Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”
Butet Kartaradjesa (Foto: tempo.co)

Butet Kertaradjasa: “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…”

4.65/5 (17)

"Suatu kali, saya stress karena ada masalah pribadi. Saya lalu berpikir, kalau datang ke gereja, mungkin itu akan menyembuhkan persoalan. Bayangan saya begitu. Tapi, orang segereja justru nontonin saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing mana yang datang ini, begitu mungkin pikir mereka.” Itulah sepenggal pergulatan iman ahli monolog dan aktor kondang, Butet Kertaradjasa, kepada Novriantoni dan Mohammad Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (15/12) lalu.

 

Mas Butet, Anda pernah terdidik beragama sejak kecil?

Tidak. Begitu lahir, saya tahu-tahu sudah Kristen. Semasa kecil, ruang tamu rumah saya sering digunakan sebagai tempat kebaktian kampung. Jadi ada ibadah gitu. Lantas, saya sekolah di lembaga Katolik, dan tiba-tiba saya tahu ternyata ada agama dalam hidup ini. Jadi agama itu sesuatu yang terberi dalam hidup saya, tidak melalui proses sosialisasi yang ketat.

Tapi Anda bisa disebut beragama?

Wah, saya agamis, hehe. Di KTP saya sudah ada kolom isian agamanya, dan di situ sudah ada isinya. Lalu kalau mau nikah, kita juga harus beragama. Dan kebetulah, saya menikah secara Islam. Istri saya seorang muslimah, dan alhamdulillah sudah jadi hajjah.

Lalu bagaimana mendiang Pak Bagong mengenalkan agama pada Anda?

Secara khusus, tidak ada. Setahu saya, dia itu kok ternyata juga sudak Kristen. Dia pernah aktif di sendratari tentang kelahiran Yesus Kristus. Rumah saya juga digunakan sebagai tempat ibadah. Tapi karena saya tinggal di kampung, saya kadang juga ikut lebaran.

Kalau Idul Fitri, teman-teman main saya selalu pakai baju baru. Karena itu, saya juga merasa berhak untuk mendapat baju baru. Ada juga tradisi sungkeman. Tapi memang, saya tidak pernah ikut salat, sekalipun untuk makan-makan dan baju baru, saya ikutan.

Tentu banyak yang keberatan kalau Anda mengaku beragama tapi tidak menjalankan ritual seperti ke gereja. Lalu, apa fungsi agama menurut Anda?

Untuk ngisi kolom KTP itu lho, Mas! Dan memang, saya nggak pernah alias jarang datang ke gereja. Lha wong saya merasa punya agama saja waktu bapak dan ibu saya meninggal, kok! Terakhir saya ke gereja ketika masih di SMP. Tapi, kalau pas natalan, saya selalu dikirimi pesan-pesan pendek (SMS). Seingat saya, saya juga pernah ke gereja. Tapi, umatnya heran semua. Aku jadi malu.

Ceritanya begini. Suatu kali, saya stress karena ada masalah pribadi. Terus saya berpikir, kalau datang ke gereja, mungkin bisa menyembuhkan persoalan. Bayanganku begitu. Nah, ketika sudah mahasiswa dan berkeluarga, saya datang lagi ke gereja.

Tapi, orang segereja nontonin saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing mana yang datang ini, mungkin begitu pikir mereka. Pendetanya juga heran. Setelah itu, saya tak pernah datang lagi. Saya merasa menjadi makhluk asing yang merebut perhatian banyak orang yang membuat pribadi saya risih.

Bagi yang taat menjalankan ritual agama, Anda tentu dianggap kurang atau tidak beragama...

Itu kan seperti orang yang rajin ngoceh soal Pancasila, tapi perilakunya belum tentu juga Pancasilais. Kalau cuma rajin ke gereja, tapi tindak, perilaku, tabiat, dan pikirannya tidak agamis, apa gunanya?! Kalau saya, orangnya lebih suka pada tindakan.

Saya cuma mencoba untuk mewujudkan harmoni dan hidup yang baik dalam tindakan dan karya-karya saya. Kalau yang ritual-ritual dan serimonial seperti itu, saya memang nggak terbiasa. Atau boleh dikata, saya pemalas.

Tapi saya tetap berdoa kalau mau tidur, dan orang tidak pernah tahu itu. Masak saya harus mengumum-umumkan yang begituan?! Makanya, saya cenderung berpendapat, perkara privat seperti itu tidak usah diomong-omongkan dan tidak perlu dipamer-pamerkan.

Apa Anda beranggapan bertuhan itu jauh lebih penting dari beragama secara formal?

Kayaknya saya sependapat. Saya beragama karena ada kolom yang mempertanyakan agama saya apa.

Sebetulnya perlukah dibedakan antara beragama dengan bertuhan?

Perlu, ya. Tapi, saya nggak ngerti, deh! Malah menurut saya, di kolom-kolom formal urusan negara itu, tidak usahlah ngurusi yang gitu-gituan. Mau bertuhan, mau beragama, itu urusan pribadi orang per orang. Itu kan bukan perkara publik. Jadi, sebenarnya tidak perlu soal kolom agama itu ada untuk urusan yang di ranah publik.

Tapi mungkin perlu juga untuk sensus, ya?

Hanya untuk bangga-banggaan soal minoritas-mayoritas?!

Mas Butet kan menikah beda agama. Pernahkan soal perbedaan agama jadi hambatan dalam keluarga?

Sejauh ini, tidak ada masalah. Aman-aman saja. Waktu saya kawin tahun 1981, lembaga cacatan sipil masih mengizinkan (nikah beda agama). Kakak saya juga menikah beda agama di catatan sipil. Cuma persoalannya, saya ini menantu seorang haji.

Jadi, mertua saya itu tidak menghendaki (nikah beda agama) itu. Dia pingin saya nikah secara Islam; dengan ijab-kabul. Ya... karena itu permintaannya, saya penuhi. Untuk saya, apa susahnya kalau KTP diganti sebentar. Terus, saya ganti KTP dan saya sudah sunat.

Saya buktikan itu dan saya bawa foto saya waktu sunat. Hanya saja, saya tidak bisa ibadah-ibadah. Waktu menjelang ijab-kabul, saya disuruh salat jamaah, tapi saya nggak bisa. Seperti apa dan bagaimana salat itu, saya tidak tahu.

Yang saya tahu cuma wudlu yang basuh-basuh muka itu. Saya lalu masuk kamar mandi. Tapi, saya lama-lama di situ. Tiba-tiba, salat sudah selesai, dan saya keluar. Terus saya ijab-kabul dan langsung pulang ke Jogja. Setelah itu, saya ganti KTP lagi jadi Kristen.

Memang, di negeri ini banyak yang berpikir bahwa orang tua wajib mengawinkan anaknya seagama, supaya hidupnya tetap berbahagia. Pertanyaan saya: jaminannya apa? Saya melihat, orang yang kawin seagama juga tidak kurang yang terjebak dalam proses kawin-cerai.

Malah, istrinya dipukuli terus-menerus. Itulah pengalaman saya waktu ngeyel sama mertua saya. Waktu itu, saya dibilang berbohong, karena sudah Islam di KTP, menikah secara Islam, lalu balik ke Kristen lagi. Saya dianggap munafik.

Lalu, saya katakan begini: “Kalau Mami menghendaki menantu yang dalam hidupnya hanya menipu, saya akan tetap menjadi Islam, karena saya pasti akan tetap menipu diri sepanjang waktu. Sebab, saya pernah berislam hanya untuknyeneng-nyenegin Mami, karena Mami menginginkan ijab-kabul secara Islam.

Tapi kalau Mami menghendaki menantu yang tidak menipu, maka izinkan saya tetap menjadi Kristen, meski telah menikah secara Islam. Sebab, kalau saya Kristen, saya tidak akan bohong dalam berdoa, karena hanya itu yang saya kenal.

Kalau sekarang saya dipaksa menjadi Islam, itu sama saja saya menipu, berbohong. Sebab, hati saya memang tidak di situ.” Lalu, saya menambahkan, “Saya menjamin anak Mami pasti akan baik dengan saya.” Itu yang saya katakan.

Istri Anda tidak keberatan ketika Anda berpaling agama setelah nikah?

Ya... sebenarnya dia keberatan. Tapi karena saya bandel dan ingin membuktikan sepanjang hidup bahwa saya akan memperlakukan dia sedemikian rupa menjadi bagian dari belahan jiwa saya, dia bisa terima.

Mas Butet, selalu ada banyak kekhawatiran di masyarakat kalau nikah beda agama pasti tak akan rukun. Pengalaman Anda bagaimana?

Itu keliru. Bagi saya, mengukurnya itu begini. Urusan agama saya anggap merupakan urusan privat orang per orang, bahkan terhadap istri atau anak saya sekalipun. Saya tidak mau ada urusan keluarga mau beragama apa.

Ukuran saya, asalkan itu bisa membuat yang bersangkutan berbahagia, saya anggap itu sudah benar. Jadi, ketika istri saya menunaikan kewajiban agamanya, dan dia bisa intens di situ, khusuk dan bahagia, sebagai orang yang beragama beda dan teman terdekatnya, saya harus memberi dia yang terbaik.

Saya ongkosin dia naik haji. Sebaliknya, misalkah saya mau naik haji ke Yerussalem, misalnya, dia juga harus mendukung saya. Bahkan, ketika anak saya diam-diam menjadi pengurus masjid, saya oke-oke saja.

Hanya ada satu masalah yang menurut saya sangat dramatis dalam hidup saya. Yaitu, ketika anak saya mau masuk sekolah dasar. Ini situasi yang agak membuat shock, karena ketika mendaftar ke institusi formal, negara kita masih mengurusi soal agama.

Dalam formulir pendaftaran, ada pertanyaan tentang apa agamanya anak. Padahal, saya ini tidak jelas agamanya. Kalau dikatakan Kristen, saya juga tak pernah ke gereja. Tapi, dibilang Islam, jelas tidak.

Dari situ, saya bertanya ke anak saya: “Giras, sekarang kamu akan masuk sekolah. Janjinya dulu, ketika masuk sekolah, kamu akan memutuskan akan masuk agama apa.” Saya tanya begitu, eh... dia nangis. Bagi saya, peristiwa itu dramatis banget.

Tak ada jawaban darinya waktu itu. Besoknya, ketika ditanya lagi, dia nangis lagi. Dia lalu berpikir begini: “Pa, kalau aku beragama Islam, nanti kalau Papa mati, yang mendoakan siapa? Dan kalau agamaku Kristen, nanti kalau Ibu mati, yang mendoakan siapa?”

Mendengar pertanyaan itu, aku shock juga. “Bajigur iki anakku!” gumamku. “Mendingan kamu Islam aja deh... Ibumu kan rajin sembahyang!” kataku. Akhirnya, dia berstatus Islam, walaupun sekolahnya di Katolik.

Tapi, tidak menentukan agama buat anak, bukan berarti Anda tidak mengajarkan baik-buruk alias budi pekerti, kan?

Oh, tetap. Budi pekerti itu justru yang lebih utama. Misalnya, pemahaman tentang nilai-nilai yang perlu kita anut dalam hubungan sosial. Menurut saya, itu lebih penting daripada yang lain. Saya selalu bilang, kalau mengaku telah mendidik anak saya secara agamis, saya itu bohong. Saya munafik, karena memang saya sendiri tidak agamis.

Tapi, soal hukum dan perkara-perkara sosial, selalu kita diskusikan bareng anak-anak. Misalnya saya katakan, kalau melanggar hukum, akibatnya akan begini. Kalau menyakiti orang, akan begitu. Kalau kamu memukul orang, akibatnya akan begini dan begitu.
Jadi, nilai-nilai yang universal tetap diajarkan. Bahwa ternyata itu berhubungan dengan ajaran agama tertentu, barangkali iya. Tapi aku memang tidak ngerti soal agama. Untuk ukuran saya, andaikan dalam hidup ini dia bisa membangun keseimbangan yang adil, baik, dan tidak menyakiti orang, itu barangkali sudah benar.

Anda merasa pendidikan seperti itu masih kurang jika belum dikait-kaitkan dengan ajaran suatu agama?

Untuk saya, itu sudah cukup. Tapi kalau dia (anak saya itu) mau beragama, jangan melihat dari diri saya. Untuk agama, dia bisa cari dari sekolah atau masjid tempat beribadahnya. Sebab, saya pasti tak akan bisa menolong untuk hal-hal seperti itu, karena memang saya tidak ngerti. Atau, itu semua barangkali bisa dia dapat dari ibunya yang hajjah itu.

Kalau Anda refleksi ulang, unsur apa dari agama yang sebetulnya penting menurut Anda?

Setelah dicari-cari, mungkin untuk menjaga harmoni. Sebab dengan beragama, aku punya ketakutan-ketakutan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Tapi saya tidak tahu apakah (ketakutan) itu karena faktor agama atau bukan. Tapi minimal, di masa-masa sunyi, misalnya ketika kehilangan ibu dan ayah, saya baru tersadar kalau ternyata saya baru beragama.

Dalam tinjauan antropologi atau sosiologi, agama dapat menjadi pengukuh integrasi dan disintegrasi; bisa menghimpun atau menceraiberaikan. Anda pernah melihat gejala itu?

Kalau di komunis beragama, saya tidak begitu melihat. Sebab, saya memang jarang berinteraksi dengan teman-teman komunitas agama. Tapi dalam komunitas kesenian, hal itu memang sering terjadi. Faktor pemicunya adalah soal agama.

Ketika kami bertemu, berlatih di grup teater atau musik, biasanya komitmen yang mempertemukan adalah dorongan untuk berkesenian itu sendiri. Agamanya, ya, kesenian itu sendiri. Tapi dalam perjalanan waktu, sering juga terjadi pertengkaran ketika teman-teman mulai mempersoalkan hal-hal di luar kesenian. Dan itu menyebabkan disintegrasi.

Namun demikian, soal toleransi tetap kita manjakan sedemikian rupa. Tidak ada yang melarang wajibnya ibadah. Yang mau salat, ya silahkan salat. Yang mau tidak salat, ya silahkan saja.

Kira-kira, kelak Anda akan tekun menjalankan ritual agama atau tidak?

Nggak! Saya justru sering dibingungkan oleh perkara agama. Ini berkaitan dengan pengalaman pribadi saya. Di keluarga kami, ada bermacam-macam penganut agama. Ayah dan ibu saya Kristen. Menantunya yang seagama cuma ada dua orang. Yang lainnya campur-campur; ada yang Kristen, Katolik, dan ada juga Islam. Murid-murid bapak saya itu ada juga yang Hindu.

Nah, ketika Ibu meninggal, kita semua ingin sekali menghormatinya secara seremonial. Karena ibu Kristen, upacaranya dilakukan secara Kristen. Tapi, untuk sembahyang, kami memberi semua keluarga kesempatan yang sama.

Karena menantunya ada yang Islam, dan anaknya juga ada yang Islam, mereka dibiarkan sembahyang secara Islam. Yang Katolik juga begitu; kita membikin upacara terpisah dengan mengundang seorang pastur.

Tapi saya heran, yang Islam kok nggak mau. Orang kampung melarang itu. Pokoknya, bagi mereka, yang Islam tidak boleh mengadakan upacara secara Islam untuk mayat ibu saya. Jadi, menantu dan anak-anaknya yang muslim itu tidak boleh menyembahyangkan ibu saya. Saya itu malah bingung.

Di kasus itu, agama jadi faktor disintegrasi, ya?

Ya. Kok jadi repot, pikir saya. Padahal, ini kan perkara bagaimana orang meyakini sesuatu. Barangkali, kalau dalam Kristen versi saya, itu mungkin akan menolong perjalanan ibu saya ke surga—kalaupun surga itu ada.

Terus yang Katolik juga berpikir begitu. Tapi, ini kok malah bingung. Dan akhirnya, daripada ribut semua, urusannya diserahkan pada yang melayat saja. Mana yang terbaik untuk yang ngelayat dan maunya bagaimana, terserah.

Anda percaya akan adanya surga?

Ya... kalau iming-iming itu membuat kehidupan ini jadi lebih baik, bolehlah iming-iming itu diselenggarakan. Asalkan, orang menjadi baik. Tapi kalau sudah diiming-imingkan perilaku orang tetap juga tidak baik, apa gunanya?!

Kira-kira, kapan Anda rindu ingin beragama secara penuh?

Pada saatnya, pasti akan tiba. Sejak lahir, saya juga tidak tahu kok tiba-tiba sudah beragama Kristen. Semua itu terjadi sebagai keniscayaan yang tiba-tiba. Mungkin, saatnya akan tiba—entah kapan, saya juga tidak tahu—ketika saya memenuhi impian semua orang untuk rajin ke gereja.

Barangkali, kelak alam ini akan memberi isyarat sehingga tiba-tiba saya tak akan berbahagia dalam hidup kalau satu menit saja tak berada dalam gereja. Entah jadi tukang sapu, tukangngelapi kursi gereja, atau entah jadi apa.

Yang penting dalam gereja. Mungkin akan tiba saatnya ketika saya percaya hukum-hukum alam akan seperti itu, atau alam akan membimbing saya menjadi orang yang sangat agamis—dalam artian sekadar rajin ke gereja. Tapi saya tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Kesannya, Anda apriori terhadap agama; tidak coba mendalami, tapi sudah menjatuhkan pilihan pada cara Anda sendiri...

Karena saya menyangka di dalam gede rasa saya, bahwa pekerjaan dan hidup saya dalam proses membesarkan anak-anak, membantu tetangga-tetangga, menjadi sandaran sejumlah orang, sudah bagian dari agama itu sendiri. Kalau saya dibebani lagi dengan yang lain, nanti saya malah repot, dan itu akan menipu diri saya sendiri.

Saya tak ingin, demi label untuk jadi seorang agamis, saya akan kerepotan, sementara pekerjaan saya yang pokok terbengkalai. Yang begini-begini saja sudah dianggap tidak beragama! Lebih dari itu, saya juga tidak bermimpi akan menjadi pejabat publik yang harus pamer beragama. Bagi saya, itu sudah tak ada gunanya.

Tapi, orang yang taat beragama mengandaikan bahwa dengan menjalankan ritual agama, kita akan jadi lebih baik...

Kalau masih pengandaian, itu kan masalah orang berfantasi saja. Saya juga punya hak untuk mengandai dan berfantasi sendiri. Jadi, boleh-boleh saja, kan ? Ya, saya memakai perspektif saya dalam membangun fantasi dalam agama.

Dengan cara beragama seperti itu, Anda sudah merasa terbimbing?

Wah... surga itu mengejar-ngejar saya, lho, Mas! Surga malah berkata: “Ayo,please, Butet!”

Ada pengaruh-pengaruh mistik atau kejawen dalam pola keberagaman Anda?

Misalnya gimana?

Soal tidak terlalu terikat dengan ritual itu...

Kayaknya iya. Tapi sesungguhnya, kalau mau mencurigai diri saya sendiri, faktornya cuma sederhana saja kok. Yaitu, soal kemalasan. Karena saya ini malas, bangunnya kesiangan, kalau Minggu juga begadang dan tak bisa bangun pagi, akhirnya saya tidak pernah ke gereja. Jadi, kalau saya ngomong macam-macam, pada akhirnya cuma pembenaran untuk kemalasan saya. Cuma itu persoalannya.

Tapi kemalasan itu juga dilarang agama lho, Mas!

Tapi itu sudah inheren dalam diri saya. Jadi, sudah begitu melekat. Saya sebetulnya ingin menepis kemalasan itu. Tapi mungkin, karena alam belum membimbing saya untuk berkemampuan menepis kemalasan itu, jadinya saya masih seperti ini dan dikutuk banyak orang. Saya berterimakasih saja atas semua sarannya.

Nampaknya Anda begitu esensialis dalam beragama, ya?

Iya, kali, ya? Saya itu malah bingung kalau ditanya begituan. Suatu kali, saya pernah ditanya oleh calon-calon romo yang datang ke tempat latihan saya. Dia mewawancarai saya panjang-lebar, lalu bertanya apakah saya ngerti soal Kristologi.

Mereka bilang, itu ilmu tentang Kristus. Mereka ngomong panjang-lebar, tapi saya nggak ngerti. Selama ini, saya hanya memainkan monolog, sementara skripnya berisi apa, nilai-nilai yang dibawa macam apa, saya tidak peduli. Apa yang tersaji, itulah saya.

Kalau Anda mau menggolong-golongkan monolog saya itu dalam kategori apa, itu urusan kalian, bukan perkara saya. Saya Cuma merasa, inilah yang terbaik untuk saya pada hari ini. Dan dengan itu, saya bisa membahagiakan diri saya dan teman-teman yang sedang bekerja bersama saya.

Ketika menyampaikan pesan-pesan atau misi-misi luhur dalam cerita itu, dan mau dilihat dari perspektif agama—berteologi atau tidak—silakan saja. Itu bukan perkara saya.

Adakah secuil pengaruh agama pada diri Anda?

Ada. Kalau pas bingung, saya harus berdoa. Pengaruh lain, untuk mengisi kolom KTP itu, hehehe.

Pernah membuat karya yang berisi muatan agama?

Pernah, sewaktu masih suka melukis. Waktu itu saya ikut-ikutan menggambar Yesus ketika disalib, dipentar. Yesusnya saya gambar kayak karikatur. Yesusnya buting, botak, dan pakai kaca mata. Gitu-gitulah! Dulu, saya suka iseng.

Karya itu tidak membuat marah orang yang taat beragama?

Karya itu justru terjual, Mas. Ia dibeli pendeta dari Jerman. Waktu itu, saya masih di SMP atau SMA.

Ada karya teater yang religius, nggak?

Besok, tangal 27 Desember, saya akan ikut perayaan Natal nasional bersama teman-teman di Teater Koma. Mas Nano yang jadi sutradaranya. Saya akan ikut main. Tapi kisah natal yang saya mainkan itu bukan merekonstuksi cerita-cerita Yesus yang konon lahir di gua atau kisah-kisah semacam itu, tapi kisah yang sudah diberi konteks dalam kebangsaan.

Di penghujung maut nanti, akan seperti apa Mas Butet ini?

Kalau dalam perkara mati, saya mengikuti ajaran Om saya, bapak Hanung Gusti Aksono. Dia bilang begini: “Nak, kalau aku mati, terserah mereka yang hidup. Kalau istri dan anak saya Islam dan mau menyembahyangkan saya secara Islam, silahkan saja!

Kalau kakak-kakak saya yang Kristen mau menyembahyangkan secara Keristen, silahkan! Kalau adik saya yang Katolik mau menyembahyangkan secara Katolik, silahkan juga! Itu urusan orang hidup.

Saya kan orang mati. Bahkan ekstrimnya, andaikan saya ditaruh di jalan raya, lalu burung gagak dibiarkan mencucu’i tubuhku, saya juga ikhlas. Toh saya juganggak ngerti. Itu perkaranya orang hidup, bukan perkaranya orang yang sudah mati.

Apa yang akan Anda tinggalkan untuk yang masih hidup?

Karena saya pemuja harmoni, saya tak ingin keluarga saya menderita ketika saya mati. Pokoknya dia harus aman, tenang lahir dan batin.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.