Home » Gagasan » Pembaruan » Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam
Abdul Moqsith Ghazali (Foto: Satuharapan.com)

Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam

5/5 (2)

Penelusuran makna dan kerja menafsirkan al-Qur’an seperti itu merupakan cara manusia untuk berpartisipasi dalam Firman Tuhan. Bentuk partsipasi paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’an adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuah bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telah menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkan al-Qur’an.

Namun, berbagai pihak menilai bahwa metodologi yang disuguhkan para ulama terdahulu terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyak orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dan kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkan para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’an misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islam ketika berhadapan dengan al-Qur’an.

Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiran al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang. Misalnya, penting diketahui bahwa Qur’an yang terdiri dari ribuan ayat, ratusan surat, puluhan fokus perhatian, sekiranya dikategorisasikan hanya terdiri dari dua jenis. Pertama, ayat fondasional (ushul al-qur’an).

Masuk dalam jenis kategori pertama ini adalah ayat-ayat yang berbicara tentang tauhid, cinta-kasih, penegakan keadilan, dukungan terhadap pluralisme, perlindungan terhadap kelompok minoritas serta yang tertindas. Saya berpendirian bahwa ayat fondasional seperti itu tak boleh disuspendir dan dihapuskan.

Meminjam sebuah peribahasa, ayat ushul tak akan lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Ia bersifat abadi dan lintas batas–batas etnis juga agama. Tak ada agama yang datang kecuali untuk mengusung pokok-pokok ajaran fondasional itu.

Kedua, ayat partikular (fushul al-Qur’an). Ayat al-Qur’an yang tergabung dalam jaringan ayat partikular adalah ayat yang hidup dalam sebuah konteks spesifik. Sejumlah pemikir Islam memasukkan ayat jilbab, aurat perempuan, waris, potong tangan, qisas, ke dalam kategori ayat fushul. Tahu bahwa ayat itu bersifat partikular-kontekstual, maka umat Islam seharusnya tak perlu bersikeras untuk memformalisasikannya dalam sebuah perangkat undang-undang.

Sebab, yang dituju dari sanksi-sanksi hukum dalam al-Qur’an misalnya adalah untuk menjerakan (zawajir), bukan yang lain. Yang menjadi perhatian kita adalah tujuan hukum dan bukan hurufnya [al-‘ibrah bi al-maqashid al-syar’iyah la bi al-huruf al-hija’iyyah]. Jika dengan hukum penjara, tujuan hukum sudah tercapai, maka kita tak perlu untuk kembali ke bentuk hukum lama.

Ketika belajar kitab fikih di pesantren, saya tahu bahwa bab yang paling jarang dikunjungi para ustadz dan santri yang mengaji adalah bab tentang hukum pidana Islam (bab al-jinayat). Mungkin para ustadz itu telah menyadari bahwa sebagian besar hukum pidana Islam sudah tak cocok dengan kondisi sekarang. Ormas besar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah pun tak pernah mengusulkan pemberlakuan hukum pidana Islam. Mereka tahu bahwa kita sudah hidup di abad 21. Semangat zaman telah memaksa kita untuk meninggalkan sanksi-sanksi hukum primitif yang brutal seperti hukum pancung, dan lain-lain.

Kategorisasi ayat seperti itu kiranya bisa membantu umat Islam dalam memahami pesan dasar al-Qur’an. Bahwa dalam al-Qur’an, ada ayat yang tetap-tak berubah (al-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya sangat kontekstual; tidak tetap dan lentur (al-mutaghayyirat).

Yang tetap, kita dogma-statiskan. Sementara, terhadap yang al-mutaghayyirat, kita dinamisasi dan kontekstualisasikan. Di lingkungan para pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbit al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat”. Dengan perkataan lain, kita tak boleh mendogmakan yang kontekstual, dan mengkontekstualkan yang tak tetap (tatsbit al-mutaghayyirat wa taghyir al-tsawabit).

Risalah Kenabian

Umat Islam diperintahkan membaca dua kalimah Syahadat. Syahadat pertama (asyhadu an la ilaha illa Allah) adalah syahadat primordial. Yaitu janji awal kita untuk bertuhan hanya kepada Allah Yang Esa, bukan kepada yang lain, sebagaimana dipaparkan ayat “alastu bi rabbikum qalu bala syahidna”. Sementara syahadat kedua (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) adalah syahadat komunal.

Pada syahadat pertama, umat Islam dengan umat agama lain bisa berjumpa. Sementara, pada syahadat kedua, umat Islam dengan umat agama lain bisa berpisah. Itu berarti kita tak bisa memaksa umat agama lain agar meyakini dan mengakui kenabian Muhammad SAW dan meyakini detail syariat yang dibawanya. Bagi saya, soal mengakui atau tak mengakui kenabian dan detail syariat Muhammad SAW lebih merupakan soal mereka, dan bukan soal kita (umat Islam).

Namun, ingatlah bahwa Islam adalah agama yang sangat terbuka. Dalam hadits Nabi yang kemudian menjadi dasar penetapan rukun iman, umat Islam diperintahkan untuk mengimani seluruh nabi-nabi dan utusan Allah. Sejumlah riwayat menuturkan bahwa tak kurang dari 124 ribu nabi yang dikirim Allah dan 313 rasul yang diutus ke bumi.

Jika tak bisa mengetahui seluruh rasul Allah, umat Islam diperintahkan untuk mengimani 25 rasul yang nama-namanya sudah tercantum dalam al-Qur’an. Rasulullah diperintahkan untuk berkata, “aku bukanlah yang pertama dari deretan rasul-rasul Allah” (ma kuntu bid’an min al-rusul). Nabi Muhammad hanya salah satu dari ribuan nabi-nabi itu.

Sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ada yang baru, dan sebagiannya yang lain lebih merupakan pengembangan dan modifikasi dari ajaran para nabi sebelumnya. Allah berfirman, “inna hadza lafi al-shuhuf al-ula shuhuf Ibrahim wa Musa” [sesungguhnya pokok-pokok ajaran moral al-Qur’an sudah ada dalam mushaf-mushaf yang pertama, yaitu Mushaf Nabi Ibrahim dan Mushaf Nabi Musa]. Jika kita ringkaskan, risalah kenabian yang dibawa Nabi Muhammad (mungkin juga para nabi lain) adalah sebagai berikut:

Pertama, risalah kenabian adalah risalah tauhid, bukan risalah syirik. Semua nabi, termasuk Nabi Muhammad, membawa ajaran tauhid. Bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah Yang Esa. Tetapi, yang problematik selalu pada tingkat konseptualisasinya.

Yahudi, Kristen, dan Islam berbeda dalam merumuskan soal ke-Esa-an Allah. Di internal Islam sendiri terdapat perbedaan amat tajam antara Mu’tazilah, Asy’ariyah, juga Maturidiyah dalam menjelaskan Esanya Allah. Bahkan, Imam Asy’ari (peletak dasar teologi Sunni) dan Asya’irah (pengikut Imam Asy’ari) berbeda pandangan dalam menjelaskan sifat dan dzat Allah.

Saya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yang relatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari setiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep ketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi manusia yang menganggap diri selalu benar. Amat berbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa rumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling benar.

Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si perumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran Allah yang tak berhingga itu. Definisi manusia tentang Allah Yang Esa sesungguhnya lebih merupakan fantasi dan imajinasi manusia tentang Yang Esa, dan bukan Yang Esa itu sendiri. Bagi saya, Tuhan Yang Esa tetaplah Allah yang tak terungkap dan tak terjelaskan (kanzan makhfiyan). Gabungan konsep ketuhanan tak mungkin bisa menembus tirai kegaiban ketuhanan.

Kedua, risalah kenabian adalah risalah kemanusiaan, bukan risalah pembantaian. Setiap nabi lahir untuk menegaskan pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu poin dalam Khutbah Wada’ Nabi Muhammad yang terkenal itu adalah penegasannya untuk menghargai manusia. Ia berkata, inna dima’akum wa amwalakum wa a’radlakum haramun ‘alaikum kahurmati yawmikum hadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza.

Tak boleh ada darah yang tumpah serta martabat yang ternoda. Karena itu, saya tak mengerti jika ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad tiba-tiba membantai pengikut Nabi Muhammad yang lain. Tak ada alasan jihad fisabilillah dibalik rentetan kekerasan atas nama agama di Indonesia.

Jihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan untuk menyongsong kematian. Zainuddin al-Malibari menegaskan bahwa membantu sandang, pangan, dan papan orang miskin adalah bagian dari jihad. Jamal al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al-Jihad mengatakan, anna al-jihad al-yawm laysa huwa an namuta fi sabilillah wa lakin an nahya fi sabilillah (jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, melainkan untuk hidup di jalan Allah).

Dengan perkataan lain, jihad adalah tindakan menghidupkan dan bukan mematikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa barang siapa membunuh satu jiwa sama dengan membunuh semua jiwa. Dan barang siapa menghidupkan satu jiwa, sama dengan menghidupkan semua jiwa. Itulah sendi ajaran Islam yang menjunjung kemanusiaan. Tuhan menciptakan manusia secara berbeda-beda agar mereka saling mengakui dan memahami (li ta’arafu), bukan untuk saling membasmi.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.