Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”
Butet Kartaradjesa (Foto: tempo.co)

Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”

4.54/5 (13)

Istri Anda tidak keberatan ketika Anda berpaling agama setelah nikah?

Ya… sebenarnya dia keberatan. Tapi karena saya bandel dan ingin membuktikan sepanjang hidup bahwa saya akan memperlakukan dia sedemikian rupa menjadi bagian dari belahan jiwa saya, dia bisa terima.

Mas Butet, selalu ada banyak kekhawatiran di masyarakat kalau nikah beda agama pasti tak akan rukun. Pengalaman Anda bagaimana?

Itu keliru. Bagi saya, mengukurnya itu begini. Urusan agama saya anggap merupakan urusan privat orang per orang, bahkan terhadap istri atau anak saya sekalipun. Saya tidak mau ada urusan keluarga mau beragama apa.

Ukuran saya, asalkan itu bisa membuat yang bersangkutan berbahagia, saya anggap itu sudah benar. Jadi, ketika istri saya menunaikan kewajiban agamanya, dan dia bisa intens di situ, khusuk dan bahagia, sebagai orang yang beragama beda dan teman terdekatnya, saya harus memberi dia yang terbaik.

Saya ongkosin dia naik haji. Sebaliknya, misalkah saya mau naik haji ke Yerussalem, misalnya, dia juga harus mendukung saya. Bahkan, ketika anak saya diam-diam menjadi pengurus masjid, saya oke-oke saja.

Hanya ada satu masalah yang menurut saya sangat dramatis dalam hidup saya. Yaitu, ketika anak saya mau masuk sekolah dasar. Ini situasi yang agak membuat shock, karena ketika mendaftar ke institusi formal, negara kita masih mengurusi soal agama.

Dalam formulir pendaftaran, ada pertanyaan tentang apa agamanya anak. Padahal, saya ini tidak jelas agamanya. Kalau dikatakan Kristen, saya juga tak pernah ke gereja. Tapi, dibilang Islam, jelas tidak.

Dari situ, saya bertanya ke anak saya: “Giras, sekarang kamu akan masuk sekolah. Janjinya dulu, ketika masuk sekolah, kamu akan memutuskan akan masuk agama apa.” Saya tanya begitu, eh… dia nangis. Bagi saya, peristiwa itu dramatis banget.

Tak ada jawaban darinya waktu itu. Besoknya, ketika ditanya lagi, dia nangis lagi. Dia lalu berpikir begini: “Pa, kalau aku beragama Islam, nanti kalau Papa mati, yang mendoakan siapa? Dan kalau agamaku Kristen, nanti kalau Ibu mati, yang mendoakan siapa?”

Mendengar pertanyaan itu, aku shock juga. “Bajigur iki anakku!” gumamku. “Mendingan kamu Islam aja deh… Ibumu kan rajin sembahyang!” kataku. Akhirnya, dia berstatus Islam, walaupun sekolahnya di Katolik.

Tapi, tidak menentukan agama buat anak, bukan berarti Anda tidak mengajarkan baik-buruk alias budi pekerti, kan?

Oh, tetap. Budi pekerti itu justru yang lebih utama. Misalnya, pemahaman tentang nilai-nilai yang perlu kita anut dalam hubungan sosial. Menurut saya, itu lebih penting daripada yang lain. Saya selalu bilang, kalau mengaku telah mendidik anak saya secara agamis, saya itu bohong. Saya munafik, karena memang saya sendiri tidak agamis.

Tapi, soal hukum dan perkara-perkara sosial, selalu kita diskusikan bareng anak-anak. Misalnya saya katakan, kalau melanggar hukum, akibatnya akan begini. Kalau menyakiti orang, akan begitu. Kalau kamu memukul orang, akibatnya akan begini dan begitu.
Jadi, nilai-nilai yang universal tetap diajarkan. Bahwa ternyata itu berhubungan dengan ajaran agama tertentu, barangkali iya. Tapi aku memang tidak ngerti soal agama. Untuk ukuran saya, andaikan dalam hidup ini dia bisa membangun keseimbangan yang adil, baik, dan tidak menyakiti orang, itu barangkali sudah benar.

Anda merasa pendidikan seperti itu masih kurang jika belum dikait-kaitkan dengan ajaran suatu agama?

Untuk saya, itu sudah cukup. Tapi kalau dia (anak saya itu) mau beragama, jangan melihat dari diri saya. Untuk agama, dia bisa cari dari sekolah atau masjid tempat beribadahnya. Sebab, saya pasti tak akan bisa menolong untuk hal-hal seperti itu, karena memang saya tidak ngerti. Atau, itu semua barangkali bisa dia dapat dari ibunya yang hajjah itu.

Kalau Anda refleksi ulang, unsur apa dari agama yang sebetulnya penting menurut Anda?

Setelah dicari-cari, mungkin untuk menjaga harmoni. Sebab dengan beragama, aku punya ketakutan-ketakutan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Tapi saya tidak tahu apakah (ketakutan) itu karena faktor agama atau bukan. Tapi minimal, di masa-masa sunyi, misalnya ketika kehilangan ibu dan ayah, saya baru tersadar kalau ternyata saya baru beragama.

Dalam tinjauan antropologi atau sosiologi, agama dapat menjadi pengukuh integrasi dan disintegrasi; bisa menghimpun atau menceraiberaikan. Anda pernah melihat gejala itu?

Kalau di komunis beragama, saya tidak begitu melihat. Sebab, saya memang jarang berinteraksi dengan teman-teman komunitas agama. Tapi dalam komunitas kesenian, hal itu memang sering terjadi. Faktor pemicunya adalah soal agama.

Ketika kami bertemu, berlatih di grup teater atau musik, biasanya komitmen yang mempertemukan adalah dorongan untuk berkesenian itu sendiri. Agamanya, ya, kesenian itu sendiri. Tapi dalam perjalanan waktu, sering juga terjadi pertengkaran ketika teman-teman mulai mempersoalkan hal-hal di luar kesenian. Dan itu menyebabkan disintegrasi.

Namun demikian, soal toleransi tetap kita manjakan sedemikian rupa. Tidak ada yang melarang wajibnya ibadah. Yang mau salat, ya silahkan salat. Yang mau tidak salat, ya silahkan saja.

Kira-kira, kelak Anda akan tekun menjalankan ritual agama atau tidak?

Nggak! Saya justru sering dibingungkan oleh perkara agama. Ini berkaitan dengan pengalaman pribadi saya. Di keluarga kami, ada bermacam-macam penganut agama. Ayah dan ibu saya Kristen. Menantunya yang seagama cuma ada dua orang. Yang lainnya campur-campur; ada yang Kristen, Katolik, dan ada juga Islam. Murid-murid bapak saya itu ada juga yang Hindu.

Nah, ketika Ibu meninggal, kita semua ingin sekali menghormatinya secara seremonial. Karena ibu Kristen, upacaranya dilakukan secara Kristen. Tapi, untuk sembahyang, kami memberi semua keluarga kesempatan yang sama.

Karena menantunya ada yang Islam, dan anaknya juga ada yang Islam, mereka dibiarkan sembahyang secara Islam. Yang Katolik juga begitu; kita membikin upacara terpisah dengan mengundang seorang pastur.

Tapi saya heran, yang Islam kok nggak mau. Orang kampung melarang itu. Pokoknya, bagi mereka, yang Islam tidak boleh mengadakan upacara secara Islam untuk mayat ibu saya. Jadi, menantu dan anak-anaknya yang muslim itu tidak boleh menyembahyangkan ibu saya. Saya itu malah bingung.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.