Home » Gagasan » Menyelami Lautan Keilmuan Cak Nur

Menyelami Lautan Keilmuan Cak Nur

4.38/5 (45)

Jika Mesir mempunyai Muhammad Abduh, Nasr Hamid Abu Zayd. Iran mempunyai Abdulkarim Soroush. Sudan mempunyai Abdullah Ahmed An-Na’im, Mahmoud Mohammed Taha. India mempunyai Asghar Ali Engineer. Maroko mempunyai Mohammed Abed Al-Jabiri. Maka Indonesia patut berbangga mempunyai tokoh pembaruan Islam sekaliber Nurcholish Majdid atau yang biasa disebut Cak Nur.

Cak Nur lahir di Mojoanyar, Jombang, 17 Maret 1939, meninggal di Jakarta, 29 Agustus 2005. Ia lahir dari lingkungan keluarga santri. Ayahnya, KH. Abdul Madjid merupakanseorang ulama terpandang dan tokoh Masyumi. Pendidikannya dimulai di Pesantren Rejoso, Jombang. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Gontor Ponorogo.

Setelah lulus dari Gontor, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Studi doktoralnya ditempuh di Universitas Chicago, Amerika Serikat dengan disertasi yang berjudul Ibn Taimya on Kalam and Falsafah: Problem of Reason and Revelation in Islam(Ibn Taimiyah Tentang Kalam dan Filsafat: Suatu Persoalan Hubungan Antara Akal dan Wahyu Dalam Islam).

Kecerdasan Cak Nur bak lautan ilmu. Ada yang memandangnya sebagai lautan yang tenang dan menjernihkan. Tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai ombak yang membahayakan. Pribadinya tangguh. Tak gentar walau banyak kritikan dan hujatan ditujukan padanya. Cak Nur tetap tampil menyuarakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Perbincangan mengenai keislaman di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sosok Nurcholish Madjid. Cak Nur menjadi pelopor serta ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam Indonesia. Gagasan dan pemikirannya mampu membangkitkan umat Islam dari kejumudan dan kemandegan berpikir.

Ia membawa nuansa baru dalam kehidupan beragama di Indonesia menjadi lebih toleran dan inklusif. Di tangan Cak Nur, Islam diramu menjadi agama yang ramah dan membawa kedamaian tidak hanya bagi pemeluknya, tetapi juga bagi umat agama lain.

Cak Nur dikenal dengan konsep pluralisme dan sekularisasi. Dua konsep inilah yang turut menjadikan dirinya sebagai sosok yang kontroversial. Terlepas dari segala kontroversi terhadap Cak Nur, marilah kita selami lautan keilmuan Cak Nur melalui konsep pluralisme dan sekularisasi yang ia rumuskan.

Pluralisme

Menyedihkan melihat sikap umat beragama di Indonesia saat ini yang cenderung bersikap tidak toleran dan eksklusif. Perbedaan agama dan keyakinan sering kali dijadikan alasan untuk melakukan tindakan intoleransi dan kekerasan.

Kaum minoritas kerap kali dijadikan sasaran tindakan intoleran dikarenakan mereka berbeda. Kasus Syi’ah-Sampang, Ahmadiyah-Cikeusik, GKI Yasmin-Bogor, HKBP Filadelfia-Bekasi, Masjid Nur Musofir Batuplat-NTT merupakan sederet fakta bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya dapat menerima untuk hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan komunitas yang berbeda (terutama perbedaan agama dan keyakinan).

Pluralitas keagamaan di Indonesia seharusnya disikapi secara positif sebagai sebuah khazanah kekayaan bangsa, bukan malah dijadikan pemecah persatuan bangsa. Cak Nur memahami betul bahwa kemajemukan atau pluralitas umat manusia adalah kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan (sunnatullah).

Kenyataan ini telah termaktub dalam al-Qur’an,

Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan. (Q. S. al-Maidah: 48)

Pluralitas yang merupakan sunnatullah tidak bisa dihindari dan diingkari. Untuk menyikapi pluralitas yang ada, dibutuhkan sebuah konsep yang dinamakan pluralisme. Pluralisme bukan berarti menyamakan semua agama.

Bagaimana mungkin semua agama dikatakan “sama” sedangkan syari’at masing-masing agama berbeda. Konsep pluralisme yang dirumuskan oleh Cak Nur yaitu suatu sistem nilai yang mengandung secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.

Konsep pluralisme Cak Nur mengakomodasi keberagaman agama dan keyakinan di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural, baik dari segi suku, etnis, budaya, adat istiadat maupun agama.

Dari segi agama, bangsa Indonesia mewakili tumbuh dan berkembangnya agama-agama besar yang ada di dunia. Bagi Cak Nur, keyakinan merupakan hak paling mendasar bagi setiap umat manusia. Ia tidak bisa dipaksakan. Bahkan Nabi Muhammad saw pun tidak bisa memaksakan orang lain untuk percaya dan mengikuti beliau karena menurut Cak Nur, tugas kenabian adalah menyampaikan berita (balagh) kepada umatnya.

Pilihan untuk mengikuti atau mengingkari Nabi menjadi kebebasan umat manusia, karena pada akhirnya nanti, manusia akan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dan Allah swt hanya akan memberi balasan sesuai dengan keputusan manusia berdasarkan kebebasannya itu.

Di tengah maraknya kasus intoleransi agama, rasanya kita perlu untuk kembali memperjuangkan dan mengembangkan konsep pluralisme yang digagas oleh Cak Nur.

Rumusan pluralisme Cak Nur mengajarkan bagaimana cara beragama yang lapang, terbuka dan penuh toleransi. Cak Nur pun menegaskan, pluralisme tidak saja mengisyaratkan sikap bersedia mengakui adanya hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain atas dasar perdamaian dan saling menghormati.

Hal ini tentu saja sesuai dengan yang telah dirumuskan dalam al-Qur’an,

Oleh karena itu (wahai Nabi) ajaklah, dan tegaklah egkau sebagaimana diperintahkan, serta janganlah engkau mengikuti nafsu mereka. Dan katakan kepada mereka, “Aku beriman kepada kitab mana pun yang diturunkan Allah, dan aku diperintahkan untuk bersikap adil di antara kamu. Allah (Tuhan Yang Maha Esa) adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu sekalian. Bagi kami amal perbuatan kami, dan bagi kamu amal perbuatanmu. Tidak perlu perbantahan antara kami dan kamu. Allah akan mengumpulkan antara kita semua, dan kepada-Nya semua akan kembali”. (QS. Al-Syura: 15).

Sekularisasi

Banyak orang yang gagal paham mengenai konsep sekularisasi yang dirumuskan oleh Cak Nur dan menyamakannya dengan konsep sekularisme. Padahal dua kata ini, “Sekularisasi” dan “sekularisme” mempunyai pengertian yang sangat jauh berbeda. Dalam bukunya yang berjudul “Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan” Cak Nur berulang-ulang menegaskan perbedaan antara sekularisasi dan sekularisme.

Sekitar tahun 1970-an, saat Cak Nur pertama kali memperkenalkan dan menganjurkan “sekularisasi”, ia menjadi sosok yang banyak diperbincangkan. Ia mendapat banyak kritikan dan hujatan atas gagasannya tersebut bahkan ia dituduh dan dicap sebagai seorang “sekular”. Dalam beberapa kesempatan, Cak Nur memberikan penjelasan bahwa sekularisasi yang ia maksud berbeda dengan sekularisme. Ia pun menegaskan bahwa ia menolak dan menentang sekularisme.

Nampaknya kontroversi mengenai gagasan sekularisasi Cak Nur, berpangkal dari istilah “sekularisasi” itu sendiri. Memang tidak mudah untuk membedakan antara istilah “sekularisasi” dan “sekularisme”, keduanya berasal dari asal kata yang sama yaitu “sekular” yang mendapat “sufiks serapan” berbeda (-isasi; -isme).

Mengutip pernyataan yang dikutip oleh Cak Nur dari Samuelson bahwa kita harus waspada terhadap “tirani kata”, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial. Kata bisa menjerumuskan, apabila kita tidak memberikan tanggapan dengan cara yang wajar.

Sekularisme adalah sebuah paham, yaitu paham keduniawian. Mengutip dari Harvey Cox, sekularisme diartikan sebagai nama untuk suatu ideologi, suatu pandangan dunia baru yang tertutup yang berfungsi sangat mirip sebagai agama baru (secularism is the name for an ideology, a new closed world view function very much like a new religion).

Sekali lagi ditegaskan Cak Nur bahwa sekularisme adalah paham keduniawian, paham itu mengatakan bahwa kehidupan dunia ini adalah mutlak dan terakhir, tiada lagi kehidupan sesudahnya, yang biasanya agama-agama menamakannya dengan hari kemudian, hari kebangkitan dan lain-lain.

Bagi penganut sekularisme, mereka adalah orang-orang sekularis, yang artinya, orang-orang yang menjadikan sekularisme sebagai sentral keyakinannya. Oleh sebab itu, sekularisme bertentangan dengan agama, khususnya Islam. Sebab, Islam mengajarkan tentang adanya hari kemudian (akhirat), dan umat Islam wajib meyakininya.

Berbeda dengan sekularisme yang berarti sebuah paham keduniawian, sekularisasi diartikan sebagai sebuah proses, yaitu proses penduniawian. Dalam istilah Harvey Cox disebut liberating development (perkembangan pembebasan).

Menurut Cak Nur, proses pembebasan ini diperlukan, karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang transendental dan yang temporal. Di sinilah diperlukan sekularisasi.

Jadi, sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya.Dari perbedaan pengertian di atas, jelas sekali bahwa Cak Nur mengharuskan adanya sekularisasi dan dengan tegas menolak sekularisme.

Mengenai hubungan antara agama dan negara, Cak Nur mempunyai pandangan bahwa agama dan negara tidak terpisahkan, namun tidak berarti bahwa antara keduanya itu identik. Karena itu, menurut Cak Nur, agama dan negara dalam Islam, meskipun tidak terpisahkan, namun tetap dapat dibedakan: tidak terpisah, namun berbeda.

Di sinilah pentingnya konsep sekularisasi. Tidak mencampuradukkan antara agama dan negara. Negara merupakan salah satu aspek kehidupan duniawi (sekular) yang dimensinya adalah rasional dan kolektif. Sedangkan agama merupakan aspek kehidupan lain yang dimensinya adalah spiritual dan individual.

Memang antara keduanya tidak dapat dipisahkan, namun tetap harus dibedakan. Oleh karenanya, Cak Nur menolak formalisasi agama dalam bentuk negara (negara Islam, negara Kristen, negara Hindu, dll) dan menerima Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa Indonesia. Menurut Cak Nur, Pancasila sejalan dengan nilai-nilai Islamdan Cak Nur menyebut Pancasila sebagaicommont platform atau kalimatun sawa semua agama di Indonesia.

Sekarang sudah bukan saatnya lagi untuk memperdebatkan Pancasila, apalagi berusaha untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menghayati nilai-nilai luhur Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain gagasan mengenai pluralisme dan sekularisasi, Cak Nur juga dikenal dengan jargonnya yang kontroversial, yaitu “Islam, Yes, Partai Islam, No?” Ide tersebut tidak serta merta dilontarkan Cak Nur tanpa proses pemikiran yang matang. Latar belakang munculnya jargon ini berawal dari kegelisahan Cak Nur melihat partai-partai Islam yang hanya sebatas simbol, tetapi telah kehilangan substansi.

Cak Nur menyadari betul banyak pihak yang menghujat dan menuduh dirinya sebagai anti Islam apalagi saat itu (tahun 1970-an) euforia untuk menegakkan negara Islam masih menguat, salah satunya melalui partai politik berbasis ideologi Islam. Sontak pernyataan Cak Nur tersebut mendapat banyak kecaman dan kritikan. Namun, di sisi lain Cak Nur berhasil mengubah pandanganmasyarakat untuk tidak terjebak pada simbolisasi dan formalisasi agama.

Jika kita kaitkan dengan kondisi saat ini, nampaknya jargon “Islam, Yes, Partai Islam, No?” masih sangat relevan. Partai-partai Islam masih terlihat hanya sebatas simbol saja, tidak mencerminkan Islam yang substansial. Ditambah lagi, kelakuan para politisi dari partai berbasis ideologi Islam semakin merusak image partai Islam.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa partai Islam di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam tidak pernah memenangkan pemilu. Itulah beberapa dari pemikiran Cak Nur yang masih sangat relevan dan kontekstual sampai saat ini.

Kini Cak Nur telah tiada. Sang Guru Bangsa telah berpulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi gagasan dan pemikirannya masih dan akan terus hidup sebagai inspirasi bagi generasi penerus. Biarlah Cak Nur tenang dan damai di sisi Allah swt, namun, ide-ide brilliannya harus terus dikembangkan dan dilestarikan untuk kehadiran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Semoga sumbangsih pemikiran Cak Nur menjadi ilmu yang bermanfaat, yang pahala kebaikannya akan terus mengalir pada si empunya. Al-fatihah.....

Wallahu a’lamu bish-shawab

 

Sumber:

Nurcholish Madjid. Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, cet XI, 1998.

_______________ Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, cet VI, 2008.

Silahkan nilai tulisan ini