Home » Gagasan » Memaknai Taaruf
67074234_3f5034a999_z

Memaknai Taaruf

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – Taaruf sering dipahami sebagai perkenalan dua sejoli yang akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Ada juga yang memahaminya sama seperti pacaran, hanya saja taaruf dipandang lebih Islami. Pemahaman yang sudah memasyarakat ini tidak sepenuhnya salah, tapi di sana terjadi penyempitan makna.

Dalam QS. Al-Hujurat 49: 13 tertulis:

“Hai Manusia, sungguh Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa juga bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling berkualitas takwanya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah kalimat lita’aarafu (supaya kalian saling mengenal). ‘Arf  berasal dari kata ’arafa yang berarti mengenal. Kata lita’aarafu, berasal dari “aarafa (ada alif setelah ‘ain) mengandung makna timbal balik. Sehingga bisa diartikan “saling mengenal”.

Tentu tidak salah jika ta’aruf diartikan perkenalan antara dua pihak, lelaki dan perempuan, sebelum melangsungkan pernikahan. Tapi jika merujuk pada ayat di atas, tentu pengertiannya bisa lebih luas lagi.

Al-Hujurat 49:13 ini dimulai dengan panggilan mesra Tuhan kepada seluruh umat manusia, (ya ayyuhannasu), bukan hanya kepada orang-orang yang beriman (ya ayyuhalladzina amanu). Lalu Dia berfirman, “Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan,” yakni dari Adam dan Hawa, atau ada juga yang menafsirkannya dari sperma dan ovum, “dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa juga bersuku-suku.”

Ayat ini sangat jelas menyatakan bahwa semua manusia setara. Baik itu laki-laki maupun perempuan, yang berkulit putih maupun hitam, baik yang beragama Islam maupun non Islam. Mereka juga diciptakan agar bisa saling mengenal.

Turunnya QS. al-Hujurat 49:13 di atas berawal dari kisah seorang tukang bekam bernama Abu Hindi. Suatu ketika Nabi pernah meminta Bani Bayadhah untuk menikahkan seorang anak gadis mereka dengan Abu Hindi.

Namun permintaan Nabi ditolak salah seorang dari suku tersebut, karena tak menginginkan bekas budak menjadi bagian dari keluarga/kelompok mereka.

Sikap keliru ini dikecam oleh Alquran dengan menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Tuhan bukan karena keturunan atau golongan, tapi karena ketakwaan.

Ayat ini juga menegaskan bahwa derajat manusia semuanya sama. Sangat tidak pantas jika seseorang merasa derajatnya lebih tinggi daripada orang lain. Karena manusia yang paling mulia di sisi Tuhan adalah yang paling tinggi kualitas takwanya.

Tentu saja, tak ada yang berhak menilai kualitas ketakwaan seseorang kecuali Tuhan. Manusia manapun tidak pantas mengambil-alih wewenang Tuhan terkait yang satu ini.

Rasulullah pernah bersabda sewaktu haji wada’: “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Tuhan kamu Esa, ayah kamu satu. Tiada kelebihan orang Arab atas non Arab, tidak juga non Arab atas orang Arab, atau orang berkulit hitam di atas orang berkulit putih, tidak juga sebaliknya kecuali dengan takwa. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah adalah yang paling berkualitas takwanya.”

Terjadinya kekerasan, pertikaian, pembunuhan, dll., penyebab utamanya karena tidak saling mengenal. Ada pepatah yang sangat populer dan masih relevan hingga saat ini: “Tak kenal maka tak sayang.”

Dewasa ini, bukan saja antaragama, negara atau golongan, bahkan di dalam “keluarga” sendiri sering terjadi kekacauan. Penyebab terbesarnya karena tidak saling mengenal.

Di Indonesia kerap terjadi caci maki antar golongan karena kurangnya ta’aruf. Mereka hanya menerima berita yang disajikan media tanpa menelusurinya lebih dalam lagi. Ini sering terjadi dan akhirnya mengorbankan banyak orang.

Misalnya saja penyerangan Muslim Syiah di Sampang, konflik Poso, kekerasan terhadap Muslim Ahmadiyah di Pandeglang dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa di antaranya telah memakan banyak korban. Tentu saja ini tidak dikehendaki oleh ajaran Islam.

Begitu juga kasus yang menimpa guru kami, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab. Media pernah membesar-besarkan berita perihal beliau yang dianggap menghina Nabi. Sebabnya, kita ingat ketika beliau mengatakan bahwa tidak benar Nabi Muhammad telah dijamin masuk surga. Ini diungkapkannya dalam kajian tafsir al-Misbah yang  secara rutin diberikannya selama bulan ramadan dua tahun silam.

Masyarakat menelan mentah-mentah pemberitaan media tanpa menyaksikan ceramah beliau secara utuh. Banyak dari mereka yang hanya melihat sekilas lalu berebut mengomentarinya secara kasar. Bahkan beberapa di antara para penghina itu berasal dari kalangan kiai dan habib yang dijadikan panutan oleh banyak orang.

Mereka tidak hanya menyebar fitnah, menuduh kafir, tapi juga sempat mengajak jamaahnya untuk memerangi sang pakar tafsir tersebut. Itu semua terjadi karena orang-orang ini tidak mengenal siapa Quraish Shihab. Padahal, jika mau dibuktikan, tak ada yang bisa mengelak keluasan ilmu yang beliau kuasai.

Itulah akibatnya jika kita terburu-buru menghakimi seseorang tanpa mengenalnya lebih jauh. Padahal Quran telah mengajak kita untuk menghindari kepercayaan buta terhadap sebuah berita tanpa mengkajinya lebih dalam:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika ada orang fasiq (orang yang keluar dari koridor agama karena melakukan dosa besar atau sering kali melakukan dosa kecil) membawa berita penting, bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan, agar kamu tidak menimpakan musibah terhadap suatu kaum karena ketidaktahuanmu, yang kemudian akan menyebabkan kamu dipenuhi penyesalan” (al-Hujurat 49: 6).

Ayat ini berkenaan dengan kasus Walid bin Uqbah yang ditugaskan Nabi Muhammad untuk menarik zakat dari Bani Musthalaq. Saat mendengar kedatangan utusan Nabi, warga Bani Mustahaq berbondong-bondong keluar dari perkampungan mereka demi menyambutnya.

Tetapi Walid salah pengertian. Ia mengira mereka bermaksud mengibarkan perang. Maka tergesa-gesa ia kembali menemui Nabi dan melaporkan kejadian tersebut dengan mengabarkan: “Sepertinya mereka enggan membayar zakat dan berniat menyerang Nabi.” Dalam riwayat lain ada yang menyebutkan, “ Mereka juga telah murtad.”

Nabi marah mendengar laporan tersebut. Diutusnya Khalid bin Walid untuk menyelidiki keadaan sebenarnya. Nabi juga berpesan agar tidak menyerang mereka sebelum mengetahui duduk persoalan yang sesungguhnya.

Begitu sampai di perkampungan tersebut, Khalid mendapati penduduk Bani Musthalaq masih melaksanakan shalat berjamaah. Usai salat mereka menemui Khalid dan menyerahkan zakat yang telah disiapkan.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa penduduk Bani Musthalaq langsung datang kepada Nabi bahkan sebelum beliau mengutus Khalid.

Ayat ini berpesan agar kita bersungguh-sungguh menggali sebuah berita sebelum menyebarkannya pada orang lain. Kita harus meneliti kebenaran informasinya dengan menggunakan berbagai cara, agar  tidak mengakibatkan kerugian bagi orang yang menjadi sasaran pemberitaan tersebut.

Ulama berbeda pendapat dalam menanggapi kasus turunnya ayat ini. Sebagian menolaknya karena riwayat ini seolah mempersoalkan keadilan sahabat. Riwayat ini memperlihatkan bahwa tidak semua sahabat Nabi bisa diakui integritasnya. Karena itulah sebagian ulama menolaknya. Mereka berkeyakinan bahwa semua sahabat adil.

Namun bagi kalangan yang menerima riwayat ini, mereka mengakui bahwa telah terjadi kesalahpahaman antara Walid bin Uqbah dengan masyarakat Bani Musthalaq. Apalagi sebelumnya pernah mencuat ketegangan antara suku ini dengan Walid yang pernah membunuh salah seorang keluarga mereka.

Ada juga yang mengkritisi sikap Walid yang terburu-buru mengadu kepada Nabi dengan mengatakan Bani Musthalaq enggan membayar zakat, bahkan disebut-sebut mengobarkan perang. Ini bukan saja tindakan gegabah, tetapi sudah mengarah kepada fitnah. Itulah mengapa ia disebut fasiq dalam ayat di atas.

Saat ini, mungkin sulit membedakan mana orang  fasiq dan tidak. Maka alangkah baiknya kita selalu melakukan tabayyun sebelum menelan mentah-mentah sebuah berita. Tabayun berarti mencari kejelasan sebuah berita secara sungguh-sungguh.

Di samping itu, kita sudah semestinya bersikap selektif menghadapi persebaran berita yang tak terbendung dewasa ini. Berita yang tidak begitu penting, apalagi didengar saja tidak wajar, tak layak mendapat perhatian kita.

Tidak perlu juga kita melakukan tabayun atas berita semacam itu. Sebab hanya akan membuang-buang tenaga, dan ayat di atas juga tidak menganjurkannya.

Berita harus kita cari dalam kerangka taaruf, yakni bagaimana ia bisa memperkaya perkenalan kita dengan sesuatu, seseorang atau kelompok tertentu, agar kita tidak gegabah dalam menentukan sikap. Maka melalui taaruf kita bisa menghindari berbagai kesalahpahaman yang sangat mungkin mengarah pada pertikaian.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.