Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Bambang Widjojanto: “Ibadah Kita Belum Berdampak Positif”
Bambang Widjojanto (Foto: umm.ac.id)

Bambang Widjojanto: “Ibadah Kita Belum Berdampak Positif”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Lantas apa tugas-tugas kekhalifahan yang Anda anggap relevan dengan kegiatan Anda?

Sewaktu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH), saya turut memperjuangkan isu-isu atau nilai-nilai yang berkaitan langsung dengan martabat kemanusiaan. Manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, seharusnya mampu mencoba dan berusaha untuk selalu bersikap sempurna demi menunjukkan bahwa dia memang betul-betul ciptaan yang sempurna.

Itu saya abdikan dengan sikap untuk selalu respek terhadap kemanusiaan, dan menjadikan LBH sebagai pintu masuk atau instrumen untuk menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan itu.

Anda merasa kegiatan Anda di bidang HAM sudah memenuhi tugas sebagai khalifah Tuhan?

Saya pikir masih banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, saya seperti mengalami proses pengayaan yang terus-menerus dalam konteks kehidupan dan keagamaan. Setelah di LBH, saya mulai banyak bicara soal hal-hal yang berkaitan dengan reformasi hukum, dan isu anti korupsi; tantangan lain yang tak kalah menariknya.

Perjuangan dalam penegakan hukum dan HAM itu tentu banyak tantangan. Nah apakah agama ikut memberi dorongan moral, atau dorongannya datang dari rasa kemanusiaan biasa saja?

Sekarang energi sosial terbesarnya justru datang dari nilai-nilai spiritualitas. Karena dalam kenyataan, selalu ada pertanyaan (misalnya) tentang bagaimana hubungan antara korupsi dan puasa. Nah, sebenarnya di situ ada relasi yang kuat.

Korupsi muncul karena ketidakmampuan kita memperjelas mana ruang publik dan mana ruang privat. Misalnya begini: korupsi itu biasanya terjadi bila suatu kewenangan—dalam kapasitas sebagai pejabat negara—digunakan untuk kepentingan-kepentingan privat.

Jadi kepentingan umum dan pribadi bercampur-aduk?

Ya. Misalnya saya berposisi sebagai jaksa agung yang menggunakan kewenangan jaksa agung untuk kepentingan saya sebagai pribadi. Hubungan-hubungan kolusif saya bangun, asal dapat menikmati segenggam kekuasaan melalui uang. Itu kan yang terjadi?

Lantas apa kaitannya dengan puasa?

Kaitannya, jihad kita kan tidak harus dengan mengacungkan pedang. Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa jihad terbesar dalam hidup adalah jihad melawan hawa nafsu (jihâdun nafs). Nah, kata kunci hubungan antara korupsi dan anti korupsi adalah pengendalian (imsâk, Red); kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri agar tidak melakukan penyalahgunaan kewenangan.

Mas Bambang, apakah pandangan dan sikap umat beragama kini sudah cukup mendukung untuk membentuk iklim anti korupsi?

Saya tidak tahu. Tapi karena itulah saya mendorong gerakan anti korupsi dalam perspektif yang lebih luas. Selama ini korupsi hanya dilihat sebagai persoalan hukum. Kita tidak pernah mampu mendorong gerakan sosial anti korupsi. Mestinya harus dibentuk budaya anti korupsi.

Itu sebabnya, kami masuk ke ormas-ormas, tidak hanya bekerjasama dengan LSM-LSM. Kita bekerjasama dengan Muhammadiyah dan NU untuk mendorong gerakan anti korupsi supaya skup gerakannya lebih luas lagi. Kita mesti membangun zona-zona anti korupsi.

Bagi masyarakat, apakah koruspi merupakan prioritas untuk diperhatikan?

Kalau melihat derajat problematikanya, korupsi sudah menjadi persoalan yang sangat terstruktur, sistematis, dan dengan derajat problematika yang tinggi. Tapi kita juga mesti hati-hati, sebab kerap sekali kita sampai pada kesimpulan yang menjebak pada sikap yang permisif.

Sebab, advokasi soal pemberantasan korupsi selama ini selalu mengedepankan problem. Akibat mengedepankan problem terus-menerus, kita lalu menjadi permisif: “Ah, tidak mungkin bisa dilawan, ini!”

Lantas muncul rasa putus asa. Karena putus asa agenda pemberantasan korupsinya tidak bisa juga berjalan, timbul pikiran untuk ikut arus sedikit demi sedikit. Saya melihat kecenderungan itu, misalnya pada sektor-sektor pelayanan publik yang sudah tidak bisa dikendalikan kecuali dengan uang. Akhirnya banyak yang ikut juga, kan?!

Mas Bambang, tampaknya kelompok-kelompok agama belum begitu agresif menjadikan gerakan anti korupsi sebagai agenda utama mereka. Apa ada yang salah dalam pola pikir keagamaan kita?

Betul. Yang salah mungkin seperti yang banyak dikatakan orang: ibadah kita masih untuk diri sendiri, belum mampu menimbulkan dampak sosial yang positif. Dalam ibadah selama ini, kalau senang, kita senang sendiri. Tetangga tidak ikut senang; masyarakat sekampung tidak ikut senang. Ibadah pun hanya untuk hubungan ke atas. Padahal, bagaimana menerjemahkan hubungan transendental itu ke dalam konteks sosial jauh lebih penting.

Bagaimana Anda melihat tindakan-tindakan kesederhanaan yang dilakukan para aktivis PKS untuk mengurangi tingkat korupsi?

Teman-teman PKS sebenarnya sedang menunjukkan bahwa hidup bersih itu bisa dilakukan. Tapi tantangannya: bagaimana menjadikan gerakan itu sebagai gerakan kultural yang lebih luas, dan mampu mengubah watak dan sikap institusi-institusi kita yang selama ini koruptif. Saya kira itu yang lebih penting.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.