Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Pluralisme » Musdah Mulia: “Situasi Sosial-Keagamaan Kita Bisa Lebih Buruk”
Musdah Mulia

Musdah Mulia: “Situasi Sosial-Keagamaan Kita Bisa Lebih Buruk”

4.5/5 (2)

Bagaimana peran negara dalam pelbagai kasus yang Anda sebutkan tadi?

Saya pikir, kita perlu menata-ulang hubungan antara agama dengan negara. Negara sebaiknya jangan terlalu jauh mencampuri persoalan-persoalan internal umat beragama. Bagi saya, pemerintah atau negara hanya perlu membuat standar tentang apa saja yang boleh dant tidak boleh dilakukan oleh umat beragama.

Misalnya, sepanjang umat beragama atau pemimpin suatu sekte tidak melakukan eksploitasi terhadap pengikutnya, tidak memaksa pengikutnya untuk menyerahkan sebagian hartanya demi kekayaan pimpinannya, atau tidak memaksa masyarakat atau jamaahnya untuk melakukan aksi bunuh diri massal seperti pernah terjadi pada aliran-aliran atau sekte-sekte yang keras di Amerika, pemerintah tidak usah ikut campur.

Hanya pada persoalan terbatas saja negara baru perlu ikut campur. Sebab kalau negara selalu ikut campur atas persoalan agama, umat beragama tidak akan merasa tentram untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam mengembangkan jamaahnya.

Namun soal lain yang tak kalah penting adalah bagaimana membangun kesadaran di kalangan umat beragama sendiri bahwa persoalan beragama adalah soal hubungan yang sangat spesifik antara manusia dengan Tuhan. Dan hubungan itu tidak bisa diganggu-ganggu oleh orang lain.

Orang mau murtad, mau beragama atau tidak beragama, itu kan urusan pribadi masing-masing. Kebebasan manusia untuk beragama atau tidak beragama, adalah urusan yang sangat mendasar. Memaksa orang untuk tidak beragama atau untuk beragama dengan standar tertentu, itu sudah bertentangan dengan fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Bagaimana dengan alasan perlunya sanksi hukum negara untuk orang yang dianggap menodai agama seperti yang murtad atau mengikuti sekte yang tidakmainstream?

Sekarang bagaimana caranya mengetahui bahwa seseorang itu murtad atau tidak murtad? Itu kan hal yang sulit dibuktikan. Apa indikasi bahwa seseorang itu dianggap murtad? Agama kan bicara soal akidah; soal kepercayaan yang tidak bisa dilihat. Yang bisa dilihat hanya aspek ritualnya, misalnya seseorang itu salat atau tidak salat. Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti ini menyangkut aspek yang teologis dan filosofis dari beragama.

Lebih dari itu, sangat sulit mengawasi keyakinan umat beragama. Karena itu, yang harus kita bangun adalah bagaimana agar antar komunitas suatu agama dengan komunitas yang lain tidak saling bersinggungan, berbenturan, atau tidak saling mengeksploitasi hak masing-masing. Saya kira itu saja standar yang penting dibuat. Lebih dari itu, agama juga sangat terkait dengan persoalan tafsir, karena itu perlu dialog.

Anda melihat ini hanya soal apakah kita bersedia berbeda dalam suasana yang damai?

Ya. Soalnya, bersediakah kita berdialog tentang begitu banyak tafsir keagamaan masing-masing? Sebab, jika di antara kita tidak ada iklim dialog, masing-masing pada akhirnya mengklaim bahwa si anu berkata begini, tapi tidak mendengar itu langsung dari yang bersangkutan. Karena itu, kita perlu sekali membuka diri untuk sedia berdialog dalam banyak hal. Itu satu.

Yang kedua, saya merasa bahwa agama dan agamawan sampai sekarang ini lebih banyak peduli pada hal-hal yang bersifat kesusilaan ketimbang persoalan sosial. Misalnya soal pornografi dan pornoaksi. Karena prioritas kita yang begitu, kita menyaksikan bertambahnya jemaah haji kita setiap tahun, tapi persoalan busung lapar, kemiskinan, dan pengangguran, tidak pernah mengalami penurunan signifikan. Lalu pertanyaannya: untuk apa sebenarnya kita beragama?

Bagaimana dengan perangkat hukum kita?

Memang, kita sudah memiliki UU-HAM No. 39 tahun 1999 yang salah satu poinnya mengakui kebebasan beragama. Tapi sayangnya, UU-HAM itu masih belum dijabarkan dalam aturan-aturan pelaksanaan yang lebih rinci.

Misalnya, kalau memilih jodoh adalah soal hak asasi individu, apakah seseorang boleh menikah beda agama? Apakah orang dibolehkan mengaku tidak beragama? Hal-hal seperti itu belum ada aturan operasionalnya dalam perundang-undangan kita.

Dan jangan lupa, kita punya beberapa aturan yang hierarkinya di bawah UU, tapi bunyinya malah bertentangan dengan UU itu sendiri. Misalnya Penetapan Presiden (PNPS) No. 1 tahun 1969 yang menyatakan bahwa di Indonesia hanya diakui 5 agama. Bukankah UU itu bertentangan dengan Pasal 29 UUD? Jadi, di antara UU kita sendiri sebenarnya banyak yang isinya saling berlawanan.

Karena itu, saya berpikir perlu ada lembaga yang mencoba melakukan harmonisasi atas isi UU yang satu dengan yang lain. Begitu banyak UU baru yang isinya sangat maju, sangat memihak kemanusiaan, yang telah muncul, tapi tidak dilakukan harmonisasi dengan UU lama yang masih sangat diskriminatif. Saya kira ini perlu dipikirkan.

Tapi undang-undang soal keagamaan selalu akan kontroversioal. Misalnya, bagaimana memosisikan aliran yang dianggap sesat dan tidak umum di dalam sebuah perundang-undangan?

Saya kira poinnya adalah bagaimana kita bisa mengakui dan menyadari bahwa di dalam agama itu sendiri ada banyak aliran. Saya kira, tak ada satu agama pun yang bersifat monolitik, hanya satu arus saja. Itu tidak hanya terjadi pada agama-agama yang mayoritas di negeri ini, tapi dalam agama-agama kecil sekalipun selalu ada peluang munculnya aliran, sekte, dan lain sebagainya.

Dan saya kira, itu sudah sunnatullah. Kehadiran sempalan-sempalan atau kelompok-kelompok aliran baru itu, justu membuat kita, kelompok yang mayoritas ini, menjadi lebih kritis dan bisa introspeksi diri. Lalu kita bisa bertanya: apa yang salah pada ajaran kita?

Kehadiran mereka itu terkadang juga dimotivasi untuk mencari sesuatu yang dianggap akan dapat memuaskan dahaga spiritual mereka. Mereka merasa menemukan itu pada kelompok-kelompok atau aliran-aliran baru yang selama ini tidak kita kenal. Kalau mereka merasa damai dan bahagia berada di sana, menurut saya itu sudah sesuai dengan tujuan umum agama itu sendiri.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.