Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog”
Jeffrie Geovanie (Foto: beritasatu.com)

Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog”

3/5 (2)

Tampaknya Anda punya pemahaman tentang Tuhan yang agak nyata, bukan Tuhan yang gaib. Sepertinya bertolak belakang dari latar belakang perkenalan Anda dengan agama yang berkesan terpaksa…

Saya kira tidak bertolak belakang. Sebab proses perkenalan saya dengan agama pertama kali itu tidak membuat saya larut. Perkenalan pertama itu lebih saya pahami sebagai perkenalan akan syariat, ritual yang harus saya ikuti ketika masih kanak-kanak.

Tapi sekarang, saya lebih ke substansi; condong pada bagaimana punya pertanggungjawaban sebagai manusia. Bentuk pertanggungjawaban itu lebih memberi arti buat hidup saya.

Ini mungkin juga sama dengan perkembangan pemahaman saya tentang surga dan neraka. Di masa kanak-kanak, saya diberi bacaan-bacaan yang menakutkan tentang neraka, juga tentang begitu indahnya surga. Nah, dalam perjalanan hidup yang kemudian, saya tidak memahaminya seperti itu lagi.

Surga bagi saya ada ketika kita bisa meninggalkan dunia dengan nama baik buat anak-anak, istri, dan keluarga. Orang mengenang kita sebagai orang baik yang bermanfaat buat orang lain. Neraka adalah ketika kita tidak berbuat apapun, atau berbuat buruk dalam hidup; ketika orang menista kita sesudah kita tak ada lagi. Itulah sebenar-benarnya neraka bagi saya.

Konsep keberagamaan seperti apa yang Anda jalankan untuk memenuhi kedahagaan spiritual pribadi?

Ilustrasinya barangkali begini. Banyak orang yang nyaman ketika mereka telah melakukan rukun Islam yang lima. Ketika telah memenuhi itu semua, mereka merasa telah lengkaplah diri mereka sebagai manusia. Di situlah mereka merasa telah memiliki hubungan tertentu dengan Tuhan. Konsep saya barangkali tak seperti itu.

Saya lebih melihat apa yang bisa saya lakukan dan berikan pada lingkungan tempat saya beraktivitas. Itulah sebenarnya bentuk proses saya bertemu Tuhan. Dengan itu, saya jadi punya tanggung jawab dan beban, serta berusaha menjalaninya secara lengkap dalam proses berhubungan dengan Tuhan.

Sampai sekarang, saya masih aktif sebagai Wakil Ketua Lembaga Politik dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah. Dulu saya pernah aktif di PAN. Dalam pelbagai keterlibatan tersebut, saya tak pernah berangkat dari konsep yang mungkin diyakini banyak pihak.

Banyak orang masuk partai untuk mendapat kue-kue partai seperti jabatan di eksekutif ataupun legislatif. Saya tidak punya pandangan seperti itu. Yang saya yakini, saya merasa dapat berbuat atau lebih tepatnya melakukan sesuatu yang baik, atau bisa mempengaruhi partai agar lebih baik.

Karena itu, saya tak pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR atau jabatan lain-lain. Saya justru maju sebagai calon gubernur Sumatera Barat (Sumbar) tahun lalu ketika sudah tak lagi di partai. Saya maju atas permintaan beberapa pengurus Muhammadiyah dari tingkat cabang sampai wilayah Sumbar. Saya maju lebih karena pertimbangan Muhammadiyah.

Sebagai kader, saya merasa harus menunaikan permintaan itu semaksimal mungkin. Saya memang tak percaya bisa memenangkan pemilihan. Saya juga telah menyampaikan kalau memang berat memenangkan pemilihan, sementara saya baru datang ke Sumbar ketika berusia 27 tahun. Saya lahir dan besar di Jakarta, sementara orang Sumbar tidak mengenal saya sampai saya dicalonkan.

Saya dulu lebih dikenal sebagai orang Bali atau orang Jakarta. Tapi waktu mencalonkan diri, saya merasa apapun yang kita lakukan akan punya nilai-nilai tersendiri. Kita memang tak punya kemampuan untuk tahu investasi mana yang akan berbuah.

Karena itu saya jalani saja. Dan saya telah merasa mendapat buahnya meskipun tidak memenangkan pemilihan. Buahnya adalah: saya lebih mengenal Sumbar, tempat lahir ibu saya, lebih lengkap dari ibu saya sendiri. Sebab, saya mengunjungi hampir seluruh kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.

Bung Jeffrie, waktu kecil Anda merasa terpaksa belajar agama. Bagaimana Anda sekarang mengajarkan agama pada anak-anak Anda?

Kalau di Indonesia ada sekolah yang tak ada pelajaran agamanya, saya lebih suka anak saya sekolah di situ. Biarlah agama saya yang ajarkan. Bukan apa-apa, sebab saya merasa beruntung selamat dalam menjalani masa kanak-kanak walau diajarkan agama dengan cara yang begitu menakutkan.

Sekarang, saya memberi pengajaran pada anak-anak tidak lagi dengan memaksa, tapi membuat mereka paham bahwa dalam hidup ini ada norma-norma yang mesti mereka pahami dan patuhi. Ada norma sosial, norma agama, dan norma lainnya untuk hidup lebih baik.

Dengan segala macam norma itu, dia tidak boleh menipu atau menyakiti orang lain. Saya lebih menekankan aspek etik kehidupan pada anak-anak. Karena lahir dalam keluarga muslim, saya juga menjelaskan kewajiban-kewajiban yang mungkin tidak bisa dikompromikan baginya sebagai muslim. Misalnya, ada 5 rukun Islam yang tak boleh dinegosiasi lagi.

Saya juga biasa mengajak berdiskusi apakah dia mau melakukan itu. Namun saya tidak akan memaksa mereka untuk melakukan itu. Kalau dia merasa itu bukan beban, saya akan persilakan dia melakukannya. Semua harus dia jalankan atas dasar kesadaran. Cara itu akan jauh lebih bermakna dibanding ketika dia melakukannya atas dasar keterpaksaan yang menjadi kebiasaan.

Yang hendak saya tekankan, ketika semua berangkat dari keterpaksaan, maka apa yang kita lakukan juga sebuah keterpaksaan. Ketika tidak ada paksaan lagi, kita sebenarnya akan cenderung meninggalkannya. Karena itu, anak-anak saya tidak akan saya minta sesuatu dengan cara paksa.

Biarkan dia melakukan itu karena dia ikhlas ingin melakukannya. Kalau saya bilang, “sebagai muslim, kamu harus sembahyang 5 waktu”, lalu dia mau dan enjoy melakukannya, saya akan mendukung. Tapi kalau dia masih enggan, saya anggap itu bagian dari proses hidup untuk bisa lebih memilih.

Kebetulan, kini anak saya tidak sekolah di sekolah negeri ataupun swasta Islam. Dia sekolah di tempat swasta Kristen. Saya tidak takut anak saya akan berpindah agama, sebab dari TK pun dia sudah bisa membedakan mana agama sekolahnya dan mana agamanya di rumah.

Dia sudah paham itu sejak dini. Justru yang saya khawatir satu hal: saya berlebihan mengajarkan Islam, sehingga dia berpikir, “kok yang di sini kejam sekali, sementara yang di sana penuh kasih?!” Karena itu, saya mengimbanginya dengan ajaran Islam yang penuh kasih. Dengan begitu, dia enjoy dengan agama yang dia dapat di rumah karena yang diberi memang kasih-kasih juga.

Pernahkan anak Anda tidak merasa nyaman sekolah di tempatnya sekarang?

Anak saya justru tak mau pindah karena sudah masuk di situ sedari TK (Sekolah Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang). Padahal, sekolah itu jauh dari rumah. Dia bilang sudah menikmati. Saya tanya: gimana pelajaran agamanya? Dia bilang tak ada masalah.

Sebagai minoritas, dia justru merasa lebih diperhatiakn. Jadi tidak ada persoalan sama sekali. Tidak ada fobia kristenisasi dan lain-lain. Dari TK sampai sekarang, anak saya tak pernah mengeluh soal pemaksaan apapun untuk ikut ritual-ritual agama lain.

Misalnya soal kunjungan ke Kapel. Anak saya ikut lebih karena ingin tahu, bukan karena dipaksa guru. Di masa kanak-kanaknya, istri saya juga pernah seperti itu. Toh begitu, ketika kawin dengan saya, dia tetap bisa melaksanakan semua syariat Islam dengan cara sebenarnya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.