Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pluralisme » Emmy Sahertian: “Negara Harus Berikan Ruang Rekonsiliasi”
Pdt. Emmy Sahertian, MTh (Photo: rumahphilia.wordpress.com)

Emmy Sahertian: “Negara Harus Berikan Ruang Rekonsiliasi”

4/5 (2)

Tapi bukankah esensi dari agama maupun kepercayaan adalah cinta kasih? Apakah benturan itu terjadi lebih karena adanya intervensi penguasa yang tidak becus?

Betul. Orang mulai menghayati bahwa di dalam perbedaan itu sebenarnya ada cinta kasih, ada saling menerima. Nah, ketika negara mulai melakukan formalisasi, bahwa agama yang resmi dan formal hanya enam (yang tadinya lima), maka dari situ lah muncul banyak masalah.

Di sinilah kita melihat perlunya gerakan toleransi. Dan juga pentingnya sikap tenggang rasa. Jadi kalau di suatu tempat ada yang kuat dan ada yang lemah, bertenggang rasa saja deh. Ini kan persoalan-persoalan budi pekerti yang harus di tuangkan dalam konteks relasi riil antar sesama.

Perbedaan antara agama dan kepercayaan itu sebetulnya hanyalah idiom-idiom dan hipotesa ilmiah dalam disiplin filsafat, antropologi, atau ilmu-ilmu humaniora secara umum. Tapi kalau kita lihat sehari-hari dalam kehidupan pergaulan kemanusiaan, orang akan tahu bahwa walaupun saya beragama Kristen, tetapi yang paling berperanan di dalam pergaulan sehari-hari itu sebetulnya adat. Itu sebetulnya yang harus terjadi.

Nah, yang terjadi di Indonesia adalah saling menghegemoni satu terhadap yang lain. Aturan-aturan yang diberikan justru memberikan ruang berkelahi ketimbang ruang untuk rekonsiliasi kemanusiaan. Itu yang sebetulnya harus kita pelajari dari agama asli: bagaimana mereka melakukan pertemuan dengan alam, bagaimana mereka merekonsiliasi atau mendamaikan diri mereka dengan alam dan sesamanya yang kemudian muncul kepercayaan bahwa di dalam perdamaian itu ada satu yang paling berkuasa, yaitu Tuhan.

Persoalan dalam kehidupan antar umat beragama bukan persoalan mereka, tapi persoalan yang diciptakan melalui regulasi-regulasi keagamaan?

Begini. Ruang kehidupan ini luas dan banyak orang yang hidup di dalamnya dengan cara dan dengan gaya masing-masing. Subjektivitas ada di situ. Kemudian, mana yang paling eksotik dan paling menarik itu akan diacu oleh banyak orang. Nah, persoalan kita adalah ketika negara memberikan format agama. Sebenarnya agama itu memiliki independensi. Hari ini mungkin modelnya seperti ini.

Satu abad kemudian muncul agama-agama karena dia akan mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu masih ada agama-agama kuno, kemudian muncul agama Kristen, agama Islam. Sekarang ada agama-agama baru yang muncul. Itu proses ritualisasi manusia di dalam ruang kemanusiaan, dan itu tidak bisa dibatasi oleh aturan apa pun.
Beberapa bulan yang lalu kita berbicara tentang yuditial review undang undang tentang kebebasan beragama, apakah itu bagian dari regulasi yang diciptakan?

Betul. Saya tidak tahu ini… Itu karena kompetisi di ruang kemanusiaan yang cukup ketat karena persoalannya, dibalik itu, bukan persoalan agama, tapi persoalan politik. Kalau sudah berbicara komunitas di ruang publik berarti kan persoalan politik.

Kenapa anda mengatakan begitu?

Sebetulnya sangat kasat mata bahwa negara itu lekat dengan politik. Apapun yang ia mau, ia atur, termasuk agama. Sementara ruang agama sangat berbeda dengan ruang negara. Rang itu adalah ruang transendensi yang tidak bisa dihitung oleh waktu dan secara matematis. Dia akan berubah-ubah. Tapi agama itu harus memberikan sebuah pencerahan pada kehidupan bersama, baik di ruang politik, ekonomi, sosial dan lain-lain.

Itu yang seharusnya diatur oleh negara, bukan bagaimana mengatur supaya agama tertentu harus diam karena minoritas; ini agama resmi dan ini agama yang tidak resmi. Akibatnya, karena tidak bisa dibatasi oleh aturan maka akan terjadi konflik.

Sebagian masyarakat ada yang meyakini agama lokal secara subtantif dan agama samawi hanya ritual formalitis. Mereka menganut aliran kepercayaan tertentu semacam Sapta Dharma. Dan ini berkembang di Purworejo.

Iya, memang saya bertemu dengan teman-teman seperti itu. Itu yang saya bilang bahwa sebenarnya saya belajar dari mereka walaupun tidak terlalu kenal namanya karena waktu itu baru selesai diserang di sana. Saya bilang, sebenarnya saya baru sadar bahwa saya terlalu banyak berkuthbah tentang surga yang artinya membawa orang dari bumi ke surga. Tapi anda itu membawa surga ke bumi.

Nah, saya jadi berfikir itulah yang membuat mereka bisa hidup dengan orang lain dan tidak eksklusif dengan merasa agamanya paling benar dan agama lain tidak benar. Itulah titik kemanusiaan yang sesungguhnya ada dalam nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Makanya, di dalam Bhineka Tunggal Ika Pancasila itu dikonstruksikan agar kita bisa menerima antara satu dengan yang lain. Sebenarnya orang Indonesia itu pluralis dan basisnya adalah masyarakat adat yang beragam yang bisa saling menerima. Inilah yang bisa menjadikan mereka sebagai kekayaan yang masih menjaga Indonesia sampai hari ini. Indonesia masih hidup dari ujung ke ujung.

Soal munculnya agama-agama baru?

Satu saat orang sudah merasa bosan kalau terlalu lama banyak bicara tentang surga. Saya pelajari mengapa sampai aliran-alian baru di Protestan itu terlalu banyak. Saya temukan bahwa suatu saat orang akan mencari model yang praktis untuk hidup sehari-hari yang bisa menjawab kehidupannya. Mereka akan melihat Tuhan bukan saja jauh di atas, tetapi Tuhan ada sehari-hari, bisa disapa.

Kemudian manusia menciptakan kepercayaan-kepercayaan baru. Ini yang kita sebut dengan revivalisme kemudian fundamentalisme sebagai reaksi dari gempuran kapitalisme ketika orang mulai melihat bahwa materi sudah tidak bisa menjawab. Bagaimana Tuhan bisa diturunkan ke bumi? Maka mereka menciptakan kepercayaan sendiri.

Apa benar, kadang-kadang kita banyak menstigmatisasi agama lokal?

Betul. Perlu dibedakan antara kehidupan sosial dan ritual. Jadi kalau Dayak melakukan penggal kepala, itu ada hubungannya dengan peperangan. Sekarang ini kan tidak ada lagi perang suku. Maka mulai hilang.

Mereka memenggal kepala karena perang bukan karena…?

Iya, itu untuk membuktikan bahwa mereka laki-laki jantan sekali yang bisa membawa kepala lalu mereka taruh di tempat ritual mereka. Tapi, kalau dilihat dari struktur ritualnya, sebenarnya itu sangat ekologis. Dalam arti mereka percaya ada satu Tuhan yang melindungi mereka yang memberikan kekuatan mereka untuk hidup dan menjaga alam itu dengan baik. Dan itu masih terjaga sampai sekarang.

Bagaimana seharusnya masyarakat yang merasa dominan dan pemerintah bersikap terhadap agama-agama asli lokal?

Mungkin saya akan mulai menjawab dari advokasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika selama ini. Kebetulan di dalam struktur aturan advokasi kami ada advokasi masyarakat-masyarakat adat yang masih punya kepercayaan. Itu terkait dengan hak-hak asasi mereka, hak sipil, hak budaya, hak politik dan semua hak yang melekat pada mereka yang hampir hilang 100% dari kehidupan mereka hanya karena mereka mengaku masih memiliki kepercayaan asli.

Hak-hak sipil, hak politik, bentuk kongkritnya bagaimana?

Hak sipil, misalnya, dalam persoalan pilkada itu atau di antara mereka ada yang berpotensi untuk menjadi bupati.

Tidak bisa karena mereka masih meyakini kepercayaan lokal?

Ya. Tidak mungkin saya bilang agama saya Merapu atau agama saya Adat Musi di laut.

Kalau dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam soal pekerjaan?

Dengan pekerjaan itulah akhirnya mereka sangat terpinggirkan. Mereka bekerja hanya sebagai penjaga hutan. Apakah mereka punya akses menjadi pegawai negeri?! Itu juga persoalan administrasi kependudukan yang kita anggap sederhana. Kemudian ada anak-anak mereka yang misalnya di agama Merapu. Orangtua mereka harus mengakui agama yang diakui (negara).

Jika tidak, anak-anak itu tidak bisa membuat akte kelahiran. Anda bayangkan, berapa juta anak yang tidak punya akte kelahiran dan tidak bisa masuk ke lembaga pendidikan. Akhirnya mereka ke ladang semua karena tidak punya ijazah SMP atau SMA. Bagi saya ini bukan sesuatu yang biasa. Ini soal pembekukan kemanusiaan yang sangat mendasar dalam pelanggaran HAM.

Di situlah mengapa Aliansi Bineka Tunggal Ika berdiri bersama-sama mereka. Caranya adalah, sebetulnya ini kan silent majority, bagaimana mereka bersama kami. Mereka juga kaget kok ada pendeta Protestan yang ikut dengan mereka. Saya bilang saya pertama kali harus menenggelamkan jiwa saya bersama mereka, bahwa Tuhanmu dengan Tuhanku telah mengijinkan kita hidup bersama di bumi Indonesia ini membangun bersama-sama.

Oleh karena itu, mari kita sama-sama bergerak meminta hak kita yang sebetulnya diberikan oleh Tuhan. Kita minta kepada pemerintah untuk menjaminnya di dalam semua undang undang yang menjamin hak berkepercayaan, hak beragama apalagi hak ekonomi. Semua itu harus diberikan. Jika tidak, berarti negara melanggar HAM.

Negara harus memberikan semua hak itu?

Betul. Hanya di Indonesia yang intervensi politik terhadap agama itu sangat luar biasa. Semua diatur-atur, akhirnya aturan-aturan itu malah membuat konflik. Itu persoalannya. Kitab suci dan apa pun yang ada dalam tradisi bertutur adalah untuk membuat kemanusiaan ini hidup dengan baik. Ada kata yang paling enak ya, damai, sejahtera dan adil.

Sebagai penutup?

Jika tidak ada kedamaian, kesejahteraan dan keadilan, maka agama akan menjadi alat pemusnah!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.