Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Tentang Iman
Leap of faith.
Leap of faith.

Tentang Iman

4.33/5 (64)

IslamLib – Saya kira tak ada yang lebih tragis melebihi keadaan seperti ini: seorang yang menghadapi sebuah penderitaan hidup, dan pada saat yang sama kehilangan harapan. Orang semacam ini seperti mengalami musibah dua kali. Ia terkena musibah karena penderitaan itu sendiri; tetapi petaka yang jauh lebih tragis ialah dia kehilangan harapan untuk bisa keluar dari kemelut yang sedang menimpanya.

Saya ingin memaknai iman dalam pengertian yang berbeda. Bagi saya, iman bukanlah sekedar iman kepada Tuhan dan hal-hal “gaib” lain sebagaimana didefinisikan oleh para teolog Islam selama ini. Bagi saya, salah satu makna paling penting dari iman ialah adanya harapan dan kepercayaan bahwa sesuatu akan bisa menjadi baik, dengan satu dan lain cara. Harapan ini tetap ada pada seseorang walau keadaan riil sama sekali tak mendukung harapan itu.

Cara kerja iman dan rasio memang sangat berlainan. Rasio bekerja berdasarkan prosedur korelasi sebab-akibat, berasaskan pada logika “because of”: oleh karena begini maka timbul akibat begitu. Sementara iman bekerja dengan prosedur yang justru bertentangan. Cara kerja iman ialah menjaga terus harapan walau keadaan di sekitar kita sama sekali tak menyediakan alasan untuk terus berharap. Iman bekerja melalui logika atau nalar “inspite of”.

Memiliki iman adalah suatu berkah yang besar dalam hidup, sebab dengan demikian seseorang bisa terus berharap walau kedukaan yang mendalam sedang merundungnya. Anda bisa membayangkan, bagaimana nasib seorang yang sedang menderita sebuah penyakit akut dan kronis jika ia atau keluarganya kehilangan harapan untuk sembuh sama sekali.

Dalam situasi yang paling sulit, iman menjadikan seseorang tetap bisa senyum, walau hanya sekilas saja. Ia masih bisa berharap bahwa secercah cahaya mungkin akan segera berbinar di ujung lorong. Walau ujung lorong itu mungkin tak pernah ia ketahui kapan akan tersua. Saya memaknai iman sebagai kepercayaan pada sebuah harapan. Faith is a hope.

Iman yang transformatif, yang mengubah kehidupan seseorang, bukanlah iman yang ia jalani pada saat ia sedang berada dalam situasi yang nyaman. Iman yang langsung menusuk jantung seseorang bukanlah iman yang dialami saat orang itu hidup berkelimpahan secara material. Ini bukan berarti bahwa seseorang yang sedang dalam kondisi nyaman dan bahagia tak butuh iman.

Yang mau saya katakan ialah bahwa iman yang tetap teguh dipegang oleh seseorang pada saat ia terpojok oleh penderitaan hidup yang membuatnya nyaris putus harapan – iman semacam itulah yang benar-benar “life transforming”, mengubah seseorang dari dalam dan menjadikannya sebagai “manusia baru”.

Beriman dalam situasi normal tentu mudah. Menjaga optimisme pada saat grafik kesuksesan hidup kita sedang naik tajam ke atas, bukanlah hal yang istimewa. Tetapi beriman dan menjaga harapan pada saat grafik itu sedang turun drastis, pada saat kemungkian untuk melihat belokan “U-Turn” yang akan membalikkan arah hidup menjadi lebih baik sangat kecil – beriman seperti itu jelas mengharukan. Inilah iman yang akan membuat hidup seseorang menjadi “well examined” (dalam istilah Plato). Hidup yang lolos ujian.

Paul Tillich, seorang teolog Amerika asal Jerman, memiliki istilah yang sangat baik: a courage to be. Keberanian untuk hidup dan ada. Tindakan iman dalam situasi yang serba mudah dan nyaman tak melibatkan keberanian dan kenekatan. Tetapi beriman dalam masa-masa yang sulit, beriman bagi seseorang yang mengalami penderitaan yang nyaris memusnahkan seluruh harapannya, adalah tindakan yang melibatkan keberanian yang tinggi.

Saat ini kita menyasikan kegairahan agama di kalangan kelas menengah kota, di hampir seluruh dunia Islam. Jumlah orang yang pergi ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji/umrah naik terus dari tahun ke tahun. Hewan yang disembelih pada saat hari raya kurban juga bertambah terus dari waktu ke waktu. Gairah agama yang meluap-luap ini di satu pihak tentu menarik, terutama jika ditelaah dari sudut sosiologi dan antropologi. Tetapi juga menimbulkan pertanyaan: adakah iman di sana?

Tentu saja ada iman. Tetapi saya bisa memastikan, ini bukanlah iman yang dihayati seperti gejala orang yang sedang mengidap penyakit flu berat (untuk meminjam deskripsi terkenal dari William James dalam The Varieties of Religious Experience). Iman kelas menengah itu adalah iman yang tampak begitu gampang, serba mudah, sebab didukung oleh biaya yang berlimpah. Tak ada rasa cemas dan penderitaan yang menyertainya karena keadaan hidup yang sedang sulit.

Dengan olok-olok yang sarat sarkasme, Karl Marx pernah mengutarakan pernyataan yang terkenal dalam Manifesto Komunis-nya: bahwa agama hanyalah semacam opium bagi orang-orang miskin. Agama adalah ganja atau narkotik yang menghilangkan kepedihan hidup untuk sementara, tanpa menghilangkan sumber penderitaan itu sendiri.

Walau mungkin ada “niat baik” di balik pernyataan Marx itu (bahwa penderitaan kaum miskin tak bisa diubah semata-mata dengan agama, melainkan harus dengan perjuangan mengubah struktur kekuasaan yang menindas), tetap ada yang kurang “pas” dalam pernyataan itu. Bagi saya, iman membantu orang-orang yang sedang terdampar dalam kedukaan hidup untuk terus memelihara harapan. Dengan harapan itu, dia terus memelihara keberanian untuk mengambil pilihan-pilihan yang sulit dalam kehidupannya.

Saya kira, jika iman dalam agama dipahami ulang dalam pengertian semacam ini, tak ada lagi tempat bagi pembicaraan tentang iman yang sesat dan iman yang lurus. Menurut saya, sangat aneh sekali jika iman menjadi semacam instrumen untuk menimbulkan “penderitaan” pada orang lain dengan cara menempelkan label “sesat” pada mereka. Jelas tak ada iman apapun dalam tindakan semacam ini.

Iman yang menyalakan terus harapan pada saat seseorang menghadapi situasi yang amat sulit dalam kehidupannya, menurut saya inilah yang layak disebut dengan iman yang sebenar-benar iman. Iman semacam ini tak memiliki ruang untuk melakukan eksklusi terhadap orang lain. Iman semacam ini justru membangkitkan rasa simpati dan bela rasa bagi orang-orang yang menderita.

Jika agama ingin menemukan kembali “roh”-nya, saya rasa di sinilah tempatnya. Agama lahir partama kali sebagai suara protes atas situasi yang menimbulkan penderitaan, terutama bagi kelas yang lemah dalam masyarakat. Sejarah iman dalam agama dimulai dari sikap pembelaan pada orang-orang yang lemah itu. Iman bukan berangkat dari istana orang-orang mapan. Melainkan tumbuh dari darah dan penderitaan orang-orang yang sengsara oleh struktur kekuasaan yang zalim dalam di masyarakat.

Oleh karena itu, sudah selayaknya jika iman kita kembalikan pengertiannya saat ini kepada situasi asalnya: yaitu simpati kepada mereka yang lemah dan menderita. Sebab iman adalah kekuatan bagi orang yang sedang berduka. Bukan alat kaum yang sedang “dominan”, berkuasa, mayoritas untuk menegakkan kekuasaannya.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.