Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”
Acep Zamzam Noor (idwriters.com)

Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”

5/5 (2)

Adakah situasi sosial-politik yang memungkinkan organisasi-organisasi keagamaan intra kampus itu begitu mengental dan mengeras?

Nampaknya ada juga pengaruh kondisi sosial-politik, karena di antara aktivis-aktivis organisasi mahasiswa Islam dan aktivis kampus sendiri, begitu terkagum-kagum dengan Islam. Mereka begitu bersemangat, karena di ITB sendiri ada proses-proses penjaringan menjadi aktivis masjid.

Di sana ada pelatihan-pelatihan. Dan bisanya, mereka akan mengeras setelah melewati masa pelatihan. Dulu ada istilah Latihan Mujahid Dakwah. Setelah dua minggu dilatih di sana, mereka betul-betul akan menjadi lain.

Kang Acep, bagaimana Anda melihat pluralisme?

Saya melihat pluralisme sebagai keragamaan tentunya. Sebagai penyair, setelah tahu makna pluralisme, saya tidak lagi terlalu fanatik dengan agama, adat, dan tradisi, tapi lebih santai. Saya melihat semuanya jadi lebih santai. Jadi pluralisme itu dirayakan dan saya memaklumi banyak hal.

Apakah keragaman itu menginspirasi Anda dalam penulisan syair misalnya?

Ya. Misalnya, ketika menulis puisi, saya tetap membutuhkan simbol-simbol tertentu. Dan itu adalah hasil perjumpaan dengan banyak hal, banyak orang, banyak tempat, dan juga banyak keyakinan. Sebagai orang Islam, saya lalu tidak risih lagi mengambil simbol-simbol Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya.

Seperti itulah. Sebab pada hakikatnya, ketika sebuah puisi diungkapkan, ia memang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat agama. Puisi bisa berlaku universal, dibaca siapa pun, dan bisa menjadi pengalaman siapa pun. Pengalaman saya sebagai orang Islam saya harapkan bisa dirasakan juga oleh teman-teman yang berlainan agama dengan saya.

Apakah seni bisa diharapkan dapat mengubah corak keberagamaan seseorang, misalnya yang sangat keras dapat berubah jadi lebih lembut?

Seni itu kan rasa, intuisi. Dalam tradisi Islam, ada sastra sufi di mana para sufi menuliskan puisi-puisinya. Tradisi itu sangat berbeda sekali dengan tradisi ahli fikih yang juga menuliskan gagasan-gagasannya. Bermain di dunia kepenyairan atau sastra itu selalu harus ada intuisi. Jadi tidak kaku.

Dan pada tradisi sufistik, mereka kelihatan begitu akrab dengan Tuhan. Tuhan bukan sesuatu yang menakutkan, tapi bisa menjadi sangat akrab. Mungkin lewat seni kita bisa punya pandangan-pandangan semacam itu. Beragama juga bisa dilakukan dengan keakraban semacam itu, sehingga kita menjadi biasa saja ketika berhadapan dengan Tuhan atau siapa pun.

Mengapa khazanah sufi itu banyak juga yang digambarkan dalam bentuk syair atau puisi?

Kalangan sufi banyak menulis puisi, atau sesuatu yang bersifat puitis, karena mereka orang-orang yang giat mengolah perasaan dan batinnya. Sehingga, selalu ada momen-momen keindahan yang kemudian melahirkan karya sastra.

Mereka menjadi sufi dulu, baru puisi lahir, dan bukan sebaliknya. Bagi saya, seorang penyair yang bukan sufi, tidak mesti harus menjadi sufi. Seorang penyair, ya penyair saja; keduanya persoalan yang berbeda. Bahwa sufi menulis puisi, itu wajar sekali, karena mereka memang menggali keindahan batiniahnya.

Tapi, seorang penyair belum tentu sufi. Dan banyak sekali penyair yang tidak sufi. Hanya saja, banyak penyair yang mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan kaum sufi. Seorang sufi, mungkin tidak pernah berpikir akan menulis puisi. Tapi puisi keluar begitu saja sebagai ekspresi dari keindahan perenungan Ilahi yang ia jalankan.

Anda bisa ceritakan lebih lanjut bagaimana dinamika keislaman di kampus ITB waktu itu?

Saya kebetulan kuliah di ITB, dan di sana sangat sedikit orang dari pesantren yang bisa masuk. Jadi pada tahun 1980-an itu, saya agak jarang menemukan santri yang kuliah di ITB. Kebanyakan mahasiswa yang di sana adalah mahasiswa umum baik yang Islam atau non-Islam. Waktu itu di ITB banyak yang aktif di kampus, dan di masjid-masjid kampus.

Mereka giat mengikuti pelatihan-pelatihan, dan setelah pelatihan itu memang terjadi sesuatu yang agak mengagetkan. Misalnya perdebatan tentang agama yang sangat fanatik. Lalu, beberapa orang sangat ekstrim dalam aktivitasnya, sehingga kuliahnya terbelangkalai. Ada juga yang ikut sebuah jaringan di Bogor waktu itu. Yang terakhir ini lama tidak bertemu saya.

Setelah ketemu lagi, dia sudah berjubah dan berjenggot, dan ngomong soal halal-haram. Ada juga teman-teman lain yang tiba-tiba memutuskan nikah tanpa izin orang tua mereka, karena dinikahkan di kampus oleh mentornya. Karena konon katanya, dalam Islam tidak ada konsep pacaran. Itu terjadi pada teman-teman dekat saya.

Tapi ada juga yang ikut tarekat dan dengan sangat atraktif melakukan zikir-zikir tarekat di masjid Salman, sehingga menjadi tontonan banyak orang. Mungkin juga karena di masjid itu tidak ada tradisi wiridan atau salawatan.

Nah, teman saya yang ikuti tarekat ini, setiap selesai sembahyang selalu berzikir dengan sangat keras. Jadi, banyak sekali hal-hal aneh yang saya jumpai di kampus ketika itu. Tiba-tiba ada teman yang begitu saja memutuskan untuk kawin, karena dia menolak pacaran.

Bagi dia, tak ada konsep pacaran dalam Islam; yang ada hanya kawin. Itu jumlahnya banyak sekali. Namun yang ke arah-arah fundamentalis juga ada beberapa orang, yang kemudian terlibat dalam jaringan yang saya tidak tahu apa itu.

Apa yang beda dengan cara pemahaman Anda di pesantren tentang agama?

Ketika kita belajar agama di pesantren, kita pertama-tama tidak disodori langsung isi agama, tapi tradisinya dulu; tradisi mengaji, bersalawat, dan berjamaah. Dengan begitu, tidak terasa tiba-tiba Islam menjadi bagian dari diri kita.

Nah, pengajaran agama di kampus tidak seperti itu. Mereka yang sebelumnya tidak tahu Islam, kemudian masuk ke kelompok pengajian atau datang ke mentor, lalu diberi suntikan agama dengan dosis tinggi. Akibatnya jadi aneh-aneh.

Saya banyak didatangi orang yang memang sudah pernah kenal waktu masih di kampus. Dia rupanya sedang mencari kader yang katanya, dalam dua minggu, bisa berubah menjadi orang yang siap berjihad.

Jadi ada sebuah metode dalam indoktrinasinya, dan itu hanya akan mengena orang-orang yang memang belajar agama secara instan, langsung, tidak lewat proses budaya. Jadi, mereka tidak beranjak dari tradisi, tapi langsung ke inti. Akibatnya, terjadi benturan-benturan yang dahsyat dalam kepala, dan akhirnya menghasilkan karakter-karakter yang keras dan fundamentalis.

Makanya, setelah reformasi, tiba-tiba banyak gerakan Islam yang aneh-aneh. Banyak daerah yang tiba-tiba ingin menerapkan syariat Islam, banyak kerusuhan yang mengatasnamakan agama, dan bom yang juga diledakkan atas nama agama.

Saya tidak terlalu kaget, dan tidak juga sedang menuduh pihak tertentu yang bertanggung jawab. Tapi, memang ada proses cara beragama yang mungkin berbeda dari sebelumnya; beragama yang pelan-pelan, tanpa terasa, menimbulkan masalah dalam masyarakat.

Jadi memang ada metode yang saya sebut “suntik anjing” dengan dosis tinggi sehingga membuat orang beringas dan siap untuk apa pun. Mungkin karena itulah kerusuhan-kerusuhan terjadi, ledakan-ledakan bom bersahutan di Indonesia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.