Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Cok Sawitri: “Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga”
Cok Sawitri (Foto: youtube.com)

Cok Sawitri: “Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Jika dilihat sejarah, Islam bisa berkembang justru karena tingginya toleransi orang Hindu saat itu. Kita mengenal Bhinneka Tunggal Ika. Bagimana Anda melihatnya?

Dalam tradisi Bali memang kita diajarkan untuk selalu ingat sejarah, bahkan sampai silsilah keluarga. Hampir semua keluarga Indonesia punya silsilah, dan sangat sadar bahwa misalnya zaman Sriwijaya itu sesungguhnya demokrasi dan toleransi itu ada, karena rajanya itu setengah pendeta. Tidak terbukti dalam catatan sejarah itu ada daerah-daerah yang berupeti.

Karena itu ketika membicarakan Bhinneka Tunggal Ika, justru masyarakat Bali mengkajinya dengan serius, dalam segi sastra, segi kesejarahan dan sebagainya. Ketika kita bicara Pancasila, diskusi juga terus berlangsung di mana-mana. Bhinneka Tunggal Ika adalah prestasi kultural Indonesia.

Apakah tidak ada istilah syiar di Hindu?

Kami punya dharma wacana, tetapi itu tidak untuk mencari penganut baru. Hindu itu saking bebasnya, setiap daerah itu pasti mengekspresikan kebudayaan lokalnya. Hindu Bali itu pasti beda dengan Hindu India.

Nah, meskipun kami punya misalnya 3000 ayat Weda, tapi dibagi dua kolomnya itu ada darma sastra, ada arta sastra. Terus ada empat lagi, ada yajur, adaarta ruwa, ada sama. Ada bagawat gita yang menjadi bacaan anak muda, kemudian ada bacaan untuk calon pendeta, saras musaya.

Nah, kami tidak punya budaya syiar seperti itu, yang diajarkan itu prinsipnya begini; bahwa manusia itu, siapapun dia, seburuk apapun dia, bisa jadi dia saudaramu yang dulu, tapi dia lahir di keluarga yang lain.

Jadi kita nggak mungkin memusuhi seseorang biarpun dia beragama lain. Jangan-jangan itu sepupu jauh kita. Karena kalau diusut-usut secara silsilah ternyata bangsa Indonesia ini sepupu jauh, sepupu dekat, karena ada perkawinan antara Kalimantan, Sumatera, dll ujung-ujungnya gennya sama semua.

Kita masih melihat tradisi di Bali masih begitu kuat, meskipun ia adalah pulau turis. Bagaiman Bali menyikapi “orang luar”?

Indonesia itu kan baru umurnya 60 tahun. Bali itu punya sistem yang sudah teruji 1000 tahun, yang namanya tri kayangan; Ada pariyangan, daerah suci dan pawongan untuk masyarakatnya, kemudian palemahan, tempat yang dianggap tidak suci.

Kemudian dalam konteks hubungan ketatanegaraan atau wilayahnya disebut desa kalapatra. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat Bali. Dan konsepnya itu di Bali itu sangat menghargai perbedaan satu desa dengan yang lain. Ini yang menyebabkan Bali sangat kuat. Dan hubungannya dengan pariwisata Bali itu sudah mulai dari 920.

Sebetulnya di Bali terus terjadi dialog, di Bali pun kritis terhadap perkembangan pariwisata ysng terus-menerus terjadi, tidak seperti yang dibayangkan. Jadi di Bali sebetulnya terus terjadi itu dialog dan mencari solusi itu.

Karena kalau cuma pro-kontra tanpa solusi kan susah. Sama seperti tolak RUU APP ini. anggota DPR kita sekarang ini kan diam, padahal bulan Juni secara teknis tidak mungkin. Dia harus jujur bahwa bulan Juli dia reses dan Agustus dia akan melakukan kerjaan baru. Padahal seharusnya dia melakukan sesuatu yang lebih bagus untuk bangsa ini.

Jadi pansus itu harus mulai jujur terutama kepada pendukungnya supaya jangan dipakai oleh masyarakat lagi untuk saling curiga mencurigai, karena dia tidak bisa menjawab apa yang dia janjikan kepada pendukungnya.

Indonesia saat ini punya pekerjaan yang besar, tapi yang paling penting adalah proses kemanusiaan kita. Saya rasa kita risau ya soal toleransi, hubungan kita dengan satu sama lain. Kita harus percaya tak seorang pun dapat mengkapling surga, dengan paspor kemunafikan dsb, harus memberantas ini atau itu. Karena pelacur juga keyakinan sendiri, preman pun punya keyakinan sendiri dsb, dan kita nggak tahu yang terjadi nantinya. Jangan mendahuluilah.

Karena itu sesungguhnya Indonesia saat ini seharusnya mulai digagas, tapi jangan lagi tafsirnya dari pusat. Kan sekarang mulai Bhineka Thunggal Ika ditafsir-tafsir gini, kenapa nggak kita duduk bersama-sama kita rebut penafsiran Bhineka Thunggal Ika, rebut penafsiran Pancasila di tangan rakyat. Sodorkan kepada pemerintah, dan kita berpegang pada konstitusi dasar.

Dan kita harus kritis kepada DPR kita. Bila perlu kita harus menyadari betul dampak dari demokrasi dan otonomi ini memang akan menghilangkan figur pemimpin yang berpengaruh untuk semuanya. Ini akan menuju proses yang panjang, karena itu bagi komponen rakyat Bali itu sangat berharap bahwa format kebangsaan ini harus diselesaikan, dan setiap daerah harus siap berbeda pendapat.

Jangan kemudian karena ini ingin syariat dsb, kemudian semuanya jadi berprasangka. Yang paling penting adalah terjadi dialog. Dan kita harus ingat Indonesia terbentuk karena kontrak sosial. Kita berdiri karena hasil dari kesepakatan dan dialog.

Jadi kalaupun nanti tidak terjadi kontrak sosial yang baru, itu karena semua merasa semua bagus-bagus karena otonomi daerah. Kalaupun berpisah harus berpisah dengan baik, tetap bertetangga dengan menjaga kemanusiaan.

Kalau misalnya pansus DPR itu tetap mengesahkan RUU ini menjadi UU, bagaimana dengan Bali?

Bali tentu akan memakai etika hukum, karena secara etika hukum, yang paling lucu itu kan RUU ini memberi pengecualian. Lex generalis diberlakukan dalam Lex specialis, itu kan aneh..

Salah satu alasan kuat pendukung RUU APP adalah data peningkatan pemerkosaan; 1 dari 6 wanita di Indonesia sudah diperkosa. Efektifkah RUU ini menangkal pemerkosaan?

Saya rasa RUU APP ini tidak akan efektif untuk menahan laju pemerkosaan, dan saya rasa penelitian itu belum tentu dibuktikan, karena RUU APP tanpa kajian akademik. Dan kita tahu itu bisa bohong.

Buat saya persoalannya bukan hanya pada titik perempuannya. Ada tiga hal yang akan menjadi korban RUU ini; hak asasi ekonomi, hak asasi proses kreatif, dan hak asasi sosial.

Tetapi saya sangat setuju bahwa kita semua risau tentang moralitas di negara kita yang korup ini. Itu yang sebetulnya harus bersama-sama kita dorong kepada elite-elite negeri ini.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.