Home » Gagasan » Pluralisme » Nabi, Quran, dan Kitab Suci: Konsep-Konsep “Einmalig” dalam Islam
Kazan_church

Nabi, Quran, dan Kitab Suci: Konsep-Konsep “Einmalig” dalam Islam

4.62/5 (37)

IslamLib – Masing-masing agama memiliki kekhususan sendiri. Dan atas dasar kekhususannya itu, agama bersangkutan membangun suatu identitas yang terpisah dari agama lain; menegakkan semacam “the discourse of difference”. Tanpa diskursus perbedaan, sebuah agama sulit tegak sebagai entitas yang berdiri sendiri. Meskipun, jika kita telaah dengan cermat, pada esensinya yang paling dalam, semua agama adalah sama.

Karena setiap agama tegak pada “the discourse of difference”, kita tak bisa menjadikan agama yang satu sebagai standar untuk mengukur kebenaran agama yang lain. Kita sulit menyebut adanya sebuah “meta-religion” atau narasi besar di balik agama yang bisa menjadi “yard stick” untuk mengukur semua agama. Sebab, sekali lagi, setiap agama unik pada dirinya sendiri, persis seperti masing-masing lukisan yang merupakan dunia yang “einmalig,” khas pada dirinya masing-masing.

Karena itu, apa yang ada pada Islam tidak bisa dijadikan sebagai standar untuk menilai Kristen. Dan apa yang ada pada Kristen juga tak bisa dipakai untuk menilai Islam. Hal yang serupa berlaku pada semua agama. Meski, ini tidak berarti kita tak bisa melakukan suatu kajian perbandingan, komparatif, antara satu agama dan agama yang lain. Tetapi kajian komparatif bukan untuk mencari semacam “meta-agama” yang bisa menjadi ukuran universal, melainkan untuk “verstehen”, memahami kekhususan agama-agama itu.

Umat Islam meyakini bahwa agamanya paling benar. Hal yang sama juga berlaku pada pemeluk agama-agama yang lain. Meskipun saya tidak sepakat dalam hal ini, sebab saya memandang agama sebagai entitas yang bisa saling melengkapi satu terhadap yang lain. Tetapi, baiklah. Saya terima kenyataan itu: bahwa masing-masing pemeluk agama memiliki keyakinan bahwa agamanya adalah paling benar di dunia ini. Itulah yang dalam kajian agama disebut sebagai “truth claim”.

Tetapi itu bukan berarti bahwa agama yang satu bisa menjadi “standar” untuk menilai agama yang lain. Kebenaran Islam tak bisa dipakai sebagai kriteria untuk menilai kebenaran dalam agama Kristen. Kebenaran agama sifatnya “einmalig,” khas, bukan kebenaran dalam pengertian yang kita kenal dalam sains, yaitu kebenaran universal, kebenaran yang prediktif dan sekaligus “exhaustive”.

Sekarang saya akan masuk ke beberapa konsep kunci yang merupakan kekhususan Islam. Dalam Islam, kita kenal sejumlah istilah penting: nabi, rasul, kitab suci, dan Quran. Saya akan mencoba menunjukkan bahwa konsep-konsep ini memiliki pengertian yang sangat “einmalig” atau khas Islam dan tidak bisa, bahkan tidak “fair” jika kita jadikan sebagai standar kebenaran untuk menilai dan menghakimi konsep-konsep serupa dalam agama lain, misalnya Kristen atau Yahudi.

Banyak pendapat sarjana Islam mengenai apa itu yang disebut nabi dan rasul. Salah satu pendapat yang dominan mengatakan bahwa nabi adalah seseorang yang menerima wahyu, tetapi tak dituntut untuk menyebarkannya kepada publik. Sementara rasul adalah dia yang menerima wahyu dan sekaligus mendapatkan “call” atau panggilan untuk menyebarkannya kepada orang lain.

Dalam analogi yang sederhana: nabi adalah seperti seorang cendekiawan yang (meminjam istilah Arif Budiman dulu) “berumah di angin”. Dia mendapatan “pengertian” (wahyu) dari Tuhan, tetapi dia hanya menikmati pengertian itu untuk dirinya sendiri, sebagai bagian dari kenikmatan kehidupan soliter seorang intelektual.

Sementara rasul adalah seorang aktivis yang bertindak untuk mengubah sejarah dan dunia. Rasul adalah seseorang yang menerima pengertian dari Tuhan, dan merasakan suatu “panggilan ilahiah” untuk menyebarkannya kepada publik luas. Jika nabi bersikap soliter, rasul adalah sosok yang misionaris, yang ingin menyebarkan misinya kepada seluas mungkin publik di luar sana.

Salah seorang yang pernah mengartikulasikan dengan sangat cemerlang pengertian mengenai dua konsep ini adalah Ali Shariati (1933-1977), seorang intelektual Iran yang dianggap menjadi ilham bagi Revolusi Iran pada 1979 itu. Dalam bukunya yang berjudul Tugas Cendekiawan Muslim (Rajawali Press, 1987), Ali Shariati membuat pembedaan tentang tipe-tipe seorang intelektual. Nabi dan rasul adalah salah satu tipe keintelektualan.

Pengertian Islam mengenai nabi dan rasul ini jelas berbeda dengan, misalnya, pengertian mengenai istilah-istilah itu dalam Yahudi atau Kristen. Dalam tradisi Yahudi/Kristen, nabi ialah juru bicara Tuhan melalui nubuat atau ramalan tentang masa depan. Karena itu, Daud, misalnya, dalam tradisi Yahudi tidak disebut sebagai nabi. Dia adalah murni seorang raja, dan dia bukan “juru bicara” Tuhan melalui sebuah nubuat. Sebaliknya, Islam menganggap sosok ini nabi.

Sementara itu, istilah rasul sangat berbeda dalam Kristen. Rasul, dalam agama Kristen, berarti utusan-utusan yang membawa kebenaran yang dibawa Yesus kepada seluruh dunia. Murid-murid Yesus yang berjumlah dua belas itu disebut sebagai apostles, rasul, utusan yang menyebarkan kebenaran Yesus ke pada orang-orang lain. Yesus sendiri bukan rasul. Dia, dalam keyakinan Kristen, adalah Tuhan. Atau tepatnya, firman Tuhan yang mendaging. Re-inkarnasi.

Yang menarik adalah konsep mengenai Kitab Suci. Ketika orang Muslim dan Kristen menggunakan istilah “Kitab Suci”, mereka hampir sulit saling memahami. Sebab pada kepala mereka ada pengertian yang berbeda tentang apa itu Kitab Suci. Bagi seorang Muslim, yang disebut Kitab Suci adalah kumpulan wahyu Tuhan yang “diturunkan” (inzal) oleh Tuhan secara verbal kepada seorang rasul/nabi.

Quran, dalam pandangan umat Islam, adalah Kitab Suci, sebab ia berisi wahyu Tuhan yang diberikan secara verbal kepada Nabi Muhammad. Istilah yang dipakai adalah “anzala” atau “nazzala” yang artinya adalah menurunkan sesuatu dari atas ke bawah. Sebab umat Islam yakin bahwa wahyu datang dari atas, langit, menuju ke bawah, ke para nabi yang ada di bumi. Dalam keyakinan umat Islam, para nabi itu menerima wahyu dari Tuhan secara verbal, seperti kita menerima sebuah pesan langsung dari orang lain melalui ujaran.

Pengertian semacam ini tak ada baik dalam Yahudi atau Kristen. Apa yang ada dalam Taurat (lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama) dan Injil bukanlah wahyu dalam pengertian yang dipahami oleh umat Islam. Istilah “wahyu” di sini juga harus kita pahami secara hati-hati, sebab dia memiliki pengertian yang beda dalam Islam dan Yahudi/Kristen.

Umat Islam percaya bahwa apa yang disebut wahyu adalah situasi berikut ini: Tuhan mengirimkan pesan secara verbal kepada nabi/rasul. Pesan yang diterima nabi itu sudah dalam bentuk kalimat dan redaksi yang komplit. Kedudukan nabi, seperti pernah digambarkan dengan sebuah metafor yang sangat baik oleh alm. Fazlur Rahman, adalah persis seperti tukang pos yang sekedar hanya menyampaikan pesan saja, tanpa mencampuri isi pesan itu.

Dalam Yahudi/Kristen, pengertian wahyu semacam ini tidak ada. Tidak ada wahyu dalam pengertian “verbal revelation” dari Tuhan kepada manusia. Apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama atau Baru adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Hanya saja, dalam menuliskan kitab-kitab itu, manusia-manusia itu dituntun dan dibimbing oleh roh Tuhan.

Injil Matius, misalnya, bukanlah berisi “wahyu” dalam pengertian yang dipahami oleh umat Islam. Injil Matius adalah rekaman dan kesaksian tentang kehidupan Yesus Kristus yang ditulis seorang pengarang, seorang manusia. Begitu juga injil-injil yang lain: Markus, Lukas,Yohanes. Injil-injil itu tidak pernah ada sebagai sebuah “buku” pada zaman Yesus. Keempat injil yang biasa disebut dengan Injil Sinoptik itu ditulis oleh manusia-pengarang setelah Yesus mati dalam rentang antara tahun 60-90 M.

Injil mungkin tidak tepat disetarakan dengan Quran. Injil lebih tepat dibandingkan dengan hadis. Sama dengan injil, hadis adalah rekaman para sahabat Nabi Muhammad mengenai ucapan, tindakan dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh Nabi.

Umat Islam sama sekali keliru jika mengira bahwa pada zaman Yesus ada “wahyu” dalam pengertian seperti wahyu yang turun pada Nabi Muhammad. Tidak wahyu semacam itu baik dalam Yahudi maupun Kristen. Jadi, baik umat Islam atau Kristen harus hati-hati saat menggunakan istilah-istilah seperti wahyu atau Kitab Suci. Istilah yang mereka gunakan boleh jadi sama, tetapi memiliki pengertian yang berbeda.

Ini, dalam bahasa Arab, disebut sebagai fenomena ishtirak (equivocality): satu kata dengan makna dan pengertian yang banyak. Fenomena ini ada dalam semua bahasa. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “genting” yang bisa bermakna “gawat” dan “atap rumah.”

Konsep-konsep seperti wahyu, nabi, Kitab Suci bisa kita anggap sebagai bagian dari fenomena “ekuivokalitas” atau homonim ini. Yakni, suatu istilah yang sama dengan pengertian yang berbeda. Istilah wahyu dipakai dalam Islam dan Kristen, tetapi pengertiannya sangat berbeda. Jebakan ekuivokalitas ini bisa menimbulkan salah paham yang fatal, seperti kita lihat dalam debat dan polemik kristologis selama ini.

Sekali lagi: agama-agama adalah realitas yang “einmalig,” khas, spesifik. Karena itu kita harus hati-hati memahami kekhususan mereka. Kita harus menghindari melakukan proyeksi kekhususan satu agama kepada agama lain. Jebakan semacam ini bisa menimbulkan pertengkaran yang yang tak berkeputusan.[]

** Disampaikan sebagai pengantar kuliah di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro Jaya, hari ini, Jumat 16/10/2015.

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.