Home » Gagasan » Pluralisme » Inkarnasi dan Tuhan Yang “Mendaging”: Antara Kristen dan Islam
crucifixion

Inkarnasi dan Tuhan Yang “Mendaging”: Antara Kristen dan Islam

4.38/5 (42)

IslamLib – Apakah dalam Islam ada konsep inkarnasi? Ini pertanyaan yang sangat menarik. Sebab selama ini ada anggapan umum bahwa konsep inkarnasi ditolak dalam Islam. Saya mau mengemukakan di sini bahwa masalah inkarnasi dalam Islam tidaklah sesederhana anggapan yang berkembang selama ini.

Saya memaknai inkarnasi di sini dalam pengertian yang dikenal dalam Kristen, yaitu Tuhan (firman) yang “mendaging” dalam bentuk  manusia. Dalam Kristen, Yesus dipandang sebagai “God incarnate”, Tuhan yang mengambil bentuk daging yang hidup bersama manusia sebagaimana kita baca dalam Injil Yohanes: 1:14 – And the Word became flesh, and dwelt among us. Dan Firman itu menjadi daging, dan daging itu tinggal bersama kita.

Kata “inkarnasi” secara harafiah berarti “menjadi daging”. Dalam kerangka keyakinan trinitarian Kristen, Yesus dipandang sebagai salah satu dimensi Tuhan yang sejatinya hanyalah satu. Yesus adalah dimensi Tuhan yang tampak kepada  manusia karena Dia mengambil bentuk daging yang kemudian tinggal bersama kita. Karena itulah, dalam iman Kristen, ada keyakinan tentang Maria sebagai “theotokos”, sebagai ibu yang melahirkan Tuhan. Sebab  Yesus dipandang sebagai salah satu dimensi ketuhanan yang tak bisa dipisahkan dari Tuhan (Bapa) sendiri.

Konsep semacam ini memang agak susah dipahami oleh umat Islam. Bagaimana mungkin Tuhan mengalami “inkarnasi” dalam bentuk daging? Bagaimana mungkin Tuhan menjadi manusia? Salah satu keyakinan penting dalam Islam ialah bahwa Tuhan tidak menyerupai manusia: laisa kamitslihi syai’un – Tak ada sesuatu pun yang menyerupai Tuhan. Karena itu, dalam doktrin Asy’ariyyah yang banyak diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, Tuhan memiliki sifat yang khas: mukhalafatuhu li-l-hawadith, Tuhan yang tak sama dengan manusia.

Dengan pertimbangan-pertimbangan semacam ini, umat Islam agak sulit menerima konsep “God incarnate”, Yesus sebagai inkarnasi Tuhan yang mendaging. Tetapi, benarkah tertutup sama sekali kemungkinan bagi umat Islam untuk memahami konsep tentang Tuhan yang “mendaging” ini? Yang ingin saya lakukan dalam tulisan ini adalah mencoba menunjukkan bahwa kemungkinan itu ada.

Meskipun memahami bukan berarti persetujuan terhadap konsep bersangkutan. Umat Islam bisa tetap loyal dan berpegang secara konsisten pada konsep monoteisme yang “keras” yang ada dalam Islam. Tetapi konsistensi pada doktrin keimanan sendiri bukan berarti menutup kemungkinan untuk memahami doktrin keimanan agama lain. Dengan pemahaman semacam ini kita bisa terhindar dari sikap “menghakimi” iman umat lain secara hitam-putih.

Pertanyaannya tentu: Bagaimana? Bagaimana mungkin Muslim bisa memahami ajaran ini dari perspektif ajaran Islam sendiri?

Untuk menjawab petanyaan ini, saya kira kita harus sedikit “mundur” dan melihat masalah ini dalam perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Pertanyaan yang layak kita angkat di sini ialah: Bagaimana Tuhan berhubungan dengan manusia? Bagaimana mungkin Tuhan yang gaib dan “transenden/tak berbentuk materi” itu berhubungan dengan manusia sebagai makhluk yang “material”?

Pertanyaan lain yang relevan juga: Bagaimana Tuhan yang gaib ini berkomunikasi dengan manusia? Jelas tak mungkin Tuhan melakukan percakapan dengan manusia secara langsung, face-to-face. Lalu bagaimana menjelaskan fenomena wahyu yang dipercayai oleh orang-orang beriman sebagai firman Tuhan yang diberikan kepada para “juru bicara-Nya”, yakni para nabi dan rasul?

Pertanyaan ini semacam ini bisa menjadi latar belakang umum yang memudahkan umat Islam untuk memahami konsep inkarnasi dalam Kristen. Jika kita pahami dalam kerangka yang lebih umum ini, sebetulnya konsep “inkarnasi” tidaklah sepenuhnya absen dalam Islam.  Mari kita telaah kasus-kasus di mana sebenarnya inkarnasi sebagai gagasan sudah ada dalam Islam, bukan hanya ide yang khas Kristen saja.

Gagasan inti dalam inkarnasi pada dasarnya adalah ide bahwa Tuhan mengambil bentuk yang menyerupai manusia. Dengan kata lain, inkarnasi pada dasarnya adalah semacam “tasybih” atau antropomorfisme:  menyerupakan Tuhan dengan manusia. Gagasan Kristen tentang Tuhan yang mengambil bentuk daging dan tinggal bersama manusia adalah sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan menyerupai, bahkan menjadi manusia.

Jika inkarnasi kita pahami sebagai tasybih, pada dasarnya umat Islam tak perlu heran atau merasa aneh dengan keyakinan Kristen tentang Yesus sebagai Tuhan yang mendaging. Sebab, dalam Islam sendiri kita jumpai banyak contoh tasybih. Dalam Quran, kita jumpai sejumlah ayat yang menyarankan (secara lahiriah) bahwa Tuhan menyerupai manusia.

Dalam Quran memang kita jumpai ayat-ayat yang jika dilihat dari permukaan saja tampak saling bertentangan. Di satu pihak, Quran mengajarkan doktrin tanzih (transendensi), doktrin tentang Tuhan yang sama sekali tak menyerupai manusia (QS 42:11). Tetapi di sisi lain, dalam Quran juga kita jumpai sejumlah ayat yang menunjukkan gagasan yang sebaliknya, yaitu tasybih —Tuhan yang “menyerupai” manusia. Contoh ayat-ayat semacam ini sangat banyak. Salah satu contohnya adalah ayat yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki anggota badan seperti manusia, seperti tangan (QS 48:11) dan wajah (QS 55:27).

Bahkan dalam Quran kita jumpai banyak ayat yang menyarankan pengertian bahwa Tuhan duduk di atas sebuah singgasana (al-‘arsy), sehingga menyerupai raja-raja dunia. Ungkapan yang dipakai Quran biasanya adalah istawa ‘ala-l-‘arsy (QS 7:54, 10:3, 13:2, 20:5, dll.): Tuhan duduk di atas singgasana. Sebuah ayat bahkan menyebutkan bahwa singgasana (‘arsy) Tuhan berada di atas air (QS 11:7).

Ayat-ayat semacam ini, jika dipahami secara harafiah, bisa menggiring seseorang untuk beranggapan bahwa Tuhan mirip manusia, tasybih. Ungkapan dalam Quran bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat seperti senang (ridla) dan marah (ghadlab) jelas mengandung aspek tasybih, atau penyerupaan Tuhan terhadap manusia.

Bahkan ungkapan yang menyarankan adanya “ma’iyyah” (maksudnya: kehadiran Tuhan bersama manusia; seperti ayat yang terkenal “Tuhan bersama orang-orang yang sabar” [QS 2:153]) bisa juga dipahami sebagai semacam tasybih. Mengatakan bahwa “Tuhan bersama” berarti menunjukkan sebuah kehadiran di tengah-tengah manusia. Sebuah kehadiran, dalam pengertian harafiah, mengandaikan kehadiran orang dalam ruang (apa yang dalam teologi Islam disebut dengan konsep tahayyuz).

Poin yang ingin saya kemukakan di sini ialah bahwa konsep tasybih bukanlah hal yang asing dalam Quran. Ada ratusan ayat dalam Quran yang menyarankan adanya tasybih dan antropomorfisme. Oleh para sarjana dan teolog Muslim, ayat-ayat yang mengandung ide antropomorfisme ini tidak dipandang sebagai berlawanan dengan ayat-ayat lain yang memuat makna “trasendensi”/tanzih (bahwa Tuhan tak menyerupai manusia).

Sarjana Muslim kemudian mengembangkan sejumlah teknik penafsiran yang bisa menghilangkan kesan kontradiksi antara ayat tasybih dan tanzih. Mereka mencoba memahami ayat-ayat tasybih/antropomorfis secara metaforis, majazi. Jika Tuhan disebut dalam Quran sebagai memiliki tangan, maka itu tentu bukan tangan anatomis seperti manusia, melainkan tangan sebagai perlambang dari kekuasaan. Strategi pemahaman seperti ini berlaku untuk memahmi semua ayat lain yang bernada metamofis, tasybihiyyah.

Menurut saya, tak ada agama apapun yang bisa melepaskan diri dari tasybih, termasuk Islam yang mengenal konsep tauhid atau monoteisme yang keras. Ini hanya bisa dijelaskan melalui pendekatan psikologis. Manusia secara psikologis membutuhkan konsep tentangTuhan yang tidak abstrak, Tuhan yang munazzah, yang dilepaskan dari penggambaran apapun sebagaimana Tuhan para filsuf. Manusia pada umumnya membutuhkan Tuhan yang “dekat” dengan manusia.

Kedekatan itu hanya bisa diwujudkan jika Tuhan digambarkan melalui sifat-sfat yang dekat dengan manusia: seperti marah, senang, memiliki wajah, tangan, duduk di atas singgasana, dsb. Bahkan dalam sebuah hadis, Tuhanpan digambarkan memiliki kaki. Tasybih, menurut saya, adalah hal yang tak terhindarkan dalam agama. Sebab, tasybih lah yang mendekatkanb Tuhan pada manusia. Secara psikologis manusia butuh Tuhan yang “akrab” dengan mereka. Bukan Tuhan yang jauh, apalagi Tuhan yang tanpa penggambaran apapun.

Dengan pemahaman semacam ini, sebetulnya ada titik masuk bagi umat Islam untuk memahami konsep inkarnasi dalam Kristen. Gagasan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah manusia dalam bentuk daging sebetulnya tak terlalu sulit dipahami oleh umat Islam. Sebab itu, dalam tingkat tertentu, tak jauh beda dengan ide bahwa Tuhan  punya wajah, tangan, dan duduk di atas singgasana seperti manusia seperti kita kenal dalam Quran. Kedua ide itu memiliki kesamaan dalam satu hal: yaitu tasybih, antropomorfisme.

Bahkan, jika kita bergerak lebih jauh lagi, gagasan tentang Tuhan yang mendaging dalam bentuk Yesus bisa disetarakan dengan gagasan tentang Tuhan yang hadir melalui kalam atau firman-Nya dalam bentuk mushaf atau Quran. Jika dalam Kristen kita kenal ide tentang Tuhan yang mendaging, maka dalam Islam, kita mengenal Tuhan yang meng-huruf, Tuhan yang hadir dalam bentuk huruf-huruf Quran. Jika Yesus disebut sebagai “God incarnate” dalam Kristen, maka Quran pun, dari segi tertentu, juga bisa disebut sebagai inkarnasi Tuhan dalam bentuk bahasa dan huruf.

Dengan cara seperti ini, sebetulnya umat Islam bisa memahami, walau tak sepenuhnya, konsep inkarnasi dalam Kristen. Dengan pemahaman semacam ini pula, dialog Islam-Kristen bisa diperkaya, tidak sekedar bertukar tuduhan dan penghakiman yang hanya menimbulkan prasangka buruk, sebagaimana dalam debat-debat kristologi selama ini.[]

 

 

 

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.