Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pesan-Pesan Cak Nur
Nurcholish Madjid (Foto: andriewongso.com)

Pesan-Pesan Cak Nur

4.06/5 (18)

2013, seorang biksu menegur-sapa saya. Hanya kami yang mengantri menunggu giliran masuk toilet di sebuah gedung mewah di bilangan Jakarta Selatan.

“Malam dek, namanya siapa, kerjanya apa, dari daerah mana?” Tanya biksu tersebut.

“Malam, Pak. Saya Ibnu Rusyd, mahasiswa UNJ. Saya dari Makassar, Sulawesi Selatan.”

Saya yakin bapak ini biksu bukan hanya karena kepalanya botak, tapi karena pakaian khasnya. Seperti pakaian ihram umat Islam yang menunaikan haji, namun berwarna kuning kelabu.

“Dari Makassar ya. Pasti Muslim. Saya senang ada anak muda yang semangat mempelajari dan membela pluralisme, dialog, dan kerukunan antarumat beragama.” Lanjut sang biksu. Memang, malam itu, di gedung tersebut diadakan acara seminar tentang pluralisme agama.

Itu pertama kalinya saya menghadiri seminar yang diselenggarakan yayasan Nurcholish Madjid Society. Pertama kali menyaksikan uraian bernas dan memikat dari Jalaluddin Rakhmat, pertama kali melihat istri almarhum Cak Nur, ibu Omi Komaria, dan pertama kali ngobrol dengan biksu.

“Selepas acara, saya langsung ke lobi utama gedung, Gus.”

“Ada apa di sana Mas?”

“Saya bergegas untuk membeli buku terakhir yang ditulis oleh Cak Nur. Judulnya, Indonesia Kita. Di sinilah awal mulanya wejangan dari Cak Nur, Gus.”

Oooh, jadi wejangan itu tertulis di buku terakhir beliau?” Segera dan buru-buru saya jawab, “Bukan Gus, bukan. Dua hari setelah menghadiri seminar itu dan membaca Indonesia Kita, saya benar-benar ketemu dan ngobrol dengan Cak Nur.” Kafi tambah heran, dan bertanya sambil menepuk lutut saya, “Maksudnya, sampean mimpi ketemu dan ngobrol dengan beliau, Mas?” “Betul Gus, lewat apa lagi, ya lewat mimpi. Yang nampak waktu itu…..”

***

Sebuah kota metropolitan, Jakarta sepertinya. Saya duduk di kursi penumpang bagian belakang sebuah mobil sedan, melaju menyusuri jalan kota. Pandangan saya ke depan, melihat pemandangan gedung-gedung mewah dan lalu lintas modern. Saya baru sadar tidak duduk sendirian, ketika ia menyapa saya. Ya, sangat jelas, di samping kiri saya duduk Cak Nur, mengenakan kemeja, dasi dan jas, dengan rambut yang memutih dan disisir rapi. Saya hanya memberikan senyum padanya, dan beliau berkata pada saya:

Tundalah kesenangan-kesenangan sementara yang semu itu, demi kebahagiaan dan keselamatan yang lebih sejati dan abadi. Ingatlah bahwa khazanah intelektual Islam itu sangat luas, teruslah pelajari, tambah, dan tambah terus pengetahuanmu tentangnya, supaya kamu dapat pemahaman tentang Islam yang benar. Dan untuk keberhasilan dalam hal itu, kuasailah dengan baik bahasa Arab.

Saya mengangguk dan beliau tersenyum. Tanpa berkata lagi, mobil berhenti, dan beliau turun. Sementara setelahnya, saya dan mobil sedan melanjutkan perjalanan.

29 Agustus 2005, Senin, 14:05 WIB, Cak Nur kembali kepada Tuhannya. Telah tuntas skenario hidupnya. Tak ada pesan khusus dari beliau untuk keluarga yang ditinggalkan. “Cuma, sempat bilang mbok anak-anak belajar bahasa Arab supaya bisa memahami Islam dengan benar.” Kata ibu Omi Komaria, istri almarhum.

Semasa hidup Cak Nur sering mengulang-ulang:

Jadilah bambu, jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain. Rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.

Ia seperti mengingatkan bangsa ini, betapa penting menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik. Menahan diri dari kemewahan dan mementingkan pendidikan. “Bila perlu orangtua melarat, tapi anaknya sekolah dengan baik.”

Cak Nur tidak hanya berpesan, tapi menyatakannya dalam kehidupan. Kedua anaknya, Nadia dan Mikail, melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat hingga jenjang master. Kesederhanaan melekat kuat dalam keseharian kehidupannya.

“Itu semua apa, Mas?” Tanya Kafi.

“Itu tadi rekaman saat-saat terakhir Cak Nur dan beberapa pesan yang secara langsung beliau sampaikan kepada keluarganya, dan kepada bangsa kita, Indonesia. Kamu bisa baca sendiri  itu semua, Gus, di Obituari Nurcholish Madjid, Harian Kompas 30 Agustus 2005.”

***

1970, Cak Nur menyampaikan manifesto pembaruannya: Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat. Dihadapkan pada persoalan kualitas versus kuantitas, pesan Cak Nur supaya umat Islam berani berorientasi pada kualitas, mengejar, dan mencapainya. Tidak terpesona dan terpukau pada kuantitas. Dan untuk menggapai kualitas, pesan Cak Nur, umat Islam Indonesia harus membuka mata dan memulai gerakan pembaruan ide-ide. Caranya…

“Lanjutin Mas!” Pinta Kafi.

Pertama, liberalisasi pandangan terhadap ajaran Islam (melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional, dan mencari nilai-nilai yang berorientasi pada masa depan). Kedua, sekularisasi (menduniawikan hal-hal yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan mengukhrawikannya).

Ketiga, intellectual freedom (tidak adanya kebebasan berpikir, membuat umat Islam kehilangan kekuatan maknawi dan kreativitasnya). Keempat, idea of progress dan sikap terbuka (bersedia menerima dan mengambil nilai-nilai [duniawi] dari mana saja asalkan mengandung kebenaran).

“Sudah jam dua pagi, Gus, mending kita tidur sekarang supaya segar pas bangun untuk saalat Shubuh.”

“Oke lah Mas…” Kafi menguap, bangkit menuju kasurnya, berbaring, menutup dirinya dengan selimut tebal, dan “Selamat tidur Mas, aku tidur duluan.”

“Iya Gus.” Sementara saya mendekatkan diri ke pemanas ruangan, bersandar, dan mulai merenung…

***

2016, Samsun, Turki, Medrese-i Suleymaniyye. Di sini saya belajar bahasa Arab yang digunakan dalam kitab-kitab klasik. Ilmu Sharaf (morfologi kata) dengan kitab Amtsilah (Ali ibn Abi Thalib), Bina (Muslim bin Abdurrahman al-Sarmani), Maqshud (Imam Abu Hanifah).

Ilmu Nahwu (gramar) dengan kitab Awamil (Imam Birgiwi), Izhar (Imam Birgiwi), Kafiyah (Ibnu Hajib), Fawaid al-Ziyaiyyah (Mullah Jami). Ilmu Fikih mazhab Hanafi dan Syafi’i. Ilmu Mantik (Logika) dengan kitab Isagoge (Phorphyrius-Atsiruddin al-Abhari), Syamsiyyah. Dan banyak lagi.

2018, kelak kami akan kembali ke Tanah Air…

“Sampean mau jadi pembaru dan intelektual seperti Cak Nur Mas?” Saya kaget, tiba-tiba Kafi bangun dan bertanya begitu.

“Nggak, Gus. Saya nggak mampu buat yang seperti itu. Itu sudah jadi bagian Cak Nur dan kawan-kawannya. Bagian saya, mungkin, adalah mengisi rumah Indonesia yang sudah diperbarui Cak Nur. Cak Nur sudah membangun, kita tinggal mengisinya dengan perabotan indah, dicat dengan warna-warna bagus, lantainya dikasih ubin, dan diisi kegiatan pendidikan yang mencerahkan bangsa Indonesia. Kira-kira seperti itu, Gus.” []

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.