Home » Gagasan » Pembaruan » Greg Barton: “Pembaruan Islam Menghadapi Banyak Tantangan”
Greg Barton (Photo: 2gb.com)
Greg Barton (Photo: 2gb.com)

Greg Barton: “Pembaruan Islam Menghadapi Banyak Tantangan”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – 3 Januari 1970, Nurcholish Madjid menyampaikan pidato monumentalnya: “Keharusan Pembaharuan Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Pidato yang ia sampaikan di Taman Ismail Marzuki (TIM) itu menandai momen pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Dengan konteks zamannya masing-masing, gagasan pembaruan Islam sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Di Mesir abad ke-19, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh telah menginisiasi gerakan pembaruan Islam (al-nahdlah). Di Indonesia, gerakan itu telah muncul pada awal abad 20-an. Di Sumatera Barat terdapat tokoh pembaru Islam seperti Abdullah Ahmad, Muhammad Djamil Djambek, Hadji Rasul. Di Jawa kita mengenal KH. Ahmad Dahlan, H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim dan banyak tokoh lainnya.

Dengan jejak yang sudah sedemikian panjang, tentu telah banyak capaian-capaian keberhasilan. Tapi masih banyak juga tantangan yang siap menghadang. Di Indonesia, belakangan menguat kembali gerakan yang menghendaki formalisasi Islam. Kita melihat banyak sekali tuntutan penerapan perda syari’ah di beberapa daerah. Menghadapi banyak tantangan seperti ini, bagaimana masa depan gerakan pembaruan Islam di Indonesia?

Bagaimana peran anak-anak muda sebagai penarik gerbong pembaruan Islam? Berikut petikan wawancara Novriantoni Kahar dengan Prof. Dr. Greg Barton dari Monash University, penulis Biografi Gus Dur (LkiS: 2003) dan Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid(Paramadina: 1999).

 

Beberapa pengamat pesimistis melihat masa depan gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Bagaimana pendapat Pak Greg setelah beberapa tahun mengamati isu pembaruan Islam Indonesia?

Tergantung pada konteksnya. Kalau melihat jangka panjang dan secara garis besar, saya cukup optimistik. Sebab, menurut saya, pembaruan, dambaan akan nilai-nilai yang progresif dan toleran memang sudah menjadi ciri khas agama Islam. Jadi di masa depan yang panjang, pemikiran Islam akan berkembang ke arah itu. Bisa cepat, bisa pelan, bisa maju sedikit, bisa mundur sedikit. Tapi lama-lama, saya kira, garis besarnya akan ke arah yang lebih baik.

Tentu akan ada banyak gangguan dari isu politik, isu sosial-ekonomik, kemiskinan, dan lain sebagainya, yang tidak membiarkan para pemikir untuk secara bebas mengucapkan pemikirannya. Tapi di Indonesia, keadaannya jauh lebih baik daripada di negara lain. Saya tetap cukup optimistis bahwa di Indonesia akan berlangsung proses pembaruan pemikiran Islam secara terus-menerus. Walaupun akan ada banyak tantangan, tapi ini merupakan dinamika yang tidak akan pernah menjadi statis.

Menurut Pak Greg, seberapa besar isu-isu atau faktor-faktor di luar pembaruan Islam, seperti kondisi sosial ekonomi atau sosial politik, berpengaruh terhadap isu pembaruan Islam?

Kalau di negara lain, pengaruh faktor eksternal terlihat lebih jelas. Di Pakistan misalnya, almarhum Fazlur Rahman terpaksa melarikan diri ke Chicago. Beruntung sekali, di Chicago beliau punya pengaruh cukup luas. Tapi sungguh disayangkan sekali, beliau tidak bisa tetap berada di lembaga Islam yang dibentuknya di Lahore. Beliau terpaksa melarikan diri karena faktor politik. Jadi kalau dibandingkan dengan keadaan Pakistan, situasi Indonesia jauh lebih baik.

Malahan harus diakui, dengan munculnya gerakan pembaruan pemikiran Islam pada tahun 70-an dan 80-an itu, keadaan politik agak memungkinkan untuk mewacanakan gagasan pembaruan juga. Saya tidak percaya bahwa pembaruan pemikiran Islam itu muncul karena merupakan rencana Pak Harto.

Itu lebih karena keadaan pada saat itu yang memungkinkan untuk memikirkan Islam tanpa harus memikirkan negara Islam. Memang sungguh ironis sekarang ini, situasinya menjadi agak lebih sulit, justru karena ada persaingan politik dan banyak sekali sumber daya manusia yang lari ke pentas politik. Ada yang mempergunakan agama atau sentimen agama untuk kepentingan politik, seperti dalam kasus Ahmadiyah.

Bagaimana kemajuan gagasan-gagasan pembaruan Islam sekarang ini? Ambil contoh, gagasan Islam Yes, Partai Islam No yang dikumandangkan almarhum Nurcholish Madjid atau Pribumisasi Islam yang diusung almarhum Gus Dur; apakah kini sudah melampaui harapan kedua tokoh itu?

Kalau dilihat dalam konteks yang lebih luas, sudah terdapat banyak kemajuan positif. Kita melihat pemikiran yang progresif itu sekarang sudah terinstitusionalisasi di lembaga seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan terinstitusionalisasi demikian, pembaruan pemikiran Islam boleh dikatakan telah menjadi mainstream. Namun demikian, tetap masih ada pertarungan, masih terdapat banyak pihak yang tidak setuju.

Dan pertarungan yang lebih kelihatan sekarang ialah antara–katakan saja–kaum salafi dan kaum yang lebih progresif. Antara yang bilang bahwa Islam itu tidak pernah berubah, sama di seluruh dunia–baik di dunia Arab maupun dunia Asia Tenggara–melawan mereka yang bilang bahwa Islam itu bisa berwarna-warni. Antara yang berpendapat bahwa kebudayaan lokal, kebudayaan setempat tidak ada gunanya dan dianggap bid’ah, berhadapan dengan yang mengusung gagasan pribumisasi Islam.

Jadi ada dua kelompok. Pertama, kelompok yang mewacanakan gagasan-gagasan keislaman yang tidak monolitik dan membuka ruang yang lebih lebar bagi aktivitas interpretasi dan penafsiran. Kedua, kelompok yang mau memahami Islam dalam cara yang cukup hitam-putih; tidak pernah berubah, firman Allah tetap firman Allah, unsur-unsur kebudayaan lokal tidak ada gunanya. Pemahaman kelompok ini cukup sederhana dan mempunyai daya tarik justru karena begitu sederhananya itu.

Tentang gagasan Pribumisasi Islam, sejauh apa pemahaman masyarakat Muslim Indonesia terhadap gagasan Gus Dur itu dan seberapa penting gagasan tersebut dalam membentuk perilaku masyarakat Muslim Indonesia?

Memang kalau kita bicara isu yang cukup abstrak, yang sarat dengan istilah-istilah akademis, pasti banyak masyarakat yang tidak tahu. Tetapi sebenarnya konsep itu sangat sederhana dan orang sudah mengalami konsep itu dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat desa di Jawa, misalnya, beragama tapi juga terbuka terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan. Kebudayaan, tradisi dan agama, bisa digabungkan dan dapat pula saling bekerja sama. Orang bisa beragama sekaligus juga bisa berbudaya. Bahkan wayang kulit bisa dipakai untuk menceritakan pesan dan nilai-nilai agama. Masyarakat pedesaan Jawa justru akan merasa aneh dan heran jika beragama berarti harus menanggalkan tradisi.

Tiga dari empat tokoh pembaruan yang anda tulis dalam buku Gagasan Islam Liberal di Indonesia kini telah tiada. Bagaimana nasib pembaruan Islam Indonesia ke depan?

Kita sangat menyayangkan keadaa ini. Pak Djohan (Djohan Effendi) pasti merasa sangat sedih karena ketiga temannya telah meninggalkannya lebih dulu. Cendekiawan-cendekiawan ini memang berperan penting dalam pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.

Mereka merupakan tokoh yang sangat menonjol dan sumbangan pemikiran mereka sangat terasa. Tetapi tidak berarti dengan hilangnya mereka, lantas segalanya akan berhenti. Sebab mereka telah memberikan banyak warisan: dalam bentuk pemikiran-pemikiran, dalam bentuk ketulusan dan contoh-perilaku. Banyak generasi muda yang sudah dipengaruhi ide-ide mereka, dan pengaruh itu sudah terinternalisasi sedemikian rupa, sehingga generasi muda itu sekarang sudah dapat memproduksi gagasan mereka sendiri.

Memang kalau bicara tentang Gus Dur, jelas tidak ada duanya. Kita tidak tahu kapan akan muncul lagi tokoh sekaliber Gus Dur. Meski begitu, saya tetap optimistis karena mereka telah banyak menanam dan menginvestasikan pemikiran mereka kepada para generasi muda. Saya yakin “investasi” mereka akan berbuah, dan hal itu sudah bisa kita rasakan sekarang.

Bagaimana pula peran kaum intelektual muda dari organisasi-organisasi besar Islam dalam menggerakkan gerbong perubahan dan pembaharuan Islam Indonesia?

Memang isu yang berkaitan dengan generasi penerus dari kalangan muda itu sangat penting dan sangat menentukan. Sudah jelas bahwa sumbangan dari NU dan Muhammadiyah memang sangat besar, apalagi dalam proses transisi menuju demokrasi. Mereka memang merupakan organisasi masyarakat sipil yang pada umumnya cukup toleran dan progresif. Apakah di masa depan kedua organisasi itu akan tetap berperan secara signifikan, saya kira sangat tergantung pada dinamika internal generasi mudanya.

Apakah para anak muda itu, angkatan muda itu, diberi tempat dalam Muhammadiyah atau NU sehingga dapat berperan lebih banyak, atau tidak. Jadi, mari kita lihat hasil muktamar NU di Makasaar akhir Maret nanti. Juga perlu kita amati pula perubahan pimpinan di Muhammadiyah.

Kalau para pemimpin kedua organisasi itu dapat bersikap lebih arif dan bisa menggali tenaga yang ada di dalam generasi muda itu, pasti masa depan sangat baik. Tetapi jika anak-anak muda itu merasa tersinggung karena merasa ditinggalkan, maka gerbong pembaharuan Islam Indonesia telah menyia-nyiakan potensi terbesar dari kader-kader terbaiknya.

Beberapa waktu lalu, Qanun Jinayat sudah disahkan di Aceh. Perda bernuansa syariat seperti ini sebelumnya banyak pula diberlakukan di beberapa daerah. Apakah euforia formalisasi syari’at ini akan menjalar ke daerah-daerah lain di Indonesia?

Lima tahun yang lalu orang cukup kuatir, cukup gelisah akan terjadi perda syari’at di mana-mana. Tapi saya melihat lama-lama perda syari’at kelihatan tidak terlalu laris, tidak diterima baik oleh rakyat, tidak terlalu efektif karena tidak ada gunanya.

Kasus Aceh sendiri, menurut saya, merupakan exceptionalatau pengecualian karena berkaitan dengan situasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan lain sebagainya. Di Aceh pun, sejauh yang saya tahu, perda syari’ah itu tidak terlalu populer. Dan yang perlu diingat adalah: yang paling rugi dari penerapan perda syari’at ini adalah kaum perempuan, karena kebebasan mereka menjadi sangat terganggu.

Dalam prediksi Pak Greg, kira-kira pandangan keislaman seperti apa yang akan lebih mewarnai wajah Islam Indonesia di masa mendatang?

Tidak gampang memberikan prediksi tentang hal itu, karena ada begitu banyak faktor yang menentukan. Tapi ada beberapa hal yang bagi saya cukup jelas. Pertama, dulu ada teori sekularisasi yang bilang bahwa lama-lama agama akan hilang, agama tidak terlalu penting. Tetapi sangat kelihatan, paling tidak di Amerika Serikat, Amerika Selatan, Afrika, dan di Asia, bahwa agama itu masih sehat. Bahkan di mana-mana ada kelompok fundamentalis yang muncul.

Di dalam umat Kristen ada banyak pula yang fundamentalis. Di India ada kelompok Hindu fundamentalis yang muncul. Saya kira di masa depan tetap akan ada kelompok yang fundamentalis, karena daya tarik tertentu yang mereka miliki, yaitu sikapnya yang hitam-putih dengan keyakinan yang begitu pasti, dengan percaya diri yang cukup tinggi. Apalagi untuk para pemuda dan kaum remaja.

Dalam pandangan saya, ajaran agama Islam itu sebenarnya sangat menekankan nilai rahman dan rahim Tuhan, pada cinta, pada berkat, pada perasaan peduli. Nah, biasanya salah satu kelemahan gerakan fundamentalis di mana pun, mereka sering agak lupa akan faktor manusia dan lupa faktor empati dan cinta.

Dan saya kira itu merupakan kelemahannya yang mendasar. Jadi, walau mereka punya daya tarik karena pola pikirnya yang hitam-putih, karena keyakinan yang sangat jelas, tapi mereka juga memiliki sisi kelemahan dalam aspek-aspek tadi. Namun dalam jangka waktu dekat, gerakan fundamentalis tidak akan hilang, tapi posisi mereka tetap akan merupakan fenomena minoritas, bagian kecil saja dari jumlah total umat Islam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.