Home » Highlight » Agama dan “Dosa” Kolektivitas
agama

Agama dan “Dosa” Kolektivitas

4.48/5 (21)

IslamLib – Ketika manusia berdiri sendirian, di luar kolektivitas atau kelompok, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan di sana. Tetapi begitu dia menghimpun diri dalam perkumplan besar, dalam sebuah kolektivitas yang disebut organisasi, partai politik, komunitas agama, gerakan massa, dan bentuk-bentuk perhimpunan yang lain, maka perkaranya menjadi lain. Bisa serius, bisa tidak, tergantung situasinya.

Konon manusia disebut sebagai makhluk sosial. Para filsuf Muslim menyebutnya dengan ungkapan seperti ini: al-insan madaniyyun bi al-tab’, manusia secara natuur dan watak adalah makhluk “sipil”, dalam pengertian “warga” yang berhimpun dalam sebuah komunitas. Untuk mencapai tujuan-tujuan bersama yang lebih besar dari dirinya sendiri, serta memiliki jangka waktu yang lebih lama, manusia bisanya membentuk perkumpulan. Dia harus mencari manusia lain, berserikat dengannya, dan membentuk sebuah kolektivitas.

Berdiri sendiri sebagai sebuah individu, manusia bisa musnah kapan saja tanpa melakukan hal apapun yang bermakna dalam skala waktu yang panjang. Tetapi dalam sebuah kelompok yang besar, manusia bisa melakukan hal-hal besar yang menakjubkan dan dikenang sepanjang masa. Dalam sebuah kolektivitas, manusia bisa menciptakan semacam “keabadian”. As a member in collectivity, human being may achieve immortality!

Tetapi, kolektivitas adalah makhluk yang berwajah ganda. Dia bisa memfasilitasi pelbagai hal baik. Dia bisa membuat hal-hal yang positif dan bajik dalam diri manusia keluar, terealisasi secara maksimal. Tetapi, kolektivitas juga bisa menjadi sebuah “dosa”. Apalagi jika kolektivitas itu berupa himpunan manusia yang berkumpul karena alasan agama. Hal-hal yang destruktif bisa muncul dari sana.

Hari-hari ini, kita sedang menyaksikan potensi-potensi destruktif, tendensi-tendensi yang sangat primitif dan hewani dalam diri manusia keluar semuanya, dalam bentuk yang menjijikkan karena manusia memutuskan untuk membentuk perkumpulan dengan alasan agama. Dalam hal ini adalah agama Islam.

Apa yang saya maksud dengan potensi-potensi destruktif di sini adalah kebencian yang dirawat oleh sebagian kalangan Islam terhadap kelompok-kelompok yang mereka anggap menyimpang seperti Syiah dan lain-lain. Hari Kamis, 12/11, yang lalu, sebuah bom bunuh diri meledak di kawasan selatan Lebanon, kawasan di mana komunitas Syiah tinggal. Ada 53 orang yang mati dalam insiden itu, dan lebih dari 200 lainnya yang terluka. Sehari setelah itu, hari Jumat 13/11, serangan dalam skala yang lebih besar menimpa kota Paris.

Serangan-serangan terhadap komunitas Syiah terjadi bukan saja di Lebanon. Serangan serupa pernah kita saksikan terjadi di Irak, Saudi Arabia dan negara-negara Teluk yang lain. Gaung konflik Sunni-Syiah ini kita rasakan di negeri kita juga. Ada sentimen anti-Syiah yang dikobarkan secara agresif di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan ada gerakan khusus anti-Syiah yang disebut ANNAS yang tampaknya ingin mereproduksi konflik sektarian di Timur Tengah di Indonesia.

Pertanyaan yang patut kita ajukan di sini ialah: Kenapa manusia yang berhimpun dalam sebuah kolektivitas dan diberi nama Sunni atau Syiah ini bisa terlibat dalam kebencian yang “menjijikkan” seperti ini? Padahal keduanya mendaku sebagai sebuah kolektivitas yang mendasarkan diri pada Quran yang mengajarkan perdamaian dan cinta kasih?

Saya kira penjelasannya tak bisa dicari dalam ajaran moral semata. Ajaran moral yang tertuang baik di Quran dan hadis, tak ada satupun yang mengajarkan kebencian antar kelompok dan sekte dalam Islam. Yang ada di sana justeru ajaran tentang damai dan kasih sayang. En toch demikian, umat Islam, sepanjang sejarahnya, terlibat dalam konflik sektarian dan golongan yang tak berkesudahan, sejak zaman sahabat Nabi hingga sekarang.

Saya kira, kita bisa menjelaskan fenomena ini dari sudut lain, yaitu dengan menelaah watak kolektivitas manusia. Ketika manusia memutuskan untuk tidak sendirian, keluar dari kepompong individualitasnya, dan menghimpun diri dalam sebuah kolektivitas, membentuk jamaah, di sanalah dimulai babak baru dalam kehidupannya. Reinhold Niebuhr (1892-1971), teolog Amerika yang terkenal, membuat analisis yang sangat menarik mengenai fenomena kolektivitas ini dalam bukunya yang berjudul Moral Man and Immoral Society: A Study of Ethics and Politics (terbit pertama kali pada 1932).

Niebuhr membuat kontras antara individu dan kelompok. Individu mempunyai kapasitas untuk mengembangkan kualitas-kualitas terbaik secara relatif cepat: rasionalitas, simpati, solidaritas dan kualitas-kualitas bajik yang lain. Manusia sebagai individu mampu mengangkat dirinya tinggi-tinggi ke atas, ke derajat yang oleh Niebuhr disebut “moral man”, manusia yang bermoral. Catatan: bahasa yang dipakai Niebuhr memang masih mengandung bias gender: man. Sebab dia menulis buku ini pada 1932 ketika isu gender belum menjadi sensitivitas umum di Barat.

Tetapi manusia sebagai “kelompok”, sebagai “groups”, tidak memiliki kapasitas yang sama, atau sekurang-kurangnya tidak bisa mengembangkan kapasitas moral secepat individu. Manusia sebagai individu bisa mengembangkan diri sebagai makhluk yang bertindak rasional. Tetapi dalam sebuah kelompok, manusia bisa berubah brutal dan bertindak irrasional.

Orang-orang ISIS yang melakukan pembunuhan brutal itu mungkin akan tampak lain jika dia sudah berdiri sendiri sebagai individu. Sebagai individu, mereka mungkin sama dengan yang lain: manusia yang ramah, rasional, penuh simpati pada yang lain, dsb. Tetapi begitu masuk dalam sebuah kolektivitas besar bernama “Islamic State” (IS), anggota ISIS itu bisa berubah total, menjadi “makhluk baru” yang bengis dan jauh dari gambaran kita tentang manusia yang wajar.

Demikian juga dengan individu-individu Muslim yang lain. Saat kita berhadapan dengan seorang individu yang kebetulan beragama Islam-Sunni, kita akan berjumpa dengan manusia biasa yang sangat masuk akal, rasional, sama dengan manusia-manusia pada umumnya. Tetapi begitu dia melibatkan diri dalam kolektivitas besar bernama “Muslim Sunni”, dia masuk ke dalam sebuah identitas besar yang memiliki logika dan mind-set sendiri. Dia bisa berubah (saya katakan “bisa”, bukan “niscaya” atau “pasti”) dari individu yang ramah menjadi makhluk yang tiba-tiba mengobarkan kebencian kepada kelompok lain yang memiliki “garis teologi” yang tak sama dengan dirinya.

Niebuhr menulis kalimat yang sangat instruktif dalam bukunya yang sudah saya kutip di atas: In every human group there is less reason to guide and to check impulses, less capacity for self-transcendence, less ability to comprehend the needs of others and therefore more unrestrained egoism than individuals, who compose the group, reveal in their personal relationships.

Pada kolektivitas manusia, ada kelambanan dalam perkembangan kualitas-kualitas moral. Karena itu, seorang individu bisa mengembangkan diri sebagai “moral man”, tetapi manusia sebagai sebuah kelompok tetap terjebak dalam situasi “immoral society”. Ini yang menjelaskan kenapa banyak orang tak menduga bahwa individu-individu Muslim tertentu yang tampak sebagai manusia yang rasional, baik, sering ikut jamaah di musallah kompleks, tiba-tiva menjadi pelaku  bom bunuh diri. Bagaimana bisa?

Penjelasannya adalah: masyarakat atau kolektivitas memiliki logika sendiri. Saya ingin menyebutnya sebagai “etos kawanan” atau ego kelompok. Begitu masuk ke sebuah kolektivitas, manusia tiba-tiba merasakan sesuatu yang lain: dia harus mempertahankan “maruah” atau harga diri kelompok. Atau, kalau mau meminjam istilah yang populer di kalangan militer, l’esprit de corps, jiwa korsa, semangat kelompok.

Begitu masuk dalam sebuah kolektivitas besar, manusia tiba-tiba kembali menjadi “binatang” dengan tendensi-tendensi primitifnya, kecenderungan-kecenderungan brutalnya, untuk menjaga kelompoknya dari ancaman kelompok lain yang mungkin ia anggap sebagai predator. Padahal, sebelum masuk kelompok, manusia bersangkutan adalah individu biasa yang sangat “sensible”, murah hati, murah senyum dan penuh simpati. A moral human being!

Inilah yang saya sebut sebagai “dosa” kolektivitas. Gus Dur kerap mengisahkan joke berikut ini mengenai Iblis. Saat ditanya oleh Tuhan: Apa yang akan engkau lakukan untuk menyesatkan manusia, wahai Iblis? Jawab Iblis sangat mengejutkan: Saya akan goda mereka untuk mendirikan masjid dan membentuk organisasi.

Ini tidak berarti bahwa kolektivitas dan organisasi dalam dirinya adalah sesuatu yang buruk. Seperti yang sudah saya katakan di depan, manusia bisa mencapai hal-hal yang besar dan abadi melalui sebuah kolektivitas dan perkumpulan. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam kolektivitas juga terkandung “iblis” yang bisa mengubah manusia dari “a moral human being” menjadi “a brutal beast”, binatang yang buas.

Inilah zaman ketika kita melihat contoh-contoh degenerasi manusia menjadi binatang buas hampir setiap hari, melalui kampanye anti-Syiah, anti-Ahmadiyah, dsb. Gara-garanya satu: karena manusia memutuskan untuk membuat perkumpulan.

Jadi hati-hati dengan organisasi![]

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

One comment

  1. Some really great blog posts on this internet site, thank you for contribution. “Better shun the bait, than struggle in the snare.” by John Dryden.

Leave a Reply

Your email address will not be published.