Home » Gagasan » Pluralisme » Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama
dialogo_COVER

Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama

2/5 (1)

Mewujudkan persaudaraan—atau dalam bahasa agama disebut silat-u ‘l-rahm (saling memberi kasih-sayang atau saling cinta)—adalah kewajiban setiap umat beragama. Biasanya istilah ini dipakai dalam hubungan keluarga, maupun kelompok. Tapi bisa juga diperluas dalam bingkai kemanusiaan.

Dasar silaturahmi adalah persaudaraan (ukhuwwah), yang biasanya dipakai dalam konteks persaudaraan sesama orang beriman (ukhuwwah islamiyyah), merentang kepada persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah).

Ayat Alquran surah al-Hujurat (49:10-12) menggambarkan segi prinsipil dan teknis pelaksanaan persaudaraan ini. Ayat panjang ini menggambarkan bahwa persaudaraan di antara orang-orang yang beriman secara teologis adalah idaman terbesar umat Islam.

Tetapi menurut Alquran itu hanya bisa dicapai jika etika pergaulan antarmanusia diwujudkan dengan tidak saling memperolok, menertawakan, berprasangka, memata-matai, dan saling menggunjing. Dalam ayat di atas juga digambarkan bahwa orang beriman itu bersaudara.

Biasanya pandangan eksklusif memaksudkan orang beriman di sini adalah orang-orang muslim saja, yaitu golongannya sendiri. Tapi pembacaan inklusif yang memberi ruang pada paham pluralisme antaragama dewasa ini memberikan penekanan “orang yang beriman” di sini sebagai orang yang percaya dan menaruh percaya (trust) kepada Tuhan. Karena itu, kata “muslim” yang dipakai disini pun, bisa dipakai dalam arti generiknya, yakini “orang-orang yang memasrahkan hidupnya kepada kehendak Allah,” tak peduli apa agama formalnya.

Pandangan-pandangan keagamaan yang memberikan ruang kepada toleransi tampaknya semakin penting disosialisasikan, agar apa yang kita sebut “Pentingnya Menghubungkan Tali Kasih Sayang Antar Umat Beragama” menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan tanpa ada stigma atau hambatan teologis. Padahal dalam surah Ali Imran (Q.S. 3:64), Alquran jelas-jelas menganjurkan kita mencari titik temu (kalimat-un sawa’).

Anak-Cucu Adam

Dari sudut pandang agama, kita semua disatukan dalam keluarga anak-cucu Adam (Banu Adam). Alquran memakai terma ini dalam menegaskan bahwa Tuhan telah memberi kehormatan dan martabat kepada anak-cucu Adam. Memberikan kepada kita semua kekayaan fisik, intelektual, moral, spiritual.

Dan dari semua potensi itu, anak-cucu Adam diciptakan dari segi spiritual yang sama yang bisa dipakai, diperkaya, dan dikembangkan oleh setiap pribadi untuk masing-masing kehidupannya yang khas, termasuk berkembang berdasarkan petunjuk agama masing-masing (Q.S. Al-A`raf, 7:172).

Ayat dalam surah al-A’raf itu sering disebut sebagai ayat “perjanjian primordial” manusia dengan Tuhan. Dasar spiritualitas manusia yang paling pokok: Kita mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Tuhan semesta alam, dan kita juga mengakui adanya kewajiban kita kepada-Nya, yang terbawa oleh kodrat kita yang fitrah.

Dan kewajiban itu bukan hanya segi-segi transendental, tetapi lebih-lebih kewajiban sosial terhadap sesama manusia. Dalam frase agama, iman dikaitkan dengan amal-saleh (yaitu kerja-kerja kemanusiaan).

Dalam sebuah analisis, Dr Fathi Osman dalam bukunya The Children of Adam, kata “Anak cucu Adam” (banu Adam) disebut dalam Alquran tujuh kali, yang bisa dibandingkan dengan kata manusia (insan) dalam bentuk tunggal 65 kali; manusia (ins, basyar) 54 kali, dan manusia (nas) dalam bentuk jamak 239 kali dan secara langsung dikemukakan sebanyak 19 kali.

Sedang kata “mereka yang telah memperoleh keimanan” atau “orang-orang mukmin” dirujuk dalam bentuk-bentuk tunggal atau jamak (mukmin, mukminun, man amana, alladzina amanu) dalam beberapa tempat dalam Alquran.

Banyaknya ungkapan ini menegaskan kepedulian Alquran kepada manusia dalam keseluruhannya, bersamaan dengan penyebutan “orang-orang yang telah memperoleh keimanan” atau “orang-orang mukmin” secara khusus. Ini berarti bahwa mewujudkan ikatan silaturahmi dan tali persaudaraan antaragama memang merupakan kewajiban kita sebagai umat beragama (Q.S, 49:13).

Di Hadapan Allah

Ide toleransi dan pluralisme antaragama, sebenarnya akan membawa kita kepada paham “kesetaraan kaum beriman di hadapan Allah.” Walaupun kita berbeda agama, tetapi iman di hadapan Allah adalah sama. Karena iman menyangkut penghayatan kita kepada Allah, yang jauh lebih mendalam dari segi-segi formal agama, yang menyangkut religiusitas atau bahasa keilmuan sekarang spiritual intelligence.

Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama, adalah pandangan bahwa siapapun yang beriman—tanpa harus melihat agamanya apa—adalah sama di hadapan Allah. Karena Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.

Dari segi teologi Islam, harusnya ini tidak menjadi masalah. Alquran menegaskan bahwa keselamatan di hari akhirat hanya tergantung kepada apakah seseorang itu percaya kepada Allah, percaya kepada hari akhirat dan berbuat baik. Dan rupanya inti ajaran agama adalah mengenai ketiga hal tersebut. Ini dikemukakan Alquran dalam surah al-Baqarah dan surah al-Maidah (Q.S. 2:62 dan 5:69).

Dalam mengomentari ayat ini, Abdullah Yusuf Ali menegaskan bahwa ajaran Allah itu satu, Islam mengakui keimanan yang benar dalam bentuk yang lain, asal dijalankan dengan sungguh-sungguh dan didukung oleh akal sehat, disertai tingkah laku yang baik—sebagaimana hal yang sama berlaku bagi orang Islam sendiri.

Sementara Muhammad Asad dalam tafsirnya mengomentari, “the idea of “salvation” here made conditional upon three elements only: belief in God, belief in the Day of Judgement, and rightous action in life.

Dengan begitu, agama jelas mengakui adanya kesetaraan kaum beriman di hadapan Allah. Kalau orang Islam diwajibkan menjalankan agamanya, begitu juga umat dalam agama lain. Dalam surah al-Maidah (5:66) tertera: “Dan sekiranya mereka mengikuti ajaran Taurat dan Injil serta segala yang diturunkan dari Tuhan kepada mereka, niscaya mereka akan menikmati kesenangan dari setiap penjuru.”

Dengan penafsiran atas beberapa ayat Alquran di atas, Islam menegaskan adanya kesetaraan di antara kaum beriman di hadapan Allah. Ukuran derajat seseorang dengan orang lain adalah takwa, bukan formalisme agama apa yang dianut. Perspektif ini akan sangat membantu dalam membangun kembali cintakasih dan persaudaraan antar agama—dari basis teologisnya– yang sekarang kita rindukan dapat lebih baik di masa-masa mendatang.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.