Home » Gagasan » Pluralisme » Jalaluddin Rakhmat: “Pluralisme bukan Sinkretisme”
Jalaluddin Rakhmat (Foto: tempo.co)
Jalaluddin Rakhmat (Foto: tempo.co)

Jalaluddin Rakhmat: “Pluralisme bukan Sinkretisme”

4/5 (2)

IslamLib – Seorang pluralis adalah orang yang mengakui adanya banyak jalan menuju Tuhan. Lewat jalan yang beragam itu, masing-masing pemudik disemangati oleh etos bermusabaqah dalam kebajikan. Rahmat Tuhan yang tak terbataslah yang nantinya akan menentukan mana yang terbaik di antara para pemudik itu, tanpa memandang perbedaan agama dan golongannya. Demikian perbincangan Novriantoni Kahar dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (28/9) lalu, dengan Jalaluddin Rakhmat, intelektual Islam-Syiah yang meluncurkan buku Islam dan Pluralisme, pertengahan September lalu.

 

Kang Jalal, apa yang mendorong Anda menulis buku Islam dan Pluralisme yang diluncukan pertengahan September lalu di Universitas Paramadina?

Saya ingin memberi tunjangan atau support teologis dengan rujukan Alqur’an langsung untuk membenarkan pluralisme. Sebab, kalau bicara soal Islam, rujukan utama kita adalah Alqur’an. Karena itu, bab pertama buku itu bicara soal ayat-ayat Alqur’an tentang pluralisme.

Jadi buku ini ingin memberi argumentasi keislaman tentang pluralisme dan seakan-akan menjadi sebuah jawaban terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau MUI mengatakan pluralisme haram, pleace tunjukkan dalilnya dari Alqur’an dan hadits. Kalau saya yang mendukung pluralisme ditanya dalil bisa dibenarkankannya pluralisme dalam Islam, nah buku inilah jawabannya.

Saya jadi ingat buku Gamal Al-Banna Doktrin Pluralisme dalam Alqur’anyang (terjemahan dari Arab). Di situ antara lain ditegaskan al-i`tirâf biwahdaniyatilLâh yaqtadlî al-i’tirâf bita`addudiyyati ghairihi(pengakuan akan keesaan Tuhan mensyaratkan pengakuan akan kebhinekaan lainnya). Apakan proposisi seperti itu bisa dibenarkan?

Salah satu buku yang banyak saya kutip juga untuk penulisan buku ini termasuk buku Gamal Al-Banna itu. Menurut saya, buku Al-Banna itu sangat menarik. Pertama, karena posisi Al-Banna yang mendukung pluralisme memang menarik bagi kita. Sebab, dia pernah juga menjadi seorang fundamentalis. Dia pernah masuk penjara dan bekerja untuk pembenahan instalasi listrik bersama tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimun lainnya di Mesir.

Saya kira, Gamal Al-Banna pasti punya hubungan kekeluargaan dengan Hasan Al-Banna (Gamal memang adik bungsu Hassan Al-Banna, pendiri kelompok Ikhwanul Muslimin, Red). Kita tahulah bahwa Hassan Al-Banna adalah idolanya kaum fundamentalis.

Dan adiknya ini pernah pula masuk penjara demi mempertahankan fundamentalismenya. Nah yang menarik bagi saya, dalam posisi yang sangat fundamentalis itu, kita masih menemukan dalam dirinya pandangan-pandangan yang sangat pluralistik. Dia hafal Alquran dan memberi argumennya dari Alquranul karim sendiri.

Saya akan beri contoh tentang pandangan Al-Banna yang saya kutip juga dalam buku saya. Dia mengatakan, Thomas Alva Edison itu pasti akan masuk surga. Sebab, berkat temuannya jutaan umat manusia dapat diterangi dan kita menikmati kenyamanan-kenyamanan hidup seperti kulkas dan AC. Itu semua berkat jasa Alva Edison. Orang-orang fundamentalis di sekelilingnya menyangkal, ”Tak mungkin si Thomas masuk surga. Dia kan kafir?!”

Dengan mengutip Alqur’an, Al-Banna menjawab: “Sekiranya manusia punya wewenang untuk mengelola perbendaraan kasih sayang Tuhannya (khazâinna rahmati Robbi), pastilah mereka akan menahannya untuk kelompoknya saja.”Lalu diujung ayat itu dikatakan, ”Sesungguhnya manusia itu memang bahil(kaana qatûrâ).”

Karena bakhil, surga pun akan mereka tahan dan kavling-kavling untuk kelompok mereka saja. Bagi orang Islam, surga hanya diperuntukkan bagi orang Islam. Dan bagi orang Kristen, mungkin ia hanya untuk orang Kristen. Masing-masing mereka menahan perbendaraan kasih sayang Tuhannya; enggan berbagi-bagi. Nah, ketika membicarakan pluralisme, saya selalu teringat akan ayat itu: Tuhan tidak ingin membatasi rahmat-Nya hanya untuk kelompok tertentu saja.

Apa yang Anda maksud dengan pluralisme ketika menulis buku itu?

Isme itu adalah sebuah paham. Ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, di dalam dunia akademis sebetulnya masih bagian dari religious studies atau pendekatan yang sekular untuk memahami gejala-gejala keberagamaan. Pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa juga disebut orientasi keberagamaan.

Kita memang harus bisa membedakan pluralisme dan pluralitas. Pluralistas adalah kenyataan sosial ketika kita menyaksikan adanya masyarakat yang plural atau majemuk. Tapi pluralisme adalah sebuah paham dalam religious studies.

Banyak orang menyangka pluralisme itu punya definisi macam-macam. Sebenarnya tidak! Di dalam dunia akademis, sudah ada kesepakatan dan batasan-batasan dalam defenisinya. Misalnya, ada penegasan bahwa pluralisme itu bukanlah sinkretisme. Pluralisme juga bukan menganggap semua agama sama. Bukan pula menganggap semua benar. Biasanya, pluralisme dibicarakan dalam tiga bagian atau dalam posisi berhadapan dengan dua posisi lainnya, yaitu ekslusivisme dan inklusivisme.

Jadi, ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, menjawab satu pertanyaan mendasar di dalam studi keagamaan. Yaitu, siapakah yang akan selamat di akhirat nanti? Atau siapa yang kelak akan masuk surga?

Karena itu, kalau bicara soal pluralisme, pleace pembicaraan itu dipahami dalam konteks siapa yang akan selamat di akhirat nanti saja. Bagi kaum ekslusivis, hanya golongan dan agama mereka saja yang akan selamat. Menurut kaum inklusivis, yang masuk surga hanya orang Islam dan orang-orang lain yang berakhlak islami.

Tapi bagi mereka, Islam tetap sebagai kriteria pertama. Nah, kaum pluralis berpendapat bahwa orang yang selamat adalah siapa saja, apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini.

Itu kan pertanyaan metafisis. Yang penting bagi kehidupan sosial kanhanya implikasi atau dampak sosial masing-masing pandangan. Apa pentingnya perspektif pluralis di dalam kehidupan sosial kita?

Dalam masyarakat yang sangat pluralistik, atau ketika kita berhadapan dengan keragaman dalam teologi, kepercayaan, dan keyakinan, hanya pluralisme yang dapat diharapkan akan memberi ruang bagi toleransi. Tapi banyak sekali orang yang menolak pluralisme.

Seorang kiai NU di Jawa Timur pernah mengatakan, “Sudahlah, kita tak usah mengurus apakah orang masuk surga atau tidak. Itu bukan urusan kita. Serahkan saja urusannya ke pada Tuhan!” Beliau lupa, jawaban tentang siapa yang akan masuk surga itu akan sangat mempengaruhi kita dalam memandang agama lain, dan itu akan menjadi bingkai untuk memahami ajaran-ajaran agama lainnya.

Ketika saya berpendapat bahwa semua orang, apapun agamanya, asalkan beramal saleh, akan masuk surga, apa yang akan terjadi pada diri saya setelah itu? Saya tentu tidak akan menilai orang lain dari label-label keagamaannya. Saya jadi tak peduli apakah dia Katolik, Kristen, atau Hindu. Kalau berakhlak mulia, beramal saleh, saya akan berikan segala kemuliaan kepadanya.

Tapi bagi orang Islam yang berpandangan ekslusif, hanya orang Islam saja yang akan masuk surga. Orang lain tak akan. Apa yang akan tumbuh dari sikap demikian tak lain hanya prasangka-prasangka sosial. Nanti, kalau ada orang Kristiani yang membantu orang Islam, kita langsung curiga.

Bahkan, akan ada dampak etis yang sangat fatal kalau kita merasa hanya orang Islam saja yang kelak masuk surga. Ketika kita melihat perilaku kita jauh lebih buruk dari perilaku orang beragama lain, kita akan selalu mencari justifikasi (pembenaran) untuk kekurangan kita. Kita katakan, ”mereka berbuat baik, tapi pasti tetap masuk neraka.”

Padahal, Alquran sendiri pernah menyindir orang-orang yang berkata demikian. Berkatalah orang-orang Yahudi: ”lan tamassana an-nâr illâ ayyâman ma`dûdât(kami tidak akan tersentuh api neraka kecuali sebentar saja). Sebab, kita adalah kekasih-kekasih Allah. Demikian pandangan sebagaian orang Yahudi.” Orang Yahudi juga mengklaim laisat an-nashârâ `alâ syai’ (orang-orang Nasrani itu tidak bakal mendapat apa-apa).

Orang-orang Nasrani membalas, laisat al-yahûd `alâ syai’ (orang Yahudi juga tidak akan dapat apa-apa). Tapi di ujung ayat, Alqur’an menegaskan: ”Tilka amâniyyuhum!” (itu hanya angan-angan mereka saja). ”Waman ya`mal sû’an yuzâ bih” (siapa saja yang berbuat buruk, tidak perduli apapun agamanya, ia akan tetap memperoleh balasan).

Apakah gagasan atau sikap pluralistis hanya penting bagi kelompok minoritas, mereka yang merasa tertindas, dan tidak dapat menentukan hitam-putihnya kehidupan sosial?

Kalau kita baca buku-buku karangan Karen Armstrong, kita akan tahu bahwa di saat kaum muslimin berada dalam puncak kejayaan peradabannya, justru mereka sangat percaya diri untuk menganut pluralisme. Armstrong pernah bercerita tentang sindrom martir.

Di situ dia terangkan bahwa dulunya, justru orang-orang Kristen yang selalu siap-siap untuk mati sahid. Dan demi mati syahid, mereka rela mengecam Islam, memaki-maki Rasulallah, dan melakukan tindakan lainnya. Tapi waktu itu, raja-raja Islam santai-santai saja, tuh. Sebab mereka tahu, mereka ingin syahid. Mereka dibiarkan saja dan tidak dihukum mati.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.