Home » Gagasan » Pergulatan Iman » Tuhan, Sains, Agama
Sains dan Agama (Foto: Econolosophy.com)
Sains dan Agama (Foto: Econolosophy.com)

Tuhan, Sains, Agama

4/5 (9)

IslamLib – “Saya ingin mencari Tuhan dengan cara saya sendiri, bukan kata si-A, kata si-B, bukan Tuhannya agama-A, agama-B. Tuhan seperti itu bagi saya tuhan-tuhan palsu. Tuhan yang sudah di-manusiakan, di-konsepkan, di-sifatkan, dimasukkan nilai-nilai non-ketuhanan oleh sebagian orang yang meyakininya. Tuhan seperti itu bagi saya tak lebih dari berhala-berhala abstrak. bukan nilai esensial ketuhanan yang sesungguhnya. Tidak! Tuhan tidak seperti itu! Tuhan tidak serendah itu!”

Inilah mungkin salah satu pergulatan terberat dan terbesar yang pernah saya alami. Peperangan antara nilai spiritualitas versus nilai rasionalitas dalam diri saya. Mungkin beberapa teman pernah mengalaminya. Situasi ini sangat lama saya alami.

Terkadang, dalam pertempuran tersebut sisi spiritual yang menang, yang membuat saya begitu takut akan adanya Tuhan dan keberadaan akhirat. Takut akan kematian dan nasib saya sesudah itu. Kadangkala sisi rasional yang menang, yang membuat saya melupakan Tuhan, yang membuat saya skeptis terhadap agama, yang membuat saya menghapus apa saja sesuatu yang adikodrati dari pikiran saya.

Saya sejenak berfikir, apakah saya gila? Apakah akal saya masih berjalan dengan baik? Atau, ini hanyalah halusinasi belaka? Mungkin para saintis, terutama bidang psikologi, akan mengatakan saya hanya berhalusinasi.

Mungkin karena saya sudah terlalu banyak menerima nilai-nilai keagamaan yang bersifat ritual, dogmatis dan irasional sehingga seolah akal saya mengamuk karena jarang saya pergunakan untuk memahami nilai, doktrin dan ritual-ritual keagamaan secara rasional dan kritis.

Namun di sisi lain ada suatu ketakutan tersendiri dalam diri saya jika saya mencoba bersikap rasional terhadap nilai-nilai dan doktrin keagamaan akibat dari banyaknya pengaruh agama yang besifat dogmatis dalam akal saya.

otak-ads

Saya terlahir dari keluarga beragama yang sebagian besar muslim (atau hampir semua). Saya disekolahkan di sekolah Islami dari pagi hingga sore hari. Di sana saya banyak diajarkan tentang Islam. Tentang sejarahnya, keajaibannya, bahkan kehebatannya dibanding agama-agama lain.

Agama yang benar adalah Islam dan aliran-aliran tertentu dalam Islam dianggap sesat karena telah keluar dari rel yang telah disepakati. Yang menyedihkan, saya hanya diizinkan bersikap rasional terhadap materi pelajaran yang bersifat duniawi. Saya diizinkan bersikap rasional dan kritis terhadap teori gravitasi Newton, konsep tata surya Kepler, teori evolusi Darwin, sejarah G30S/PKI, teori kapitalis Adam Smith, dan lain-lain.

Namun ketika rasionalitas dan kritisisme itu saya pergunakan untuk memahami nilai-nilai serta doktrin ketuhanan dan keagamaan, saya dibungkam sama sekali. Kita tidak diizinkan mempertanyakan al-Qur’an, kenabian Muhammad, meragukan akan adanya akhirat, dan lain-lain (dan saya yakin ini juga dialami oleh teman-teman yang berada di lingkungan yang diklaim agamis).

Saya masih teringat ketika saya duduk di kelas 5 SD sekitar 6 tahun lalu. Saya bertanya pada guru agama saya, “jika Tuhan itu mahabesar, kuat, dan maha pencipta, bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yg lebih besar dan lebih kuat dari dirinya sendiri?” Lalu yang saya dapat bukan jawaban rasional, melainkan bentakan dan omelan.

Saya didoktrin bahwa kita tidak boleh mempertanyakan apa yang disebut sebagai Tuhan, baik zat-Nya, sifat-Nya, atau apa pun yang berhubungan dengan-Nya. Kita harus mempercayai apa yang disebut Tuhan dan kekuatan adikodrati lainnya itu ada, tanpa harus dianalisis, dibedah atau dikritisi secara ilmiah. Saya saat itu sangat takut. Kejadian itu membuat saya tidak berani bersikap rasional dan kritis terhadap agama, setidaknya sampai saya duduk di bangku SMA.

Saat duduk di bangku SMP, bisa dibilang itulah puncak dari sikap fundamentalisme saya terhadap Islam (sebagai agama yang saya yakini satu-satunya yang paling benar). Saya tidak pungkiri itu semua sebagian besar karena pengaruh islamisasi di lingkungan sekolah saya dan sebagian besar hidup saya dihabiskan di sana pada waktu itu. Pengkafiran terhadap orang-orang Ahmadiyah, Komunitas Eden,

Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan Jaringan Islam Liberal, kemuakan terhadap Israel-Yahudi, dan kebencian terhadap tokoh-tokoh pluralisme agama dan kalangan Islam progresif seperti Gus Dur, Musdah Mulia, Ulil Abshar Abdalla, dan Luthfi Asyaukanie adalah sebagian dari beberapa sikap radikalisme saya (terutama akibat pendidikan dari lingkungan sekolah).

Belum lagi pengaruh dari kyai dan ustad yang mengisi sebagai khatib di ceramah-ceramah, dan tabloid Islam yang sering saya beli terutama pada waktu shalat Jum’at. Dari isi ceramah dan artikel tersebut, sangat jelas kita ditekan untuk percaya pada doktrin agama secara menyeluruh tanpa menggunakan akal sehat.

Kalaupun menggunakan akal, tidak boleh kebablasan. Kita diizinkan menggunakan akal untuk memahami agama, namun tidak boleh sampai keluar dari koridor yang sudah disepakati oleh ulama yang bersikap sebagai pemangku mandat dari Allah.

Tetapi saya akui bahwa kebebasan berfikir dan kritis terhadap agama yang sangat dibatasi pada saat saya di SMP tidak begitu terasa pada saat itu. Saya baru menyadarinya pada saat saya duduk di bangku SMA. Terutama ketika saya membaca tulisan dan artikel keislaman yang lebih beragam, baik di internet maupun media massa. Saya baru menyadari betapa sikap kritisisme dalam beragama sangat dibatasi di lingkungan yang agamis.

Silahkan nilai tulisan ini

2 comments

  1. Ingin rasanya mendiskusikan tulisan ini, ๐Ÿ™‚ sangat tertarik dengan pandangan penulis namun saya punya pandangan lain yang mustinya bisa melengkapi walaupun cara pandangnya berbeda. Namun.. bahasan seperti ini saya yakin sekali tidak pas dan nyaman jika dibahas lewat tulisan sahut-sahutan di kolom komen gini kan? ๐Ÿ˜€ Lebih asik dan nyaman jika sambil bertemu, ngopi, dan ngemil2 ๐Ÿ™‚

    salam!

  2. Astaga, kamu baru SMA sdh mengambil kesimpulan begini sementara saya baru “berani” sekarang ๐Ÿ™‚ .. Suka bgt krn
    mengalami proses berpikir yg mirip bgt!

Leave a Reply

Your email address will not be published.