Home » Gagasan » Pluralisme » Jalaluddin Rakhmat: “Pluralisme bukan Sinkretisme”
Jalaluddin Rakhmat (Foto: tempo.co)

Jalaluddin Rakhmat: “Pluralisme bukan Sinkretisme”

4.33/5 (3)

Adakah perbenturan antara konsep pluralisme dengan teologi masing-masing agama yang sudah dimapankan seperti konsep tauhid dalam Islam?

Bagi saya, seorang muslim yang pluralis, pasti akan menganut prinsip tauhid. Seorang kristiani yang pluralis, pasti akan percaya bahwa Yesus adalah juru selamat semua umat manusia. Jadi pluralisme itu adalah sebuah orientasi keberagamaan. Kelompok pluralis itu akan ada di kalangan Islam, ada juga di kelompok Kristiani dan agama lain. Kalangan ekslusivis juga ada di berbagai agama dan masing-masing bisa merujuk pada kitab suci masing-masing.

Jadi pluralisme adalah sebuah paham dan paham itu berakibat pada perilaku sosial kita. Tapi pluralisme bukan juga menganggap semua agama sama saja karena dalam Alquran juga sudah dikatkan, ”walikullin ja`alna minkum syir`atan wa minhâja.”

Artinya, bagi tiap-tiap agama, telah Kami tetapkan aturan hidup dan syariat masing-masing. Ditegaskan juga, ”walau syâ’alLâh laja`alakum ummatan wâhidah” (kalau Allah menghendaki, Dia akan jadikan seluruh agama itu satu saja). Artinya, Allah bisa menjadikan seluruh agama sama saja.

Tapi Alqur’an menjelaskan lebih lanjut, ”walâkin liyabluwakum” (Dia ingin menguji kalian), ”bimâ âtâkum” (dengan agama yang datang kepada kalian). Karena itu, kita dianjurkan untuk ”fastabiqul khairât” (berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan), karena ”ilayya marji`ukum jamî`an” (hanya kepada-Ku seluruh agama akan berpulang). Ayat ini perlu dikomentari.

Menurut saya, hampir tak pernah terdapat kata jamî`an setelah katamarji`ukum kecuali di dalam ayat ini saja. ”Ilayya marji`ukum fa unabbiukum bimâ kuntum ta`malûn; inna ilaynâ iyâbahum, tsumma inna `alaynâhisâbahum.” Kepada-Ku juga kalian akan berpulang dan di situlah Aku akan memberitahu apa yang engkau lakukan. Semuanya akan berpulang pada Allah dan dia yang akan membuat perhitungan.

Nah, kemarin, saya dikritik Pak Adian Husaini, calon doktor dari ISTAC Malaysia itu. Katanya, pandangan bahwa hanya kepada Allah seluruhnya akan menuju itu adalah keliru. Saya tidak tanggapi statemennya itu secara serius dan menganggapnya dagelan saja.

Kalau ada beberapa ayat Alqur’an yang bisa dianggap bercorak pluralis, sejak kapan pluralisme mulai dikenal dalam Islam?

Saya sering bicara tentang Islam di banyak gereja. Lalu banyak orang yang bertanya, sejak kapan Islam mengajarkan pluralisme? Kalau dalam Katolik baru dimulai sejak John Paul II atau Paus Johanes Palus II. Saya lalu katakan, pluralisme ada sejak zaman Rasulullah. Dan menurut Karen Armstrong, ketika kaum muslimin berada dalam posisi yang kuat, mereka berwawawan sangat pluralistis. Kaum muslimin mulai berpikir dan bersikap ekslusif ketika mereka dipojokkan dan merasa dikalahkan.

Konon, di zaman Rasullah ada seorang sahabat Ansar bernama Abu Husain. Dia punya dua anak. Tiba-tiba kedua anaknya pindah agama ke Kristen karena terpengaruh pedagang dari Suriah. Lalu dia membawa kedua anaknya kehadapan Rasulullah. ”Anak saya masuk Kristen. Apa boleh saya paksa masuk Islam?” tanyanya. ”Tidak,” kata Rasulullah. Lalu dibacakanlah ayat lâ ikrâh fid dîn (tidak boleh ada paksaan dalam agama).

Kang Jalal, kalangan syariat sering khawatir akan ditinggalkannya syariat masing-masing agama kalau kita berpikiran pluralistis. Apa perlunya saya salat dan puasa Ramadan bila semua jalan menuju Allah adalah valid dalam perspektif kalangan pluralis?!

Saya jawab dengan analogi juga. Saya punya sekolah SMU plus Muthahhari. Saya katakan pada anak-anak bahwa semua anak-anak SMU plus Muthahhari berhak ikut ujian akhir, dan anak-anak sekolah lain pun berhak ikut ujian akhir.

Tapi soal lulus atau tidaknya, tidak ditentukan oleh SMU plus Muthahhari. Yang memutuskan hasil akhirnya, pada prinsipnya adalah amal kita, kerja keras kita. Semua anak Muthahhari akan mengerti itu. Mereka pasti tidak akan pindah sekolah hanya untuk mendapat hasil baik dalam ujian.

Artinya, kalau semua agama beranggapan bisa beramal saleh di dalam agamanya sendiri-sendiri, itu tidak berarti kita mesti pindah-pindah agama;pagi Islam, sore Kristen. Tidak sama sekali. Itu juga tidak berarti kita perlu menjalankan ritual-ritual keagamaan yang berbeda-beda. Setiap umat Islam menjalankan syariat Islamnya, tapi tak boleh menggunakan syariat itu untuk menilai agama lain.

Jadi pola pikir seperti yang tergambar dalam pertanyaan di atas adalah sebuah kekeliruan. Kalau kita menganut Islam, kita harus menjalankan syariat Islam semampu kita. Sebab Alqur’an menyatakan bahwa setiap agama ada syariatnya masing-masing. Dan di antara bagian dari syariat Islam sebagaimana yang dirumuskan para ulama fikih adalah tidak bolehnya seorang muslimah menikah dengan laki-laki nonmuslim.

Tapi itu kan urusan syariat, bukan urusan pluralisme. Namun begitu, meski mengaku sebagai seorang pluralis, saya masih mengikut paham fikih seperti itu. Artinya, anak saya yang muslimah tidak akan saya kawinkan dengan laki-laki nonmuslim.

Tapi kalau dia punya pandangan berbeda dengan Anda dan memilih jalan hidupnya sendiri?

Saya akan beri dia kebebasan karena ada prinsip lâ ikrâh fid dîn (tidak ada paksaan dalam beragama). Komentar saya begini aja deh. Kan ada ayat Alqur’an yang berbunyi wamâ arsalnâka illâ rahmatan lil `âlamîn. Kami tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk menebar kasih ke seluruh alam.

Namun, sebelum sampai pada tahapan rahmatan lil `alamin, kayaknya kita, kaum muslimin ini, mesti melewati dua tahapan sebelumnya. Tahap pertama adalahrahmatan lil mutamadzhibin. Artinya, yang kita anggap mendapat rahmat dan akan masuk surga hanya madzhab tertentu saja seperti Ahlus Sunnah. Sementara yang lain dianggap tidak akan masuk surga.

Lebih tinggi tari tahapan itu adalah rahmatan lil muslimîn (rahmat bagi semua orang Islam saja, Red). Di sini, surga itu dianggap khusus bagi orang atau pengikut Islam. Tapi bagi saya, yang diinginkan Alqur’an dari kita dan nabi kita sangat sederhana: wamâ arsalanâka illâ rahmatan lil `âlamîn (menjadi rahmat bagi alam semesta). Itu penjelasan yang menurut saya sangat sederhana.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.