Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”
Acep Zamzam Noor (idwriters.com)

Acep Zamzam Noor: “Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom”

5/5 (2)

Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.

 

Kang Acep, konon Anda lahir dari kalangan santri. Bagaimana sosialisasi agama kepada Anda sejak kecil?

Seperti anak-anak lain yang tumbuh di pesantren, saya dididik secara pesantren; mengaji, beribadah, dan kegiatan lainnya. Tapi ada hal penting dalam proses sosialisasi keagamaan saya, yaitu soal toleransi.

Kebetulan, bapak saya tidak terlalu keras dalam mendidik anak. Dia juga memberi pemahaman yang lebih toleran, sehingga dari situ saya tumbuh, selain dari pergaulan dengan dunia seni. Dengan begitu, saya memandang agama lebih pada esensinya, bukan pada permukaan, atau pakaian saja.

Ini penting sekali menurut saya, karena di pesantren-pesantren tahun 1960/1970-an, soal kostum atau pakaian itu tidak terlalu dipentingkan seperti sekarang. Artinya, santri-santri memang memakai sarung dan kopiah, tapi juga memakai kemeja atau kaos.

Ini agak berbeda dengan sekarang. Banyak pesantren sekarang yang santri-santrinya memakai kostum, seragam putih-putih, lalu kopiah haji hijau. Ini agak berbeda dengan suasana masa dulu.

Apakah Anda mencermati proses puritanisasi di pesantren-pesantren sekarang ini?

Ya, saya kira arahnya ke sana. Karena persoalan yang dulu dianggap sepele, sekarang tiba-tiba menjadi sangat penting dan diwajibkan pesantren-pesantren tertentu. Misalnya soal laki-laki harus berpakaian tertentu, sementara perempuan berpakaian tertentu pula.

Mungkin ini erat juga kaitannya dengan soal bisnis. Mungkin saja ada perusahaan konveksi yang ingin kerja sama dengan pesantren, mereka lalu menawarkan produk-produknya berupa baju takwa, kopiah, dan lain-lain.

Kang Acep, apa nilai penting pesantren yang masih membekas dalam jiwa Anda sampai sekarang?

Soal ketulusan. Dalam mengerjakan sesuatu, atau menjadi siapa pun, kita sebagai manusia harus menjalankannya dengan ketulusan, keihlasan, dan kesabaran. Itu nilai-nilai keagamaan yang memang saya serap sejak dulu, sehingga ketika bergulat dengan dunia seni, ia sangat membantu. Bergulat dengan seni otomatis mesti bergulat dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Tanpa itu, kita mungkin tidak akan bisa bertahan.

Apakah pesantren membantu Anda menjadi penyair atau kecelakaan saja?

Secara formal, tidak ada media atau sarana yang memungkinkan seorang santri menjadi seniman. Itu sama sekali tidak terbayangkan. Tapi bahwa di pesantren ada suasana yang memungkinkan santri menjadi seniman, yaitu suasana kontemplasi.

Saya tidak tahu apakah di pesantren-pesantren sekarang suasana itu masih ada atau tidak. Tapi di masa lalu, paling tidak sebelum tahun 1970-an, di pesantren selalu ada suasana seperti itu. Dari suasana itu, seseorang bukan hanya dapat belajar, tapi juga merenung; merenungkan diri, lingkungan, dan juga alam.

Dari situ sebenarnya ada potensi-potensi kepenyairan di kalangan santri. Potensi itu bisa dipupuk dengan menuliskan renungan-renungan. Itu yang saya maksud pesantren tidak menyediakan sarana apa pun untuk menjadi seniman, tapi ada nuansa pesantren yang bisa membuat orang menjadi apa saja.

Bagaimana perkembangan wawasan keagamaan Anda setelah kuliah di Seni Rupa ITB, Bandung?

Sebagai orang pesantren yang masuk perguruan tinggi seperti ITB, sebenarnya saya juga agak kaget dan agak minder juga. Kagetnya, karena di situ saya melihat orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beragama. Waktu itu, aktivitas Masjid Salman memang sangat padat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Saya kaget melihat gairah keagamaan yang formalistik itu, karena saya memang sejak kecil di pesantren.

Waktu itu saya bertanya-tanya, ada apa gerangan, karena tidak sesuai dengan kebiasaan kecil saya yang tidak terlalu formal dalam berpakaian, sudah berambut gondrong sejak di pesantren, tidak berpakaian yang berlagak-lagak santri. Ketika melihat teman-teman yang bukan berlatar belakang santri, tapi cara beragamanya sedikit beda dengan saya, saya mulai bertanya-tanya.

Artinya, pola keberagamaan Anda di pesantren dulu natural saja, tapi pola keberagamaan di perguruan tinggi itu sudah membentuk identitas tertentu?

Ya, seperti itu, dan lebih banyak sebagai identitas pembeda. Ketika di pesantren, cara beragamanya natural dan mengalir saja, tapi ketika di kampus seakan-akan sedang ada pertarungan besar, lebih formal, jadi sangat fanatis, dan sangat senang membeda-bedakan antara “saya” dengan “mereka”.

Sementara saya yang berangkat dari pesantren tidak terlalu fanatis, tetap bergaul dengan macam-macam suku dan agama dengan santai saja. Tapi beberapa teman yang aktif di masjid-masjid kampus memang punya sikap yang agak berbeda.

Kalau Anda refleksi ulang masa lampau Anda di ITB itu, apa tafsiran Anda?

Mungkin waktu itu saya agak nyeleneh dalam berpikir tentang gejala itu, dan karena itu saya melihat teman-teman itu sedang puber beragama. Mereka baru mengenal Islamnya waktu itu, ketika mau masuk kampus, sehingga ketika diberi hal-hal yang agak keras, ideologis, dan lain sebagainya, penerimaannya begitu bersemangat.

Sementara, saya sejak kecil sudah melihat agama dijalani dengan santai. Dan itu yang membuat saya tidak tertarik untuk masuk ke dalam organisasi-organisasi keagamaan intra kampus.

Adakah situasi sosial-politik yang memungkinkan organisasi-organisasi keagamaan intra kampus itu begitu mengental dan mengeras?

Nampaknya ada juga pengaruh kondisi sosial-politik, karena di antara aktivis-aktivis organisasi mahasiswa Islam dan aktivis kampus sendiri, begitu terkagum-kagum dengan Islam. Mereka begitu bersemangat, karena di ITB sendiri ada proses-proses penjaringan menjadi aktivis masjid.

Di sana ada pelatihan-pelatihan. Dan bisanya, mereka akan mengeras setelah melewati masa pelatihan. Dulu ada istilah Latihan Mujahid Dakwah. Setelah dua minggu dilatih di sana, mereka betul-betul akan menjadi lain.

Kang Acep, bagaimana Anda melihat pluralisme?

Saya melihat pluralisme sebagai keragamaan tentunya. Sebagai penyair, setelah tahu makna pluralisme, saya tidak lagi terlalu fanatik dengan agama, adat, dan tradisi, tapi lebih santai. Saya melihat semuanya jadi lebih santai. Jadi pluralisme itu dirayakan dan saya memaklumi banyak hal.

Apakah keragaman itu menginspirasi Anda dalam penulisan syair misalnya?

Ya. Misalnya, ketika menulis puisi, saya tetap membutuhkan simbol-simbol tertentu. Dan itu adalah hasil perjumpaan dengan banyak hal, banyak orang, banyak tempat, dan juga banyak keyakinan. Sebagai orang Islam, saya lalu tidak risih lagi mengambil simbol-simbol Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya.

Seperti itulah. Sebab pada hakikatnya, ketika sebuah puisi diungkapkan, ia memang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat agama. Puisi bisa berlaku universal, dibaca siapa pun, dan bisa menjadi pengalaman siapa pun. Pengalaman saya sebagai orang Islam saya harapkan bisa dirasakan juga oleh teman-teman yang berlainan agama dengan saya.

Apakah seni bisa diharapkan dapat mengubah corak keberagamaan seseorang, misalnya yang sangat keras dapat berubah jadi lebih lembut?

Seni itu kan rasa, intuisi. Dalam tradisi Islam, ada sastra sufi di mana para sufi menuliskan puisi-puisinya. Tradisi itu sangat berbeda sekali dengan tradisi ahli fikih yang juga menuliskan gagasan-gagasannya. Bermain di dunia kepenyairan atau sastra itu selalu harus ada intuisi. Jadi tidak kaku.

Dan pada tradisi sufistik, mereka kelihatan begitu akrab dengan Tuhan. Tuhan bukan sesuatu yang menakutkan, tapi bisa menjadi sangat akrab. Mungkin lewat seni kita bisa punya pandangan-pandangan semacam itu. Beragama juga bisa dilakukan dengan keakraban semacam itu, sehingga kita menjadi biasa saja ketika berhadapan dengan Tuhan atau siapa pun.

Mengapa khazanah sufi itu banyak juga yang digambarkan dalam bentuk syair atau puisi?

Kalangan sufi banyak menulis puisi, atau sesuatu yang bersifat puitis, karena mereka orang-orang yang giat mengolah perasaan dan batinnya. Sehingga, selalu ada momen-momen keindahan yang kemudian melahirkan karya sastra.

Mereka menjadi sufi dulu, baru puisi lahir, dan bukan sebaliknya. Bagi saya, seorang penyair yang bukan sufi, tidak mesti harus menjadi sufi. Seorang penyair, ya penyair saja; keduanya persoalan yang berbeda. Bahwa sufi menulis puisi, itu wajar sekali, karena mereka memang menggali keindahan batiniahnya.

Tapi, seorang penyair belum tentu sufi. Dan banyak sekali penyair yang tidak sufi. Hanya saja, banyak penyair yang mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan kaum sufi. Seorang sufi, mungkin tidak pernah berpikir akan menulis puisi. Tapi puisi keluar begitu saja sebagai ekspresi dari keindahan perenungan Ilahi yang ia jalankan.

Anda bisa ceritakan lebih lanjut bagaimana dinamika keislaman di kampus ITB waktu itu?

Saya kebetulan kuliah di ITB, dan di sana sangat sedikit orang dari pesantren yang bisa masuk. Jadi pada tahun 1980-an itu, saya agak jarang menemukan santri yang kuliah di ITB. Kebanyakan mahasiswa yang di sana adalah mahasiswa umum baik yang Islam atau non-Islam. Waktu itu di ITB banyak yang aktif di kampus, dan di masjid-masjid kampus.

Mereka giat mengikuti pelatihan-pelatihan, dan setelah pelatihan itu memang terjadi sesuatu yang agak mengagetkan. Misalnya perdebatan tentang agama yang sangat fanatik. Lalu, beberapa orang sangat ekstrim dalam aktivitasnya, sehingga kuliahnya terbelangkalai. Ada juga yang ikut sebuah jaringan di Bogor waktu itu. Yang terakhir ini lama tidak bertemu saya.

Setelah ketemu lagi, dia sudah berjubah dan berjenggot, dan ngomong soal halal-haram. Ada juga teman-teman lain yang tiba-tiba memutuskan nikah tanpa izin orang tua mereka, karena dinikahkan di kampus oleh mentornya. Karena konon katanya, dalam Islam tidak ada konsep pacaran. Itu terjadi pada teman-teman dekat saya.

Tapi ada juga yang ikut tarekat dan dengan sangat atraktif melakukan zikir-zikir tarekat di masjid Salman, sehingga menjadi tontonan banyak orang. Mungkin juga karena di masjid itu tidak ada tradisi wiridan atau salawatan.

Nah, teman saya yang ikuti tarekat ini, setiap selesai sembahyang selalu berzikir dengan sangat keras. Jadi, banyak sekali hal-hal aneh yang saya jumpai di kampus ketika itu. Tiba-tiba ada teman yang begitu saja memutuskan untuk kawin, karena dia menolak pacaran.

Bagi dia, tak ada konsep pacaran dalam Islam; yang ada hanya kawin. Itu jumlahnya banyak sekali. Namun yang ke arah-arah fundamentalis juga ada beberapa orang, yang kemudian terlibat dalam jaringan yang saya tidak tahu apa itu.

Apa yang beda dengan cara pemahaman Anda di pesantren tentang agama?

Ketika kita belajar agama di pesantren, kita pertama-tama tidak disodori langsung isi agama, tapi tradisinya dulu; tradisi mengaji, bersalawat, dan berjamaah. Dengan begitu, tidak terasa tiba-tiba Islam menjadi bagian dari diri kita.

Nah, pengajaran agama di kampus tidak seperti itu. Mereka yang sebelumnya tidak tahu Islam, kemudian masuk ke kelompok pengajian atau datang ke mentor, lalu diberi suntikan agama dengan dosis tinggi. Akibatnya jadi aneh-aneh.

Saya banyak didatangi orang yang memang sudah pernah kenal waktu masih di kampus. Dia rupanya sedang mencari kader yang katanya, dalam dua minggu, bisa berubah menjadi orang yang siap berjihad.

Jadi ada sebuah metode dalam indoktrinasinya, dan itu hanya akan mengena orang-orang yang memang belajar agama secara instan, langsung, tidak lewat proses budaya. Jadi, mereka tidak beranjak dari tradisi, tapi langsung ke inti. Akibatnya, terjadi benturan-benturan yang dahsyat dalam kepala, dan akhirnya menghasilkan karakter-karakter yang keras dan fundamentalis.

Makanya, setelah reformasi, tiba-tiba banyak gerakan Islam yang aneh-aneh. Banyak daerah yang tiba-tiba ingin menerapkan syariat Islam, banyak kerusuhan yang mengatasnamakan agama, dan bom yang juga diledakkan atas nama agama.

Saya tidak terlalu kaget, dan tidak juga sedang menuduh pihak tertentu yang bertanggung jawab. Tapi, memang ada proses cara beragama yang mungkin berbeda dari sebelumnya; beragama yang pelan-pelan, tanpa terasa, menimbulkan masalah dalam masyarakat.

Jadi memang ada metode yang saya sebut “suntik anjing” dengan dosis tinggi sehingga membuat orang beringas dan siap untuk apa pun. Mungkin karena itulah kerusuhan-kerusuhan terjadi, ledakan-ledakan bom bersahutan di Indonesia.

Kenapa itu bisa terjadi saat ini?

Hal-hal seperti itu bisa terjadi ketika kondisi negara memang sedang kacau. Kondisi ekonomi yang kacau dan tatanan sosial-politik tidak stabil, mungkin penyebab utamanya. Dengan begitu muncul orang-orang yang frustrasi. Saya tidak melihat bom bunuh diri misalnya murni berlandaskan ideologi. Ada unsur ekonnomi dan lain-lainnya.

Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku dari jaringan tertentu. Dia sedang mencari kader-kader untuk diubah dalam dua minggu menjadi seorang militan yang siap syahid, berjihad. Nah, yang direkrut memang bukan orang-orang yang paham agama, atau mereka yang bukan mengalami proses yang natural dalam beragama. Tapi mereka juga orang-orang yang terdesak secara ekonomi, frustrasi, lalu ditarik dan digenjot dengan metode tertentu sehingga siap untuk melakukan apa pun.

Tapi proses membujuk orang untuk mati demi sesuatu yang absurd itu kan tidak gampang?

Ya, tidak gampang, memang. Mungkin mereka punya metodenya. Kalau merekrut dari orang-orang pesantren, mungkin juga agak susah. Makanya saya punya istilah “suntik anjing” itu tadi. Artinya, orang yang tidak tahu apa-apa, tapi disuntik, diprovokasi, sehingga menjadi orang yang lain sama sekali.

Itu mungkin-mungkin saja, karena situasi sosial-politik yang tidak menentu dan banyak orang kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa. Dengan masuk kelompok tertentu itu, mereka seolah-olah mendapat tempat untuk mengekspresikan diri.

Tapi kan faktor pengaruh luar juga kuat, seperti contoh-contoh bom bunuh diri di luar?

O, ya. Kalau saya lihat, sebetulnya sejak tahun 1980-an proses radikalisasi sudah mulai. Sejak itu, banyak orang-orang yang dikirim ke Afganistan untuk perang, termasuk dari Tasikmalaya. Imam Samudra itu muncul belakangan itu adalah kader dari orang-orang yang sudah sejak tahun 1980-an berproses.

Metodenya dalam memengaruhi orang bisa hebat sekali. Jadi ini bukan ujug-ujug, bukan tiba-tiba muncul setelah reformasi. Ada proses yang sangat panjang. Pada awal 1980 atau 1970-an, kita mengenal nama Imron. Kemudian ada beberapa nama lain.

Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi keagamaan di pesantren, apakah Anda merasa fanatik dalam beragama?

Fanatik bisa berbeda-beda makna. Dia bisa dimaknai suka menyerang orang, atau suka mengajak berdebat tentang soals-soal yang diyakini. Kalau fanatik pada agama untuk kita rasakan sendiri, tidak menyalahkan orang, itu tidak apa-apa. Tapi akan menjadi ekstrim ketika kita juga menyalahkan, menyerang, mempengaruhi, dan memprovokasi dan mengganggu orang lain.

Bahwa kita meyakini agama kita, lalu menjalankannya dengn baik, itu tidak masalah. Tapi ketika mengatakan “hanya ini yang paling benar; itu salah”, itu akan bermasalah. Apalagi kalau suka membikin vonis dan fatwa dengan gampangan.

Apa yang pernah Anda lakukan untuk meminimalisasi radikalisasi beragama di Tasikmalaya?

Di Tasik, saya tinggal di pesantren, tapi kegiatan saya tidak melulu di pesantren, karena pesantren sudah banyak yang menggarap. Saya justru keluar, bertemu dengan teman-teman luar pesantren, tapi banyak juga yang santri, di Sanggar Sastra Tasik.

Di situ kita belajar berpuisi. Karena dengan berpuisi, kita menjadi peka terhadap lingkungan, peka terhadap ketidakadilan, dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan orang banyak.

Jadi, kami membuat puisi untuk melawan bom, he-he. Pada awalnya kita belajar membuat puisi, membuat orang senang puisi, lalu berapresiasi. Kita membaca puisi di tempat-tempat yang tidak disebut gedung kesenian atau tempat-tempat tertentu.

Kita membacanya langsung di desa, kampung, halaman rumah, atau di mana saja. Itu sebenarnya salah satu kegiatan yang kami lakukan; apresiasi puisi. Tapi sebenarnya harapan saya jauh dari sekadar apresiasi puisi. Yang penting, kita mengasah kepekaan batin kita yang mungkin selama ini kurang kita perhatikan. Itu salah satu harapan saya.

Apakah di Tasikmalaya juga terjadi isu formalisasi syariat?

Di Tasikmalaya, mungkin baru sekarang ada isunya syariat Islam akan diterapkan secara formal oleh Pemda. Tapi ternyata itu tidak jadi. Yang terjadi sekadar visi Tasikmalaya sebagai kota religius-islami, dan itu juga sudah lewat perdebatan yang sangat panjang. Tapi apa yang disebut religius-islami itu tidak jelas. Kan yang merumuskan DPRD. Kita sering diskusi dengan mereka soal itu, dan mereka juga tidak bisa menjelaskan dengan baik.

Nah, saya bukannya tidak setuju syariat Islam diterapkan di Tasikmalaya. Tapi saya curiga kalau maksudnya memang bukan untuk memajukan Islam, atau bukan untuk menerapkan syariat Islam sebagaimana retorikanya. Itu hanya jualan politik yang dilakukan orang-orang politik. Saya melihat itu tidak serius, dan cenderung memperlakukan agama sebagai barang dagangan.

Makanya harus saya lawan. Bersama teman-teman, saya berusaha membongkar apa yang sebenarnya ada di balik kepala mereka. Apa yang mereka maksud dengan penerapan. Ternyata, isu itu hanya ramai menjelang pemilu.

Begitu pemilu selesai, tidak ada apa-apa lagi. Yang terjadi, beberapa pejabat asik berpoligami. Itu saja. Ternyata, perjuangan penerapan syariat Islam di Tasikmalaya itu intinya memperjuangkan poligami. Yang lain-lain tidak.

Apakah banyak berkesenian dapat diharap untuk membendung ekstremisasi beragama?

Kalau saya selalu lewat kesenian, karena ia salah satunya juga mendidik kita untuk berpikir terbuka; berpikir bahwa kita bukan yang paling benar, tapi selalu ada kebenaran-kebenaran lain. Dengan begitu, kita tidak memandang agama sebagai sesuatu yang kaku atau menakutkan, tapi bisa lebih santai.

Saya dan teman-teman di Tasikmalaya mewacanakan Islam santai; berislam lebih gembira. Karena beragama itu juga harus gembira. Ketika tegang dalam beragama, kita akan bertemu perbedaan-perbedaan, dan ini akan menjadi musuh-musuh yang membuat kita lelah. Sementara yang kita butuhkan adalah kegembiraan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.