negatif. Sepertiga orang Amerika (yakni, lebih dari seratus juta orang) ingin kita membawa KTP khusus sehingga mereka dengan mudah dapat mengenali kita sebagai Muslim.

Kita harus tidak selamanya mempertahankan keadaan kita yang termarjinalisasi dengan memarjinalisasi orang-orang lain. Jika kalian menolak hak untuk perkawinan sesama jenis, tetapi lalu mengharapkan empati terhadap perjuangan komunitas kita, itu sama dengan kemunafikan. 

Ingatlah bagaimana orang memandang saudara-saudara perempuan kalian yang memakai hijab atau saudara-saudara pria kalian yang berjenggot lebat saat mereka berjalan di dalam mall-mall. Ingat juga bagaimana di pelabuhan-pelabuhan udara orang melihat ke kalian atau mengomel kepada kalian.

Ingat juga bagaimana para pemimpin politik terpilih kalian sendiri dengan tajam mengkritik kalian. Itulah juga semua yang dirasakan saudara-saudaramu, lelaki dan perempuan, dari kaum LGBT, setiap hari dalam kehidupan mereka. Apakah kalian bersikap biasa-biasa saja dengan semua itu?

Kalian boleh berpikir bahwa hak-hak LGBT adalah suatu percakapan baru, sesuatu yang baru-baru ini saja bersentuhan dengan pemikiran Islam modern. Tetapi, percayalah kepada kami, tidak demikian halnya! Menantang status quo untuk memperbaiki masyarakat adalah salah satu fondasi bangunan agama Islam sendiri. 

Tapi jika hati kalian tidak bisa menerima kalangan gay pada prinsipnya, ingatlah negara yang di dalamnya kalian ingin berdiam. Bagaimana pun juga, UU yang baru saja menjamin hak-hak komunitas-komunitas LGBT adalah UU yang sama yang melindungi masjid-masjid dan sentra-sentra komunitas kita, yang membuat sekolah-sekolah Islami kita tetap buka, yang memungkinkan kita mempunyai hak-hak dan perlakuan-perlakuan istimewa saat kita semua menghadapi kebencian dan fanatisme yang membanjir dari orang-orang Amerika sesama kita. Kalian tidak dapat merayakan yang satu dengan membuang yang lain. 

Karena itulah, tidak cukup jika kita cuma ‘mentolerir’ keputusan MA. Mentolerir suatu komunitas lain hanya akan menimbulkan ketakutan-ketakutan tersembunyi terhadap kelompok-kelompok yang termarjinalisasi dan apatisme terhadap proses politik.

Sebagai minoritas-minoritas, kita tidak bisa hidup dengan dua emosi itu memenuhi kita. Kita harus melakukan lebih dari cuma mentolerir. Kita harus merangkulnya. Kita harus memperjuangkan hak orang-orang lain untuk menjalani kehidupan mereka dengan bebas, sama seperti kita juga ingin hidup kita bebas. 

Hal terpenting yang kalian harus pikirkan sungguh-sungguh adalah ini: Belalah komunitas-komunitas yang termarjinalisasi, bahkan ketika kalian tidak sepakat dengan mereka. Ini bukan saja hal yang benar untuk kalian lakukan, tetapi ini juga adalah hal Islami yang setiap Muslim harus lakukan. Ingatlah, Allah itu sepenuhnya rahmani dan rahimi. Wujudkan ini bagi semua orang, bukan hanya bagi kalangan heteroseksual!”

Baris terakhir surat terbuka mereka memuat kata-kata ini: “Rayakanlah! Jangan hanya mentolerir! Cinta sungguh-sungguh menang.

Setelah mengamati sekian waktu, dan sudah saya prediksi sebelumnya, saya menemukan, ada banyak Muslim yang marah terhadap Reza Aslan dan Hasan Minhaj, padahal mereka yang marah ini bukan Muslim Amerika dan tidak memahami konteks sosial budaya dan politik yang di dalamnya Aslan dan Minhaj hidup.

Bahkan ada juga yang meminta surat terbuka mereka dicabut dari web Religion Dispatches, padahal mereka ini belum membaca surat mereka seluruhnya dalam bahasa Inggris dan mungkin sekali mereka juga tidak paham bahasa Inggris. Itulah suasana batin dan intelektual dunia Muslim sekarang ini.

Semakin Reza Aslan dan Hasan Minhaj dibenci dan dicaci karena surat terbuka mereka itu, semakin Islami mereka berdua dalam penilaian saya, dan semakin menjauh dari kerahiman dan kerahmanian Allah para Muslim pembenci itu. Reza Aslan dan Hasan Minhaj, dalam pandangan saya, betul saat mereka menyatakan cinta dan kasih sayang serta kemurahan Allah itu tak mengenal batas-batas, diberikan kepada semua orang dari orientasi seksual apapun. Agama-agama yang dibangun manusia, itulah yang membatasi kerahiman dan kerahmanian Allah.

Literalisme versus kritisisme. Tentang posisi kaum Muslim di Indonesia, tidak perlu saya beberkan lagi, karena mereka pasti juga menolak perkawinan sesama jenis. Yang sudah kita ketahui adalah bahwa beberapa peristiwa telah terjadi belum lama ini di Indonesia yang menunjukkan kebencian kaum beragama Muslim fundamentalis terhadap kaum homoseksual; kebencian ini timbul tidak sedikit karena teks-teks skriptural yang dipahami secara harfiah.

Saya menyebut mereka sebagai kalangan literalis dalam memahami teks-teks kuno kitab suci. Bagi mereka, hal apapun yang sudah tertulis sebagai teks kitab suci, teks ini apa adanya, harfiah, berlaku di segala zaman dan di segala tempat, mutlak mengikat umat pemakai kitab suci, kata mereka, sejak awal dunia hingga kiamat. Kata mereka dengan sangat yakin bahwa teks-teks kitab suci tidak perlu ditafsir-tafsir, tapi cukup hanya dibaca, dan pesan-pesan yang tertulisnya tinggal umat jalankan saja dengan taat, tanpa perlu ada keraguan sedikitpun.

Keyakinan kalangan literalis ini sesungguhnya naif dan tidak tepat, karena minimal dua penyebab.  Pertama, mereka mengabaikan fakta kuat bahwa ketika teks-teks kuno kitab suci sudah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa kita sendiri, penerjemahan itu sendiri adalah suatu penafsiran. Tak ada penerjemahan yang bebas dari penafsiran.

Kalaupun kitab suci yang kita pakai masih ditulis dalam bahasa aslinya (misalnya bahasa Ibrani atau bahasa Yunani koine atau bahasa Arab zaman dulu), saat kita pada masa kini di dunia kita membaca teks-teks asli ini dan mau memahaminya kita berpikir dalam bahasa ibu kita, bukan dalam bahasa asli kitab suci kita. Dus, saat ini terjadi, kita pun harus menafsir teks-teks dalam bahasa aslinya itu dan mengubahnya dalam pikiran kita sendiri untuk menjadi teks-teks dalam bahasa ibu kita sendiri.

Kondisi ini pasti terjadi dalam benak kita sejauh kita mau memahami teks-teks asli yang kita baca, bukan cuma mau hafal mati dan ulang-ulang ribuan hingga jutaan kali begitu saja tanpa kita ketahui artinya dalam bahasa ibu kita sendiri, sejak kita kanak-kanak sampai kita wafat.

Kedua, mereka tidak bisa melihat dan tidak mau mengakui bahwa tidak ada seorangpun saat mendekati teks-teks kitab suci berpikiran kosong melompong (seperti selembar kertas putih bersih), alhasil, kata mereka, hanya tinggal diisi pesan-pesan kitab suci yang puritan.

Sesungguhnya, kapan pun juga kita membaca dan mau menangkap pesan teks-teks suci apapun, dalam benak kita selalu sudah ada paham-paham dan keyakinan-keyakinan yang kuat sebelumnya, yang terbentuk dan dibangun dari berbagai sumber di luar kitab suci sendiri (misalnya, dari aliran agama yang kita anut, dari indoktrinasi ajaran-ajaran guru-guru agama, dari buku-buku dan berita-berita yang kita baca dan dengar, dari berbagai pengalaman kehidupan kita, dari kedudukan dan tempat kita dalam masyarakat, dari tekanan-tekanan yang datang dari luar diri kita, dan dari ambisi-ambisi individual kita sendiri).

Berbagai paham dan keyakinan yang sudah ada sebelumnya dalam benak kita ini saat kita mau memahami teks-teks kitab suci dalam ilmu tafsir disebut prapaham atau prasuposisi (presupposition). Nah prapaham ini sangat kuat mengendalikan pikiran kita ketika kita sedang membaca teks-teks kitab suci apapun.

Adanya peran prapaham ini dalam setiap usaha memahami kitab suci membuat pemahaman literalis atau pemahaman harfiah sama sekali tidak bisa didapat. Alih-alih menemukan makna harfiah teks-teks suci, si pembaca kitab suci malah membiarkan prapaham-prapahamnya sendiri menentukan makna teks-teks suci yang sedang dibacanya dan menganggap prapaham-prapahamnya ini sendiri sebagai firman Allah.

Ketimbang menemukan satu pesan teks suci yang jelas, pendekatan literalis malah menghasilkan sangat banyak dan beranekaragam pesan teks sejalan dengan banyak dan beranekaragamnya prapaham-prapaham para penafsir.

Sebaliknya, penafsiran yang bertanggungjawab adalah penafsiran yang tidak dikendalikan atau didikte prapaham, kendatipun prapaham ini masih bisa ada gunanya hanya di langkah-langkah awal penafsiran sebagai ancang-ancang saja, yang kemudian harus dilepaskan demi menemukan makna sebenarnya teks-teks suci. Menolak pendiktean oleh prapaham-prapaham kita hanya mungkin jika kita menafsir teks-teks kitab suci tidak literalistik, tetapi dengan memakai sebuah pendekatan lain, yang kedua.

Dalam situasi sosialpolitik yang tidak menguntungkan seperti sudah disinggung di atas, untuk meniadakan atau minimal mengurangi tekanan sosiopsikologis dan sosiopolitis terhadap kaum homoseksual, teks-teks skriptural yang tampak melarang dan mengutuk homoseksualitas perlu ditafsir ulang untuk melepaskan teks-teks ini dari dominasi konstruksi tafsiran tradisional literalis yang umumnya memang tidak memihak kaum ini.

Pendekatan yang kedua ini pendekatan yang saintifik terhadap teks-teks kuno kitab suci manapun, disebut sebagai pendekatan historis kritis. Digolongkan sebagai pendekatan saintifik karena memang dijalankan dengan melibatkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti ilmu sejarah, linguistik, arkeologi, antropologi budaya, sosiologi, berbagai jenis kritik sastra, dan lain-lain.

Dengan pendekatan historis kritis, semua teks kuno kitab-kitab suci mutlak harus diperlakukan sebagai teks-teks yang terikat pada sejarah, kebudayaan dan sistem sosial zaman-zaman kuno yang di dalamnya para penulis teks-teks ini hidup, bergaul, bermasyarakat, berpikir dan memahami berbagai kenyataan. Dengan demikian, makna atau pesan teks-teks kuno kitab suci selalu terikat dengan konteks sejarah dan konteks kebudayaan masa lalu yang di dalamnya teks-teks ini ditulis (siapapun yang dianggap sebagai para penulis teks-teks ini).

Jadi, dalam penafsiran historis kritis adalah mutlak untuk kita mengenali konteks sejarah dan konteks kebudayaan di masa lampau ini, sebelum kita membawa teks-teks ini ke zaman kita di tempat kita. Hanya dengan kembali dulu ke masa lampau di dunia yang lain, prapaham-prapaham kita tidak akan mendikte kita dalam proses menafsirkan teks-teks kuno.

Setelah kita menemukan makna dan pesan teks-teks itu untuk orang di zaman kuno dan di dalam sistem sosial mereka sendiri, barulah kita dapat mengayunkan langkah yang kedua (disebut sebagai langkah hermeneutis), yakni menilai dengan teliti apakah teks-teks kuno ini masih relevan untuk zaman sekarang di dunia kita ataukah sudah tidak relevan lagi sehingga tidak perlu kita gunakan lagi.

Sebagai sebuah sumbangan dalam mendekonstruksi tafsiran tradisional literalis terhadap teks-teks homoseksualitas dalam kitab suci, tulisan ini fokus pada teks-teks Alkitab yang dalam pandangan pertama tampak dalam arti harfiah mengutuk kaum homoseksual. Teks-teks ini mau dipahami dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaan serta sistem-sistem sosial di zaman-zaman kuno dan di tempat-tempat yang berbeda dari tempat kehidupan kita sekarang.

Ingatlah selalu, makna atau pesan sebuah teks suci kuno ditentukan bukan oleh Tuhan Allah di langit, tetapi oleh sistem-sistem sosial yang di dalamnya para penulis kitab-kitab suci hidup. Relevansi atau irelevansi teks-teks ini untuk kehidupan zaman sekarang di dunia kita dengan mudah kita akan dapat temukan sejauh kita memiliki kesadaran sejarah dan kesadaran konteks kontemporer kita sendiri.

Tujuh teks utama Alkitab. Ok, kita mulai. Terdapat kurang lebih dua puluh rujukan ke homoseksualitas atau ke perilaku homoseksual dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tujuh di antaranya menurut kalangan Kristen konservatif merupakan teks-teks yang sangat jelas melarang dan mengutuk homoseksualitas atau perilaku homoseksual, yakni Kejadian 19; Imamat 18:22; Imamat 20:13; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9-10; 1 Timotius 1:9-10; Yudas 1:7.

Tetapi kalangan Kristen liberal progresif mengajukan tafsiran yang berbeda atas teks-teks ini dengan memakai metode tafsir historis kritis, dan menegaskan bahwa konsep “orientasi seksual” sebagai homoseksual belum dikenal oleh para penulis kitab-kitab suci kuno. Berikut ini tinjauan singkat atas tujuh teks ini dan tafsiran yang diberikan masing-masing kalangan Kristen ini terhadap masing-masing teks ini. 

Kejadian 19. Perikop ini mengisahkan tentang niat Tuhan untuk memusnahkan kota Sodom (dan Gomora) karena (kedua) kota ini konon sangat besar dosanya dan durjana (18:20; 19:15). Dua orang lelaki (= malaikat) diutus Tuhan untuk menyelidiki keadaan kota ini. Ketika mereka sudah tiba di Sodom, mereka diterima oleh Lot dan diberi tumpangan di rumahnya pada malam hari itu juga.

Tetapi semua lelaki dari seluruh kota ini, tua dan muda (19:4), pada malam itu mendatangi rumah Lot dan mengepungnya. Mereka memaksa Lot untuk menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka untuk mereka “sodomi” (Ibrani: yada = mengetahui, berhubungan seksual). Tetapi Lot melindungi mereka, bahkan dia sampai rela menawarkan dua anak perawannya kepada mereka sebagai pengganti dua orang asing tamunya itu.

Ketika keadaan sudah genting, dua tamu itu menarik Lot ke dalam rumahnya, dan mereka membutakan mata orang banyak yang mau mendobrak pintu rumahnya itu sehingga mereka tidak bisa menemukan pintu masuk. Kisahnya berakhir dengan pemusnahan kedua kota ini melalui letusan gunung berapi, dan hanya Lot beserta keluarganya diluputkan dari bencana ini.

Dalam pandangan kalangan Kristen konservatif, Tuhan melenyapkan kota Sodom (dan Gomora) karena kaum lelaki penduduknya mempraktekkan hubungan homoseksual. Dengan demikian, dalam pandangan mereka, Tuhan mengutuk dan menghukum segala jenis homoseksualitas, yang, dalam pandangan mereka, merupakan suatu akibat lanjutan dari “kejatuhan” Adam dan Hawa sebagaimana dikisahkan dalam Kejadian 2-3.

Tetapi kalangan Kristen liberal menolak tafsiran semacam ini. Bagi mereka, teks ini tidak memberi petunjuk jelas apapun tentang bentuk kedurjanaan dan dosa kota Sodom. Sebaliknya teks dengan jelas menyatakan apa sebab-musabab kaum lelaki Sodom mau “menyodomi” dua tamu Lot itu, yakni karena mereka menilai keduanya adalah orang asing yang mau menjadi hakim atas mereka (19:9).

Dalam zaman kuno di kawasan Timur Tengah, raja-raja dari suku-suku bangsa yang ditaklukkan kadangkala diperkosa lewat anus oleh pasukan yang menyerbu masuk sebagai tanda kekalahan dan penghinaan atas mereka. Pemerkosaan secara anal ini juga adalah suatu cara untuk menghina dan merendahkan para wisatawan dan orang asing, dan sekaligus untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi penduduk asli dan pihak pemenang./20/

Kalaupun dua tamu Lot itu menilai niat kaum lelaki Sodom untuk memperkosa mereka secara anal sebagai suatu dosa, dosa ini bukanlah dosa homoseksualitas, melainkan dosa memperkosa orang asing yang bertujuan untuk menghina mereka dan untuk memperlihatkan kekuatan dan dominasi para pemerkosa.

Imamat 18:22. 

Janganlah engkau tidur dengan laki-laki sama seperti engkau bersetubuh dengan seorang perempuan, karena hal itu suatu kekejian.

Bagi kalangan Kristen konservatif, teks ini, yang dilepaskan dari konteks sastranya, dengan tegas melarang hubungan seksual antar sesama lelaki melalui anus. Tetapi bagi kalangan liberal, teks ini tidak berbicara tentang larangan hubungan homoseksual secara umum.

Jika ditempatkan dalam konteks sastranya dan dalam konteks religius pada masanya, teks ini ternyata mau menyatakan sesuatu yang lain.

Pasal-pasal sebelum dan sesudah teks ini secara meluas berbicara mengenai idolatri (= penyembahan kepada berhala). Imamat 18:6-18 memuat larangan terhadap berbagai macam inses; ayat 19 berisi larangan bersetubuh dengan seorang perempuan yang sedang haid. Ayat 20 memuat larangan perzinahan.

Persis pada ayat 21 kita baca larangan mempersembahkan anak-anak kepada suatu dewa pagan yang bernama Molokh; lalu setelah ayat 22 (lihat teks di atas) menyusul ayat 23 yang memuat larangan perkelaminan dengan binatang, baik oleh lelaki maupun oleh perempuan dari antara orang Israel. Sesudah itu menyusul ayat-ayat 24-30 yang dengan sangat jelas menyebut bahwa semua larangan yang telah disebut sebelumnya telah dilakukan oleh “bangsa-bangsa” lain, yang sama sekali tidak boleh diikuti oleh bangsa Israel.

Di dalam kuil-kuil dewa pagan, khususnya kuil dewa pagan Molokh, terdapat pelacur-pelacur bakti (lelaki atau pun perempuan dewasa, dan juga anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan) yang dalam ritual penyembahan kepada sang dewa melakukan aktivitas persetubuhan. Ritual seksual semacam ini melibatkan kegiatan hubungan homoseksual.

Seperti juga banyak masyarakat agraris kuno lainnya, para penyembah dewa ini percaya bahwa jika mereka melakukan persetubuhan dengan para pelacur bakti ini di dalam kuil dewa mereka, dewa mereka akan senang dan sebagai akibatnya pasangan mereka, ternak mereka dan lahan garapan mereka, akan mengalami peningkatan kesuburan dan berbuah-buah./21/

Dengan latarbelakang ritual religius paganisme semacam ini, yang marak dilakukan pada masa Israel kuno, Imamat 18:22 jelas tidak berbicara mengenai larangan dan penolakan terhadap homoseksualitas secara umum, tetapi terhadap ritual pelacuran bakti yang dilaksanakan di kuil-kuil dewa-dewa pagan oleh bangsa-bangsa lain yang mengitari bangsa Israel.

Dalam Ulangan 23:17 dengan eksplisit larangan semacam ini diberikan: “Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti (Ibrani: quedeshaw), dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti (Ibrani: quadesh).” Quadesh bertindak sebagai representasi simbolik Dewa; dan quedeshaw sebagai representasi simbolik Dewi.

Imamat 20:13. 

Jika seorang laki-laki tidur dengan seorang laki-laki seperti dia bersetubuh dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan suatu kekejian, dan pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Teks ini juga memiliki konteks ritual pelacuran bakti di kuil-kuil dewa-dewa pagan, khususnya Dewa pagan Molokh (20:1-7), yang melibatkan aktivitas persetubuhan homoseksual yang dipercaya akan mendatangkan kesuburan. Bangsa Israel dilarang keras meniru praktek ritual pagan semacam ini, dan jika mereka melakukannya, mereka akan dihukum mati.

Dalam kehidupan bangsa Israel kuno, hukuman mati kadang dijatuhkan pada umumnya kepada orang Israel yang melakukan suatu pelanggaran ritual, di antaranya menyembah allah-allah lain, mengumpulkan kayu api pada hari Sabat (Bilangan 15:32-36), memakan persembahan-persembahan ritual dengan cara yang tidak pantas (Bilangan 18:32), bertindak sebagai imam dengan cara yang tidak sah (Bilangan 3:10)./22/

Roma 1:26-27. 

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman (Yunani: hē askhēmosunē), lelaki dengan lelaki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Surat Roma ditujukan Rasul Paulus kepada orang-orang Kristen yang berdiam di Roma (1:7). Mereka terbenam dalam kebudayaan Romawi di mana perilaku homoseksual ditemukan di mana-mana dan diterima oleh masyarakat. Dalam paganisme kota Roma, orang melakukan ibadah dan ritual kesuburan di kuil-kuil dewa-dewa dan di kultus-kultus misteri, dengan di dalamnya aktivitas pesta-pora seksual dilaksanakan gila-gilaan.

Dengan bantuan anggur, berbagai macam obat perangsang, musik dan dukungan hadirin, para peserta ritual kesuburan ini terbawa masuk ke dalam keadaan mabuk dan kehilangan kendali diri, yang mendorong mereka tanpa kendali melampiaskan hasrat birahi mereka dalam suatu hubungan seksual yang tidak normal. Inilah konteks religius kultural teks Roma 1 yang sedang kita soroti./23/

Sebutan “hawa nafsu yang memalukan” dalam teks Roma 1:26 mengacu kepada keadaan mabuk dan gila-gilaan ini yang dialami oleh sejumlah orang di jemaat kota Roma, yang telah meninggalkan kekristenan lalu menganut paganisme kota itu (1:18-23). Semula mereka alamiahnya adalah perempuan-perempuan heteroseksual dan laki-laki heteroseksual. Tetapi, ketika mereka sudah beralih ke paganisme kota Roma dan ambil-bagian dalam ritual-ritual kesuburan pagan, perilaku seksual mereka berubah: kaum perempuan heteroseksual menjadi lesbian, dan kaum lelaki heteroseksual menjadi gay.

Paulus menyatakan bahwa mereka menerima “balasan yang setimpal”; ini tampaknya mengacu kepada penyakit kelamin yang telah menjadi epidemik di kalangan peserta kultus kesuburan Paganisme kota Roma./24/ Nah, kalangan inilah yang dikecam dan diperingati Rasul Paulus dalam Roma 1:26-27 sebagai kalangan yang bermoral bobrok dan patut dihukum mati (1:28-32), bukan kalangan yang karena orientasi seksual yang ada pada diri mereka menjalani kehidupan homoseksual.

Karena konsep “orientasi seksual” baru diperkenalkan di abad ke-20 ketika seksualitas dikaji secara ilmiah, dan tentu belum dikenal oleh Rasul Paulus, maka sangatlah tidak tepat jika kalangan Kristen konservatif  memakai teks Roma 1:26-27 untuk menolak dan mengutuk homoseksualitas secara umum.

1 Korintus 6:9-10

Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci [malakoi], orang pemburit [arsenokoitai], pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Kata-kata Yunani untuk kata-kata “banci” dan “orang pemburit” (kata-kata ini dipakai dalam Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia) adalah malakoi dan arsenokoitai. Ihwal apa yang dimaksud dengan kata-kata ini dalam pikiran Rasul Paulus banyak diperdebatkan; dan mungkin sekali kata arsenokoitai adalah kata yang diciptakan sendiri olehnya mengingat sebelum dia menulis surat 1 Korintus kira-kira di tahun 55 M tidak ada penulis lain yang telah memakainya./25/

Kalangan Kristen konservatif menafsirkan kedua kata ini overall sebagai homoseksual dalam arti seumumnya (bandingkan terjemahan arsenokoitai sebagai “homosexual offenders” dalam Alkitab New International Version yang terjemahannya sarat dengan pandangan kekristenan konservatif). Menurut mereka, para homoseksual tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, atau dengan kata lain mereka akan masuk neraka setelah kematian. Jelas, ini bukanlah sebuah tafsiran yang tepat.

Jika Rasul Paulus (menulis surat 1 Korintus sekitar tahun 55 M) bermaksud mengacu ke homoseksual, dia akan memakai sebuah kata Yunani lain yang standard, yakni kata paiderasste yang menunjuk kepada orang yang berperilaku homseksual antara lelaki dengan lelaki./26/

Septuaginta (LXX) (terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani yang dibuat antara abad ke-3 dan abad ke-1 SM) menerjemahkan kata Ibrani quadesh dalam 1 Raja-raja 14:24; 15:12; dan 22:46 ke dalam suatu kata Yunani yang kurang lebih serupa dengan kata arsenokoitai. Perikop ini dalam LXX ini mengacu ke para “pelacur lelaki yang bekerja di kuil”, yaitu kaum pria yang terlibat dalam ritual seksual di dalam kuil-kuil pagan (Indonesia: pemburit bakti)./27/

Beberapa pemimpin lain gereja perdana berpikir bahwa surat 1 Korintus juga mengacu ke para pemburit bakti di kuil-kuil pagan. Ada juga yang berpendapat bahwa arsenokoitai sebetulnya mengacu ke para pelacur laki-laki yang menerima pelanggan perempuan, suatu pekerjaan yang tampaknya umum dilakukan di dalam kekaisaran Romawi./28/ Di samping itu, sangat mungkin arsenokoitai juga mengacu ke orang-orang yang bekerja sebagai germo atau muncikari./29/

Malakoi (yang diterjemahkan sebagai “banci” dalam Alkitab TB LAI) sebetulnya mengacu ke seorang lelaki muda atau seorang anak lelaki yang terlibat dalam hubungan seksual lewat anus dengan seorang lelaki dewasa yang memilikinya sebagai budaknya.

Malakoi adalah mitra seks seorang pria dewasa yang kaya raya. Dengan demikian, istilah yang kedua, arsenokoitai, dapat mengacu ke lelaki dewasa yang memiliki seorang budak yang dijadikan mitra seksualnya pada saat si lelaki dewasa ini berhasrat melampiaskan nafsu syahwatnya. Praktek seksual semacam ini, antara tuan dan budak lelaki, antara seorang pedofili dan korbannya, biasa dijumpai dalam dunia Yunani-Romawi pada era permulaan kekristenan./30/

Jelaslah, dalam 1 Korintus 6:9-10 Rasul Paulus tidak sedang mengecam dan mengutuk orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual, baik laki-laki maupun perempuan. Yang ditolak olehnya adalah para praktisi hubungan seksual dalam ritual-ritual kesuburan di kuil-kuil pagan, atau, orang-orang lelaki kaya yang memperlakukan budah-budak lelakinya sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat mereka, atau orang-orang yang bekerja sebagai muncikari.

Jelas, Rasul Paulus menyamakan kedudukan semua golongan ini, yakni sebagai orang-orang yang tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, padahal anak-anak lelaki yang menjadi budak-budak pemuas nasfu seksual para tuan mereka adalah korban-korban yang patut diberi pertolongan.

1 Timotius 1:9-10. 

… yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi… orang cabul dan pemburit [arsenokoitēs], bagi penculik, bagi pendusta,…

Pandangan negatif Rasul Paulus terhadap arsenokoitēs (yang diutarakannya dalam surat 1 Korintus pada tahun 55 M, sebagaimana telah dibahas di atas) tetap dipertahankan dalam surat 1 Timotius sebagai salah satu surat pastoral yang ditulis oleh para penjaga dan penafsir warisan teologis Paulus (dua lainnya adalah 2 Timotius dan Titus) antara tahun 100–150 M, yakni paling jauh delapan puluh lima tahun setelah Paulus dieksekusi. Bagi penulis surat 1 Timotius, perilaku arsenokoitēs bertentangan dengan “ajaran yang sehat” yang disusun berdasarkan “injil Allah” (ayat 10,11)./31/

Yudas 1:7. 

… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.

Sama seperti Kejadian 19 tidak menyatakan dengan spesifik apa dosa kota Sodom (lihat ulasannya di atas), Yudas 1:7 juga tidak dengan spesifik menyatakan apa yang disebut penulisnya sebagai “kepuasan-kepuasaan yang tak wajar”, yang tidak harus ditafsirkan, seperti tafsiran Kristen konservatif, sebagai hubungan homoseksual.

Frasa Yunani dari frasa “kepuasan-kepuasan yang tak wajar” dalam teks ini adalah sarkos heteras, yang secara harfiah, karena direndengkan dengan “percabulan” atau pornea dalam bahasa Yunani/32/, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “nafsu daging yang lain” atau “hasrat seksual yang tidak wajar” atau “hasrat seksual yang menyimpang” atau “syahwat yang tidak alamiah”./33/

Penulis Surat Yudas menempatkan perilaku seksual yang menyimpang ini dalam konteks peristiwa pemusnahan kota Sodom dan Gomora seperti dikisahkan dalam Kejadian 19. Dengan demikian, sarkos heteras ini dapat ditafsirkan sebagai keinginan penduduk laki-laki kota Sodom untuk memperkosa dua malaikat yang mengunjungi kota mereka.

Keinginan ini sesungguhnya adalah suatu penyimpangan, karena mereka ingin menggagahi dua malaikat tuhan secara seksual, padahal mereka adalah manusia biasa sementara malaikat adalah makhluk bukan-manusia. Perlu diketahui ada sebuah legenda Yahudi kuno yang mengisahkan bahwa perempuan-perempuan Sodom juga terlibat hubungan seksual dengan para malaikat./34/

Jadi, yang dikecam dan dikutuk oleh penulis Surat Yudas bukanlah homoseksualitas, tetapi keinginan penduduk Sodom untuk bersetubuh dengan makhluk bukan manusia. Dalam hukum Taurat terdapat larangan keras manusia bersetubuh dengan binatang sebagai makhluk bukan manusia (Imamat 18:23).

Kesimpulan kajian teks. Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual sejauh homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi seksual seseorang dan sejauh perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang intim dan langgeng.

Jadi, teks-teks yang telah dikupas di atas tidak tepat atau tidak relevan jika dipakai untuk mengutuk homoseksualitas atas nama sebuah doktrin agama atau atas nama suatu Allah atau, lebih parah lagi, untuk mengkriminalisasi para homoseksual di zaman modern ini.

Masih ada sejumlah teks lain dalam Alkitab yang bisa diacu dalam rangka kajian keagamaan terhadap homoseksualitas, yakni Kejadian 1:28; Kejadian 2:18; Kejadian 2:23-24; Kejadian 9:20-29; Ulangan 23:17; 1 Raja-raja 14:24; 15:12; 22:46; 2 Raja-raja 23:7; Hakim-hakim 19:14-29; Matius 8:5-13; Matius 19:4-5; Matius 19:10-12. Silakan semua teks ini dikaji sendiri.

Homoseksualitas dalam dunia hewan. Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah 1.500 spesies binatang. Ini fakta yang tentu sangat mencengangkan bagi yang baru pertama kali tahu. Karena homoseksualitas pada binatang tentu bukan timbul karena pola pergaulan yang tidak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya warna kehidupan di planet Bumi ini.

Ketika sepasang pinguin homoseksual sedang bercinta-cintaan, tidak ada ketentuan agama pinguin dan ketentuan hukum negara pinguin yang mereka langgar. Perhatikan rangkuman artikel sangat informatif yang berjudul “Homosexual Behaviour in Animals” dalam Wikipedia yang ditulis pada alinea pembuka artikel ini:

Perilaku homoseksual pada hewan-hewan adalah perilaku seksual di antara spesies-spesies non-manusia yang ditafsir sebagai homoseksual atau biseksual. Ini mencakup aktivitas-aktivitas seksual, percumbuan, percintaan, berpasang-pasangan, dan peran sebagai sepasang induk, di antara pasangan-pasangan hewan sesama jenis seks.

Riset-riset menunjukkan bahwa berbagai perilaku homoseksual ini ditemukan di semua dunia hewan. Sampai 1999, sudah terdokumentasi 500 spesies yang menjalankan pola kehidupan homoseksual, mulai dari primata hingga ke cacing-cacing dalam perut. Menurut tim pengorganisasi pameran Against Nature? di tahun 2006, perilaku homoseksual telah teramati ada pada 1.500 spesies. /35/

Sebelumnya, di tahun 1999, biolog Dr. Bruce Bagemihl telah menulis sebuah buku yang berjudul Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity./36/ Pada masa itu, sudah ditemukan ada 450 spesies hewan non-manusia yang memperlihatkan perilaku homoseksual; bahkan digolongkan sebagai LGBT. Angka 450 ini termasuk ke dalam 1 juta spesies yang sudah dikenal di Bumi.

Tetapi jika penelitian dikaji lebih jauh, Dr. Bagemihl memperkirakan akan ditemukan antara 15 hingga 30 persen spesies hewan non-manusia yang berperilaku homoseksual dalam aneka bentuk, bahkan juga sebagai organisme biseksual dan transgender.

Para ideolog anti-LGBT ini hendaknya tahu bahwa Dr. Bagemihl adalah seorang gay yang sudah diakuinya dengan terus terang sejak dini. Dia tidak sakit jiwa. Pikirannya sehat. Cerdas. Jenius. Berprestasi cemerlang. Bukunya ini, yang ditulisnya setelah 9 tahun melakukan riset lapangan, memberi banyak pengetahuan baru tentang zoologi dan perilaku seksual hewan-hewan. Jika sebagai heteroseksual anda mencemooh karya Dr. Bagemihl hanya karena dia seorang gay, tanyalah diri anda sendiri, prestasi keilmuwan apa yang anda sudah sumbangkan ke dunia sains. Nol besar, bisa jadi.

Dengan naif banyak ideolog anti-LGBT menyatakan bahwa hasil kajian Dr. Bagemihl tentang homoseksualitas dalam dunia hewan non-manusia pasti tidak objektif, pasti bias, sebab dia menulis buku itu hanya untuk membenarkan dirinya sebagai seorang gay.

Ini tanggapan saya kepada mereka yang berprasangka keji itu: suatu temuan saintifik dalam bidang apapun baru absah disebut sebagai temuan saintifik jika temuan ini dicapai lewat metode pengkajian sains yang absah, yang dapat diulang kembali oleh para saintis lain kapanpun dan di manapun dengan hasil yang sama. OS seorang saintis, LGBT sekalipun, sama sekali tidak ada hubungannya dengan temuan-temuan ilmiah mereka yang memenuhi kriteria temuan ilmiah.

Juga saya mau bertanya: Apakah seorang perempuan yang menjadi ginekolog, yang memiliki ilmu pengetahuan dan kemampaun teknis untuk menangani hal-hal yang terkait dengan semua organ reproduktif perempuan, termasuk payudara, akan tidak objektif dan bias dalam dia bekerja sebagai seorang ginekolog hanya karena dia perempuan?

Jika LGBT adalah realitas umum dalam dunia hewan non-manusia, mengapa orientasi homoseksual pada manusia (yang notabene adalah hewan mamalia cerdas) harus dipandang sebagai suatu penyimpangan akhlak yang harus dikutuk atas nama suatu ajaran agama?

Jadi, perlu ditegaskan bahwa orientasi homoseksual pada manusia juga sama alamiahnya dengan orientasi heteroseksual atau orientasi biseksual. Heteroseksualitas tidak bisa dijadikan norma untuk menilai dan melecehkan apalagi mengkriminalisasi baik homoseksualitas maupun biseksualitas. Tetapi, adakah landasan-landasan ilmiah bagi pernyataan saya ini? Tentu saja ada.

Temuan-temuan sains modern tentang homoseksualitas. Belum lama ini, Ben Carson, seorang dokter di Amerika yang juga seorang politikus yang telah mencalonkan dirinya untuk menjadi presiden Amerika berikutnya (yang dengan terang-terangan telah menyatakan bahwa dia tidak yakin jika otoritas UUD Amerika berada di atas otoritas Alkitab/37/), menegaskan bahwa kondisi kehidupan di dalam penjara bisa mengubah seorang heteroseksual menjadi seorang homoseksual. Jadi, baginya, perilaku homoseksual itu mutlak bagian dari gaya hidup yang dipilih dengan sadar, bukan sesuatu yang dibentuk semenjak seorang homoseksual berada dalam kandungan ibunya.

Jika itu alasan Carson, kondisi yang serupa juga bisa berlaku pada diri gay dan lesbian: jika mereka untuk waktu yang panjang tidak bisa bercinta dengan sesama jenis, maka demi pemuasan syahwat seksual mereka, mereka juga akan dengan terpaksa berhubungan seks dengan orang-orang heteroseksual, meskipun tidak akan mengalami kepuasan puncak. Jika gaya hidup seksual corak ini dijalankan sangat lama, maka, memakai nalar Ben Carson, kalangan gay/lesbian akan berubah menjadi heteroseksual. Apakah demikian halnya?

Ada baiknya kita ketahui apa persepsi orang Amerika tentang hal mengapa orang menjadi gay atau lesbian. Hasil survei Pew Research Center, 12-18 Mei 2015, menunjukkan data berikut ini:/38/

  • Ateis: 64% menyatakan homoseksualitas bawaan lahir; 24% menyatakan gaya hidup;
  • Katolik: 53% bawaan lahir; 35% gaya hidup;
  • Protestan kulit hitam: 25% bawaan lahir; 62% gaya hidup;
  • Protestan arus utama kulit putih: 60% bawaan lahir; 27% gaya hidup;
  • Protestan evangelikal kulit putih: 25% bawaan lahir; 62% gaya hidup.

Atas pertanyaan apakah ada konflik antara homoseksualitas dan kepercayaan-kepercayaan keagamaan, survei PRC yang sama menemukan fakta-fakta berikut:

  • Ateis: 89% menyatakan tidak ada konflik;
  • Katolik: 43% tidak ada konflik;
  • Protestan kulit hitam: 36% tidak ada konflik;
  • Protestan arus utama kulit putih: 63% tidak ada konflik;
  • Protestan evangelikal kulit putih: 25% tidak ada konflik.

Pernyataan Ben Carson tersebut, sudah bisa diduga sebelumnya, menimbulkan banyak reaksi negatif dan perdebatan, dan berakibat fatal pada reputasinya. Sinisme kepadanya meluas ke mana-mana. Untuk tampaknya memulihkan nama baiknya selaku seorang dokter, Carson belakangan membuat sebuah pernyataan berikut, yang kelihatannya tidak menolongnya, malah membuat kondisinya lebih buruk.

Aku adalah seorang dokter yang dilatih dalam berbagai bidang pengobatan, yang diberkati dengan pekerjaan di lembaga pengetahuan medis yang mungkin terbaik di dunia. Beberapa orang dari antara kita yang memiliki pikiran-pikiran paling cemerlang telah mengikuti debat ini, dan hingga saat ini, menurut mereka dan saya, belum ada kajian-kajian definitif yang membuktikan bahwa orang dilahirkan dengan membawa suatu seksualitas yang khusus./39/

Dalam debat di seputar pernyataan Ben Carson itu, selain diakui bahwa faktor genetik sangat mungkin menentukan OS seseorang, juga diperlihatkan bahwa kondisi lingkungan dalam rahim, dan sejumlah faktor biologis lain, juga berpengaruh kuat pada pembentukan OS seseorang.

Karena itu, penting untuk selanjutnya saya sajikan apa yang saya telah temukan tentang berapa jauh sains sudah berhasil memahami OS manusia, apakah homoseksual, ataukah heteroseksual, ataukah biseksual, atau yang lainnya. Adakah hubungan biologi (genetik, neural/serebral, hormonal, fisiologis, dll.) dengan OS seseorang?

Molekul INAH3. Neurosaintis Simon LeVay di tahun 1991 menemukan bahwa suatu bagian di dalam hypothalamus otak manusia yang berhubungan dengan seksualitas, yang berupa sekumpulan molekul yang berukuran sebesar sebutir padi, yang dikenal sebagai INAH3, ternyata lebih kecil dalam diri kalangan gay dibandingkan dalam diri kalangan pria heteroseksual. Dalam diri lelaki heteroseksual, INAH3 lebih besar lebih dari dua kali lipat dibandingkan dalam diri gay. Saya kutipkan abstrak dari temuannya yang telah dilaporkan dalam jurnal Science tahun 1991, berikut ini.

Hypothalamus anterior dalam otak ikut berperan dalam mengatur perilaku seksual yang tipikal lelaki. Isi empat grup dalam area otak ini (dinamakan Interstitial Nuclei of the Anterior Hypothalamus, atau INAH 1,2,3 dan 4) telah diukur dalam jejaring pascakematian dari tiga kelompok subjek: perempuan, lelaki yang diasumsikan heteroseksual, dan homoseksual. Tidak ada perbedaan yang telah ditemukan di antara kelompok dalam volume INAH 1,2, atau 4.

Sebagaimana sebelumnya telah dilaporkan [oleh Laura Allen dkk dari UCLA], INAH3 lebih besar lebih dari dua kali lipat dalam diri heteroseksual pria dibandingkan heteroseksual wanita. Namun, INAH3 juga lebih besar dari dua kali lipat dalam diri lelaki heteroseksual dibandingkan lelaki homoseksual. Penemuan ini menunjukkan bahwa INAH3 bersifat dimorfik terhadap orientasi seksual, setidaknya dalam diri lelaki, dan menyarankan bahwa orientasi seksual memiliki suatu substrat biologis./40/

Selanjutnya, di tahun 1993, LeVay menerbitkan bukunya yang berisi kajian-kajian terhadap seksualitas manusia, yang diberi judul The Sexual Brain. Ini sebuah buku yang sangat bagus. Dalam web The MIT Press, pada Overview atas buku ini, ditulis hal berikut ini.

The Sexual Brain mencakup kajian-kajian yang luas, antara lain teori evolusioner, genetika molekuler, endokrinologi, fungsi dan struktur otak, psikologi kognitif, dan perkembangan. Semua disiplin ilmu ini disatukan oleh tesis LeVay bahwa perilaku seksual manusia, dalam semua keanekaragamannya, berakar pada mekanisme-mekanisme biologis yang dapat dieksplorasi oleh sains laboratorium. Buku ini tidak menghindari kompleksitas bidang kajian ini, tetapi dapat langsung dihargai dan dinikmati oleh siapapun yang memiliki minat dan perhatian yang cerdas terhadap seks./41/

Dalam pendahuluan buku ini, LeVay menyatakan bahwa tujuan penulisannya adalah

untuk fokus lebih persis lagi pada mekanisme-mekanisme otak yang bertanggungjawab bagi perilaku dan perasaan-perasaan seksual. Berhubung ada banyak perbedaan individual yang mencolok dalam seksualitas―paling kentara di antara pria dan wanita, tapi juga di antara individu-individu sesama jenis seks―salah satu perhatian besar buku ini adalah mencari basis biologis bagi keanekaragaman ini. …, dan memahami seks dari sudut proses-proses selular yang memunculkannya./42/

Tesis-tesis yang diajukan LeVay semuanya diuji berdasarkan bukti-bukti empiris yang dapat disediakannya baik dari bidang keahliannya sendiri maupun dari bidang-bidang lain. Karena pendekatannya yang empiris dan klinis ini, patutlah dia mengkritik pendapat-pendapat Sigmund Freud tentang seksualitas manusia. Tulisnya dengan nada yang tajam:

Berhubung saya telah terlatih di dalam menggunakan metode-metode sains, saya makin skeptik bahwa ada hal apapun yang saintifik dalam ide-ide Freud tentang seksualitas meskipun dia berulang-ulang menegaskan bahwa semua pendapatnya saintifik. Dan akhirnya, berbagai temuan telah dihasilkan dalam area biologi seksual yang semuanya menunjuk ke segala arah yang baru dan menggairahkan. Freudianisme, pada sisi lain, kelihatan telah menjadi sebuah dogma yang terfosilisasi dan tidak dapat digoyahkan lagi./43/

Dalam bukunya ini, kembali dia membeberkan penemuannya di tahun 1991 atas INAH3. Ada dua temuan yang sudah dihasilkannya:

  • Pertama, INAH3 rata-rata dua sampai tiga kali lipat lebih besar dalam diri lelaki heteroseksual dibandingkan perempuan heteroseksual. Temuan ini mengonfirmasi temuan sebelumnya oleh Laura Allen dkk dari UCLA.
  • Kedua, dalam diri gay, INAH 3 rata-rata lebih kecil dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dalam diri lelaki heteroseksual./44/

Apakah LeVay menyangkal bahwa faktor genetik ikut membentuk orientasi seksual manusia? LeVay di halaman 122 bukunya yang terbit 1993 menulis sesuatu yang bagian-bagiannya kerap dikutip orang dengan keluar dari konteks seluruh isi bukunya untuk mendalihkan bahwa sang neurosaintis ini tidak membuktikan bahwa homoseksualitas itu genetik.

Saya perlu ingatkan bahwa LeVay bekerja sebagai seorang neurosaintis, bukan sebagai seorang genetisis meskipun dia juga memanfaatkan banyak aspek dari genetika dalam bukunya ini. Yang dia telah tunjukkan adalah bagaimana neurosains telah bisa memperlihatkan bahwa homoseksualitas itu sesuatu yang bersifat serebral, terhubung dengan ukuran bagian tertentu struktur hypothalamus dalam otak manusia.

Untuk temuannya ini dapat berstatus konklusif, itupun, katanya, harus menunggu dua sampai tiga dasawarsa ke depan (sejak 1993) ketika teknologi pemindaian (scanning technology) terhadap otak manusia yang hidup sudah berkembang dengan canggih.

Di bagian-bagian lain dari bukunya ini LeVay sama sekali tidak pernah menolak kemungkinan yang serius bahwa orientasi seksual seseorang juga genetik, sebagaimana segera akan juga saya tunjukkan. Cuma, di awal 1990-an pembuktian klinis tentang aspek genetik orientasi seksual manusia belum dimungkinkan. Pada kesempatan ini, saya merasa terbeban betul untuk menerjemahkan isi halaman 122 bukunya itu selengkapnya. Berikut ini. Bacalah dengan seksama./45/

Bagi banyak orang, menemukan suatu perbedaan dalam struktur otak di antara kalangan gay dan kalangan lesbian sama dengan telah membuktikan bahwa para homoseksual ‘sejak lahir memang telah homoseksual’.

Seringkali aku digambarkan sebagai orang yang ‘telah membuktikan bahwa homoseksualitas itu genetik’ atau semacam itulah. Aku belum membuktikan itu. Observasi saya dilakukan hanya pada orang-orang dewasa yang telah aktif secara seksual untuk kurun yang lama.

Jika berdasarkan hanya pada observasi saya, maka tidaklah mungkin untuk menyatakan apakah perbedaan-perbedaan struktural otak sudah ada ketika orang dilahirkan, dan kemudian mempengaruhi mereka untuk menjadi gay atau heteroseksual, atau apakah perbedaan-perbedaan itu timbul saat mereka telah dewasa sebagai suatu akibat dari perilaku seksual mereka.

Dalam mempertimbangkan mana dari interpretasi-interpretasi ini yang lebih mungkin, baiklah kita kembali ke riset tentang hewan yang sudah dibicarakan dalam bab-bab sebelumnya.

Sebagaimana sudah dibentangkan dalam bab 10, nukleus yang secara seksual dimorfik, yang terdapat di area preoptik medial pada tikus-tikus (yang dapat atau tidak dapat sejalan dengan INAH3 pada manusia), sangatlah rentan untuk mengalami perubahan selama masa kritis yang berlangsung beberapa hari sebelum dan setelah kelahiran seekor anak tikus.

Setelah masa ini dilewati, nukleus ini sulit untuk berubah dengan cara apapun. Bahkan mengebiri tikus-tikus dewasa (dengan akibat menghilangkan sumber androgen tikus dan sangat melumpuhkan perilaku seksual si tikus) paling banter hanya menimbulkan sedikit efek pada ukuran nukleus itu.

Jika hal yang sama terjadi pada INAH3 dalam diri manusia, maka tampaknya mungkin bahwa perbedaan-perbedaan struktural di antara orang homoseksual dan orang heteroseksual muncul selama periode awal terjadinya diferensiasi seksual pada hypothalamus.

Jika kondisinya demikian, maka adalah mungkin perbedaan-perbedaan ini berperan dalam menentukan orientasi seksual seseorang. Namun kita juga tidak dapat menyingkirkan kemungkinan bahwa dalam diri manusia yang memiliki masa kehidupan lebih panjang dan korteks serebral yang telah berkembang lebih baik, perubahan-perubahan yang sangat kentara dalam ukuran INAH3 dapat terjadi sebagai suatu akibat dari perilaku saat sudah dewasa.

Nah, tentu saja eksperimen yang ideal adalah mengukur besarnya INAH3 pada bayi-bayi yang baru dilahirkan dengan menggunakan teknik-teknik pemindaian, lalu menunggu sampai mereka mencapai usia dewasa 20 tahun untuk menyelidiki orientasi seksual mereka.

Jika ukuran nukleus tersebut pada waktu kelahiran sedikit banyak memprediksi orientasi seksual dasariah seseorang, maka para ahli dapat berargumentasi dengan lebih kuat bahwa ukuran nukleus dapat berperan sebagai suatu penyebab orientasi seksual seseorang.

Eksperimen ini tidak dimungkinkan setidaknya untuk waktu sekarang ini, berhubung teknik-teknik pemindaian yang mampu menghasilkan gambar-gambar INAH3 dalam diri orang yang masih hidup masih belum ada.” 

Itulah ilmu pengetahuan dan cara-cara kerjanya. Bersamaan dengan makin berkembangnya instrumen-instrumen penelitian, temuan-temuan lama pun akan makin teruji, bisa terverifikasi makin kuat, bisa juga terfalsifikasi. Pandangan-pandangan saintifik lama selalu diuji kembali, dan akhirnya pun akan dapat berganti. Sains itu dibangun di atas pundak sangat banyak generasi para saintis, bahu-membahu, yang memungkinkan para saintis makin luas memandang horison-horison masa depan kehidupan.

Hormon-hormon seks dan faktor genetik. Ok, bagaimana, apakah LeVay memandang ada peran faktor genetik dalam penentuan seksualitas manusia? Atau dia sama sekali menafikannya? Apakah gen-gen mempengaruhi pembentukan orientasi seksual seseorang? Dalam pendahuluan bukunya, dia menyatakan bahwa

Berdasarkan penemuan-penemuan ini dan penemuan-penemuan dari para peneliti lainnya, tampaklah masuk akal untuk bertanya apakah perbedaan-perbedaan bawaan kelahiran di dalam organisasi otak, setidaknya sebagian darinya berada di bawah kendali genetik, tidak dapat menjadi basis keanekaragaman di dalam fungsi-fungsi mental dalam diri manusia, termasuk fungsi-fungsi mental yang terkait dengan seks./46/

Dalam bab terpanjang bukunya, bab 12, yang membeberkan panjang lebar analisis-analisisnya terhadap orientasi seksual, LeVay pada bagian kesimpulannya menyatakan bahwa

 Sebagai rangkuman, aku harus menegaskan, pertama, bahwa faktor-faktor yang menentukan apakah seseorang akan menjadi heteroseksual, biseksual atau homoseksual, masih banyak yang belum diketahui. Namun kita sudah mendapatkan petunjuk-petunjuk bahwa orientasi seksual seseorang dengan sangat kuat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian selama masa-masa perkembangan dini otak ketika otak sedang membuat pembedaan-pembedaan seksualitas yang berlangsung di bawah pengaruh molekul-molekul hormon-hormon seks (gonadal steroids)./47/

Jadi, baginya, orientasi seksual berhubungan dengan pertumbuhan otak manusia dan hormon-hormon seks. Alih-alih menolak adanya faktor genetik yang membentuk orientasi seksual seseorang, LeVay mengambil posisi adanya interaksi antara faktor genetik (nature) dan faktor lingkungan kehidupan dan kebudayaan manusia (nurture) yang membentuk perilaku seksual orang dewasa.

Dengan jelas, LeVay menyatakan bahwa “keadaan-keadaan pikiran manusia yang ditentukan masyarakat dan yang paling remang-remang sekalipun adalah suatu perkara gen-gen dan kimia otak juga.”/48/ Perhatikan pernyataan-pernyataan lainnya berikut ini.

Aku tidak tahu―dan juga orang lain manapun―apa yang membuat seseorang itu gay, biseksual atau heteroseksual. Tetapi aku sungguh percaya bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan akhirnya ditemukan dengan melakukan riset biologi di laboratorium, dan bukan cuma membicarakan topik ini, yang merupakan cara umum yang kebanyakan orang telah lakukan hingga sekarang ini. … Mempercayai suatu penjelasan biologis terhadap orientasi seksual tidaklah sama dengan menegaskan bahwa bahwa orientasi seksual itu bawaan kelahiran atau ditentukan secara genetik. Seluruh kehidupan mental kita melibatkan proses-proses biologis. …Baik faktor bawaan kelahiran maupun faktor lingkungan kehidupan mempengaruhi kita dengan mempengaruhi struktur anatomis atau kimiawi otak.”/49/

 Juga ini, yang ditulisnya pada bagian epilog bukunya itu (yang diberinya judul “Two Artificial Gods”):

Sangatlah mungkin bahwa pengalaman kehidupan memainkan peran signifikan dalam membentuk dan menghasilkan detail-detail dorongan seksual seseorang. Namun di sini pun potensi-potensi bagi perbedaan-perbedaan bawaan kelahiran harus tidak diabaikan. Kita tahu, misalnya, bahwa pilihan-pilihan atas makanan kita dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik; jadi, tidak ada alasan mengapa hal yang sama harus tidak terjadi juga pada pilihan-pilihan kehidupan seksual kita.

Pastilah masa depan akan membawa kemajuan-kemajuan besar dalam pemahaman kita tentang mekanisme-mekanisme dan perkembangan seksualitas. Bidang yang paling memberi harapan untuk dieksplorasi adalah mengenali dan menemukan gen-gen yang mempengaruhi perilaku seksual dan studi-studi tentang kapan, di mana dan bagaimana gen-gen ini memberi efek-efek./50/

“Gen-gen gay” dalam sejarah evolusi spesies. Bahkan LeVay juga berbicara tentang “gen-gen gay” (gay genes) dari sudut pandang evolusioner “survival of the fittest” dan “the struggle for life” dalam konteks reproduksi organisme versus kepunahan suatu populasi. Tulisnya,

Kondisi homozygous [yakni kondisi adanya versi-versi seragam dari sebuah gen pada dua anggota dari sepasang kromosom] hanyalah suatu produk sampingan yang tidak diinginkan, yang muncul pada beberapa keturunan pasangan yang kawin di antara individu-individu heterozygous [yakni, yang gen-nya memiliki versi-versi yang berbeda dalam dua anggota dari sepasang kromosom].

Hal yang sama dapat terjadi pada gen gay: Suatu gen gay dapat terpelihara di dalam suatu populasi berhubung individu-individu heterozygous, selain tidak menjadi seorang gay, memiliki suatu keuntungan lain yang menyempurnakan sukses reproduksinya.

Suatu kemungkinan lain yang terakhir adalah bahwa gen-gen gay, dilihat dari sukses reproduksi, sebetulnya merupakan gen-gen yang berbahaya, dan karenanya cenderung tereliminasi dari populasi; tetapi untuk beberapa alasan gen-gen varian diciptakan kembali dengan sangat cepat sehingga gen-gen yang tereliminasi digantikan dengan gen-gen yang baru./51/

Sebagaimana sudah disebut di atas, dengan temuan teknik reproduktif mutakhir yang menggunakan gen SOX17, orang-orang yang mempunya “gen-gen gay” tidak lagi perlu dinilai akan memunahkan kehidupan karena ketidakmampuan mereka menghasilkan keturunan sendiri. Lewat teknik ini, dari kulit mereka sendiri, para homoseksual dapat menghasilkan keturunan mereka sendiri. Mungkin LeVay perlu diberitahu tentang temuan metode reproduktif mutakhir ini.

Di tahun 2011, LeVay menerbitkan sebuah bukunya lagi, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation. Dia juga menemukan bahwa otak gay bukan saja tampak berbeda dari otak heteroseksual, tapi juga berfungsi berbeda. LeVay juga menemukan bahwa pembawaan-pembawaan psikologis yang berbeda pada gay biasanya begitu rupa sehingga gay dapat bergeser ke OS lain jika dibandingkan dengan individu-individu heteroseksual dari jenis mereka sendiri.

Tulis LeVay,

Sukar untuk menjelaskan pergeseran ini hanya sebagai akibat dari kondisi sebagai gay saja. Sangat mungkin pergerseran OS kalangan gay ini menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan dalam perkembangan seksual dini dalam otak, perbedaan-perbedaan yang berpengaruh pada satu ‘paket’ pembawaan-pembawaan psikologis gender, termasuk OS. /52/

Dari fakta-fakta neural ini LeVay menyimpulkan bahwa ada proses-proses biologis yang terlibat dalam perkembangan otak yang berpengaruh pada orientasi seksual seseorang.

Bagian otak MPAC dan kromosom Xq28. Setelah LeVay menulis makalah perdananya yang terbit di jurnal Science, di tahun berikutnya, 1992, tim peneliti dari UCLA menemukan suatu bagian lain dalam otak yang berhubungan dengan seksualitas (yakni “midsagittal plane of the anterior commissure”, atau MPAC), yang ukurannya 18% lebih besar pada diri kalangan gay dibandingkan kalangan perempuan heteroseksual dan 34% lebih besar dibandingkan kalangan pria heteroseksual.

Perbedaan-perbedaan anatomis ini, yang berhubungan dengan gender dan OS, sebagian melandasi perbedaan-perbedaan dalam fungsi kognitif dan lateralisasi serebral [pembagian dan ketidakseimbangan fungsi-fungsi bagian otak kanan dan bagian otak kiri] di antara kalangan gay, pria heteroseksual dan perempuan heteroseksual./53/

Di tahun 1993, suatu kajian yang tidak terlalu besar (terdiri atas 38 pasangan gay bersaudara) yang dilakukan Dean Hamer menemukan adanya suatu hubungan OS dengan suatu bagian kromosom X yang dinamakan Xq28, yang dapat membentuk kecondongan OS seseorang ke homoseksualitas. Tetapi sejak itu, pencarian “gen gay” masih terus berlangsung.

Suatu kajian yang jauh lebih besar (mencakup 409 pasangan gay bersaudara) yang dilakukan tahun 2004 oleh psikolog J. Michael Bailey dan psikiatris Alan R. Sanders tiba pada kesimpulan yang sama: ada hubungan antara Xq28 dan suatu bagian dari kromosom 8.

Di lain pihak, teknik menemukan “hubungan genetik” antara gen dan homoseksualitas kini mulai beralih ke pendekatan yang lebih luas, yang dinamakan “Asosiasi Luas Genom”, atau “Genome-Wide Association” (atau GWA) untuk menemukan “gen spesifik” yang berhubungan dengan homoseksualitas dalam suatu populasi./54/

Faktor lingkungan dalam rahim. Kondisi lingkungan dalam rahim juga dipikirkan berperan penting dalam membentuk OS, sebab sebagian faktor yang menentukan perkembangan suatu janin adalah peringkat dan campuran hormon-hormon yang melingkungi setiap janin selama masa kehamilan.

Di tahun 2006, psikolog Anthony Bogaert dari Universitas Brock di Kanada menyelidiki fenomena yang tidak pernah dapat dijelaskan, yakni fenomena urutan kelahiran yang kelihatannya ikut membentuk seksualitas: pria gay cenderung memiliki lebih banyak kakak lelaki ketimbang pria heteroseksual.

Dengan menggunakan sejumlah 944 pria homoseksual dan heteroseksual sebagai sampel, Bogaert menemukan fakta-fakta ini: seorang anak sulung pria memiliki 3% peluang untuk menjadi gay, dan persentase ini naik 1% untuk setiap anak lelaki berikutnya sampai menjadi dua kali lipat (yakni 6%) pada anak lelaki keempat.

Mungkin sekali keadaan yang dibentuk oleh urutan kelahiran ini melibatkan juga sistem kekebalan tubuh sang ibu. Setiap bayi, lelaki atau perempuan, mula-mula diperlakukan sebagai sosok penyerbu yang masuk ke dalam tubuh sang ibu. Beranekaragam mekanisme bekerja otomatis untuk mencegah sistem tubuhnya menolak si janin dalam kandungannya.

Bayi-bayi lelaki, dengan protein-protein lelaki mereka, dipersepsi sedikit lebih asing ketimbang bayi-bayi perempuan; akibatnya, tubuh sang ibu memproduksi lebih banyak antibodi khusus gender untuk melawan bayi-bayi lelaki itu. Setelah melewati banyak kali kelahiran bayi-bayi lelaki, rahim sang ibu menjadi lebih “terfeminisasi”, dan kondisi ini dapat membentuk seksualitas./55/

Perbedaan ciri fisik dan kebiasaan. Selain itu, panjang jari juga menunjukkan seksualitas manusia dibentuk oleh biologi. Telunjuk para pria heteroseksual kentara lebih pendek dibandingkan jari tengah mereka. Jari telunjuk dan jari tengah perempuan heteroseksual nyaris sama panjang. Jari seorang lesbian seringkali sama panjang dengan jari lelaki heteroseksual. Keadaan-keadaan ini telah lama secara informal diamati, tetapi suatu kajian yang dilakukan tahun 2000 di Universitas of California, Berkeley, tampak membenarkan pengamatan ini.

Kalangan lesbian juga tampak memiliki perbedaan-perbedaan pada bagian dalam telinga mereka, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak dimungkinkan. Dalam diri semua orang, suara bukan hanya masuk tetapi juga meninggalkan telinga dalam bentuk yang dikenal sebagai emisi otoakustik, yakni getaran-getaran yang muncul dari interaksi kokhlea dan tambur telinga, dan getaran-getaran ini dapat dideteksi oleh instrumen-instrumen. Perempuan heteroseksual cenderung memiliki frekuensi emisi otoakustik yang lebih tinggi dibandingkan lelaki heteroseksual, tetapi para lesbian tidak.

Kajian-kajian lain telah mengeksplorasi adanya suatu hubungan antara homoseksualitas dan kebiasaan bertangan kidal. Pria gay lebih mungkin kidal atau memakai kedua belah tangannya. Diusulkan ada tiga faktor yang mungkin menghubungkan orentasi seksual dengan kidal atau bukan-kidal, yakni: lateralitas serebral dan hormon-hormon seks yang mempengaruhi janin-janin; reaksi-reaksi imunologis sang ibu terhadap janin-janin; ketidakstabilan perkembangan janin-janin.

Penelitian kebiasaan bertangan kidal atau tidak, dan hubungan kondisi ini dengan homoseksualitas, telah dilakukan oleh suatu tim yang menggunakan metaanalisis terhadap 20 studi yang membandingkan peringkat kidal pada 6.987 homoseksual (6.182 gay, dan 805 lesbi) dan 16.423 heteroseksual (14.808 pria dan 1.615 wanita)./56/

Tentang kebiasaan kidal pada kalangan homoseksual, LeVay menyatakan bahwa kecenderungan lesbian dan gay untuk kurang konsisten memakai tangan kanan dibandingkan heteroseksual menyarankan bahwa fungsi serebral otak mereka dapat kurang kuat terlaterisasi.

Faktanya, ada sejumah bukti langsung untuk mendukung ide bahwa fungsi-fungsi serebral kalangan gay lebih simetrik terdistribusi ke kawasan kanan dan kawasan kiri otak dibandingkan keadaannya pada kalangan heteroseksual. McCormick dkk telah menyarankan bahwa kidal terjadi karena peringkat hormon seks androgen yang luar biasa tinggi dalam janin-janin perempuan, tetapi luar biasa rendah dalam janin-janin lelaki./57/

Selain itu, ditemukan bahwa rambut pada bagian mahkota kepala pria gay cenderung tumbuh berlawanan arah dengan gerak jarum jam. Tetapi belum ada kesepakatan bulat mengenai hubungan gelungan rambut alamiah pada seksualitas./58/

Jelas, genetika atau biologi adalah faktor kuat dalam memunculkan OS manusia, termasuk manusia homoseksual. Ini fakta yang tidak boleh disangkal atas nama doktrin agama atau ideologi apapun. Jika OS itu genetik atau biologis, itu artinya jika seseorang menjadi homoseksual, kondisi OS-nya ini berada di luar kekuasaannya untuk menolaknya, sama seperti seseorang tidak bisa menolak apakah akan dilahirkan sebagai lelaki ataukah sebagai perempuan.

Dalam bahasa keagamaan―tentunya para agamawan yang kebanyakan membenci LGBT bisa memahami―kita katakan bahwa seseorang menjadi homoseksual adalah karena “takdir ilahi”, yang dia tidak bisa tolak atau lawan sejak sebagai janin. Jadi, membenci LGBT pasti tidak dikehendaki Tuhan Allah, sang Pencipta mahabesar, al-Rahman dan al-Rahim. Kebencian apapun tidak sejalan dengan kerahiman dan kerahmanian Allah. 

Interaksi gen, epigen dan lingkungan kehidupan. Tetapi, tentu saja, genetika atau biologi bukan segala-galanya yang membentuk jatidiri seksual anda. Semua aspek kehidupan kita tidak hanya genetis atau biologis (nature), tetapi juga dibentuk oleh pendidikan dan pengasuhan (nurture), lingkungan sosial kita hidup sehari-hari (social life environment), kebudayaan kita, kondisi ekologis, gaya hidup, dan tentu saja teknologi.

Kemauan gen tidak otomatis akan menjadi terwujud. Semua faktor ini berinteraksi, ada yang berpengaruh sangat kuat dan ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang lemah. Interaksi berbagai faktor ini juga sangat ditekankan oleh LeVay. Kelly Servick dengan tepat menyatakan bahwa

Setiap kecondongan pembawaan genetik mungkin sekali berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan kehidupan yang mempengaruhi perkembangan suatu orientasi seksual. /59/

Tidak ada lingkungan kehidupan yang statis, tanpa gerak dan perubahan lagi.

Karena itu, saya memandang, seksualitas manusia juga dinamis, bukan sesuatu yang sudah jadi dan final begitu dilahirkan hingga ajal, sama halnya dengan segi-segi lain dari diri kita, misalnya kecerdasan dan kearifan, kematangan emosional, serta bentuk tubuh dan perawakan. Oleh teknologi, tubuh dan perawakan serta penampilan kita (mau sexy, jantan, atau biasa-biasa saja) dapat dibentuk.

Begitu juga gen-gen kita sekarang sudah dapat direkayasa, di-edit, dimodifikasi, lewat teknik mutakhir yang dinamakan “DNA-editing” (CRISPR-Cas9), untuk menghasilkan spesies homo sapiens yang berpenampilan lain, makin cerdas dan makin kuat.

Teknik DNA-editing ini yang dipraktekkan pada suatu organisme di saat masih sebagai embrio, menghasilkan perubahan genetik pada embrio ini yang nanti akan tampak dalam bentuk tubuh dan sifat mental ketika embrio sudah menjadi organisme utuh dan tumbuh dewasa, dan perubahan genetik ini bersifat menetap dan akan diteruskan ke generasi-generasi selanjutnya.

Sejauh yang sudah kita ketahui, teknik mengedit DNA ini (yang sudah sama mudahnya dengan kita mengedit sebuah makalah dengan MS Word!) baru diterapkan pada hewan-hewan, dan belum ada pihak yang terang-terangan memberitakan bahwa teknik ini telah diterapkan pada manusia untuk menghasilkan ras manusia unggulan atau ras eugenik.

Dalam dunia dan jaga raya ini, segalanya mengalir, impermanen, berubah. Tanpa perubahan, sesuatu akan mati. Definisi-definisi lama kita tentang seksualitas manusia juga berubah. Perubahan dalam zaman modern kini ibarat sebuah kereta listrik magnetik supercepat yang sedang melesat ke depan.

Jika anda mau menghambat atau menghentikan perubahan, anda akan digilas habis dan lumat oleh kereta perubahan ini. Menghadapi berbagai perubahan apapun yang ditimbulkan oleh sains modern, anda harus pertama membuka diri, kemudian memahami betul-betul perubahan-perubahan yang sedang terjadi, lalu memberi tanggapan teduh, positif, pro-aktif, cerdas, terpelajar, dan kritis.

Seksualitas itu cair! Anda dapat bertanya ke saya tentu saja, apakah ada bukti klinis bahwa OS setiap orang itu dinamis, cair, dan tidak statis, atau tidak baku, begitu mereka dilahirkan. Ya, saya menyatakan hal itu justru karena bukti-bukti klinisnya ada. Institut kesehatan masyarakat nasional yang terkemuka di Amerika Serikat, yang dinamakan The CDC (The Centers for Desease Control and Prevention), telah melakukan survei nasional atas 9.000 responden dari berbagai jenis OS selama tahun 2011 hingga 2013.

Para pakar peneliti menemukan bahwa ternyata pria hetero juga suka bereksperimen melakukan hubungan seksual anal dengan sesama pria yang juga hetero, meskipun keduanya sama sekali bukan homo dan juga bukan biseksual. Mereka menegaskan bahwa baik perempuan maupun lelaki keduanya sama-sama memiliki seksualitas yang cair, tidak baku, dan mereka terdorong juga untuk mengadakan hubungan seksual dengan sesama jenis kendatipun kedua belah pihak sama-sama bukan gay dan juga bukan lesbian dan bukan biseksual.

Mereka menandaskan bahwa OS itu ternyata mendiami kawasan abu-abu, ketimbang kawasan hitam atau putih. Freewill atau kehendak bebas manusia adalah juga salah satu faktor ekstragenetik (yang umumnya dinamakan faktor epigenetik) yang ikut menentukan perilaku seksual seseorang.

Perilaku seksual itu bukan bakat yang tidak bisa diubah lagi hingga orang wafat, juga bukan takdir ilahi yang tidak bisa ditolak. Perilaku seksual itu, jadinya, memang urusan keputusan bebas pribadi masing-masing pasangan apapun yang terlibat, selain faktor genetik juga ikut memberi andil kuat. Kemauan gen bukan segala-galanya untuk segala hal dalam kehidupan organisme manapun dalam jagat raya ini.

Hal yang terpenting adalah ini: Jika LGBT ditolak, dibenci dan dimusuhi oleh para ideolog anti-LGBT, justru karena para heteroseksual juga bisa berubah sementara menjadi LGBT sejalan dengan kehendak bebas mereka, maka, konsekwensinya, para heteroseksual manapun juga harus senantiasa dicurigai, diawasi dan dikuntit, dan juga perlu harus dibenci dan dimusuhi dan diperangi. Harap anda catat: setiap heteroseksual juga LGBT potensial!

Lalu, siapakah yang harus mengawasi dan menguntit kalangan hetero yang juga LGBT potensial ini? Tuhan Allahkah? Lalu, Allah dalam agama yang mana? Juga, Apakah Allah mempunyai OS? Ataukah justru Allah melampaui semua kategori orientasi seksual sehingga dia juga merangkul semua OS yang ada dalam alam ini dengan kasih sayang?

Dunia semacam inikah yang kita inginkan, yang sangat dibuat rumit dan repot oleh masalah OS yang sebetulnya lebih merupakan masalah personal, sejauh tidak menimbulkan ekses tindak kriminal dalam masyarakat dan dalam setiap rumah tangga?

The CDC selanjutnya menyimpulkan demikian:

Hal yang benar adalah bahwa satu-satunya orang yang tahu tentang segala sesuatu mengenai identitas seksual diri sendiri dan pilihan-pilihan seksual sendiri adalah diri orang-orang itu sendiri. Lepas dari sudah berapa banyak studi dan laporan yang sudah dibuat, aktivitas seksual dan orientasi seksual akan selalu merupakan isu-isu personal yang rumit, yang sangat mungkin menghasilkan beranekaragam pengalaman yang berbeda bagi setiap orang, dan berisi beranekaragam perasaan dan kisah yang tidak dapat diungkap hanya dengan angka-angka./60/

Kaitan antara gen dan lingkungan atau ekologi kehidupan dan gaya hidup dalam membentuk OS seseorang juga ditemukan dalam kajian-kajian yang terfokus pada “penanda-penanda epigenetik” (“epigenetic markers”, atau EM). EM menunjuk pada perubahan-perubahan kimiawi pada DNA yang berdampak pada ihwal bagaimana gen mengekspresikan diri, tapi tidak berdampak pada informasi genetik dalam gen sendiri. EM ini dapat diturunkan ke generasi selanjutnya, tapi juga dapat diubah oleh lingkungan kehidupan dan gaya hidup.

Faktor genetik dan faktor epigenetik berinteraksi dalam semua aspek biologis manusia, juga dalam pembentukan OS setiap individu. Studi klinis mutakhir yang dilakukan genetikus Eric Vilain dkk dari Universitas California, Los Angeles (UCLA), telah menemukan interaksi antara gen dan epigen dalam pembentukan OS. Vilain menegaskan bahwa dia tidak terkejut ketika menemukan bahwa selain faktor genetik, faktor epigenetik juga terhubung dengan OS seseorang./61/

Jadi, gen memang bukan segala-galanya yang menentukan OS. Epigen yang dibentuk dan diubah oleh lingkungan dan gaya hidup juga ikut membangun OS setiap individu. Berhubung lingkungan dan cara hidup yang juga ikut menentukan OS seseorang itu lazimnya terus berubah, dinamis, maka OS juga mustinya dinamis, cair, tidak baku selamanya.

Kesalahan fatal: mereparasi LGBT. Jika seksualitas manusia itu dinamis, maka terbuka kemungkinan bahwa perilaku hetero- dan homo-seksual juga bisa bersifat sementara, bukan suatu OS yang menetap selamanya. Jadi, sebagaimana semua OS bisa berubah, dari heteroseksual ke homoseksual, begitu juga sebaliknya: homoseksualitas bisa berubah sendiri, atau diubah dengan sengaja lewat sains dan teknologi, atau lebih lumrah, lewat gaya hidup setiap orang.

Belum lama ini (2009) para peneliti dari The National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) menegaskan bahwa “adalah mungkin baik bagi pria maupun bagi wanita untuk berubah dari homoseksual ke heteroseksual” dan bahwa “terapi untuk reorientasi seksual kelihatan bermanfaat dan tidak berbahaya, sehingga harus terus disediakan bagi orang-orang yang mencarinya.” Tapi NARTH juga menegaskan bahwa “klien yang tidak merasa tertekan oleh orientasi seksual mereka harus tidak diarahkan untuk mengubahnya oleh para profesional kesehatan mental.”/62/

Tetapi saya harus segera menambahkan info lebih jauh yang sangat penting. Sekarang ini, terutama karena alasan perintah Tuhan dan juga karena tak punya pengetahuan yang benar tentang spektrum OS LGBT, banyak pihak dengan paksa meminta kalangan LGBT untuk menjalani terapi “re-orientasi” atau terapi “konversi” atau terapi “penyembuhan” atau terapi “reparasi” untuk mengubah mereka jadi heteroseksual. Seolah bagi mereka, menjadi heteroseksual atau menjadi LGBT hanya soal menaikkan atau menurunkan sebuah tuas panel listrik atau menekan sebuah tombol OFF dan ON bergantian, bergantung kebutuhan.

Kalangan yang sedang memaksakan kehendak mereka kepada kelompok minoritas LGBT memandang orientasi seksual LGBT sebagai suatu penyakit yang harus disembuhkan, bahkan sebagai suatu gangguan jiwa, dan juga sebagai kutukan Tuhan seperti dulu orang memandang penyakit kusta.

Lebih edan lagi, ada banyak orang memandang kaum LGBT sebagai orang-orang yang sedang kerasukan setan. Mereka melihat manusia normal itu hanya manusia heteroseksual, lelaki dan perempuan, Adam and Eve, bukan Adam and Steve. LGBT kata mereka bukan ciptaan Tuhan meskipun mereka, anehnya, juga keturunan Adam dan Hawa.

Kalangan pembenci LGBT tidak tahu bahwa nyaris semua lembaga kesehatan yang diakui dunia dan nyaris seluruh pakar seksologi yang terkemuka sudah menemukan banyak bukti klinis lintasilmu bahwa LGBT sama normal dan sama sehat dengan orang heteroseksual. LGBT bukan orang sakit. Mereka sehat dan juga sama happy dan sama normal dengan kalangan hetero jika mereka hidup wajar sehari-hari dan tidak dibebani tekanan sosiopsikologis dan berbagai stigma negatif dari masyarakat heteroseksual.

Bahwa terapi reorientasi atau konversi atau penyembuhan atau reparasi terhadap LGBT sangat berbahaya dan merusak mental dan daya hidup kalangan LGBT dan tidak berdasar pada ilmu pengetahuan yang lengkap tentang orientasi seksual, sudah dinyatakan dengan tegas oleh seluruh lembaga kesehatan dunia dan oleh para pakar medik dan pakar seksologi yang profesional, sebagaimana dapat dibaca pada artikel yang berjudul “The Lies and Dangers of Efforts to Change Sexual Orientation or Gender Identity”./63/ Dalam sumber yang memuat banyak info ilmiah penting tentang LGBT ini, dimuat antara lain pernyataan ini:

Fakta terpenting tentang ‘terapi reparatif’, yang kadang juga disebut sebagai 'terapi konversi', adalah bahwa terapi ini didasarkan pada suatu pemahaman tentang homoseksualitas yang telah ditolak oleh semua profesional utama kesehatan umum dan kesehatan mental.

American Academy of Pediatrics, American Counseling Association, American Psychiatric Association, American Psychological Association, National Association of School Psychologists, dan National Association of Social Workers, yang semuanya mencakup lebih dari 477.000 profesional kesehatan umum dan kesehatan mental, bulat berpendapat bahwa homoseksualitas bukan suatu gangguan mental, dan dengan demikian tidak memerlukan suatu ‘penyembuhan’.

Dalam artikel yang sama, kita baca tentang hasil penelitian lapangan yang dilakukan Universitas Negara San Francisco tentang kekuatan mental kalangan LGBT yang tertekan dan ditolak jika dibandingkan kalangan LGBT yang dapat hidup happy dan wajar dan diterima.

Ditemukan fakta bahwa “dibandingkan dengan kaum LGBT yang tidak ditolak oleh orangtua dan pengasuh mereka karena mereka memiliki identitas gay atau transgender, orang LGBT yang ditolak dengan kuat memiliki peluang kemungkinan 8 kali lipat untuk bunuh diri, nyaris 6 kali lipat menglami depresi berat, lebih dari 3 kali lipat menggunakan obat-obat terlarang, dan lebih dari 3 kali lipat kemungkinan terkena HIV dan STDs.”

Di negeri kita Indonesia, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan baru saja, 12 Februari 2016, menyatakan bahwa kaum LGBT ada untuk diayomi dan dilindungi sebagai sesama WNI yang minoritas, bukan untuk dibenci, diusir atau dibunuh./64/

Juga perlu kita ketahui, saya ingatkan kembali, bahwa para pakar kesehatan dan seksologi bangsa kita sendiri, atas nama Depkes RI, di tahun 1993 sudah menyatakan bahwa homoseksualitas bukan suatu penyakit gangguan jiwa. Tetapi jika ada kalangan di NKRI yang memandang LGBT sebagai suatu abnormalitas, suatu gangguan jiwa, suatu kutukan Tuhan, saya dorong mereka untuk mendirikan banyak klinik terapi LGBT, jika memang kalangan yang anti-LGBT ini didorong oleh cinta kasih kepada LGBT.

Lalu kita wait and see, akan adakah “pasien” yang akan dengan ikhlas, rela dan happy mau datang berobat, gratis sekalipun. Atau semua klinik mereka akhirnya terpaksa ditutup karena tidak ada satu pasien pun yang datang untuk berobat. Alhasil, para penyandang dana dari Timteng atau dari Amerika untuk klinik-klinik itu semuanya akan akhirnya mencak-mencak, keki banget, setelah mereka gagal mengubek-ubek NKRI.

Anda perlu mengantisipasi bahwa pro dan kontra terhadap kalangan LGBT di negara kita sekarang ini akan membuka banyak peluang bisnis baru reparasi LGBT yang akan dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan fundamentalis dari berbagai agama. Sejauh saya tahu, telah ada sebuah komunitas di negeri ini yang diberi nama Peduli Sahabat yang mengklaim mampu mereparasi OS LGBT untuk pulih kembali ke OS heteroseksual.

Baru saja, 24 Februari 2016, Prof. Franz Magnis-Suseno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, menyatakan bahwa usaha “mau menyembuhkan atau membina ke jalan yang benar mereka yang berkecenderungan alami [sebagai LGBT] adalah tidak masuk akal.” Selanjutnya, Prof. Magnis menegaskan bahwa

kita mesti menyepakati bahwa segala diskriminasi terhadap mereka yang homo harus diakhiri. Orientasi seksual tidak relevan untuk kebanyakan bidang kehidupan. Dari seorang pejabat tinggi dapat diharapkan bahwa dia bisa membedakan antara wawasan tingkat taman kanak-kanak dan wawasan universitas. Justru universitaslah tempat di mana diskursus kompeten dan terbuka terhadap implikasi perbedaan orientasi seksual harus dibicarakan. Para rektor universitas wajib berat menjamin kebebasan akademik. /65/

Saya kutipkan kesimpulan Simon LeVay tentang orientasi seksual. Tulisnya,

Orientasi seksual adalah suatu aspek yang cukup stabil dari kodrat manusia, dan bahwa kalangan heteroseksual, gay dan biseksual telah ada di semua kebudayaan. Hal ini menyarankan bahwa faktor-faktor biologis yang umum terdapat di seluruh umat manusia dapat bertanggungjawab bagi kemunculan individu-individu yang memiliki OS berbeda-beda.

Namun kita perlu juga berpikir berbeda tentang OS dalam diri pria dan wanita, dan bahwa faktor-faktor kultural juga berpengaruh besar pada bagaimana homoseksualitas diekspresikan dalam masyarakat-masyarakat yang berlainan dan di sepanjang sejarah manusia. Dengan kata lain, penjelasan-penjelasan berbasis ide-ide biologis tentang OS manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan juga, tidak seperti yang kita harapkan./66/

Saya juga mau ingatkan bahwa dalam bab terakhir bukunya, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation, LeVay mengusulkan segi-segi lain dari seksualitas manusia, khususnya OS homoseksual, yang perlu diteliti dalam kajian-kajian mendatang.

Ini adalah sebuah sikap ilmiah tulen, sikap yang tidak melihat temuan-temuan ilmiah sendiri apapun sudah final, yang tidak menyisakan segi-segi lain yang harus diteliti lebih lanjut. Tidak ada sains yang sudah final. Sains selalu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, yang bisa menfalsifikasi temuan-temuan sebelumnya atau malah memperkuat.

Sejauh ini, LeVay menemukan semua temuan kajian OS homoseksual sebelumnya valid, terverifikasi. Meskipun demikian, sebagai sains, kajian-kajian tentang homoseksualitas tidak akan berhenti, kapanpun juga. Salah satu bidang yang kini paling menantang dalam kajian terhadap seksualitas manusia adalah menemukan “gen-gen homoseksual”, seperti yang diharapkan LeVay.

Penemuan bagian Xq28 dalam kromosom X pasti akan disusul dengan temuan-temuan lain yang lebih revolusioner, antara lain lewat teknik GWA yang sudah disinggung di atas. Sebuah kajian mutakhir tentang orientasi seksual juga menunjukkan bahwa tingkat keandalan memprediksi orientasi seksual dengan berbasis gen sangat signifikan, mencapai angka 70 persen./67/

Tidak usah terkejut jika tidak lama lagi para pakar genetika dan seksologi juga akan sepakat bulat bahwa orientasi seksual setiap orang memiliki basis genetik yang sangat kuat, dengan mereka mengajukan bukti-bukti yang kokoh.

Sikap dan posisi para saintis jelas sangat berbeda dari sikap para agamawan dan hakikat agama. Agama dan para agamawan memandang semua pengetahuan kuno manusia di era pra-modern dan pra-ilmiah tentang seksualitas, yang masuk ke dalam kitab-kitab suci zaman dulu, sudah final dan benar mutlak.

Ketika mereka diminta untuk memberi bukti-bukti atas klaim mutlak-mutlakan mereka ini, mereka selalu mengelak dengan menjawab, “Wah, itu semua wahyu Allah yang pasti tidak bisa salah.” Betulkah? Ya, betul, sejauh hanya sebagai asumsi-asumsi belaka tanpa pembuktian empiris klinis apapun. Dengan sikap seperti ini tentu saja mereka tidak akan pernah bisa membicarakan orientasi seksual manusia di ranah ilmiah, kapan pun juga.

Begitu juga, jika seseorang yang sudah menjalani studi panjang dalam dunia sains, lalu telah lulus menjadi seorang doktor, tetapi, setelah itu, semua pikirannya masih dikendalikan mutlak oleh agamanya, maka dia akhirnya akan berubah juga menjadi seorang pseudo-saintis, alias saintis gadungan. Dan sebagai pseudo-saintis, dia akan mempelintir sains apapun untuk dicocok-cocokkan dengan kemauan agamanya.

Untuk orang yang semacam ini, temuan-temuan sains modern tentang homoseksualitas pun akan dengan segala cara berusaha dia telikung di sana-sini, dan akhirnya dia akan abaikan sama sekali, atau dia kabarkan ke mana-mana bahwa pandangan-pandangan saintifik tentang orientasi seksual semuanya salah.

Hiduplah dengan happy! Jadi, jika anda memang seorang homoseksual, dan anda percaya bahwa OS anda ini genetis, bawaan kelahiran, ya hiduplah dengan happy, jangan tertekan, dan jika memungkinkan, berterusteranglah kepada semua orang, kepada masyarakat anda, bahwa anda memang memiliki OS homoseksual, tentu lewat gaya hidup dan pergaulan yang sesuai dengan tata-krama pergaulan yang pantas dalam masyarakat anda. Jangan berlebihan.

Jika anda merasa sendirian, ya carilah dan temukan komunitas-komunitas yang dapat menerima anda apa adanya, seperti semua anggota yang lainnya juga dapat menerima diri mereka apa adanya dan merasa happy dalam kehidupan mereka. Jika anda dan pasangan sejenis anda tidak bisa menikah resmi karena ketentuan hukum yang mendukung perkawinan sejenis tidak ada, ya anda hidup bersama saja tanpa ikatan perkawinan yang resmi. Negara memang tidak perlu mencampuri.

Tetapi saya mau membangun semangat anda. Lewat perjuangan yang tidak kenal lelah, anda masih bisa punya masa depan yang bagus. Belajarlah dari kasus yang mau saya beberkan berikut ini, khususnya yang menyangkut kasus hukumnya, yang pernah sangat terkenal di Indonesia di awal 1970-an.

Kasus ini menyangkut kaum waria (lakuran kata-kata “wanita” dan “pria”) atau “transgender”. Waria (pernah juga disebut “wadam”, lakuran hawa dan adam) adalah seorang insan yang secara lahiriah kelihatan sebagai pria, tetapi dalam kehidupan sehari-hari menampakkan pola-pola kelakuan, perasaan, sifat, gerak-gerik, dan pembawaan sebagai wanita.

Ada sejumlah waria di Indonesia yang sudah mengganti kelamin mereka, dari kelamin pria menjadi kelamin wanita. Ada yang melakukannya diam-diam, dan ada yang menjadi terbuka dalam masyarakat karena mereka memperjuangkan status hukum mereka setelah mengganti kelamin. Saya ingin anda fokus pada perjuangan waria Iwan Robbyanto Iskandar di ranah hukum.

Iwan Robbyanto Iskandar dilahirkan sebagai lelaki, 1 Januari 1944, dengan nama China Khan Kok Hian. Tetapi sejak kecil, khususnya sejak dia berusia 5 tahun, pola-pola kelakuan, sifat, gerak-gerik, dan pembawaannya menunjukkan dia wanita.

Akhirnya, ketika sudah dewasa, dia menjadi perempuan lewat operasi dan terapi hormonal di RS Universitas Singapura, pada Januari 1973. Ketika sudah jadi perempuan, pada September 1973 dia mengajukan permohonan ke pengadilan negeri Jakarta Barat-Selatan untuk statusnya sebagai perempuan diabsahkan.

Waktu itu kasusnya menjadi isu yang panas dibicarakan dalam masyarakat. Sejumlah lembaga keagamaan mengutuknya. Sebagian masyarakat bersimpati kepadanya dan membelanya, termasuk lembaga-lembaga yang bergerak dalam kajian-kajian seksualitas manusia.

Akhirnya pada 11 November 1973, pengadilan mengabsahkan Iwan sebagai seorang perempuan dengan nama Vivian Rubianti Iskandar. Lalu Vivian menikah, dengan mencatatkan perkawinannya di catatan sipil awal November 1975. Sayang, pernikahannya kandas dan selanjutnya dia memilih berdiam di Australia.

Saya jadinya merenung-renung, mungkin jauh lebih baik dan jauh lebih membahagiakan jika Iwan Robbyanto Iskandar dulu bertahan dengan happy dan relaks saja sebagai waria, dan sangat mungkin dia akan bisa berbahagia dan hidupnya teraktualisasi jika keluarga dan masyarakatnya menerimanya apa adanya, sebagai waria.

Tetapi, bagi saya pada kesempatan ini, hal yang menarik adalah diskusi-diskusi tentang aspek-aspek hukum penggantian kelamin pria Iwan Robbyanto Iskandar menjadi wanita Vivian Rubianti Iskandar. Waktu itu, Adnan Buyung Nasution menjadi pengacara yang memperjuangkan pengakuan negara atas status barunya sebagai perempuan. Tentang ini, saya kutipkan satu paragraf bagus dari sebuah kolom yang saya temukan via Internet, berikut ini:

Secara hukum, ada yang berpendapat pengadilan seharusnya menolak permohonan Iwan. Alasannya, belum ada undang-undang (UU) yang mengatur pergantian kelamin dan hakim bukanlah pembuat UU. Adnan Buyung Nasution, pengacara Iwan, berpendapat sebaliknya. Belum adanya UU justru merupakan sebuah kesempatan bagi para hakim untuk membuat hukum. Permohonan pengesahan status yang diajukan Iwan tidak boleh ditolak hanya karena belum ada UU yang mengaturnya. Ini sesuai pula dengan UU tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman tahun 1970./68/

Nah, pahamilah, ketiadaan ketentuan hukum apapun di NKRI sekarang ini untuk perkawinan sesama jenis tidak berarti masa depan anda gelap sama sekali. Berjuanglah bersama rekan-rekan anda dan semua orang lain yang memahami anda, tentu dengan cara-cara yang lemah-lembut, cerdas, sabar, bersahabat, happy, pantas, bermartabat, dan dengan kepercayaan bahwa Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang tidak pernah akan meninggalkan anda.

Nah, untuk orang-orang lain yang suka melecehkan bahkan membenci para homoseksual, umumnya karena alasan-alasan keagamaan yang kolot dan karena memang tidak mengikuti perkembangan kajian-kajian sains atas homoseksualitas, saya mau kutipkan pernyataan Paul Henry Gebhard dalam sebuah artikelnya di Encyclopaedia Britannica yang berjudul “Human Sexual Behaviour”, bahwa:

Setelah segalanya diperhitungkan, maka seperti semua aspek penting lainnya dalam kehidupan manusia, seksualitas juga harus ditangani pada level individual dan level sosial, dengan sekaligus memakai rasionalitas, sensitivitas, dan toleransi. Hanya dengan sikap seperti ini, masyarakat dapat menghindari masalah-masalah individual dan sosial yang muncul dari kebodohan dan kesalahan konsep. /69/

Kalau anda memakai dalil-dalil agama untuk menolak hak hidup dan hak bermasyarakat kalangan LGBT, berilah juga ruang lebar untuk orang bersikap simpatik dan empatetik terhadap kalangan ini atas dasar temuan-temuan ilmu pengetahuan modern tentang orientasi seksual.

Tokh kita semua sudah tahu, ilmu pengetahuan itu tidak memihak ideologi apapun (meskipun para politikus dan para pengpeng kerap juga berusaha keras untuk mencari dan memperoleh banyak keuntungan pribadi dari dunia sains), tetapi berlaku universal, dan dinamis, dan kini sudah dan sedang masuk ke semua bidang kehidupan kita, bahkan mengendalikan kehidupan kita.

Di tangan para saintis agung, ilmu pengetahuan (dan teknologi sebagai terapannya) menjadi suatu wahana paling cerdas untuk memajukan peradaban manusia, bukan hanya di planet Bumi ini, tetapi juga demi mempertahankan kehidupan spesies Homo sapiens ketika nanti spesies ini, dalam proses evolusi mereka (yang alamiah dan yang dirancang sendiri lewat teknologi), akan membangun sebuah peradaban sistem Matahari, yang akan disusul dengan sebuah peradaban galaktik dan seterusnya.

Soal LGBT hanyalah soal setitik debu partikel dalam kosmos kita yang tanpa batas dan terus mengembang makin cepat, dan... abadi. Masih ada segunung persoalan lain yang sangat jauh lebih besar yang kita semua sedang dan akan hadapi dengan cerdas.

Penutup. Saya melihat, ada tiga pilihan dalam menghadapi isu seksualitas manusia, khususnya homoseksualitas: pertama, bersikap acuh tak acuh karena merasa isu ini bukan urusan anda; kedua, menanggapinya dengan kebodohan dan fanatisme karena memegang keyakinan-keyakinan lama dan kolot tentang homoseksualitas; atau, ketiga, menanggapinya dengan cerdas dan memberi sikap yang tepat berdasarkan masukan-masukan dari ilmu pengetahuan dan etika.

Perlu diingat bahwa gagasan tentang “orientasi seksual”―baik sebagai gay maupun sebagai lesbian atau kalangan lainnya yang keseluruhannya terangkum sebagai kaum LGBTIQ/70/―muncul ke permukaan lalu menjadi sebuah gagasan yang makin umum baru pada abad ke-20 ketika seksualitas manusia mulai dikaji secara saintifik.

Di zaman-zaman kuno ketika berbagai kitab suci ditulis konsep OS sama sekali belum dikenal; sains yang mempelajari seksualitas manusia secara klinis belum ada. Jadi, jangan memaksa membawa masuk dunia kuno ke dalam zaman modern, zaman di mana sains telah dan sedang memasuki nyaris semua bidang kehidupan manusia.

Supaya orang dengan OS homoseksual diperlakukan setara dengan orang dengan OS heteroseksual, dan juga supaya para heteroseksual diperlakukan sama dengan para homoseksual, saya memandang perlu untuk kalangan heteroseksual dimasukkan ke dalam LGBTIQ sehingga singkatan yang lebih inklusif dan adil adalah HLGBTIQ. Saya berharap, seterusnya singkatan HLGBTIQ dipakai dalam setiap percakapan atau tulisan atau ketentuan hukum (nasional dan internasional) tentang OS.

Saya sekarang perlu menegaskan dengan kuat, bahwa saya sama sekali tidak mampu untuk menentukan apakah NKRI nantinya mau melegalisasi perkawinan sesama jenis atau tidak. Untuk bergerak ke arah sana, saya sama sekali tidak punya kekuatan apapun, karena saya bukan seorang politikus tangguh yang duduk di lembaga legislatif negara ini.

Tujuan saya yang utama menulis panjang lebar di atas tentang orientasi seksual, khususnya homoseksualitas, adalah untuk mencelikkan mata masyarakat Indonesia di manapun bahwa orang-orang LGBT adalah orang-orang yang tidak memilih diri mereka sendiri sejak dalam rahim ibu mereka untuk menjadi LGBT. Ada faktor-faktor biologis dan genetis yang berpengaruh kuat dalam membentuk mereka menjadi LGBT, yang mereka tidak bisa tolak atau lawan ketika dilahirkan.

Jadi, sebagaimana kita bisa menerima dan bisa mencintai lelaki dan perempuan heteroseksual, mustinya kita bisa juga menerima dan bisa mencintai kalangan LGBT, sebagai sama-sama ciptaan sang Khalik yang mahabesar, al-Rahman dan al-Rahim.

Sebagai penutup, saya sekali lagi ingin membangun semangat anda yang LGBT dengan mengacu ke kasus pedangdut SJ yang kini (Februari 2016) sedang ditangani pihak kepolisian RI atas laporan seorang lelaki muda korbannya. Kasus ini, memprihatinkan sekali, kini sedang dijadikan dalih oleh banyak ideolog anti-LGBT untuk makin mendiskreditkan kalangan LGBT. Kata mereka, itulah kebejatan moral para LGBT dengan mereka mengacu ke SJ yang sudah dikonfirmasi sebagai gay dan juga pedofilik. Dengan dalih ini mereka makin bertekad kuat untuk memerangi LGBT di Indonesia.

Sejumlah orang bertanya kepada saya, “Bagaimana nih Pak jadinya ke depan untuk kalangan LGBT?” Berikut ini jawaban pendek saya.

Sama seperti banyak hetero yang mata keranjang, pacaran di tempat umum dengan berlebihan, hidup freesex, suka pesta sex gila, suka narkotik, jadi playboys/playgirls, dan suka cari dan bersetubuh dengan PSK ganti-ganti, dari level kelas rendah hingga ke level kelas atas, dan banyak yang terkena HIV/AIDS, tentu ada juga LGBT yang berlebihan. Tapi sama seperti ada banyak hetero yang punya martabat dan kawin monogamis, begitu juga halnya dengan LGBT. Realistiklah dalam memandang dunia ini.

Jika ada rekan yang LGBT, jalanilah kehidupan anda dengan relaks, kalem, cerdas, happy, jangan mata keranjang, jangan suka freesex. Pilihlah satu saja mitra hidup sejati, setia sampai mati satu sama lain, dan kerja keras dan kerja cerdaslah untuk dapat income halal.

Jika ini jalan hidup teman-teman LGBT, maka anda semua adalah LGBT yang punya self-esteem, punya harkat dan martabat diri. Apalagi jika anda punya IQ tinggi. Bangun dan kembangkan sains dan teknologi di negeri kita supaya lewat anda yang LGBT, Indonesia dapat menjadi negara maju yang mampu bersaing di arena global dalam dunia sains dan teknologi. Jika anda LBGT yang percaya diri dan mampu mempertahankan harkat dan martabat anda dengan agung, maka dalam psikologi anda digolongkan sebagai LGBT tipe sistonik.

Saya dengan lembut menganjurkan semua LGBT dan para ideolog anti-LGBT membaca dua buku ini yang membeberkan peran besar dan bermartabat yang pernah disandang para LGBT sejak zaman kuno dan seterusnya. Buku pertama karya Allan Bérubé, Coming Out Under Fire: The History of Gay Men and Women in World War II./71/ Buku kedua karya Robert Aldrich dan Garry Wotherspoon, Who’s Who in Contemporary Gay and Lesbian History: From Antiquity to World War II (2 jilid)./72/

Akhirnya, jika kalian LGBT, katakan serentak dengan lemah-lembut dan bersahabat, “We are proud of being dignified and noble LGBT humans!” 

 

Jakarta, 1 Januari 2012
Update mutakhir 24 Februari 2016

* Versi jauh lebih pendek tulisan ini dengan judul berbeda dipasang di blog saya, The Freethinker Blog, pertama kali 1 Januari 2012. Update mutakhir 24 Februari 2016.  

Notes

/1/ Lihat JAMA: Gay Is Okay With APA (American Psychiatric Association); tersedia online di http://www.soulforce.org/article/642.

/2/ Lihat Suzanne Trimel (Direktur Komunikasi IGLHRC), “UN Human Rights Council Votes to Support LGBT Rights”, OutRight Action International, pada https://www.outrightinternational.org/content/un-human-rights-council-votes-support-lgbt-rights. Lihat juga kertas kerja HRC PBB tanggal 24 September 2014 (format PDF) pada https://www.outrightinternational.org/sites/default/files/HRC-27-L27-rev1.pdf.

/3/ Halaman 30. “Case No. S147999 in the Supreme Court of the State of California, In re Marriage Cases Judicial Council Coordination Proceeding No. 4365(…) – APA California Amicus Brief― As Filed”, pada http://www.courtinfo.ca.gov/courts/supreme/highprofile/documents/Amer_Psychological_Assn_Amicus_Curiae_Brief.pdf .

/4/ Lihat berita Heru Margianto, “Homoseksual Bukan Penyimpangan Seksual”, Kompas.com, 11 November 2008, pada http://nasional.kompas.com/read/2008/11/11/13081144/Homoseksual.Bukan.Penyimpangan.Seksual.

/5/ Lihat Yunanto Wiji Utomo, “Nyatakan LGBT Gangguan Jiwa, dr. Fidiansyah Dituding Menutupi Kebenaran”, Kompas.com, 19 Februari 2016, pada http://sains.kompas.com/read/2016/02/19/16141561/Nyatakan.LGBT.Gangguan.Jiwa.dr.Fidiansyah.Dituding.Menutupi.Kebenaran.

/6/ Sarlito Wirawan Sarwono, “LGBT Gaul”, Gatra News, No. 14, tahun XXII, 5 Februari 2016, pada http://www.gatra.com/kolom-dan-wawancara/185467-lgbt-gaul.

/7/ Lihat reportase Robert Barnes, “Supreme Court rules gay couples nationwide have a right to marry”, The Washington Post, 26 June 2015, pada http://www.washingtonpost.com/politics/gay-marriage-and-other-major-rulings-at-the-supreme-court/2015/06/25/ef75a120-1b6d-11e5-bd7f-4611a60dd8e5_story.html.

/8/ Lihat Pew Research Center, “Section 2: Knowing Gays and Lesbians, Religious Conflicts, Beliefs about Homosexuality. Gay or Lesbian Friends and Support for Same-Sex Marriage ”, Pew Research Center, 8 June 2015, pada http://www.people-press.org/2015/06/08/section-2-knowing-gays-and-lesbians-religious-conflicts-beliefs-about-homosexuality/.

/9/ Lihat berita “Sikap PGI terhadap Pernikahan Sesama Jenis”, Jawaban.com, 1 Juli 2015, pada http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/07/01/90/150701115541/Sikap-PGI-Terhadap-Pernikahan-Sesama-Jenis.

/10/ Lihat berita “PGI: Gereja Tak Restui Pernikahan Sejenis”, Republika Online, 10 Juli 2015, pada http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/10/nr9qur-pgi-gereja-tak-restui-pernikahan-sejenis.

/11/ Lihat reportase “Gereja Katolik Tidak Mengakui Perkawinan Sejenis”, Suara Indonesia Baru, 5 Juli 2015, pada http://hariansib.co/mobile/?open=content&id=66400.

/12/ Untuk makalah ilmiah penemuan ini, lihat M. Azim Surani, Naoko Irie, Leehee Weinberger, et al., “SOX17 Is a Critical Specifier of Human Primordial Germ Cell Fate, Cell, Vol. 160, Issues 1-2, 15 January 2015, hlm. 253-268, pada http://www.cell.com/cell/abstract/S0092-8674%2814%2901583-9; lihat reportase populer BBC Crew, “Two-dad babies could soon be a reality: Scientists have made human egg and sperm cells using skin from adults of the same sex”, Science Alert, 25 February 2015, pada http://www.sciencealert.com/two-dad-babies-could-soon-be-a-reality.

/13/ John L. Allen, Jr., “Pope on Homosexual: ‘Who Am I to Judge?’”, National Catholic Reporter, 29 July 2013, pada http://ncronline.org/blogs/ncr-today/pope-homosexuals-who-am-i-judge.

/14/ Lihat reportase Jenn Selby, “Pope Francis Named ‘Person of the Year’ by Leading Gay Rights Magazine”, The Independent, 17 December 2013, pada http://www.independent.co.uk/news/people/news/pope-francis-named-person-of-the-year-by-leading-gay-rights-magazine-9009729.html.

/15/ Lihat video berita “Why Gay Marriage Poses A ‘Difficult’ Problem for Pope Francis”, The Huffington Post, 1 June 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/06/01/pope-francis-gay-marriage_n_7484106.html.

/16/ Lihat Joshua J. McElwee, “Francis Strongly Criticizes Gender Theory, Comparing It to Nuclear Weapons”, National Catholic Reporter, 13 February 2015, pada http://ncronline.org/news/vatican/francis-strongly-criticizes-gender-theory-comparing-nuclear-arms. Wawancara dengan Paus Fransiskus tersebut dimuat dalam buku Andrea Tornielli dan Giacomo Galeazzi, This Economy Kills: Pope Francis on Capitalism and Social Justice (Liturgical Press, 2015).

/17/ German Lopez, “Why Pope Francis’s meeting with Kim Davis isn’t surprising?, Vox Policy and Politics, 30 September 2015, pada http://www.vox.com/2015/9/30/9423093/pope-francis-kim-davis. Lihat juga berita tentang pertemuan Paus Fransiskus dan Kim Davis, “Pope Francis Met Privately with Kim Davis and Encouraged Her to ‘Stay Strong’”, Liberty Council, 29 September 2015, pada https://www.lc.org/newsroom/details/pope-francis-met-privately-with-kim-davis-and-encouraged-her-to-stay-strong-1.

/18/ AFP, “Dalai Lama supports gay marriage”, The Telegraph, 07 March 2014, pada http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/tibet/10682492/Dalai-Lama-supports-gay-marriage.html.

/19/ Reza Aslan dan Hasan Minhaj, “An Open Letter to American Muslims on Same-Sex Marriage”, Religion Dispatches, 7 July 2015, pada http://religiondispatches.org/an-open-letter-to-american-muslims-on-same-sex-marriage/.

/20/ Lihat “The Bible and Homosexuality: Detailed Introduction, Part 1” di http://www.religioustolerance.org/hom_bibi.htm; juga “The Bible and Homosexuality: Detailed Introduction, Part 2” di  http://www.religioustolerance.org/hom_bibi1.htm.

/21/ Lihat “Context and analysis of Leviticus 18:22” di http://www.religioustolerance./hom_bibh4.htm; Paul Turner, “Seeds of Hope: ‘But Leviticus Says’”, Whosoever, di http://www.whosoever.org/seeds/letter84.shtml; dan juga Anon, “What does Leviticus 18:22 really say?”, Pamphlet, National Gay Pentacostal Alliance (NGPA), P.O. Box 20428, Ferndale, MI.

/22/ Lihat “Leviticus 20:13” di http://www.religioustolerance.org/hom_bibh3.htm.

/23/ Untuk informasi tentang konteks religius kultural surat Roma, khususnya bagian-bagiannya yang mengacu ke perilaku seksual, lihat R. S. Truluck, “The six Bible passages used to condemn homosexuals”, di http://www.truluck.com/html/; dan artikel “Free to be gay: A brief look at the Bible and homosexuality”, Universal Fellowship of Metropolitant Community Churches”, di http://www.ualberta.ca/~cbidwell/UFMCC/.

/24/ Lihat “Romans 1:26-27. Introduction” pada http://www.religioustolerance.org/hom_bibc3.htm.

/25/ Lihat artikel “Homosexuality in the Christian Scriptures, the ‘clobber passages’, 1 Timothy 1:9-10” di http://www.religioustolerance.org/hom_bibc7.htm.

/26/ Lihat tafsiran 1 Korintus 6:9-10 dalam http://www.relgioustolerance.org/hom_bibc1.htm.

/27/ Paul Thomas Cahill, “An Investigation into the Bible and homosexuality” di http://www.christianlesbians.com/.

/28/ Lihat artikel “Meanings of the Greek word ‘arsenokoitai’ (1 Corinthians 6 and 1 Timothy 1)” di http://www.religioustolerance.org/homarsen.htm.

/29/ Lihat artikel “How to be true to the Bible and say ‘Yes’ to same-sex unions”, di http://members.aol.com/DrSwiney/bennett.html; lihat juga “Celebrating diversity: texts recently applied to homosexuality”, di http://members.tripod.com/~uniting/resource/bible.html.

/30/ Paul Thomas Cahill, “An Investigation into the Bible and homosexuality” di http://www.christianlesbians.com/; lihat juga Justin Cannon, “The Bible, Christianity and Homosexuality”, di http://www.truthsetsfree.net/study.html.

/31/ Selain sumber-sumber yang sudah dirujuk di atas, kajian atas kata arsenokoitēs juga dapat dilihat pada “Homosexuality in the Christian Scriptures, the ‘clobber passages’, 1 Timothy 1:9-10” di http://www.religioustolerance.org/hom_bibc7.htm.

/32/ Untuk berbagai kemungkinan arti kata pornea, lihat kata “fornication” dalam The American Heritage® Dictionary of the English Language, edisi keempat, di http://www.dictionary.com/; dan Strong’s Concordance di http://www.freedom2201. tripod.com/.

/33/ Dalam The New Oxford Annotated Bible Revised Standard Version (editor: Herbert G. May & Bruce M. Metzger) (New York: Oxford University Press, 1962, 1973), frasa sarkos heteras pada Yudas 1:7 diterjemahkan sebagai “unnatural lust” (begitu juga NRSV edisi 1989). Harper Collin’s New Revised Standard Version of the Bible memberi komentar pada catatan Yudas 1:7 demikian, “Orang-orang Sodom mencoba berhubungan seks dengan para malaikat”.

/34/ Untuk tafsiran ini, lihat komentar atas Yudas 1:7 pada http://www.religioustolerance.org/hom_bibc2.htm.

/35/ Tentang homoseksualitas pada hewan, dua links ini menyediakan banyak informasi berharga: http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexual_behavior_in_animals dan

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_animals_displaying_homosexual_behavior.

/36/ Bruce Bagemihl, Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity (New York: St. Martin's Press, 1999).

/37/ Lihat J.T. Eberhard, “Ben Carson isn’t sure if the Constitution has authority over the Bible”, Patheos, 4 August 2015, pada http://www.patheos.com/blogs/wwjtd/2015/08/ben-carson-isnt-sure-if-the-constitution-has-authority-over-the-bible/. Lihat juga pada http://www.christianpost.com/news/ben-carson-asked-gotcha-question-does-the-bible-have-authority-over-the-constitution-142209/.

/38/ Lihat Pew Research Center, “Section 2: Knowing Gays and Lesbians, Religious Conflicts, Beliefs about Homosexuality. Mixed Views on Why People Are gay or Lesbian”, Pew Research Center, 8 June 2015, pada http://www.people-press.org/2015/06/08/section-2-knowing-gays-and-lesbians-religious-conflicts-beliefs-about-homosexuality/.

/39/ Lihat reportase Jeffrey Kluger, “No Ben Carson, Homosexuality Is Not a Choice”, Time, 6 March 2015, pada http://time.com/3733480/ben-carson-gay-choice-science/.

/40/ Simon LeVay, “A Difference in Hypothalamic Structure between Homosexual and Heterosexual Men”, Science, Vol. 253, No. 5023, 30 August 1991, hlm. 1034-1037, pada http://www.sciencemag.org/content/253/5023/1034.abstract.

/41/ Sumber https://mitpress.mit.edu/books/sexual-brain.

/42/ Simon LeVay, The Sexual Brain (Cambridge/London, MA/UK: MIT Press1993,1994), hlm. xi-xii.

/43/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xiii-xiv.

/44/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 120-121.

/45/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 122.

/46/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xiv.

/47/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm.129.

/48/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. xii.

/49/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 108-109.

/50/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 137.

/51/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 129.

/52/ Simon LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2011), hlm. xiv-xv.

/53/ Laura S. Allen dan Roger A. Gorski, “Sexual Orientation and the Size of the Anterior Commissure in the Human Brain”, The Proceedings of the National Academy of Science, USA, Vol. 89, August 1992, hlm. 7199-7202, pada https://timedotcom.files.wordpress.com/2015/03/7199.full.pdf.

/54/ Lihat kolom Kelly Servick, “Study of gay brothers may confirm X chromosome link to homosexuality”, Science, 17 November 2014, pada http://news.sciencemag.org/biology/2014/11/study-gay-brothers-may-confirm-x-chromosome-link-homosexuality. Untuk makalah ilmiah kajian ini, lihat J.M. Bailey, Alan R. Sanders, E.R. Martin, et al., “Genome-Wide Scan Demonstrates Significant Linkage for Male Sexual Orientation”, Psychological Medicine, Vol. 45, Issue 07, May 2015, hlm. 1379-1388, pada http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=9625997&fileId=S0033291714002451.  

/55/ Lihat bab 10 buku LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2011).

/56/ Lihat Lalumière ML, Blanchard R, Zucker KJ, “Sexual orientation and handedness in men and women: A meta-analysis”, NCBI. Psychological Bulletin, July 2000, No. 126 (4), hlm. 575-592, pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10900997.

/57/ Simon LeVay, The Sexual Brain, hlm. 118.

/58/ Lihat Rahman Q, Clarke K, Morera T, “Hair whorl direction and sexual orientation in human males”, NCBI. Behavioral Neuroscience, April 2009, No. 123 (2), hlm. 252-258, pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19331448.

/59/  Kelly Servick, “Study of gay brothers may confirm X chromosome link to homosexuality”, Science, 17 November 2014, pada http://news.sciencemag.org/biology/2014/11/study-gay-brothers-may-confirm-x-chromosome-link-homosexuality.

/60/ Lihat Nicolas DiDomizio, “A Surprising Number of Straight Men Are Having Sex With Other Men, Says The CDC”, Connections.Mic, 8 January 2016, pada http://mic.com/articles/132129/a-surprising-number-of-straight-men-are-having-sex-with-other-men-says-the-cdc#.iZmKZqHq8.

/61/ Lihat Sara Reardon, “Epigenetic ‘tags’ linked to homosexuality in men: Twin study reveals five DNA markers that are associated with sexual orientation”, Nature, 8 October 2015, updated 12 October 2015, pada http://www.nature.com/news/epigenetic-tags-linked-to-homosexuality-in-men-1.18530.

/62/ Lihat artikel “What Research shows: NARTH’s Response to the APA Claims on Homosexuality” dalam Journal of Human Sexuality 1 (2009) 1-128; ringkasan artikel ini tersedia online di http://www.narth.com/docs/journalsummary.html.

/63/ Lihat artikel rujukan “The Lies and Dangers of Efforts to Change Sexual Orientation or Gender Identity”, Human Rights Campaign, pada http://www.hrc.org/resources/the-lies-and-dangers-of-reparative-therapy.

/64/ Frans Magnis-Suseno, “Perkawinan Sejenis Tak Berdasar”, Kompas.com, 23 Februari 2016, pada http://print.kompas.com/baca/2016/02/23/Perkawinan-Sejenis-Tak-Berdasar.

/65/ Lihat Stefanus Yugo, “Luhut: LGBT Punya Hak, Harus Dilindungi”, RimaNews, 12 Februari 2016, pada http://nasional.rimanews.com/keamanan/read/20160212/261397/Luhut-LGBT-Punya-Hak-Harus-Dilindungi.

/66/ Simon LeVay, Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation, hlm. xii.

/67/ Lihat Colin Fernandez, “The DNA test ‘that reveals if you’re gay’: Genetic code clue is 70 percent accurate, claim scientists”, Mailonline, 8 Oktober 2015, pada http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3265248/Homosexuality-imprinted-genes-Scientists-predict-gay-70-cent-accuracy.html.

/68/ Lihat Hendri F. Isnaeni, “Viva Vivian!”, Historia, pada http://historia.id/budaya/viva-vivian.

/69/ Paul Henry Gebhard, “Human Sexual Behaviour”, Encyclopaedia Britannica, pada http://www.britannica.com/topic/human-sexual-behaviour/Legal-regulation.

/70/ LGBTIQ = Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer. Ini harus ditambah OS hetero, sehingga menjadi HLGBTIQ.

/71/ Allan Bérubé, Coming Out Under Fire: The History of Gay Men and Women in World War II (edisi kedua; Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2010; edisi pertama 1990).

/72/ Robert Aldrich dan Garry Wotherspoon, Who’s Who in Contemporary Gay and Lesbian History: From Antiquity to World War II (2 jilid) (London/New York: Routledge, cetakan pertama 2001).

82 comments

  1. I’m not certain where you’re getting your information, but
    good topic. I must spend some time finding out much more or figuring
    out more. Thank you for excellent information I
    was looking for this info for my mission.

  2. Everyone loves what you guys are up too. This sort of clever work
    and exposure! Keep up the awesome works guys I’ve added you guys to my personal blogroll.

  3. Thank you for every other magnificent article. Where else may just anyone get that kind of information in such a perfect method of writing?

    I have a presentation next week, and I’m on the search for
    such info.

  4. Beneficial Blog! I had been simply just debating that there are plenty of screwy results at this issue you now purely replaced my personal belief. Thank you an excellent write-up.

  5. I have been browsing online more than 3 hours today, yet
    I never found any attention-grabbing article like yours. It’s beautiful worth sufficient for
    me. Personally, if all webmasters and bloggers made just right content material as
    you did, the web might be a lot more useful than ever before.

  6. WOW just what I was looking for. Came here by searching for ig

  7. Howdy would you mind letting me know which web host
    you’re working with? I’ve loaded your blog in 3
    different internet browsers and I must say this blog loads a lot quicker then most.
    Can you recommend a good internet hosting provider at a fair
    price? Many thanks, I appreciate it!

  8. You really make it seem so easy with your presentation but I find this matter to be really something that I think I would never understand.

    It seems too complicated and very broad for
    me. I’m looking forward for your next post, I will try to get the hang of it!

  9. hello!,I like your writing so a lot! share we keep up a correspondence extra about your post on AOL?
    I require an expert in this space to solve my problem.

    Maybe that is you! Taking a look ahead to see you.

  10. It’s very straightforward to find out any matter on web as compared
    to books, as I found this post at this web site.

  11. Aw, this was an incredibly nice post. Finding the time and actual effort to make a very good article… but what can I say… I procrastinate a lot and don’t manage to get nearly anything done.

  12. Howdy! Do you know if they make any plugins to protect against hackers?
    I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked
    hard on. Any suggestions?

  13. excellent post, very informative. I ponder why the other specialists of
    this sector don’t realize this. You must proceed
    your writing. I’m sure, you have a great readers’ base already!

  14. Hmm it seems like your blog ate my first comment (it was super long) so I guess I’ll just sum it up what
    I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog.
    I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to everything.
    Do you have any recommendations for beginner blog writers?
    I’d really appreciate it.

  15. Superb post however I was wanting to know if you could write a litte
    more on this topic? I’d be very grateful if you could elaborate
    a little bit further. Thanks!

  16. Hi there to every body, it’s my first visit of this website; this website
    carries amazing and in fact fine information in favor of visitors.

  17. We stumbled over here coming from a different web
    address and thought I should check things out. I like
    what I see so now i’m following you. Look forward to checking out your web page again.

  18. Magnificent beat ! I would like to apprentice while you amend your website, how could i subscribe for a blog
    web site? The account aided me a acceptable deal. I had been tiny bit acquainted of this your broadcast offered bright clear concept

  19. An impressive share! I’ve just forwarded this onto a friend who
    had been doing a little research on this.
    And he actually ordered me lunch simply because I stumbled upon it for
    him… lol. So allow me to reword this…. Thanks for the
    meal!! But yeah, thanks for spending the time to talk about this topic here
    on your internet site.

  20. What’s up to every , because I am truly eager of
    reading this web site’s post to be updated on a regular basis.
    It contains fastidious data.

  21. Great article, just what I needed.

  22. My coder is trying to convince me to move to .net from PHP.
    I have always disliked the idea because of the expenses.
    But he’s tryiong none the less. I’ve been using Movable-type on numerous websites for about a year and am anxious about switching to another platform.
    I have heard excellent things about blogengine.net.
    Is there a way I can transfer all my wordpress posts into it?

    Any help would be really appreciated!

  23. I appreciate, lead to I found just what I used to be having a
    look for. You’ve ended my four day long hunt! God Bless you man. Have a nice day.
    Bye

  24. Inspiring quest there. What happened after? Take care!

  25. Wonderful goods from you, man. I’ve have in mind your
    stuff previous to and you are simply extremely great. I actually like what you’ve
    acquired right here, really like what you are stating and
    the way by which you assert it. You are making it entertaining and you
    still take care of to stay it smart. I can’t wait to read far more from you.
    This is really a great site.

  26. Hey! I just wanted to ask if you ever have any trouble with hackers?
    My last blog (wordpress) was hacked and I ended up losing many months of
    hard work due to no data backup. Do you have any solutions to stop hackers?

  27. Hello colleagues, good piece of writing and fastidious urging commented here, I am actually enjoying by these.

  28. I’ve been surfing online more than 3 hours today, yet I never
    found any interesting article like yours. It’s pretty worth enough
    for me. In my opinion, if all website owners and bloggers made good content
    as you did, the net will be a lot more useful than ever before.

  29. Pretty! This has been a really wonderful article.

    Thanks for supplying this information.

  30. Heya! I understand this is kind of off-topic but I
    needed to ask. Does running a well-established blog like yours require a large amount
    of work? I’m brand new to blogging however I do write in my journal
    every day. I’d like to start a blog so I can share my own experience and
    feelings online. Please let me know if you have any recommendations or tips for new aspiring blog owners.
    Thankyou!

  31. Howdy would you mind stating which blog platform you’re
    working with? I’m planning to start my own blog soon but I’m having a difficult time making a decision between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.

    The reason I ask is because your layout seems different then most blogs and I’m looking for something unique.
    P.S My apologies for being off-topic but I had to ask!

  32. Hi there terrific website! Does running a blog like this require a
    massive amount work? I’ve virtually no expertise in computer programming however I
    had been hoping to start my own blog in the near future. Anyway, should you have any ideas or tips for
    new blog owners please share. I understand this is off subject however
    I simply needed to ask. Kudos!

  33. This paragraph is actually a good one it helps new internet users, who are wishing in favor of
    blogging.

  34. This paragraph is truly a fastidious one it assists new net people, who are wishing in favor of blogging.

  35. I got this website from my pal who told me regarding this
    web page and at the moment this time I am browsing this website and reading very informative content
    at this time.

  36. It’s very straightforward to find out any topic on net as
    compared to books, as I found this article at this site.

  37. Good post however , I was wanting to know if you
    could write a litte more on this topic? I’d be very grateful if you could
    elaborate a little bit further. Cheers!

  38. Very Interesting Information! Thank You For Thi Information!

  39. I know this website presents quality dependent content and additional stuff, is there any other web
    site which offers such data in quality?

  40. Hi, this weekend is nice in support of me, because this point in time i am reading this enormous informative paragraph here at
    my residence.

  41. Greate pieces. Keep writing such kind of info on your page.
    Im really impressed by your blog.
    Hi there, You have done an incredible job. I’ll certainly
    digg it and in my opinion suggest to my friends.
    I’m confident they’ll be benefited from this site.

  42. Hi just wanted to give you a quick heads up and let you know a few of the images aren’t loading properly.

    I’m not sure why but I think its a linking issue.
    I’ve tried it in two different internet browsers
    and both show the same outcome.

  43. Keep it up!. I usually don’t post in Blogs but your blog forced me to, amazing work.. beautiful A rise in An increase in An increase in.

  44. bonjour I love Your Blog can not say I come here often but im liking what i c so far….

  45. Hey! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog.
    Is it very difficult to set up your own blog? I’m not
    very techincal but I can figure things out pretty quick.
    I’m thinking about creating my own but I’m not sure where to begin. Do you have any ideas or suggestions?
    Appreciate it

  46. It’s fantastic that you are getting thoughts from this article as well as from our dialogue made
    at this time.

  47. It’s very straightforward to find out any topic on web as compared
    to textbooks, as I found this paragraph at this web page.

  48. You need to take part in a contest for one of the
    best sites on the net. I most certainly will highly recommend this blog!

  49. I have been surfing online more than three hours today, yet I never found anything that grabbed my interest as much as this piece.

  50. Attractive section of content. I just stumbled upon your site and in accession capital to assert that I acquire actually
    enjoyed account your blog posts. Any way I’ll be subscribing to your augment and
    even I achievement you access consistently rapidly.

  51. My brother suggested I might like this blog. He was totally right.
    This post truly made my day. You cann’t imagine simply how much time I had spent for this information! Thanks!

  52. Hi this is kind of of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG
    editors or if you have to manually code with HTML.
    I’m starting a blog soon but have no coding expertise so I wanted to get guidance from someone with experience.

    Any help would be enormously appreciated!

  53. Howdy! Would you mind if I share your blog with my myspace group?
    There’s a lot of folks that I think would really appreciate your content.
    Please let me know. Thank you

  54. Today, I went to the beach front with my children.
    I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell
    to her ear and screamed. There was a hermit crab
    inside and it pinched her ear. She never wants to go back!

    LoL I know this is entirely off topic but I had to
    tell someone!

  55. Hi there! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog.
    Is it tough to set up your own blog? I’m not very techincal but I
    can figure things out pretty quick. I’m thinking about creating my own but I’m not sure where to
    begin. Do you have any ideas or suggestions? Appreciate it

  56. Hi there, constantly i used to check website posts
    here in the early hours in the dawn, because i enjoy to find
    out more and more.

  57. Hello There. I discovered your weblog the usage of msn. This is a very well written article.
    I will make sure to bookmark it and come back to read extra
    of your helpful info. Thanks for the post. I’ll certainly return.

  58. Hello! I just wanted to ask if you ever have any issues with hackers?
    My last blog (wordpress) was hacked and I ended up
    losing several weeks of hard work due to no back up. Do you have any methods to prevent hackers?

  59. Hi! Quick question that’s completely off topic.
    Do you know how to make your site mobile friendly? My website looks weird when viewing from my iphone4.
    I’m trying to find a theme or plugin that might be able to fix this
    issue. If you have any recommendations, please share.
    Cheers!

  60. I will immediately snatch your rss feed as I can not to find your email
    subscription link or newsletter service.
    Do you have any? Please let me recognise so that I may just subscribe.

    Thanks.

  61. Just desire to say your article is as astonishing.
    The clearness in your post is just nice and i can assume
    you are an expert on this subject. Well with your permission allow
    me to grab your feed to keep updated with forthcoming post.
    Thanks a million and please continue the gratifying work.

  62. Hi there to every body, it’s my first visit of this web site; this weblog includes amazing and really good
    data for readers.

  63. I was recommended this web site by means of my cousin. I am no longer sure whether or not this publish is written via
    him as no one else know such targeted about my trouble.
    You’re wonderful! Thanks!

  64. Hi! Would you mind if I share your blog with my myspace group?
    There’s a lot of people that I think would really
    enjoy your content. Please let me know. Many thanks

  65. Hey! Quick question that’s completely off topic. Do you know how to make
    your site mobile friendly? My website looks weird when viewing from my iphone4.
    I’m trying to find a template or plugin that might be able to correct this issue.
    If you have any suggestions, please share. Many thanks!

  66. Hello would you mind letting me know which webhost you’re working with?
    I’ve loaded your blog in 3 different web browsers and I must say this blog
    loads a lot faster then most. Can you suggest a good hosting provider at a fair price?
    Thank you, I appreciate it!

  67. Howdy! I know this is kinda off topic however , I’d figured I’d ask.
    Would you be interested in trading links or maybe guest
    authoring a blog post or vice-versa? My blog discusses a lot of the same subjects as yours
    and I feel we could greatly benefit from each other.
    If you happen to be interested feel free to send me an e-mail.
    I look forward to hearing from you! Great blog by the way!

  68. Wedding planner in decatur Illinois

  69. Fine way of explaining, and pleasant paragraph to take information on the topic of my presentation focus, which
    i am going to convey in college.

  70. I loved your idea there, I tell you blogs are so exciting sometimes like looking into people’s private life’s and work. Every new remark wonderful in its own right.

  71. Thanks for all of your work on this blog. Ellie loves engaging in investigation and it is easy to see why. A number of us notice all regarding the powerful ways you present sensible tips via your website and in addition recommend participation from the others on this issue plus our princess is actually understanding a whole lot. Have fun with the rest of the new year. You are conducting a splendid job.

  72. Hi, I wish for to subscribe for this webpage to obtain most up-to-date updates, so
    where can i do it please help out.

  73. Many go out for wool and come home shorn.

  74. Only a smiling visitor here to share the love (:, btw great style and design.EBestWebHost

  75. You can certainly see your enthusiasm within the work you write.
    The world hopes for even more passionate writers such as you who aren’t afraid to say how they believe.
    All the time go after your heart.

  76. Thanks for all of your labor on this website. Betty really loves going through internet research and it is obvious why. A lot of people learn all concerning the lively ways you render simple solutions through the web site and inspire participation from other ones on this issue while my simple princess is always starting to learn a lot. Take pleasure in the rest of the year. You’re carrying out a good job.

  77. Wish I’d thought of this. Am in the field, but I procrastinate alot and haven’t written as much as I’d like. Thanks.

  78. Good day! I know this is kinda off topic however I’d figured I’d ask.
    Would you be interested in exchanging links or maybe guest writing a blog article or
    vice-versa? My website goes over a lot of the same topics
    as yours and I think we could greatly benefit from each other.
    If you happen to be interested feel free to shoot me an e-mail.

    I look forward to hearing from you! Excellent blog by the way!

  79. After study a few of the blog posts on your website now, and I truly like your way of blogging. I bookmarked it to my bookmark website list and will be checking back soon. Pls check out my web site as well and let me know what you think.

  80. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied
    on the video to make your point. You obviously know what youre talking about, why throw
    away your intelligence on just posting videos
    to your weblog when you could be giving us something enlightening to read?

  81. Nice post. I learn something more challenging on different blogs everyday. It will always be stimulating to read content from other writers and practice a little something from their store. I’d prefer to use some with the content on my blog whether you don’t mind. Natually I’ll give you a link on your web blog. Thanks for sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.