Home » Gagasan » Pembaruan » Husein Muhammad: “Islam Masa Lampau Itu Membebaskan”
KH Husein Muhammad dalam diskusi JIL (Foto: IslamLib)

Husein Muhammad: “Islam Masa Lampau Itu Membebaskan”

5/5 (1)

Gamal al-Banna, adik bungsu Hasan al-Banna pernah bilang, Tuhan menurunkan sepaket kitab suci dan juga hikmah kepada para nabi.Rahasianya, karena bila hanya dibekali kitab suci, sangat mungkin ia diamalkan tanpa mempertimbangkan aspek kebijaksanaan. Misalnya penerapan ajaran amar ma’ruf nahy munkar yang kadang-kadang destruktif. Tanggapan Anda?

Saya banyak juga membaca karya al-Banna yang sangat jauh berbeda dengan kakaknya, Hassan al-Banna, meski juga ada kemiripan-kemiripan. Saya sepakat dengan Gamal bahwa agama-agama juga diturunkan dengan membawa paket hikmah. Arti hikmah di sini sebetulnya banyak tafsirannya. Seperti dalam Alquran dikatakan: ud’u ila sabili rabbika bil hikmati wal mau-idhatil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan. Ajaklah orang-orang ke jalan Tuhanmu dengan hikmah.

Para ulama memberi tafsiran yang berbeda-beda tentang apa itu hikmah. Pada tingkat yang sederhana, hikmah adalah ilmu pengetahuan. Tapi pada tingkat selanjutnya, ilmu pengetahuan tidak hanya pada aspek yang rasional, pengetahuan-pengetahuan akal, tapi juga pengetahuan batin. Jadi agama harus memadukan antara dua hal itu; pengetahuan rasional yang mumpuni dan pengetahuan spiritual yang tinggi.

Pada ayat-ayat lain juga disebutkan bahwa hikmah juga diberikan kepada nabi-nabi. Alquran menyatakan: Yu’ti al-hikmata man yasya’ waman yu’ta al-hikmata faqad utiya khairan katsira. Allah memberi hikmah kepada hamba yang dikehendakinya, dan barangsiapa mendapatkan hikmah maka dia telah memperoleh sesuatu yang sangat banyak. Saya kira untuk elaborasi lebih lanjutnya, ini harus dimunculkan dalam kehidupan kemanusiaan kita.

Saya menangkap Islam itu ibarat samudera tak terbatas, tergantung nelayan mana yang sedang menangguk ikan di sana. Tapi faktanya, pengetahuan kita tentang Islam juga sudah terkapling-kapling dalam ikatan primordial atau kemadzhaban tertentu. Kenapa itu terjadi Kang Husein?

Ini menurut saya sebuah fenomena kemunduran luar biasa yang muncul dalam masyarakat Islam belakangan. Kalau kita membaca sejarah peradaban Islam, maka elaborasi terhadap ayat Alquran yang jumlahnya enam ribu enam ratus sekian itu, sungguh maha kaya. Orang hanya mengetahui adanya madzhab yang empat, padahal ada ratusan madzhab Islam. Semuanya dapat hidup dan memberi makna-makna yang berbeda atas Islam. Itu dari aspek eksoterisnya saja.

Ada juga aspek-aspek lain tadi. Ada tafsir isyary atau tafsiran metaforis atas Alquran, yang saya kira juga sangat kaya raya. Dalam kitab Ihya’ Ulumiddindisebutkan bahwa setiap kalimat dalam Alquran mengandung 70 ribu artian, dan itu dikalikan lagi empat, karena ada aspek lahir, batin, hadd, dan mathla’. Bahkan lebih dari itu. Karena Tuhan memang tidak bisa dibatasi kehendak-kehendaknya.

Anda bisa jelaskan tentang makna zahir, batin, hadd, dan mathla’?

Ini bukan keahlian saya. Saya hanya mengetahui secara sederhana saja. Aspek lahir itu memang pada aspek yang sangat eksoteris, mudah dipahami oleh orang awam. Aspek batin itu mengandung unsur rasionalitas untuk orang-orang yang ahli burhan. Tapi ada juga aspek batin yang sifatnyadzauqy, rasa. Dan itu bukan untuk orang-orang yang ahli burhan, tapi untukahlul ma’rifat.

Ada hadd, batasan-batasan, dan mathla’, ujung-ujung dalam Islam. Saya kira ini sangat rahasia. Misalnya mengapa Allah memulai ayat dengan ini, lalu mengakhiri dengan itu, dan sebagainya. Saya memperhatikan bahwa setiap ayat-ayat Alquran yang berisi perintah, selalu saja dilanjutkan dengan redaksi “apakah kamu tidak berpikir?”, “apakah kamu tidak memperhatikan?”, kemudian juga “Allah itu maha bijaksana”, “Allah itu maha mengetahui”, “Allah itu maha adil”. Itu banyak sekali dan harus diperhatikan. Misalnya, mengapa ayat ini memakai ism dzahir, dan lain sebagainya, itu ada rahasia-rahasianya sendiri. Ini sangat kaya.

Mungkin pada bagian pertama suatu ayat diseburkan aspek-aspek lahir, tetapi yang sebenarnya sedang ditunjukkan adalah bahwa itu hanya sebuah jalan yang belum selesai, yang akhirnya adalah kesadaran pada Tuhan.

Kang Husein percaya dengan anggapan bahwa Alquran orang awam berbeda dengan orang khawas; orang awam memahami apa yang tersurat sementara khawas menafsirkannya dengan cara yang lain…?

Saya kira jelas begitu. Alquran misalnya mengatakan ikhla’ na’laik, innaka bil wadi al-muqoddasi tuwa. (Musa), lepaskan sandalmu, karena kamu sedang berada pada tempat yang suci. Ini bisa dimaknai berbeda antara satu orang dengan yang lain. Lepaskan sandalmu, bagi sebagian orang, ya melepaskan sandal betulan. Karena mau masuk masjid, sandalnya ya dilepas. Tapi tafsirisyary tidak seperti itu; lepaskan kotoran-kotoran yang ada di dalam hatimu. Anda sedang berhadapan dengan Allah.

Jadi memang sangat bijaksana ketika Alquran menghadirkan lafal atau kalimat yang multitafsir. Imam Ali RA pernah mengatakan Alqur’anu hammalu aujuhin. Alquran itu mengandung berbagai dimensi. Bukan hanya makna fikihnya saya yang multidimensi, tapi juga perspektif-perspektif lain seperti yang kita sebutkan tadi.

Dan dalam masyarakat Islam masa lampau, semua itu dielaborasi dengan sangat luar biasa, kaya raya, dan ada banyak toleransi antara yang berbeda itu. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa Islam pada masa awal adalah Islam yang membebaskan, Islam yang toleran, Islam yang menerima masyarakat lain, dan sebagainya. Dan itu memberi sumbangan yang luar biasa bagi peradaban dunia di kemudian hari.

Kalau bicara tentang tafsir yang batin terhadap Islam, saya takjub dengan luasnya horison pemahaman tentang Islam. Ketika diturunkan ayat Alyauma akmaltu lakum, para sahabat girang sekali karena menyangka agama kita sudah didaulat menjadi the best. Tapi Umar bin Khattab malah menangis karena baginya ini bukan berita gembira. Kata dia: fama ba’dal kamal illa al-nuqsan. Kalau sudah lengkap, tiada lain akan merosot juga, seperti teori piramida. Tanggapan Anda?

Mungkin kita perlu menjelaskan tentang ayat tadi, karena masyarakat muslim sering memahami bahwa Islam itu sudah lengkap seperti apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan kita tinggal mengikutinya saja karena sudah sempurna. Padahal, hidup tidak pernah berhenti dan selalu terjadi perubahan-perubahan. Apa yang terjadi pada zaman Nabi, saya kira sangat terbatas dibandingkan peristiwa-peristiwa baru yang luar biasa banyaknya di mana-mana.

Karena itu, benar ketika Sayyidina Umar mengatakan begitu; ada kekhawatiran-kekhawatiran bahwa umat Islam di kemudian hari membatasi diri pada hal yang dianggap sudah sempurna. Dan karena itu diturunkan Tuhan, maka ia diterjemahkan seperti adanya, seperti yang tersurat. Bagi dia, kalau begini terus, maka perjalanan Islam akan mandek. Dan itulah yang membuatnya bersedih hati.

Seharusnya masyarakat memahami kesempurnaan itu hanya pada prinsip-prinsip dasar dan pandangan-pandangan besarnya saja. Tidak mungkin untuk menyebutkan semua persoalan sudah ada dalam Alquran. Karena itu sangat bijaksana ketika teks-teks dalam Alquran mampu menampung berbagai perubahan yang ada di kemudian hari.

Hanya masyarakat yang membatasi bagaimana kita memahami teks-teks itu. Sejak lama kita tidak boleh melakukan upaya-upaya intelektual yang disebut ijtihad. Ini akhirnya menyebabkan peradaban Islam stagnan, tidak mampu merespon perubahan zaman. Pada sisi lain, itu juga menimbulkan konflik-konflik di antara manusia karena kebenaran dibatasi pada masa lampau, sementara yang baru dianggap bid’ah, dan sebagainya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.