Home » Gagasan » Luthfi Assyaukanie: “Asyiknya Belajar Islam di Barat”
Luthfi Assyaukanie
Luthfi Assyaukanie

Luthfi Assyaukanie: “Asyiknya Belajar Islam di Barat”

3/5 (1)

Maraknya studi Islam yang diselenggarakan oleh dunia Barat, pada satu sisi merupakan bagian dari pragmatisme dunia akademis Barat sendiri. Kebutuhan objektifnya adalah untuk mengenal dunia Islam secara lebih dekat. Karena itu, pelbagai perguruan tinggi dunia Barat membuka bidang studi Islam yang biasanya termasuk dalam lingkup area studies (studi kawasan).

Berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Banyak nama yang bisa kita munculkan di sini misalnya Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Syafii Maarif, Dr. Amien Rais, Dr. Dien Syamsuddin dan banyak lagi. Kekhawatiran studi Islam di Barat akan menggerogoti nilai-nilai Islam, pada akhirnya terbantahkan oleh kenyataan-kenyataan objektif itu.

Hal tersebut juga dialami oleh Luthfi Assyaukanie, pengajar filsafat di Universitas Paramadina, Jakarta. Untuk berbagi pengalamannya, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu  mewawancarai kandidat doktor di Melbourne University, Australia, yang saat ini sedang jeda kuliah di Jakarta, sembari melakukan riset untuk melengkapi disertasi doktornya tentang pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, Kamis (4/3/ 2004). Berikut petikannya.

 

Bung Luthfi, Anda pernah kuliah di Timur Tengah. Bisa Anda ceritakan iklim intelektual di sana?

Saya belajar di Timur Tengah, tepatnya di Yordania pada akhir tahun 80-an. Tepatnya, dari tahun 1988, saya mulai kuliah mengambil jurusan agama. Saya kuliah di jurusan Syari’ah, walau kemudian saya mengambil minor dalam bidang Filsafat di Fakultas berbeda, yakni Fakultas Sastra.

Saya kira, pilihan kuliah ke Yordania ketika itu, selain karena faktor kebetulan, juga karena lingkungan politik dan keagamaan di Yordania saat itu cukup liberal dibandingkan negara-negara Teluk, atau bahkan pada tingkat tertentu, Mesir sendiri.

Di Mesir pada saat itu, kelompok Ikhwanul Muslimin –misalnya– dilarang pemerintah untuk melakukan aktivitas politik. Sementara di Yordania, Ikhwanul Muslimin diberi kebebasan yang cukup, dan sempat memenangkan Pemilu yang diadakan pertama kali, tahun 1989. Makanya, secara umum saya kira politik keagamaan di Yordania saat itu bisa dikatakan lebih bebas dari negara-negara tetangganya.

Bagaimana perkembangan studi Filsafat di dunia Islam, dalam pandangan Anda, sekurang-kurangnya dilihat dari jurusan Anda di Timur-Tengah?

Sebagaimana dikatakan banyak orang, di dunia Sunni, filsafat atau pemikiran secara umum, memang mengalami kemunduran atau kemandegan luar biasa. Orang selalu membandingkan antara dunia Sunni dan dunia Syi’ah dalam perbincangan soal ini.

Di dalam tradisi pemikiran Sunni, puncak pemikiran Filsafat berhenti pada sosok Ibnu Rusyd. Tapi di dunia Syi’ah masih terus berlanjut. Meski demikian, saya juga mengritik dunia pemikiran Syi’ah, karena cenderung pada pemikiran yang bersifat eksoteris. Pemikiran-pemikiran yang bersifat enlightment tak muncul.

Sekarang Anda belajar Islam di Australia. Bisakah Anda membandingkan antara lingkungan intelektual di Yordania dengan Australia?

Secara umum, kehidupan intelektual antara keduanya tidak terlalu banyak berbeda. Mungkin yang berbeda justru pada fasilitas, seperti perpustakaan dan exposure dari orang-orang di dalam dunia akademik. Maksud saya, di lingkungan akademis di Dunia Barat, ada iklim yang cukup bebas, dan hampir tidak ada tekanan dalam aktivitas pemikiran karena ideologi atau keyakinan tertentu.

Sebagai seorang muslim, di mana kemusliman Anda lebih bisa terekspresikan secara leluasa, di Australia atau di Yordania?

Itu perbandingan dari ruang dan nuansa yang betul-betul berbeda; yang satu negara dengan mayoritas berpenduduk muslim, yang lain mayoritas non-muslim. Dibilang perbandingan antara negara sekuler dengan negara bukan sekular juga tidak bisa, karena Yordania dalam tingkat tertentu sebetulnya bisa disebut sebagai negara sekular, dalam pengertian bahwa agama bukan perkara publik yang terlalu dipentingkan untuk diurus negara.

Menurut Anda, dari sudut penilaian Islam, apakah Australia bisa dikatakan sebagai negeri yang memenuhi harapan Islam?

Saya jadi teringat kata-kata Muhammad Abduh, seorang tokoh reformis Mesir yang pernah berkeliling Eropa. Sebuah statemen yang sangat terkenal darinya adalah ungkapan bahwa dia melihat Islam di Eropa, Inggris dan Perancis khususnya, tapi tidak melihat kaum muslim di sana. Sebaliknya, dia melihat kaum muslim di Mesir (negerinya) tapi tidak melihat Islam di sana.

Hal serupa Anda saksikan di Australia?

Ya, pengalaman serupa saya temukan. Artinya, begitu banyak ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang selama ini saya dapatkan dalam Islam, justru saya temukan aplikasinya di Australia. Misalnya dalam hal kebersihan, ketertiban, keamanan, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut kan semuanya merupakan ajaran yang sejak kecil selalu dicekoki kepada kita. Tapi sayangnya, justru itu tidak kita temukan di banyak negara yang mengklaim sebagai negara muslim mayoritas.

Bung Luthfi, orang selalu mencibir bahkan sinis kalau kita belajar Islam di negeri non-Islam. Nah, apa sih alasan Anda belajar Islam di sana?

Saya kira yang paling utama, yang orang jarang sadari adalah kenyataan bahwa di negara-negara Barat, termasuk Australia, fasilitas pendidikannya luar biasa, sehingga buku-buku keislaman yang kita perolah mungkin jauh lebih banyak ketimbang yang kita temukan di Mekkah atau Madinah sekalipun. Di sana, buku-buku berbahasa Arab luar biasa banyaknya.

Koleksi buku-buku klasik Islam cukup banyak. Koleksi buku-buku hadis, misalnya, dari Bukhari-Muslim, Kutubus Sittah, Mustadrak, dan lain-lain, semua bisa didapat dengan mudah, dan dengan fasilitas yang luar biasa memudahkan.

Dan banyak juga orang bertanya: kenapa sih orang Barat menyelenggarakan studi Islam di pelbagai perguruan tinggi mereka?

Saya kira itu bagian dari pragmatisme saja, yakni tuntutan pasar secara umum. Pada tahun 80-an, di Amerika banyak sekali muncul studi tentang Midlle East (Timur Tengah) atau Near Eastern Studies (Studi Timur Dekat), yang sebetulnya merupakan upaya untuk studi dunia Arab secara keseluruhan.

Studi tentang Islam masuk ke dalam departemen ini. Dan mereka mendirikan departemen semacam ini karena ada tuntutan yang mendesak pada saat itu, misalnya karena pesatnya industri, dan booming minyak di Tanah Arab.

Untuk mengantisipasi hal itu, tentu mereka harus menguasai kondisi sosial-politik-budaya wilayah tersebut. Dan munculnya departemen ini sama seperti munculnya departemen lain di dalam area studies.

Banyak orang mengatakan, semua itu dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam sendiri. Menurut Anda, apakah lingkungan akademis di negeri Barat memang memusuhi Islam atau bagaimana?

Saya kira orang-orang Barat itu pragmatis saja. Dan dunia akademis Barat, secara umum adalah dunia pragmatis. Artinya, mereka membuka bidang studi Islam yang biasa disebut area studies, oleh kebutuhan yang objektif secara akademis. Makanya, kalau kita menemukan teori baru dalam studi Islam, mereka tidak akan pernah campur tangan, sepanjang argumen kita kuat.

Saya kira, di dunia Islam, penemuan-penemuan akademis seperti itu, justru terkadang bermasalah. Misalnya kalau saya bandingkan dengan di Yordania sendiri. Yordania itu kan negara yang relatif lebih bebas dibandingkan Arab Saudi, misalnya. Tapi jika kita mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan mainstream di sana, tetap saja ada tekanan dan tidak akan dibolehkan.

Ketika masih di Yordania, saya punya teman yang sangat concern akan pemikiran Hizbut Tahrir yang radikal. Tapi kemudian yang menekan dia bukan datang dari kelompok sekular di sana, tapi justru kelompok Islam yang tidak suka dengan Hizbut Tahrir. Nah logikanya, kalau pemikiran Islam saja tidak disukai, apalagi pemikiran yang lain.

Jadi, tak perlu khawatir belajar Islam ke Barat?

Sejauh yang saya amati, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kaum muslim selama ini. Misalnya kekhawatiran konspirasi Barat terhadap Islam.

Tapi sejumlah sarjana Barat yang sinis terhadap Islam itu kan betul-betul fakta!

Ya, sama saja dengan fakta sarjana Islam yang sinis terhadap Barat. Dan itu banyak sekali, melebihi banyaknya sarjana Barat yang sinis terhadap Islam. Kalau berbicara pada tataran individu, tentu fenomena itu bisa dikatakan fenomena yang alamiah saja. Tapi kalau kita berbicara pada tataran umum dan pada level institusi, hal itu sesungguhnya tidak ada. Saya tidak percaya akan hal itu.

Sebagai mahasiswa muslim yang belajar Islam di Australia, apakah Anda tidak merasa tertekan?

Jelas tidak. Sekarang saja yang memegang Departemen Islamic Studies di sana (Melbourne University) adalah seorang muslim. Lulusan Universitas Madinah, bahkan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari studi Islam di Barat. Buat mereka, kalau seseorang itu qualified dan bisa memenuhi syarat-syarat akademis, mereka akan dengan mudah meraih posisi strategis.

Terakhir, apa saran Anda untuk para pelajar Islam di Tanah Air, berkaitan dengan dunia Barat?

Saya ingin menegaskan, banyak sekali yang bisa dipelajari dari dunia Barat. Dan interaksi kita di Dunia Islam dengan Dunia Barat bukanlah hal yang baru. Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, banyak sekali intelektual muslim yang berkaca kepada Barat.

Mereka mengambil sisi baik Barat, kemudian melakukan reproduksi intelektual yang luar biasa menakjubkan. Mereka menulis buku, bahkan menciptakan teknologi, ilmu kedokteran, dan lain sebagainya. Itu sebagiannya mereka ambil dari Barat (Yunani). Nah kalau kita punya pengalaman yang baik dengan Barat, kenapa kita tidak mengulanginya lagi?

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.