Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog”
Jeffrie Geovanie (Foto: beritasatu.com)
Jeffrie Geovanie (Foto: beritasatu.com)

Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog”

3/5 (1)

IslamLib – Sebagian orang menemukan jalan menuju Tuhan lewat pemenuhan ritual-ritual agama secara komplit. Sebagian lain menemukannya lewat pergumulan dengan kehidupan sosial yang nyata sehingga membuat hidupnya lebih bermakna. Demikian sekilas perbincangan Nong Darol Mahmada dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Jeffrie Geovanie, pengusaha muda yang kini Direktur Eksekutif The Indonesian Institute, lembaga yang bergerak di bidang kajian kebijakan publik di Jakarta, Kamis (6-2) lalu.

 

Bung Jeffrie, bagaimana pertama kali Anda mengenal Islam?

Ketika usia belasan tahun. Tepatnya ketika SD, saat teman-teman lain bisa bermain-main seusai sekolah pagi, saya justru punya kewajiban ke madrasah al-Wathaniyah dekat rumah. Ketika itu, hal itu tidak istimewa buat saya, karena justru menjadi beban.

Tapi itulah yang mungkin memperkenalkan saya pada Islam. Jadi, kesan pertamanya memang tidak menarik, karena sedari masa kanak-kanak sudah disodori kewajiban tambahan. Kesan saya tentang agama jadi lebih tidak menarik karena saya mengikuti pelajaran-pelajaran madrasah dengan terpaksa, bukan karena ingin tahu. Lebih karena kewajiban saja.

Keterpaksaan itu dikarenakan ibu saya orang Minang yang Islamnya sedikit berlebihan dalam mengajarkan agama pada anak. Karena itu, sejak awal kewajiban-kewajiban itu kita lakukan sebagai bentuk paksaan. Dalam usia 7 tahun, saya juga sudah dipaksa berpuasa. Jadi, tahap pertama saya mengenal agama memang berangkat dari keterpaksaan.

Sanksinya juga keras karena menyangkut kemarahan besar ibu. Bagi saya, itu sudah sanksi yang luar biasa. Saya dari kecil memang diasuh ibu karena ayah sudah almarhum. Jadi bagi kami, apapun kata ibu haruslah dilaksanakan.

Ibu bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan kita. Hari-harinya betul-betul dipenuhi upaya untuk itu. Ibu seorang pegawai negeri, dan gajinya tidak cukup untuk membiayai keluarga. Dia harus bekerja sampingan guna memenuhi semua kebutuhan. Karena itu, apapun permintaan ibu kita tak pernah menolak. Semua kita jalani, meski dengan terpaksa.

Ada pengalaman beragama unik yang berangkat dari kesadaran?

Saya berharap banyak ketika pergi haji tahun 2000 lalu. Saya berangkat dengan istri yang kebetulan tidak berlatar belakang Islam yang kuat. Dari SD sampai SMU, istri saya sekolah di sekolah-sekolah Kristen. Pendidikan agama Islam praktis tidak pernah dia ikuti. Ketika nikah, dia tidak paham bagaimana cara sembahyang, dan juga tidak pernah puasa.

Karena dia orang Jawa, barangkali dia lebih banyak cenderung ke aliran kepercayaan. Jadi, latar belakangnya kira-kira abangan-lah. Nah, ketika akan pergi haji, istri saya mulai belajar ritual-ritual Islam secara mendalam. Dia mau tidak mau harus bisa sembahyang proses ritual haji yang lengkap, dan memahami semua bacaan-bacaan yang harus dijalani.

Nah, ketika berangkat haji itulah saya berharap pengalaman beragama yang terpaksa itu akan sirna. Namun ketika sampai di sana, yang mendapatkan itu justru istri saya yang baru mengenal Islam secara mendadak. Saya justru tidak menemukan suasana itu.

Saya memang telah banyak mendengar cerita-cerita penuh magis, dramatis, dan lain-lain dari orang yang pulang haji. Namun saya agak kecewa karena tidak mendapatkannya. Saya sempat curiga, apakah itu karena saya yang memang tak punya sense, tidak ditakdirkan untuk dapat pengalaman yang menakjubkan itu, atau orang-orang lain yang justru terlalu terbawa rasa dan suasana.

Itulah kecurigaan saja. Tapi jujur saja, saya memang tidak mendapatkan sesuatu yang membuat saya seperti “menemukan Tuhan” ketika haji. Justru istri saya yang kemudian jadi sangat intens menjalani semua tuntunan agama sebagai seorang muslim.

Pernahkah agama menjadi inspirasi bagi Anda dalam menjalankan aktivitas sebagai pengusaha?

Saya baru seolah-olah “menemukan Tuhan” ketika masa krisis tahun 2002. Sebagai pengusaha yang berangkat menjelang krisis, saya sempat mengalami kegamangan antara terus menjadi pengusaha atau coba merambah ke luar lingkungan pengusaha.

Ketika itu, di negeri ini seolah-olah sudah tak ada lagi harapan untuk usaha. Saya sempat lama menetap di Bali ketika itu. Setelah krisis, kita sekeluarga cukup lama tinggal di Bali. Di sanalah saya serasa “menemukan Tuhan”, tepat ketika tidak ada kewajiban rutin; saat hari-hari betul-betul slow. Waktu itu, kegiatan rutin saya hanya me-maintain pekerjaan yang tersisa. Ada beberapa hotel yang saya kelola.

Perasaan itu timbul bukankarena frustrasi atau tak ada harapan lagi untuk membesarkan apa yang menjadi cita-cita saya, tapi lebih karena ada koreksi diri. Ternyata, tidak punya kewajiban rutin tiap hari itu memang tidak menyenangkan. Sejak di Bali, saya memang tak punya kewajiban rutin untuk berpikir bagaimana membangun sesuatu yang baru.

Saya hanya mengelola sesuatu yang sudah ada, dan itu tidak memerlukan banyak waktu karena sudah dijalankan manajeman dan operator. Akibatnya, setiap bangun tidur, saya merasa tidak ada lagi sesuatu yang harus dikejar.

Nah, di masa-masa penuh tanda tanya menyangkut apa yang harus saya lakukan itulah saya merasa seperti menemukan Tuhan. Lalu saya yakin, sebagai manusia, kita tidak mungkin menikmati hidup dalam konteks tertentu saja. Waktu itu, saya hanya main golf.

Padahal mestinya, kita punya tanggung jawab lain yang bukan beban, tapi bisa menjadi sesuatu yang juga menguntungkan. Saya lalu terlibat aktif di Muhammadiyah Propinsi Bali, dan mulai merasa menemukan sesuatu yang lebih lengkap di dalam hidup.

Dari situ saya kembali punya gairah hidup luar biasa. Bukan untuk hidup dalam pengertian mencari materi, tapi juga dalam berkarya. Saya lalu ikut membantu Partai Amanat Nasional (PAN), aktif di Muhammadiyah, dan terlibat juga ketika Pak Amien Rais mencalonkan presiden. Suasana membantu aktivitas baru itu adalah suasana yang begitu hidup.

Ada aktivitas rutin yang kita jalani, dan itu menyenangkan. Jadi, saya serasa “menemukan Tuhan” tanpa perlu jauh-jauh ke Arab Saudi sana. Saya setuju bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Sebagian orang menemukan-Nya di Mekkah dan perlu biaya untuk itu. Tapi sebagian lagi ternyata tak perlu biaya untuk ketemu Tuhan.

Jadi seperti menemukan Tuhan lewat medium lain, ya?

Ya, sebab ada lapangan pengabdian yang bisa kita jalani secara ikhlas, dan itu menyenangkan. Dari situ saya juga bisa mengenal banyak hal dan banyak karakter manusia. Saya lalu paham kalau organisasi-organisasi seperti itu bukan untuk hidup, meski banyak juga orang yang hidup dari situ.

Saya juga lebih bisa mengenal karakter macam-macam orang yang memberi tantangan menarik untuk bisa survive di lingkungan seperti itu. Tantangan-tantangan seperti itu yang sampai hari ini membuat saya punya arah dalam menjalani hidup yang lebih berkualitas. Walau saya mungkin saja tidak menemukan Tuhan sesungguhnya, namun saya bisa tetap enjoy karena hidup saya yang lalu tidak seberkualitas dan sebermakna hari ini.

Apa gambaran Anda tentang Tuhan, dan bagaimana cara berdialog dengan diri-Nya?

Saya agak sulit menjawab bagaimana konsep Tuhan. Tapi bagi saya, Tuhan tetaplah sesuatu yang gaib. Saya memahami Tuhan sebagai sesuatu yang tak pernah bisa disentuh. Namun dalam menjalani hidup kita, posisi-Nya ada di cara berdialog dengan diri kita sendiri, seperti konsep Kejawen.

Sebagian kalangan Kejawen lebih baik dalam menjalani hidup karena kuatnya proses pengelolaan dan dialog dengan diri mereka masing-masing. Proses dialog dengan diri mereka sendiri itulah yang menuntun mereka untuk menjalankan dan mengikuti tuntunan hidup secara lebih baik. Itu mungkin padangan konsep Kejawen.

Dalam berislam, bagi saya Tuhan adalah proses dialog itu sendiri. Artinya dia adalah sesuatu yang tidak bisa saya sentuh, tetapi saya bisa berdialog dengan-Nya, walau yang saya jalani sebenarnya adalah proses dialog dengan diri saya sendiri. Tapi mungkin saja Tuhan ada di mana-mana. Nah, pada saat itulah saya menjadikan Dia sebagai tujuan. Inilah proses menuju itu.

Namun itu bukan sesuatu yang pokok bagi saya, karena yang paling penting adalah berdialog dengan diri sendiri. Dengan itulah saya menyadari bahwa tanggung jawab kemanusiaan kita sesungguhnya bukan hanya lewat pemenuhan kebutuhan pribadi.

Tanggung jawab kemanusiaan itu juga kesadaran akan kenyataan bahwa kita hidup sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan orang lain, bukan semata-mata atas dasar kebutuhan, tapi atas dasar kesadaran sebagai makhluk sosial.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.