Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Aku Bersyukur…
ulil4

Aku Bersyukur…

4.87/5 (15)

IslamLib – Tuhan, perkenankan aku menyapamu tanpa nama. Juga tanpa “Mu” dengan huruf besar seperti yang dilakukan kebanyakan orang itu. Perkenankan aku menyapamu seperti aku menyapa teman dan sahabatku. Tanpa beban apapun. Sebab, aku tahu, engkau sebetulnya tak memerlukan segala jenis “pomp”, gemerlap penghormatan seperti yang dilakukan manusia terhadap raja-raja dunia. Terhadap para pembesar. Perkenankan aku menyapamu dengan sederhana. Dengan intim.

Tuhan, aku tahu, engkau tak butuh “recognition”, pengakuan apapun dari aku. Engkau tak perlu disyukuri atas segala nikmatmu kepadaku. (Nanti aku akan sebutkan satu persatu nikmatmu yang membuat aku “wow” dan terpesona). Tetapi, biarlah aku mengucapkan syukur ini. Sebab aku akan merasa lega dan “plong” saat aku mengucapkannya. Mungkin, segala kebaikan yang aku nikmati selama ini tak berharga di matamu. But they matter to me a lot.

Tuhan, aku bersyukur karena, pertama-tama, engkau memberiku hidup. Aku tak menyebutnya nyawa. Sebab hidup lebih kompleks dari sekedar nyawa atau nafas. Ah, kenapa aku tolol sekali,  menceramahimu seperti ini. Tentu engkau sudah lebih tahu daripada aku.

Ya, aku bersyukur karena engkau memberiku hidup. Hidup telah membuatku menikmati segala hal yang baik di dunia ini. Aku tahu, hidup juga membuatku mengalami kesedihan, putus asa, kecewa, rasa dikhianati, kegundahan, cemas, khawatir dan perasaan-perasaan lain yang tak menyenangkan. Tetapi segala hal baik yang aku alami dalam hidup ini telah membuatkan lupa akan segala kesedihan itu. Sekali lagi, terima kasih, Tuhan.

Aku tahu, setiap saat engkau bisa menghentikan meteran hidupku tanpa minta izin kepadaku. Aku tak akan protes. Itu hakmu sepenuhnya. Aku tak perlu hidup lama. Kalau diizinkan, aku hanya butuh delapan puluh tahun saja. Lebih dari itu, aku justru akan menyusahkan orang-orang di sekelilingku. Juga menyusahkan anggaran pemerintahku.

Tuhan, aku juga bersyukur karena engkau telah memberiku Islam sebagai agama yang aku warisi dari keluargaku. Islam telah membukakan jalan bagiku untuk mempelajari banyak hal. Terutama tentang apa itu benar dan buruk. Islam membukakan jalan bagiku untuk merenungkan tentang pertanyaan-pertanyaan “besar” dalam hidup ini: Tentang dari mana aku berasal, ke mana aku akan menuju.

Islam telah memberikan kepadaku sebuah orientasi, kompas, arah. Terima kasih, Tuhan. Dan lebih-lebih lagi aku berterima kasih karena engkau menuntunku kepada satu corak Islam yang aku yakin engkau menyukainya, meridainya. Aku  menyebutnya –engkau pasti tahu—Islam liberal. Bertahun-tahun aku bergulat, jatuh bangun, membaca, mempelajari, merenung, memikirkan, untuk sampai kepada jalan yang aku anggap terbaik ini.

Ya, aku bersyukur kepadamu, sebab engkau tidak sekedar memberikan kepadaku iman dan Islam, lalu titik. Engkau memberikan kepadaku satu varietas Islam yang sangat istimewa dan unggul – Islam liberal.

Dengan Islam yang seperti ini, Tuhan, aku terhindar dari sikap-sikap fanatik, menutup diri, menyesatkan orang lain, mengkafirkan mereka yang berbeda, mencela kepercayaan agama lain sebagai “kafir”, dan sebagainya. Aku dulu pernah mengalami fase hidup seperti itu. Engkau pasti tahu. Tapi aku tidak berhenti. Aku mencari terus. Membaca terus. Berpikir terus. Merenung terus.

Hingga (dan, sungguh, aku nyaris meneteskan air mata, Tuhan!) engkau menuntunku ke sebuah samudera pengertian yang luas. Samudera itu aku beri nama Islam liberal. Yaitu pengertian Islam yang membebaskan aku dari segala kesempitan pengertian yang pernah aku alami sebelumnya. Samudera ini luas sekali. Aku sendiri belum tahu batas-batasnya. Tetapi aku merasa tenang, gembira, dan suka cita berenang-renang di sana. Sekali lagi, Tuhan, betapa engkau baik sekali mengizinkan aku sampai ke samudera itu.

Tuhan, aku sulit menggambarkan keindahan samudera itu. Nama yang tadi aku pakai untuk menamainya, hanyalah sekedar label saja. Islam liberal. Ya, aku tahu, nama itu telah  menimbulkan banyak orang kaget, terjungkal dari kursi, dan marah. Aku dulu juga pernah begitu – suka kaget karena sebuah nama. Tapi, setelah sampai di samudera ini, aku menjadi tahu, betapa nama tak ada artinya. Aku memang butuh nama. Tetapi nama hanyalah penanda saja.

Di samudera ini, aku menjadi tahu, bahwa jalan menuju engkau tidaklah satu. Engkau memberiku jalan Islam. Tetapi engkau memberi sahabat-sahabatku yang beda agama jalan yang lain: Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Buddha, Konghucu, Taoisme, Sikh, Jainisme, dan jalan-jalan lain yang tak terhitung jumlahnya. Semuanya, hanyalah jalan-jalan menujumu. Engkau tak otoriter. Engkau membuka kemungkinan orang-orang mencapaimu dengan banyak cara.

Ya, di samudera ini aku  jadi paham, jalan menuju engkau tidaklah satu. Tetapi banyak. Dan jalan hanyalah jalan. Sebagaimana nama hanyalah nama. Nama tanpa benda yang dinamai, akan menjadi semacam roh yang gentayangan, tanpa tempat untuk bertambat. Begitu juga jalan menuju engkau. Ia hanyalah jalan saja.

Di samudera ini, engkau memberikan pengertian bahwa yang penting bukan di jalan mana kita berada. Yang penting ialah seberapa sungguh-sungguh, jujur, tulus, dan “committed” kita berada di jalan itu dan menjalaninya. Jika kita sungguh-sungguh dengan jalan itu, siapapun akan sampai kepadamu.

Kadang aku marah terhadapmu. Sebab, engkau memberikan isyarat yang kadang-kadang mengecoh dalam kitab sucimu, sehingga banyak orang yang tergelincir dari jalanmu, sementara mereka mengira telah mati-matian membela kitab sucimu. Oh ya, maafkan aku, karena tak menuliskan kitab suci dengan huruf kapital seperti orang-orang lain itu.

Ya, kadang engkau mengirim isyarat melalui kitab suci dengan bahasa yang kurang jelas. Kadang malah mengecoh. Kenapa tak kau buat dirimu sejelas mungkin kepada kami di bumi ini, sehingga tak ada satupun dari kami yang tersesat dari jalan pencerahan?

Ada rahasia apa di balik caramu berbicara lewat kitab suci dengan jalan yang penuh misteri ini? Apakah engkau hendak  menguji kemampuan intelektual kami? Apakah engkau hendak menguji kesabaran dan daya tahan kami? Kenapa pengertianmu tidak kau berikan kepada kami secara utuh, dan sekaligus, sehingga kami tak perlu susah-susah mengalami kelana yang jauh dan menyakitkan ini?

Tapi, Tuhan, aku menikmati kelana yang aku jalani selama ini. Petualanganku selama ini untuk mencapai samudera pengertianmu itu adalah pengalaman yang luar bisa. Thank for that! Meski jalan ke sana dikerubuti oleh segala macam hujat, cercaan, nista, ejekan, bahkan juga ancaman fisik. Engkau pernah mengujiku dengan mengirimkan sebuah bom, ya sebuah bom, melalui salah seorang hambamu.

Tuhan, aku bersyukur atas semuanya ini. Semuanya. Terutama atas pengertian luas yang telah engkau berikan kepadaku. Aku kadang merasa, mungkin engkau sengaja memilihku untuk menyampaikan pengertian yang berasal dari samudera ini kepada orang-orang lain yang sedang diliputi oleh kegelapan, tetapi merasa ada dalam jalan yang terang-benderang. Mungkin. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku bersyukur karena pengertian itu.

Tuhan, aku juga bersyukur karena engkau memberiku sahabat-sahabat yang  terbaik. Setelah keluarga, sahabat adalah anugerah terbaikmu dalam hidup. Beberapa hari terakhir ini, aku membaca salah satu kitab sucimu yang engkau berikan kepada hamba-hambamu yang beragama Kristen.

Ya, aku membaca Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru. Aku baca di sana kisah Paulus yang jatuh-bangun menyebarkan pengertian dan kebenaran, menghadapi segala bentuk hujatan dan siksaan fisik. Ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lain: dari Siria ke Yerusalem, ke Antiokhia,  ke Ikonium, ke Derbe, ke Efesus, ke Kreta, ke Korintus,  ke Macedonia, ke Roma. Paulus, hambamu yang luar biasa itu, kuat menjalani semua ujian karena ada sahabat-sahabat di sekelilingnya. Selain karena Roh Kudus yang menuntunnya.

Ya, aku bersyukur kepadamu, Tuhan, karena engkau telah memberiku teman dan sahabat yang terbaik. Aku kadang merasa engkau menampakkan dirimu lewat wajah-wajah mereka. Kadang aku berpikir bahwa setiap engkau ingin berbicara kepadaku, engkau akan berbicara lewat sahabat-sahabatku itu.

Tuhan, terima kasih. Engkau sangat baik. Dan engkau juga sangat baik karena engkau memberiku pengertian sehingga aku memahami kebaikanmu. Ucapan syukurku ini mungkin tak berarti bagimu. Tapi ia sangat penting bagiku. Ini semacam ungkapan kegembiraan karena engkau telah berbuat baik padaku.

Terima kasih, Tuhan.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.