Home » Gagasan » Meliberalkan Sabda

Meliberalkan Sabda

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Kelompok teroris percaya bahwa pembunuhan bahkan pembantaian bisa halal dilakukan, terlebih untuk non-muslim yang dipandang telah memusuhi (umat) Islam. Non-muslim yang demikian disebut sebagai kafir harbiy yang–menurut kaum teroris–darahnya selalu mubah bahkan wajib ditumpahkan.

Kafir harbiy adalah deretan orang yang membahayakan bagi eksistensi Islam. Sehingga umat Islam diminta untuk segera merancang strategi dan mengambil tindakan untuk membinasakan kaum kafir itu.

Itu kira-kira ideologi yang mengendap di benak para teroris bersampul Islam. Pandangan buas seperti ini bukan tanpa dalil, karena mereka pun kerap menyandarkan pandangannya itu pada nukilan ayat dan kutipan hadits serta penjelasan ulama yang otentik.

Mereka menyebut dirinya sebagai mujahid (pejuang Islam). Bukan sebagai teroris. Sebagai mujahid, mereka merindukan sorga sebagai tempat huniannya yang terakhir. Kenikmatan sorga dengan sekumpulan bidadarinya yang jelita rasanya merupakan bagian dari motif eskatologisnya.  Mereka berani mempertaruhkan semuanya termasuk jiwanya sendiri untuk memperoleh imbalan akhirat itu.

Sorga akhirat bahkan telah mereka tebus bukan hanya dengan jiwanya sendiri melainkan dengan jiwa-jiwa orang lain. Bukan hanya jiwa-jiwa orang yang mereka sebut sebagai kafir tapi juga jiwa orang-orang Islam sendiri, tua-muda, kecil-dewasa, laki-perempuan. Mereka yang tewas di Bali seakan merupakan korban yang diperlukan untuk memperoleh tiket sorga dan untuk mencapai ridha Allah SWT

Buat saya, untuk apa mendeklarasikan iman dan hasrat menggebu menuju sorga sekiranya hanya dengan cara memenuhi bumi dengan darah orang-orang tak bersalah. Tapi, menyesalkah mereka atas tindakannya itu? Ternyata tidak. Tak tampak di raut wajah mereka sehelai penyesalan.

Alih-alih hendak menyesali, justeru mereka mengalami surplus percaya diri atas keberhasilannya membom orang-orang kafir itu, seperti terlihat pada para pelaku bom Bali. Bahwa kemudian mereka dijerat dengan hukuman mati, itu mereka pahami sebagai jembatan emas yang akan segera mengantarkan mereka ke sorga.

Ini sebabnya Imam Samudera dan Amrozi sengaja tidak mengajukan grasi sebagai upaya hukum terakhir karena sudah tidak sabar menunggu imbalan akhirat yang diharapkan. Mereka ingin segera dieksekusi. Bahkan pelaku bom Bali I itu merasa iri atas meninggalnya DR Azahari sebagai syahid.

Memperhatikan argumen teologis yang mereka ajukan akan tampak blunder pokoknya. Bahwa pengeboman Bali itu adalah wujud dari sebuah penghampiran yang harafiah, di mana aksara harus disembah dan yurisdiksi kata harus tegak. Setiap kata dalam kitab suci diletakkan sebagai ekspresi kebenaran Tuhan.

Para teroris itu memahami Sabda dari bentuk skripturalnya saja tanpa memahami esensi dasarnya. Mereka menelan tafsir-tafsir keagamaan klasik tanpa modifikasi apalagi kritik. Tak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menafsirkan kembali sejumlah ayat dan hadits yang pelik jika diterapkan secara verbatim. Mereka mengambil irisan-irisan firman yang kemudian dilepas dari konteksnya lalu diterapkan di belahan tanah lain.

Salah satu produknya sudah bisa ditebak, yaitu kekerasan yang dilandaskan pada firman itu. Kaum teroris selalu memandang “yang lain” dengan murung dan bengis. Maka meledaklah bom di Jakarta, Bali, London, dll. Melihat fakta ini, maka jelaslah bahwa pembacaan secara harafiah tak bisa dipertahankan.

Sebagai substitusinya, Sabda mesti dimaknai secara liberal-progresif. Sebab, realitasnya, semakin harafiah seseorang memahami firman, maka semakin mudah ia terjatuh pada kekerasan bernuansa agama.

Sebaliknya, semakin liberal dalam memaknai buku suci itu, maka kiranya kian terhindar ia dari teror berbasiskan agama ini. Kian liberal kian tampak wajah berkilau Islam sebagairahmatan lil alamin. Dan kian harafiah, maka kian tampak bahwa Islam adalahla’natan lil alamin.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.