Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Pengalaman Saya Dengan Alkitab
Jerusalem

Pengalaman Saya Dengan Alkitab

4.52/5 (249)

IslamLib – Saya sudah lupa kapan persisnya saya, untuk pertama kali, menyentuh Alkitab atau Injil. Saya benar-benar  memaksudkan “menyentuh” di sini dalam pengertiannya yang harafiah: menyentuh Alkitab sebagai buku. Tetapi, yang masih saya ingat dengan jelas hingga sekarang ialah, saya pernah merasa ketakutan ketika pertama kali melihat fisik Kitab Suci orang Kristen itu. Saya gentar untuk menyentuhnya. Cemas: jangan-jangan iman saya terkotori.

Perkenalan saya dengan Injil untuk pertama kali terjadi waktu saya masih di pesantren di Kajen, Pati. Ada seorang santri yang membawa buku-buku polemik kristologi yang ditulis oleh seseorang yang bernama KH. Abdullah Wasian. Saya tak cukup mengerti saat itu (saya berumur kira-kira lima belas tahun) seluruh yang ditulis oleh Kiai Wasian.

Yang saya ingat hanya kesan selintas yang tercetak di benak saya: Kiai ini pasti orang hebat sekali — bisa menguasai Kitab suci orang-orang “kafir” dan memberikan bantahan terhadapnya. Ada perasaan aman pada diri saya ketika itu, sebab seseorang telah melakukan sesuatu yang maha penting untuk melindungi iman kami, umat Islam, dari keragu-raguan.

Suatu hari, ada buku-buku (lebih tepatnya brosur pendek) yang mampir ke pesantren saya. Tak jelas siapa yang membawa. Yang saya ingat: brosur itu berisi kisah, disertai dengan gambar ilustrasi, tentang kelahiran Yesus (dalam buku itu disebut Isa; mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan di kalangan umat Islam bahwa ini adalah buku yang diniatkan untuk misi kristenisasi).

Yang masih saya ingat dengan persis hingga sekarang dari buku yang “misterius” itu ialah kisah tentang orang-orang majus (orang bijak) dari Timur yang dituntun oleh bintang menuju tempat di mana bayi Yesus berada. Gambar orang-orang majus itu bersujud dan menyembah bayi Yesus masih tercetak di ingatan saya hingga sekarang.

Saya tak ingat detil-detil kisah mengenai kelahiran Yesus yang dikisahkan dalam brosur pendek bergambar itu. Saya juga tak ingat lagi bagaimana perasaan saya menghadapi brosur itu. Saya bahkan, ketika itu, tak tahu bahwa brosur itu mungkin saja alat “kristenisasi” di kampung saya. Saya tak memiliki kecurigaan sama sekali.

Tapi saya merasakan kejanggalan saat membaca tentang orang-orang majus yang sujud kepada bayi Yesus. Janggal, sebab pada pikiran kami umat Islam (dan itulah satu-satunya pengertian yang saya miliki saat itu), tindakan sujud hanyalah boleh ditujukan kepada Tuhan saja, bukan kepada yang lainnya. Tetapi, selebihnya saya tak memiliki perasaan apapun tentang brosur-brosur kristenisasi.

Selama bertahun-tahun belajar Islam di persantren, saya tak pernah melihat wujud fisik Alkitab. Tetapi, pelan-pelan, melalui pengajaran (mungkin lebih tepat disebut “indoktrinasi”?) yang berlangsung cukup lama, terbentuk dalam benak dan pikiran saya semacam gambaran yang menakutkan tentang Alkitab dan Injil.

Buku ini, dalam pandangan saya saat itu, sangat berbahaya; harus dijauhi, harus dihindari sekuat tenaga. Apalagi, saat di pesantren dulu, saya belajar tentang suatu insiden pada masa Nabi di mana dia melihat Umar, sahabatnya, memegang potongan (sahifah) yang berisi bagian-bagian dari Taurat (Perjanjian Lama). Nabi marah dan berkata kepada Umar: Amutahawwikuna fiha ya Ibna ‘l-Khattab!

Kalimat itu kira-kira maknanya adalah: Apakah kalian mau ikut-ikutan bingung di dalam Taurat itu (bersama orang-orang Yahudi dan Kristen), wahai anak al-Khattab (kinayah atau sebutan untuk Umar)? Nabi kemudian menambahkan komentar yang cukup keras dalam bagian berikutnya: Jika Musa lahir kembali, tak ada jalan lain baginya kecuali dia ikut saya.

Kisah-kisah semacam ini, dan keterangan lain yang saya terima dari guru saya selama bertahun-tahun di pesantren dulu, telah membentuk citra yang menakutkan tentang Alkitab. Tentu saja tak ada “indoktrinasi” khusus untuk para santri agar membenci Alkitab. Tak ada. Tetapi juga tak ada anjuran dan insentif untuk mempelajarinya. Apa gunanya mempelajari kitab yang jelas-jelas isinya adalah kekufuran?

Akhirnya yang muncul ialah semacam ketakutan terhadap sesuatu yang tak pernah saya lihat langsung, membacanya langsung, menelaahnya langsung. Takut pada sesuatu yang kurang jelas sosoknya. Dan bukankah ketakutan semacam ini paling mudah dipupuk dan dikembangkan menjadi semacam fobia yang akut?

Pertama kali saya melihat wujud fisik Alkitab adalah saat saya sudah menjadi mahasiswa di Jakarta, dan berkunjung, suatu hari, ke Toko Buku Gramedia di Matraman. Di sebuah sudut yang diberi label “Agama Kristen”, saya melihat sejumlah bacaan tentang Kristen. Tentu saja di sana ada Alkitab. Itulah pertama kali saya melihat kitab yang dulu saya takuti di pesantren selama bertahun-tahun.

Saat melihat sosok Alkitab itu, saya tak berani menyentuhnya. Saya menghindar, dan berlalu menuju ke bagian lain yang berisi buku-buku “sekular” yang tak mengandung bahaya bagi iman saya. Tetapi, setelah berkali-kali berkunjung ke toko buku itu, timbul juga rasa penasaran pada diri saya. Akhirnya, dengan perasaan was-was dan gentar, suatu hari (saya tak ingat kapan) saya memutuskan untuk mengambil langkah yang cukup “menentukan” dalam karir intelektual saya. Saya sentuh kitab itu. Saya buka, dan saya bolak-balik halamannya.

Tak ada kesan khusus saat itu selain rasa takut yang masih menggelayut di benak saya. Tapi saya tak berani berlama-lama memegang kitab orang Kristen itu. Saya segera meletakkan kitab itu di rak, dan berlalu. Setelah itu, selama bertahun-tahun, saya tak pernah lagi menyentuh Alkitab. Juga tak ada insentif dan dorongan khusus untuk membacanya.

Bertahun-tahun setelah itu, saya mulai berkenalan dan aktif dalam kegiatan dialog antar-agama. Mulailah rasa ingin tahu saya muncul kembali untuk membaca dengan serius Alkitab. Pada titik itu, prejudice atau prasangka negatif yang selama ini saya miliki mengenai orang-orang Kristen sudah mulai berguguran. Dalam sejumlah kegiatan dialog antar-agama, saya berjumpa dengan teman-teman Kristen, dan saya menjadi sadar, mereka adalah manusia biasa, seperti saya dan teman-teman Muslim yang lain. Mereka bukan “makhluk lain” yang menakutkan.

Pada titik itulah saya mulai menyentuh kembali dan membaca Alkitab dengan rasa ingin tahu yang besar. Perasaan takut masih tersisa, tapi kalah oleh rasa ingin tahu. Saya memutuskan membeli Alkitab. Saya baca, dan baca, dan baca. Terus terang, saya jatuh cinta pada kitab ini. Kisah tentang penciptaan alam dalam Kitab Kejadian, juga kisah-kisah kelahiran dan pertumbuhan bangsa Israel dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan dan Yosua, terus terang memikat saya.

Kesan yang timbul pada benak saya, setelah berulang-ulang membaca kitab orang Kristen ini kurang lebih sebagai berikut: Inilah kitab yang menerangkan banyak hal yang dalam Quran hanya disebut secara cryptic, sepotong-potong. Setelah membaca Alkitab, sejumlah hal yang dulunya misterius dan kurang jelas bagi saya waktu di pesantren dulu, sekarang menjadi terang-benderang. Terutama ini benar sejauh menyangkut kisah mengenai Musa dan bangsa Israel.

Kita tahu, kisah tentang Musa disebut berkali-kali di Quran. Seperti pernah saya tulis dalam esei yang lalu, Musa adalah nabi bangsa Yahudi yang paling banyak dituturkan di Quran, mengalahkan nabi-nabi yang lain. Tetapi kisah tentang Musa, tentang eksodus atau pelarian bangsa Isreal dari Mesir, tentang masa pengasingan selama empat puluh tahun di gurun (sebelum masuk ke tanah Kanaan), semuanya dikisahkan dengan cara yang sepotong-potong di Quran. Saya tak mendapatkan gambaran yang terang dan jelas mengenai sosok Musa dan rakyatnya.

Melalui Alkitab-lah semua kemisteriusan itu menjadi jelas dan terang. Hal yang menonjol dalam Alkitab (terutama pada Perjanjian Lama) dan langsung menarik perhatian saya adalah aspek narasi di dalamnya. Alkitab memiliki kekuatan yang tak saya temukan di Quran, yaitu narasi atau kisah. Di Quran kita jumpai banyak qasas atau kisah. Tetapi kisah-kisah di Quran diceritakan tidak secara urut, lengkap, dengan “drama” yang memikat pembaca.  Di Alkitab, kisah-kisah tentang bangsa Israel diceritakan dengan cara yang sangat menarik.

Saya bisa menyebut bahwa Alkitab mungkin adalah salah satu kitab suci yang terbaik dari segi “story telling”. Saya langsung teringat cerita Pramudya Ananta Toer waktu berkunjung ke rumahnya di kawasan Utan Kayu pada tahun 90an. Dia berkisah bahwa salah satu cara dia dan teman-teman yang dibuang di Pulau Buru dulu bertahan adalah dengan berkisah. Itulah janin atau embrio yang belakangan mekar menjadi tetralogi Pulau Buru.

Hal serupa kurang lebih terjadi pada proses penulisan bagian-bagian dari Perjanjian Lama. Sebagian dari Perjanjian Lama, terutama kisah tentang asal-usul alam, banjir Nuh, dan kelahiran bangsa Israel, ditulis pada masa pengasingan mereka di Babilonia pada abad ke-7 SM, setelah kota suci mereka Jerusalem dihancurkan oleh raja Babilonia, Nebuchadnezzar.  Salah satu cara bangsa Yahudi untuk bertahan dan menghindar dari kepunahan adalah menulis kisah. Lahirlah Taurat. Story and story telling is a way to survive!

Salah satu kisah tentang bangsa Isreal yang diceritakan dengan cukup panjang dan utuh di Quran adalah kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Bahkan ada sebuah bab khusus di Quran yang diberi nama Surah Yusuf: berisi kisah yang cukup detil mengenai nabi yang rupawan ini. Sementara itu kisah Yusuf diceritakan di bagian akhir Kitab Kejadian (37-50), dengan sangat detil, dan dengan cara yang  jauh lebih dramatis ketimbang kisah serupa yang kita jumpai di Quran.

Saya anjurkan teman-teman Muslim untuk membaca kisah Yusuf ini di Perjanjian Lama. Saya yakin Anda akan menjumpai cerita yang sangat menarik, pelajaran yang memikat, dan melengkapi apa yang sudah kita baca di Quran.

Saya memandang, Taurat, Injil, dan Quran sebagai tiga kitab yang sejatinya tunggal, saling melengkapi, meski masing-masing memiliki “tone” atau “suara” yang agak beda satu dengan yang lainnya. Selama ini yang menghambat umat Islam untuk membaca kitab-kitab sebelum Quran itu ialah anggapan bahwa di alam Alkitab terdapat “tahrif” atau distorsi. Saya akan tulis duduk-perkara di sekitar tuduhan distorsi ini dalam esei terpisah nanti.

Cukup saya katakan sekarang bahwa ketiga kitab itu adalah satu-kesatuan yang saling melengkapi. Seorang Kristen atau Yahudi yang membaca Quran, tentu akan mendapatkan perspektif lain yang bermanfaat dan memperkaya. Begitu juga umat Islam akan mendapatkan pengayaan wawasan dari pembacaan mereka atas Alkitab.

Syaratnya satu saja: Kita siap membuang segala bentuk asumsi dan prasangka keliru yang selama ini kita miliki mengenai kitab suci umat lain. Jika kita bisa membuang prasangka itu, membaca kitab suci agama lain, terutama Yahudi dan Kristen yang merupakan “leluhur” agama Islam itu, akan banyak memberikan pengayaan pengertian, wawasan dan pemahaman kita mengenai warisan Ibrahim.

Dengan membaca kitab-kitab suci agama lain itu, kita akan berjumpa dengan pengalaman “intertekstualitas” (keterkaitan teks kitab suci yang satu dengan kitab suci yang lain) yang lezat, sangat menarik dan memperkaya.![]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.