Home » Gagasan » Pergulatan Iman » “Sein-zum-Tode”: Tentang Kematian
Cemetery

“Sein-zum-Tode”: Tentang Kematian

4.24/5 (34)

IslamLib – Hal yang menakjubkan pada manusia ialah kegigihannya untuk mencapai keabadian, dengan cara apapun. Mungkin karena sadar bahwa dirinya hanyalah jasad yang rentan dan akan lapuk (alias mati) dalam waktu yang cepat, manusia berusaha menjadikan dirinya abadi. Ini bukan keabadian dalam pengertian agama yang biasanya dinisbahkan pada Tuhan. Melainkan keabadian dalam pengertian: kenangan yang terus berlanjut jauh setelah jasadnya punah.

Lahirnya agama, saya kira, berhubungan dengan dua impuls (dorongan) sekaligus dalam diri manusia: ketakutan akan kematian, dan kehendak akan keabadian. Tetapi, kedua hal itu sebetulnya bisa diringkas dalam satu perkara saja, yaitu kehendak akan keabadian. Sebab ketakutan akan kematian hanyalah sisi lain dari kehendak untuk abadi.

Kematian begitu menakutkan bukan sekedar karena ia menghadapkan pada manusia suatu misteri yang sulit diungkap (sebab tak pernah ada seorang yang telah mati, lalu kembali, dan menceritakan pengalamannya tentang “dunia orang mati”). Kematian menakutkan persis karena ia merupakan antitesis atau lawan dari keabadian. Kematian mengakhiri “eksistensi” manusia sebagai jasad yang, seperti organisme lain, tumbuh, berkembang, lapuk, lalu punah.

Sumber ketakutan akan kematian, saya kira, bisa berasal dari arah lain. Manusia tahu, dan dengan demikian juga sadar bahwa dirinya akan punah. Ini kondisi tragis yang tak ada, misalnya, pada binatang. Sebagaimana manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan juga mengalami kelapukan dan kepunahan. Tetapi tak ada ketakutan akan kematian pada binatang (apakah dugaan ini benar?), sebab ia tak menyadari bahwa pada suatu titik dirinya akan punah.

Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh filsuf Jerman Martin Heidegger (1889-1976) sebagai Sein-zum-Tode: wujud yang menyadari bahwa dirinya berjalan menuju kepada kematian, tanpa bisa dihindarkan. Manusia menyadari bahwa dirinya hidup dalam “frame” yang disebut waktu. Kesadaran ini ada secara tak sadar pada semua manusia, meskipun jarang atau tak pernah dikatakan.

Oleh karena waktu memiliki batas, wujud manusia dengan sendirinya memiliki batas pula —finitude. Kesadaran akan batas yang akan mengakhiri manusia sebagai wadag fisik inilah, saya kira, yang membuat manusia begitu gentar berhadapan dengan kematian. Sebab, waktu merupakan antitesis terhadap keabadian. Karena, pada dasarnya, keabadian adalah non-waktu.

Dengan kata lain, kehendak manusia untuk keluar dari “frame” waktu, dan melangkah ke “alam” lain yang “non-waktu”, itulah yang menjadi asal-usul “angst” atau kegelisahan manusia yang begitu mendalam tentang kematian.

Tetapi, kegelisahan manusia pada kematian tak begitu tampak dalam kehidupan publik modern sekarang ini. Menurut saya, ini fenomena yang menarik dan mungkin muncul belum lama berselang. Waktu kecil dulu di kampung, pada era 70an, kematian begitu menakutkan bagi saya dan orang-orang lain. Ini mungkin disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling berkelindan dan memperkuat.

Saat saya kecil dulu, kematian begitu sering terjadi. Ini berlangsung karena kemiskinan dan kurangnya sarana perawatan kesehatan. Insiden ibu yang meninggal karena melahirkan begitu sering saya dengar. Kolera masih sempat saya lihat di desa saya dulu. Kematian begitu mudah hinggap pada setiap rumah karena sarana-sarana teknis dan kelembagaan yang bisa “melindungi” warga dari kematian belum tersedia dengan baik. Yang ada hanyalah Puskemas yang sederhana.

Di tengah-tengah situasi “kematian yang begitu dekat” ini, agama masuk untuk memberikan pertolongan. Aspek ajaran agama yang berkenaan dengan kematian seringkali diulas dan diterangkan oleh kiai dan ustadz kami dulu di kampung. Ini kian menambahkan suasana “angker” dalam kehidupan sosial di sana.

Belum lagi jika kita menyaksikan suasana pekuburan di kampung yang begitu menyeramkan. Suasana keagamaan, kondisi lingkungan, kultur sosial, kemiskinan, dan lembaga perawatan kesehatan yang masih sederhana – semuanya membuat kematian begitu dekat dan menakutkan.

Waktu masih di kampung dulu, saya memiliki satu-dua anggota kerabat yang menderita semacam tekanan batin karena kecemasan akan kematian. Dia bisa menderita sakit begitu mendengar kabar kematian. Yang lebih ekstrim, dia bisa langsung jatuh sakit saat menelan makanan (nasi atau jajanan lain) yang berasal dari upacara selamatan untuk kematian.

Sejak saya pindah ke Jakarta, kecemasan akan kematian tak tampak dalam kehidupan publik. Kematian bukan hal yang menjadi sumber kecemasan yang berlebihan. Saya kira, ini bukan gejala perkotaan saja. Secara umum, saya melihat kecemasan akan kematian telah mulai berkurang pada publik modern sekarang. Penjelasannya saya kira sangat sederhana: sarana perawatan kesehatan saat ini tersedia dengan cukup baik.

Problem kematian karena penyakit, untuk sebagian besar, bisa diatasi, sekurang-kurangnya ditunda. Harapan akan hidup yang makin panjang makin meningkat. “Obat kuat” dijual di mana-mana, memberikan “fantasi” kepada banyak orang bahwa mereka bisa menikmati kebahagiaan seksual dalam waku yang panjang.

Yang menarik: pemakaman umum saat ini bukanlah tempat yang angker seperti dulu lagi. Sejumlah pemakaman bahkan didesain begitu rupa sehingga tampak menyenangkan. Orang-orang yang melakukan ziarah ke makan, saat ini, tak lagi dihinggapi rasa takut.

Sejumlah pemakaman umum di Jakarta bahkan lebih terlihat sebagai taman dengan pemandangan yang menghibur ketimbang sebuah tempat untuk orang-orang mati.

Ingatan akan “wujud yang menuju kepada kematian” (Sein-zum-Tode) seperti diungkapkan oleh Heidegger itu, sekarang, seperti kian menjauh dari kesadaran publik modern. Saya masih “beruntung” mengalami suatu periode dalam kehidupan saya di mana kesadaran itu menjadi pemandangan yang umum di masyarakat. Saya tak tahu, apakah ini suatu keberuntungan atau kecelakaan.

Tetapi, pengalaman itu memungkinkan saya untuk melihat kontras yang akut antara dua corak “kebudayaan”: kebudayaan yang dekat dengan dan was-was akan kematian, dan kebudayaan lain yang merayakan kehidupan dengan gadget, wisata kuliner, nonton film, belanja di mall, dan pernik-pernik kesenangan modern lain yang setiap detik dijajakan melalui iklan yang memikat.

Kontras ini memperlihatkan satu hal kepada saya: manusia memang, sejak dulu, berusaha dengan keras untuk mengatasi ketakutan akan kematian.

Sekurang-kurangnya ada dua cara yang ditempuh oleh mereka. Cara pertama adalah membangun sebuah “fantasi” tentang kehidupan abadi setelah mati. Cara kedua, membangun sebuah “fantasi” tentang keabadian bukan dalam kehidupan kelak, melainkan di sini, dan sekarang.

Fantasi yang pertama lahir dalam bentuk “ajaran” tentang kehidupan kelak setelah mati, bisa berupa agama, filsafat, kebijaksanaan mistik, atau sekedar kisah-kisah yang membahagiakan tentang leluhur yang tinggal dengan damai di “alam lain”.

Cara yang pertama ini ditempuh manusia sejak ribuan tahun lalu. Benih-benih awal kelahiran agama (sekitar 300000 tahun lalu?), konon, bermula dari upacara pemakaman, dan ini pertanda adanya “a concern for the proper treatment and well-being of member of society beyond death’s frontier.” (Bruce Dickson, The Dawn of Belief [1990]).

Cara kedua muncul belum terlalu dalam, melalui bentuk perkembangan teknologi kedokteran yang luar biasa cepat, sehingga sejumlah penyakit yang mengancam akan mengkahiri tubuh manusia dengan lekas bisa pelan-pelan dihalau. Penyakit yang “bandel” karena susah diatasi makin berkurang jumlahnya.

Tantangan terbesar manusia sekarang, saya kira, adalah penyakit yang timbul karena kerusakan sel yang mengancam hidup: yaitu kanker. Cepat atau lambat, penyakit ini, insyaallah, bisa diatasi dengan sangat memuaskan oleh kedokteran modern. Apalagi jika penelitian di bidang embryonic stem-cell bisa dilakukan secara terbuka dan legal.

Kemajuan-kemajuan teknologi kesehaatan ini memberikan “sense of eternity”, rasa keabadian pada manusia modern, walau hanya untuk sementara waktu. Meskipun, menurut sejumlah teman saya yang berkecimpung dalam bidang kedokteran, harapan manusia akan hidup abadi secara harafiah bukanlah kemungkinan yang mustahil secara teknis. Celah ke sana sudah terbuka saat ini.

Tetapi cara-cara teknis menunda kematian ini, saya kira, tetap tak bisa menghilangkan kecemasan akan kematian. Inilah yang menjelaskan kenapa manusia tetap membutuhkan semacam “alat mental” untuk mengatasinya.

Teknologi kedokteran modern memang untuk sebagian bisa sedikit menghalau kecemasan itu. Tetapi ia tak mungkin dihalau sama sekali. Harus ada cara lain yang saya sebut dengan “alat mental” itu.

Ini bisa diwujudkan dengan dua cara, tergantung apakah Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan (teis) atau tidak (ateis). Jika Anda seorang teis, cara yang harus ditempuh sudah disediakan oleh agama: yaitu “bayangan” atau fantasi tentang kehidupan abadi setelah mati. Kematian tidak mengakhiri manusia. Dia hanya mengakhiri tubuh manusia, tetapi bukah roh dan jiwanya. Sebab roh adalah abadi.

Sementara, jika Anda seorang ateis, jalan yang harus ditempuh sudah disediakan oleh sains modern. Melalui sains modern, terutama biologi dan neuro-science, kita menjadi tahu bahwa apa yang disebut jiwa dan roh pada dasarnya hanyalah “mitos” yang berasal dari metafisika tradisional yang tak ada dasarnya dalam sains. Manusia, sebagaimana binatang, akan berhenti sebagai “tubuh”. Kesadaran mental dan “rohaniah”-nya akan berhenti begitu tubuh itu hangus dan punah.

Karena itu, keabadian dalam pengertian “kehidupan kelak” seperti dipahami oleh agama tak lagi masuk akal dalam kerangka sains modern.

Jika demikian, apakah manusia akan mengalami keputus-asaan karena tak ada harapan lagi pada keabadian? Sebab “Sein-zum-Tode” tidak bisa dihindarkan lagi dengan cara apapun?

Bagi seorang teis mungkin saja ada bayangan bahwa kehidupan seorang ateis adalah sejenis kesengsaraan yang tragis dan sekaligus pedih. Sebab cakrawala akan keabadian sudah pudar sama sekali. Yang ada hanyalah “pure finitude”, keterbatasan murni tanpa suatu harapan akan penebusan.

Sebetulnya bayangan semacam ini sama sekali keliru. Seorang ateis bisa membangun suatu sikap “tawakkal” dalam pengertian yang lain. Ini bukan tawakkal dengan cara menyerahkan diri pada Tuhan. Tetapi tawakkal dalam pengertian menerima secara realistis kondisi manusia yang mambadan dan pada akhirnya, sebagaimana makhluk-makhluk berbadan yang lain, akan mati dan punah. Dia tak akan pura-pura mempercayai bahwa akan ada kehidupan lain di balik kehidupan sekarang, padahal, menurut dia, kehidupan semacam itu jelas tidak ada.

Seorang ateis bisa membangun rasa tawakkal dengan bersikap jujur pada kondisi kemanusiaannya sebagai sebuah tubuh yang punya batas, sebuah tubuh yang pelan-pelan, tetapi pasti, akan menuju kepada kematian – Sein-zum-Tode. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan dengan semaksimal mungkin kehidupan yang berlangsung dalam waktu yang pendek itu: making the best out of a short life.

Kesadaran semacam ini bisa menimbulkan rasa tanggung-jawab yang besar untuk berbuat kebaikan yang maksimal bagi kemanusiaan dan makhluk hidup (atau non-hidup) yang lain.

Ini yang menjelaskan kenapa begitu banyak dan sering saya melihat orang-orang ateis yang melakukan tindakan kemanusiaan dengan “passion”, gairah yang begitu besar. Kesadaran akan batas tubuh manusia justru memantik perasaan optimis dengan cara bersikap realistis dan berbuat kebaikan dengan penuh tanggung-jawab kepada orang lain. Inilah, saya kira, cara menghadapi kematian yang sekular.

Apapun cara yang ditempuh, baik agama atau cara-cara sekular, manusia memang menghadapi trauma dan kepedihan berhadapan dengan kematian. Dan dia harus melalukan sesuatu untuk “melerai” perasaan tragis itu. Sebab jika tidak, yang terjadi adalah ketakutan akan kematian yang destruktif sebagaimana pernah saya lihat pada sebagian kerabat saya di kampung dulu. Tanpa diatasi, perasaan semacam ini bisa melumpuhkan manusia, dan membuatnya dirundung malang secara tak berkeputusan![]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.