Home » Highlight » Menimbang Kembali Istilah “Agama Langit” dan “Agama Bumi”
(Photo: Moyan Brenn)
(Photo: Moyan Brenn)

Menimbang Kembali Istilah “Agama Langit” dan “Agama Bumi”

4.36/5 (83)

IslamLib – Saya tak tahu persis bagaimana dan kapan muncul istilah  “agama langit” dan “agama bumi”. Tetapi kedua istilah ini banyak dipakai untuk membedakan antara dua jenis agama: di satu pihak ada agama yang beradasar pada wahyu; di pihak lain ada agama yang tak memiliki “wahyu”. Karena wahyu dianggap berasal dari langit, maka agama wahyu disebut sebagai agama langit.

Sementara agama bumi disebut demikian karena diasumsikan tidak bersumber pada wahyu. Sumbernya adalah “pikiran” manusia yang ada di bumi, dan karena itu disebut sebagai agama bumi. Bahkan istilah “agama” dan “agama bumi” kadang dipersoalkan, sebab yang benar-benar bisa disebut sebagai agama hanyalah agama langit belaka. “Agama” yang non-langit paling jauh hanyalah filosofi, kepercayaan, atau kebijaksanaan hidup saja.

Bahkan agama bumi kerap disebut sebagai budaya saja! Seolah-olah agama langit tidak mengandung elemen budaya dalam dirinya.

Inilah, antara lain, yang menjelaskan kenapa “birokrasi” agama diurus oleh kementerian terpisah yang disebut Kementerian Agama (Kemenag). Agama-agama bumi yang disebut kepercayaan tak layak mendapatkan sebutan agama, dan karena itu tak bisa ditaruh di bawah atap Kemenag. Dia diurus oleh lembaga terpisah yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebududayaan.

Birokrasi dan urusan kepercayaan tidak boleh diletakkan di bawah payung Kemenag karena dengan demikian memberikan pengakuan secara tak langsung bahwa kepercayaan (kadang disebut juga “aliran kepercayan”) sama kedudukannya dengan agama-agama langit yang dianggap lebih tinggi level-nya, karena didasarkan pada wahyu, bukan pada “budaya” yang berasal dari bumi. Apakah dengan demikian Kementerian Agama bisa disebut sebagai Kementerian Agama-Agama Langit?

Apakah pembedaan semacam ini bisa diterima? Saya cenderung mengatakan: Tidak! Pembedaan ini, meskipun di permukaan tampak masuk akal, mengandung banyak kelemahan. Ada beberapa catatan kritis terhadap kategorisasi semacam ini.

Pertama: Apa yang disebut sebagai “wahyu”, jika kita usut-usut lebih jauh, tidak seluruhnya berasal dari langit. Wahyu juga mengandung elemen-elemen “bumi” yang sangat kental dalam dirinya. Tak ada agama yang sepenuhnya “langit” dan ilahiah. Pengaruh “bumi” sangat besar dalam formasi dan pembentukan apa yang disebut sebagai “wahyu”. Dalam kasus wahyu Islam, misalnya, pengaruh bumi Arab jelas sangat besar.

Contoh kasus: Penggambaran surga dalam Quran sebagi “kebun” (jannah) di mana sungai mengalir deras di bawahnya (QS 2:25, 3:15, 4:13,10:9), di mana laki-laki bisa menikmati “isteri-isteri yang suci” (azwaj mutahharah; QS 2:25, 3:15, 4: 57), di mana laki-laki muda yang ganteng seperti mutiara yang tersembunyi (ghilman ka’annahum lu’lu’ maknun; QS 52:24) menjadi pelayan, jelas sangat dipengaruhi oleh “fantasi” orang Arab mengenai apa yang disebut sebagai kenikmatan yang maha tinggi.

Bagi masyarakat padang pasir saat itu, apa yang disebut “kebun” sudah merupakan puncak kenikmatan yang bukan main. Jika wahyu Quran diturunkan di bumi yang subur seperti Jawa atau Sumatera, sudah tentu penggambaran surga akan lain sama sekali. Ini memperlihatkan bahwa apa yang disebut wahyu langit tidak bisa dipisahkan dari konteks bumi. Langit dan bumi saling berhubungan secara dialektis dan membentuk fenomena wahyu.

Menyebut Islam, Kristen atau Yahudi sebagai “agama langit” jelas bisa mengeceoh, karena mengabaikan pengaruh bumi di sana.

Jika kita ikuti pandangan para sarjana Muslim seperti Fazlur Rahman atau Abdulkarim Soroush, jelas sekali bahwa wahyu bukan saja mengandung pengaruh-pengaruh dari bumi, tetapi ada juga pengaruh kondisi psikologis dari Nabi Muhammad. Dalam pandangan kedua sarjana itu, Nabi bukanlah seorang agen yang pasif dalam menerima wahyu. Pengalaman-pengalaman mental-psikologis dalam diri Nabi mempengaruhi juga proses pewahyuan.

Kedua: Jika pun kita terima asumsi bahwa wahyu benar-benar berasal sepenuhnya dari langit, tetapi dia jelas urusannya tidaklah berhenti di sana. Setelah wahyu “turun” dari langit, dimulailah proses berikutnya yang jauh lebih penting, yaitu penafsiran manusia atas wahyu tersebut.

Sebagaiman pernah dikatakan oleh Ali ibn Abi Talib, khalifah keempat yang dikenal sebagai cendekiawan itu, wahyu yang terkodifikasi dalam buku yang disebut “mushaf” (codex) tidak bisa berbicara sendiri (la yanthiq). Supaya wahyu bisa berbunyi, butuh orang-orang yang menafsirkannya; butuh masyarakat penafsir. Orang-orang itu jelas ada di bumi, bukan di langit.

Aspek penafsiran terhadap wahyu, dalam sejarah Islam, sangat penting kedudukannya. Semua kelompok dalam Islam mendaku bahwa mereka merujuk kepada wahyu yang sama: Quran. Dari segi itu, semuanya sama. Yang membedakan kelompok Islam yang satu dari yang lain ialah bukan Quran, tetapi penafsiran mereka yang berbeda-beda atas Kitab Suci itu. Kita tahu, penafsiran jelas bersifat bumi, bukan langit.

Hal ini bukan saja benar untuk kasus Islam, tetapi untuk semua agama. Kristen., Yahudi dan agama-agama “langit” yang lain tidak bisa menghindarkan diri dari proses penafsiran yang dilakukan oleh para manusia yang ada di bumi itu.

Ketiga: Yang perlu kita persoalkan lebih jauh adalah, Benarkah ada yang disebut agama yang sepenuhnya bumi? Apakah ada agama yang seluruhnya merupakan kreasi manusia, tanpa menyandarkan diri pada “kleim langit”? Jawaban saya: Tidak ada! Apa yang dianggap sebagai agama langit, jika kita telusuri lebih jauh melalui biografi para “pendiri” agama-agama itu, jelas memiliki sumber-sumber yang datang dari langit: entah kita sebut wahyu, ilham, inspirasi, atau yang lain.

Jika kita telaah agama-agama yang ada sekarang ini, asal-asal usul kelahirannya bisa kita ringkaskan dalam proses sederhana berikut ini: Ada seorang individu (biasanya disebut nabi, rasul, atau orang suci dan bijak) dalam sebuah komunitas yang mendaku menerima semacam inspirasi yang dahsyat yang sumbernya bersifat eskstra-bumi (extra terretial). Inspirasi ini membuat dia merasa mendapatkan “panggilan ilahiah” untuk memberikan kabar kepada orang-orang lain.

Manakala kabar ini diterima oleh banyak orang, terbentuklah pelan-pelan apa yang disebut sebagai agama. Semua agama, dalam pandangan saya, berasal dari momen spiritual-individual semacam itu. Dalam semua agama, ada inspirasi yang datang dari langit melalui tokoh-tokoh pendirinya yang merasa mendapatkan “wahyu” dari sumber-sumber yang transendental.

Ambil contoh agama Buddha. Apakah kita mau mengatakan bahwa agama ini adalah agama bumi hanya karena sumbernya dari orang yang ada di bumi, yaitu Siddhartha Gautama?  Saya mengatakan: agama Buddha jelas agama langit, sebab ia berasal dari momen pewahyuan yang pernah dialami oleh pendirinya.

Mungkin ada yang menyangkal ini dengan mengatakan: Tetapi wahyu yang diterima Buddha bukan wahyu yang benar. Yang benar-benar wahyu hanyalah wahyu yang diterima Muhammad? Terhadap sangkalan ini saya bisa mengatakan: Atas dasar apa Anda menghakimi wahyu agama lain sebagai “wahyu yang palsu”? Bukankah “tuduhan” serupa bisa dilontarkan oleh orang-orang di luar Islam terhadap wahyu yang diterima Nabi Muhammad?

Tak ada kriteria yang benar-benar objektif dan bersifat eksternal yang bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai mana wahyu yang benar dan salah. Pada akhirnya prkara kebenaran sebuah wahyu hanya bisa dikembalikan kepada kepercayaan orang-orang yang menerimanya.

Dengan pertimbangan-pertimbangan semacam ini, saya cenderung mengatakan bahwa istilah “agama langit” dan “agama bumi” bisa menyesatkan. Selain itu, dalam kedua istilah tersebutterdapat asumsi ketakaburan/arogansi yang tak bisa disembunyikan: seolah-olah yang berasal dari langit lebih baik dan superior ketimbang yang berasal dari bumi. Sementara kita tahu wahyu-wahyu yang berasal dari langit juga bisa diselewengkan untuk menjustifikasi banyak kekerasan seperti kita saksikan akhir-akhir ini.

Dengan kata lain: Yang berasal dari langit belum tentu menjamin perdamaian di bumi. Wahyu langit, di tangan kelompok-kelompok tertentu yang “arogan” karena merasa telah mendapatkan kebenaran yang mutlak, bisa melakukan tindakan-tindakan yang dsetruktif di bumi.

Sebaliknya, apa yang disebut sebagai “agama bumi” (jika bisa kita terima istilah ini untuk sementara saja untuk kebutuhan kekontrasan di esei ini) bisa lebih peduli pada hal-hal yang ada di bumi, lebih peduli pada lingkungan, justru karena ia berasal dari bumi!

Jadi, kita harus berhitung kembali dengan dua istilah yang bermasalah ini. Apa alternatifnya? Kita bisa memakai istilah yang lebih netral, misalnya agama-agama Semitik, atau agama-agama Timur. Istilah ini tak menggotong “bagasi penilaian” yang terlalu berat. Penggunaan istilah yang netral sangat perlu agar sikap-sikap arogansi dan eksklusivisme bisa pelan-pelan dikurngi, digantikan oleh cara berpikir yang dialogis dan pluralis![]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.