Home » Gagasan » Memberhalakan Idola
Konser boyband asal Korea Selatan, Super Junior, di Jakarta (Foto: angels/flickr.com)
Konser boyband asal Korea Selatan, Super Junior, di Jakarta (Foto: angels/flickr.com)

Memberhalakan Idola

4.67/5 (6)

IslamLib – Siapa bilang di zaman sekarang tak ada penyembahan berhala? Bahkan di Indonesia yang dominan muslim banyak aktivitas menyembah berhala. Tunggu dulu. Jangan bayangkan berhala-berhala ini seperti berhala-berhala yang disembah sebelum para nabi datang membawa agama. Bukan, berhala-berhala masa kini bukanlah berhala berwujud batu. Bukan pula matahari yang disembah Bangsa Inca. Juga bukan pohon-pohon tua besar yang disembah para umat syirik yang meminta menang togel. Berhala zaman sekarang lebih rupawan, lebih kharismatik.

Ya, berhala zaman sekarang adalah manusia. Penyembahnya manusia pula. Manusia menyembah manusia, itulah adanya sekarang.  Berhala-berhala masa kini adalah para selebritis.  Mereka yang rupawan, punya wajah tampan atau cantik. Punya tubuh indah dan punya senyum menggoda. Penyembah mereka, amboi alangkah banyaknya.

Setiap selebritis yang dijadikan berhala ini akan disambut dengan teriakan histeris saat bertemu dengan para penyembah mereka. Sungguh teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Untuk kesan lebih mistis, ada pula penyembah berhala yang sampai pingsan-pingsan dibuatnya. Juga ada yang menangis terharu. Seolah merasa tak sanggup menahan buncahan bahagia dan haru telah bertemu dengan sesembahan mereka.

Bukan di Indonesia saja sebenarnya, penyembahan berhala dalam wujud selebritis ini terjadi lintas negara, lintas benua. Menyebar dahsyat lewat mana saja. Internet, televisi, radio dan konser-konser. Facebook, Twitter,  MTV, Youtube, semuanya menjadi alat dakwah paling efektif dalam penyebaran keberhalaan masa kini ini. Sekian detik, tersebar sudah semua. Amat banyak mata dan hati terpesona.

Maka sampailah mereka, para berhala ini ke dunia remaja-remaja zaman sekarang. Dari Korea Selatan sana sampailah lelaki-lelaki hobi menari yang tergabung dalam boyband Super Junior, misalnya. Dari Amerika sampailah Justin Bieber. Itu hanya contoh saja. Jika mau disebutkan semuanya, tak cukup satu dua halaman untuk menuliskannya.

Mereka sampai dalam bentuk daftar-daftar lagu pada MP3 atau Ipod yang didengarkan pagi, siang, malam, lebih banyak dari makan obat yang biaasanya hanya tiga kali sehari. Mereka  sampai dalam bentuk video-video pada komputer jinjing dan tablet yang terlalu banyak untuk ditonton berulang-ulang saban hari.

Mereka sampai pula dalam bentuk poster-poster besar yang tertempel di dinding kamar, yang selalu dipandangi sebelum atau sesudah tidur. Ada pula foto-foto pada dompet, pada layar telepon, layar komputer, gantungan kunci dan banyak lagi. Ada-ada saja bentuknya.

Itu masih penyembahan dalam skala standar. Mau skala yang lebih berwujud penyembahan fanatik? Ada penyembah berhala yang mengejar-mengejar selebriti, berhala mereka, sampai ke luar negeri. Beteriak-teriak histeris, tertawa dan menangis melihat berhalanya itu berjingkrak-jingkrak di panggung konser.

Mereka rela mengantri berjam-jam tanpa peduli panas menyengat, hujan berangin. Biaya untuk menonton konser ke luar negeri itu tak kalah banyak dari biaya umroh ke tanah suci atau biaya kuliah beberapa semester di universitas negeri.

Mau yang lebih fanatik lagi? Sebut saja penggemar Justin Bieber yang dalam keadaan semi telanjang mencegat penyanyi muda ini dan minta dinikahi. Penggemar Michael Jackson yang rela menanggung sakit alang kepalang untuk dioperasi plastik berkali-kali agar mirip seperti sang pujaan.

Atau penggemar Lady Gaga yang melumuri tubuhnya dengan darah kucing peliharaanya yang ia multilasi guna meniru adegan salah satu video klip penyanyi kontroversial itu.

Miris? Tentu saja. Sungguh seperti adegan-adegan pemujaan berhala yang naif. Mengingatkan kita pada masa-masa kuno zaman dulu sebelum kebenaran dan pesan kebaikan agama-agama para nabi datang. Alangkah khusyuk mereka melakukan pemujaan. Saban hari terkenang pada berhala mereka. Saban hari mereka menyembah. Tak peduli berapa waktu yang dibuang, tak peduli berapa uang yang dihabiskan. Demi idola, bagi mereka tak masalah.

Apa itu sebenarnya idola? Dari bahasa Inggris, Idol  didefiniskan menjadi ‘a matterial effigy that is worshipped (noun:artifact). Sebuah bentuk patung yang disembah (kata benda: artefak). Atau ‘someone who is adored blindly and excessively (noun: person). Seseorang yang dipuja secara membabi buta dan berlebihan (kata benda: orang).

Dalam bahasa Inggris ada pula kata Idolatry dan Idolize. Arti kedua kata itu apalagi kalau bukan pemberhalaan, penyembahan atau pemujaan. Bisa disimpulkan bahwa idola memang dekat hubungannya dengan pemujaan.

Dari apa semua pemujaan selebritis layaknya pemujaan berhala ini bermula? Dari ketertarikan pada keindahan. Keindahan musik, keindahan rupa, keindahan tarian.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan menyukai keindahan. Bukankah manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai keindahan? Siapa bilang menikmati keindahan tak berguna? Tentu saja sangat berguna untuk makanan jiwa, penenang, penghibur. Hanya saja, apakah harus keindahan itu diapresiasikan dengan terlalu berlebihan? Apakah harus setiap keindahan yang disukai dijadikan idola (baca: pujaan, berhala)?

Yang pasti seharusnya kita bisa menyaring, meletakkan kadar. Mengetahui kekaguman atas keindahan layak atau tidak dijadikan sebagai wujud mengidolakan (baca: memberhalakan). Bukankah akan lebih baik jika menyukai keindahan musik, sukai saja musiknya? Bukankah itu saja sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan manfaatnya sebagai hiburan?

Tak perlu kita mengikuti semua tingkah polah, perangai si penyaji musik yang terkadang tak berguna, bahkan cenderung tak baik. Tak perlu pula mengejar kemana pun mereka berada dan memboroskan begitu banyak rupiah. Untuk sekali saja bolehlah. Sering-sering? Apalah guna.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.