Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Bambang Widjojanto: “Ibadah Kita Belum Berdampak Positif”
Bambang Widjojanto (Foto: umm.ac.id)

Bambang Widjojanto: “Ibadah Kita Belum Berdampak Positif”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Jihad tidak hanya bisa ditempuh dengan acungan pedang. Nabi Muhammad sendiri menegaskan, jihad terbesar dalam hidup justru pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan tuntutan-tuntutan ego-diri, atau menjadi panglima bagi diri sendiri (jihâdun nafs).

Dalam kerangka seperti itulah Bambang Widjojanto, anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Watch (ICW) menyoroti kaitan antara korupsi yang menggurita di Tanah Air dan ibadah puasa yang tiap tahun menghampiri kita.

Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL) yang berlangsung Kamis (4/11/2004) lalu, salah seorang Dewan Pendiri LSM Kontras itu, menuturkan pelbagai pandangannya tentang hubungan antara agama dan aktivitasnya yang intens dalam gerakan anti korupsi dan penegakan HAM. Berikut petikannya.

 

Mas Bambang, bagaimana Islam diajarkan sejak kecil kepada Anda oleh keluarga?

Sebenarnya keluarga saya adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Oleh orang tua, saya awalnya tidak secara ketat diajarkan agama. Dulu orang tua saya juga tidak salat, tapi 24 tahun lalu sudah salat. Mungkin kalau memakai kategorisasi yang standar, saya termasuk kelompok Islam abangan. Jadi Islam KTP.

Jadi, dulu saya merasa Islam saya abangan saja. Tapi dalam perjalanan hidup, saya coba memperlihatkan dan menunjukkan bahwa saya ingin konsisten sebagai orang Islam. Artinya, saya ingin menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan baik. Saya ikut membaca tulisan mengenai Islam liberal, tapi saya merasa lebih ingin menjalankan Islam seperti orang biasa saja.

Tapi tentu Anda juga bersentuhan dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama, entah dari teman, tetangga, atau masyarakat sekitar!

Ya. Dalam waktu lanjut, proses-proses keagamaan cukup mempengaruhi kehidupan saya dan keluarga. Setelah itu saya melihat perkembangan orang tua saya yang lebih intensif menjalankan ibadah.

Lalu saya juga mendapat kesempatan untuk lebih bersentuhan dengan soal-soal keagamaan. Saya pernah delapan tahun (1986-1993) berada di Papua (sebagai Direktur LBH Papua); tempat yang mayoritas agamanya bukan Islam.

Bagaimana perasaan Anda pertama kali terjun di komunitas yang sebagian besar bukan penganut Islam seperti itu?

Perasaan ketika berubah posisi dari mayoritas menjadi minoritas memang berbeda. Di situ harus ada perubahan cara pandang. Tapi yang lebih penting lagi, di situ saya mendapat istri yang berasal dari Kayu Manak; suatu daerah yang mayoritas muslim. Yang mengesankan saya, orang-orang di sana mampu berkomunikasi dengan baik satu dan lainnya. Ada proses saling menghormati, dan itu cukup intens terjadi.

Anda pernah menempuh pendidikan di Universitas Jayabaya. Pada saat menjadi mahasiswa, pernahkah Anda bersentuhan dengan gerakan Islam?

Saat itu saya lebih banyak tekun di kuliah. Pagi saya bekerja, sore sampai malam kuliah. Teman-teman saya memang banyak yang lebih intensif di situ (pergerakan Islam), tapi saya lebih banyak menjadi mahasiswa yang baik.

Lalu kapan Anda mulai berkenalan dengan lingkungan Islam yang ikut memformat diri Anda?

Ketika di Papua. Di situ saya banyak bertemu dengan teman-teman dari Sekolah Tinggi Fajar Timur Papua, dan juga teman-teman dari kalangan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Saya bukan orang HMI, tapi banyak berteman dengan mereka di Papua.

Apa yang Anda lakukan ketika bertemu dengan lingkungan yang begitu beragam seperti di Papua itu?

Pada saat itu saya mulai membaca buku, seperti buku-buka tafsir. Saya memang lebih punya kesempatan untuk membaca. Dari situ saya merasa, kalau kita tidak mampu merumuskan dari mana kita berasal, dan hendak ke mana kita menuju, sebenarnya kita telah gagal menjadi diri kita sendiri.

Sebab, seluruh aktivitas hidup kita kan seharusnya diletakkan untuk mencapai tujuan itu; ke mana kita akan pergi nantinya. Ibarat orang membikin proposal, kalau tidak bisa merumuskan tujuannya, itu akan menggemboskan indikator keberhasilannya. Dia tidak akan bisa merumuskan setiap kegiatannya kalau tidak tahu tujuannya.

Apa Anda sedang bicara soal asal-usul dan tujuan penciptaan manusia?

Ya. Sebab semua orang harus mampu merumuskan, dan harus tahu dia dari mana dan hendak ke mana. Nah, ketika seseorang tidak mampu merumuskan itu, sesungguhnya dia belum bisa menjadi apa-apa.

Apakah Anda mengkaji Islam untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu?

Sebenarnya, ya! Saya melihat kegiatan-kegiatan kita terkadang kelihatan kosong; seolah-olah hanya aktivitas lepas yang tidak punya makna bagi sesuatu di kemudian hari. Jadi seolah-olah rangkaian kegiatan yang biasa saja. Nah, saya lalu mengkaji lebih jauh. Sebetulnya, kita ini bisa menjadi sesuatu kalau kita paham hendak ke mana perjalanan kita. Takwa kita sebenarnya mau dikemanakan?

Mas Bambang, hari ini Anda menulis di salah satu media ibukota tentang puasa dan korupsi. Anda sendiri selama ini banyak terlibat dalam kegiatan pemberantasan korupsi, pembelaan hak asasi manusia dan lainnya. Nah, apakah aktivitas Anda selama ini terkait dengan motivasi Anda sebagai seorang muslim?

Sejak beberapa belas tahun yang lalu, ya! Awalnya biasa-biasa saja; kerja, ya kerja. Tapi sekarang, apalagi setelah punya anak, situasinya agak berbeda. Alhamdulillah, hari ini (Kamis, 4 November 2004) saya dikaruniai anak yang keempat. Nah, dari situlah saya mulai membaca-baca ulang.

Misalnya dalam refleksi kita sebagai muslim, manusia kan berfungsi ganda: sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah Allah di bumi. Sebagai hamba, kita dituntut menundukkan diri pada kekuasaan Khalik. Tapi dalam konteks khilafah, bagaimana cara kita agar sifat-sifat Sang Khalik bisa terwujud dalam setiap sikap, gerak, ucapan, dan perilaku kita. Itu yang kemudian harus terus-menerus kita lakukan dan perjuangkan.

Lantas apa tugas-tugas kekhalifahan yang Anda anggap relevan dengan kegiatan Anda?

Sewaktu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH), saya turut memperjuangkan isu-isu atau nilai-nilai yang berkaitan langsung dengan martabat kemanusiaan. Manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, seharusnya mampu mencoba dan berusaha untuk selalu bersikap sempurna demi menunjukkan bahwa dia memang betul-betul ciptaan yang sempurna.

Itu saya abdikan dengan sikap untuk selalu respek terhadap kemanusiaan, dan menjadikan LBH sebagai pintu masuk atau instrumen untuk menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan itu.

Anda merasa kegiatan Anda di bidang HAM sudah memenuhi tugas sebagai khalifah Tuhan?

Saya pikir masih banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, saya seperti mengalami proses pengayaan yang terus-menerus dalam konteks kehidupan dan keagamaan. Setelah di LBH, saya mulai banyak bicara soal hal-hal yang berkaitan dengan reformasi hukum, dan isu anti korupsi; tantangan lain yang tak kalah menariknya.

Perjuangan dalam penegakan hukum dan HAM itu tentu banyak tantangan. Nah apakah agama ikut memberi dorongan moral, atau dorongannya datang dari rasa kemanusiaan biasa saja?

Sekarang energi sosial terbesarnya justru datang dari nilai-nilai spiritualitas. Karena dalam kenyataan, selalu ada pertanyaan (misalnya) tentang bagaimana hubungan antara korupsi dan puasa. Nah, sebenarnya di situ ada relasi yang kuat.

Korupsi muncul karena ketidakmampuan kita memperjelas mana ruang publik dan mana ruang privat. Misalnya begini: korupsi itu biasanya terjadi bila suatu kewenangan—dalam kapasitas sebagai pejabat negara—digunakan untuk kepentingan-kepentingan privat.

Jadi kepentingan umum dan pribadi bercampur-aduk?

Ya. Misalnya saya berposisi sebagai jaksa agung yang menggunakan kewenangan jaksa agung untuk kepentingan saya sebagai pribadi. Hubungan-hubungan kolusif saya bangun, asal dapat menikmati segenggam kekuasaan melalui uang. Itu kan yang terjadi?

Lantas apa kaitannya dengan puasa?

Kaitannya, jihad kita kan tidak harus dengan mengacungkan pedang. Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa jihad terbesar dalam hidup adalah jihad melawan hawa nafsu (jihâdun nafs). Nah, kata kunci hubungan antara korupsi dan anti korupsi adalah pengendalian (imsâk, Red); kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri agar tidak melakukan penyalahgunaan kewenangan.

Mas Bambang, apakah pandangan dan sikap umat beragama kini sudah cukup mendukung untuk membentuk iklim anti korupsi?

Saya tidak tahu. Tapi karena itulah saya mendorong gerakan anti korupsi dalam perspektif yang lebih luas. Selama ini korupsi hanya dilihat sebagai persoalan hukum. Kita tidak pernah mampu mendorong gerakan sosial anti korupsi. Mestinya harus dibentuk budaya anti korupsi.

Itu sebabnya, kami masuk ke ormas-ormas, tidak hanya bekerjasama dengan LSM-LSM. Kita bekerjasama dengan Muhammadiyah dan NU untuk mendorong gerakan anti korupsi supaya skup gerakannya lebih luas lagi. Kita mesti membangun zona-zona anti korupsi.

Bagi masyarakat, apakah koruspi merupakan prioritas untuk diperhatikan?

Kalau melihat derajat problematikanya, korupsi sudah menjadi persoalan yang sangat terstruktur, sistematis, dan dengan derajat problematika yang tinggi. Tapi kita juga mesti hati-hati, sebab kerap sekali kita sampai pada kesimpulan yang menjebak pada sikap yang permisif.

Sebab, advokasi soal pemberantasan korupsi selama ini selalu mengedepankan problem. Akibat mengedepankan problem terus-menerus, kita lalu menjadi permisif: “Ah, tidak mungkin bisa dilawan, ini!”

Lantas muncul rasa putus asa. Karena putus asa agenda pemberantasan korupsinya tidak bisa juga berjalan, timbul pikiran untuk ikut arus sedikit demi sedikit. Saya melihat kecenderungan itu, misalnya pada sektor-sektor pelayanan publik yang sudah tidak bisa dikendalikan kecuali dengan uang. Akhirnya banyak yang ikut juga, kan?!

Mas Bambang, tampaknya kelompok-kelompok agama belum begitu agresif menjadikan gerakan anti korupsi sebagai agenda utama mereka. Apa ada yang salah dalam pola pikir keagamaan kita?

Betul. Yang salah mungkin seperti yang banyak dikatakan orang: ibadah kita masih untuk diri sendiri, belum mampu menimbulkan dampak sosial yang positif. Dalam ibadah selama ini, kalau senang, kita senang sendiri. Tetangga tidak ikut senang; masyarakat sekampung tidak ikut senang. Ibadah pun hanya untuk hubungan ke atas. Padahal, bagaimana menerjemahkan hubungan transendental itu ke dalam konteks sosial jauh lebih penting.

Bagaimana Anda melihat tindakan-tindakan kesederhanaan yang dilakukan para aktivis PKS untuk mengurangi tingkat korupsi?

Teman-teman PKS sebenarnya sedang menunjukkan bahwa hidup bersih itu bisa dilakukan. Tapi tantangannya: bagaimana menjadikan gerakan itu sebagai gerakan kultural yang lebih luas, dan mampu mengubah watak dan sikap institusi-institusi kita yang selama ini koruptif. Saya kira itu yang lebih penting.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.