Home » Gagasan » Pluralisme » Tentang “Truth Claim” dalam Agama-Agama
dialogue

Tentang “Truth Claim” dalam Agama-Agama

4.4/5 (45)

IslamLib – Semua agama, saya kira, nyaris tak bisa menghindari apa yang disebut “truth claim” atau kleim atas kebenaran. Setiap pernyataan iman dari pemeluk agama manapun tentu mengandung suatu kleim bahwa apa yang diimani oleh si pemeluk itu adalah hal yang benar. Bukan saja benar, tetapi puncak atau bahkan kadang-kadang satu-satunya kebenaran.

Demikianlah seorang Muslim misalnya, tentu mengimani bahwa agama yang ia peluk adalah satu-satunya kebenaran yang sejati. Hal ini juga berlaku untuk pemeluk agama-agama yang lain.

Sebuah ayat dalam Quran menegaskan: Sesungguhnya agama menurut Tuhan adalah Islam (QS 3:19). Ayat ini sering dipahami oleh umat Islam sebagai penegasan tentang “truth claim”: bahwa satu-satunya agama yang benar di mata Tuhan adalah agama Islam. Sebuah ayat yang lain juga mengandung pengertian yang serupa: Barangsiapa mencari “din” atau agama selain Islam, Tuhan tak akan menerimanya (QS 3:85).

Meskipun, jika kita telaah secara lebih cermat, belum tentu kedua ayat itu menunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di mata Tuhan. Ayat ini bisa ditafsirkan dengan cara lain. Misalnya: kata “Islam” dalam kedua ayat itu bisa saja maknanya bukan Islam dalam pengertian nama agama tertentu. Islam di sana bisa juga dipahami dalam pengertiannya yang generik atau umum: yaitu ketundukan.

Dengan pengertian seperti itu, maka ayat tersebut bukan sebentuk “truth claim”, melainkan sebatas pernyataan bahwa “din” atau jalan penyembahan terhadap Tuhan yang benar ialah jalan yang di dalamnya ada sikap “ketundukan”. Agama yang sebenar-benar agama ialah yang mengandung ajaran ketundukan kepada Tuhan — submission. Jika dimaknai dengan cara demikian, maka ayat di atas bukan menunjuk kepada satu agama saja. Ayat itu bisa mencakup agama mana saja yang mengajarkan sikap ketundukan.

Lepas dari kemungkinan tafsir yang berbeda atas dua ayat di atas, saya tetap menegaskan bahwa adalah wajar saja jika seorang pemeluk agama tertentu memiliki kleim kebenaran yang eksklusif. Ini bukan saja berlaku pada pemeluk Islam, tetapi juga agama-agama lain.

Dalam Kristen, kita juga menjumpai “truth claim” serupa, seperti kita baca, misalnya, dalam Injil Yohanes: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Sebagaimana dua ayat dalam Qurah di atas, ayat dalam Injil Yohanes ini, terutama bagi kalangan Kristen fundamentalis, dimaknai sebagai sebuah pernyataan keyakinan tentang iman Kristen sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan.

Meskipun, perkembangan doktrinal dalam Kristen menujukkan sebuah perkembangan yang menarik. Sebuah perubahan penting terjadi dalam sejarah agama Katolik ketika Konsili Vatikan yang kedua menyatakan bahwa kebenaran ilahiah bisa ditemukan dalam semua tradisi agama, bukan hanya dalam agama Katolik saja. Dalam dokumen yang bernama Nostra Aetate (secara harafiah berarti “Pada Masa Kita”) dinyatakan sebuah deklarasi yang sangat “ekumenis” seperti berikut:

The Catholic Church rejects nothing that is true and holy in these religions. She regard with sincere reverence those ways of conduct and of life, those precepts and teachings which, though differing in many aspects from the ones she holds and sets forth, nonetheless often reflect a ray of that Truth which enlightens all men.

Inti pernyataan ini ialah bahwa gereja Katolik bisa menerima semua ajaran yang benar dan suci dalam agama-agama lain, meskipun itu berbeda dengan iman Katolik. Ajaran-ajaran tentang kebenaran itu dipandang oleh gereja Katolik sebagai semacam pantulan dari sinar Kebenaran yang sama yang memberikan penerangan kepada semua orang.

Pandangan gereja Katolik yang terbuka dan inklusif ini mengingatkan kita kepada sebuah kebijaksanaan dalam mistik Islam. Di sana, misalnya, kebenaran digambarkan sebagai sebuah cermin yang retak dan tersebar ke mana-mana. Serpihan cermin yang pecah itu memantulkan sinar, tetapi tentu hanya sebagian saja. Agama-agama yang berbeda itu hanyalah serpihan cermian. Dia bukan mewakili keseluruhan cermin.

Pandangan-pandangan semacam ini sekaligus menggambarkan kepada kita tentang dua corak “truth claim”. Yang pertama adalah kleim kebenaran yang eksklusif dan tertutup; kebenaran hanyalah ada dalam agama yang dipeluk oleh orang bersangkutan. Di luar itu hanyalah kebenaran yang belum sempurna, inferior, rendah derajatnya. Atau, lebih buruk lagi, semua yang ada di luar agama “kami” hanyalah kesesatan. Semua. Ini adalah kleim kebenaran yang tertutup. Ada nada “kesombongan” yang tak tersembunyikan di sana.

Yang kedua adalah kleim kebenaran yang terbuka. Pandangan ini diwakili oleh dokumen Nostra Aetate yang dikeluarkan oleh gereja Vatikan di atas. Dalam kasus Islam, padangan yang terbuka sudah mulai berkembang pula, antara lain diwakili oleh para intelektual Muslim yang berwawasan pluralis yang kita jumpai di hampir semua negara saat ini.

Bagi intelektual Muslim pluralis ini, pengertian ayat 3:19 di atas bukanlah pernyataan tentang kebenaran yang secara eksklusif hanya ada dalam Islam, melainkan deklarasi tentang esensi agama: yaitu ketundukan. Esensi ini bisa tersebar ke dalam semua agama, bukan hanya dalam Islam saja.

Apakah kleim kebenaran yang tertutup dengan sendirinya akan menimbulkan masalah dalam hubungan antar-agama? Menurut saya tidak selalu demikian. Saya berjumpa dengan banyak teman Muslim yang siap berdialog dengan agama-agama lain, meskipun mereka punya keyakinan bahwa agama yang paling benar ya Islam. Keyakinan semacam ini tak menghalangi mereka untuk “mengulurkan tangan” dan bercakap-cakap, berdialog dengan pemeluk agama lain.

Yang sering menjadi masalah justru bukan dialog dengan agama lain, melainkan dengan sesama golongan Islam yang berbeda mazhab atau akidah. Kerapkali toleransi “internal” terhadap sesama Muslim yang berbeda jauh lebih sulit terjadi ketimbang toleransi “eksternal” terhadap agama lain. Ini nyata sekali dalam kasus Sunni-Syiah saat ini. Sebagian kalangan Sunni lebih gampang berbicara dengan kalangan Kristen ketimbang dengan Syiah. Sekte yang terakhir ini dipandang sebagai ancaman yang jauh lebih berbahaya ketimbang agama di luar Islam.

Keadaan yang ideal memang manakala seorang pemeluk agama bisa memiliki suatu wawasan yang terbuka tentang “truth claim”. Tetapi jika kondisi ideal itu pun tak tercapai, kita tak serta-merta berhadapan dengan kiamat. Sebab, pada umumnya, pemeluk agama bisa menoleransi keberadaan pemeluk agama lain, meskipun mereka memiliki “truth claim” yang tertutup dan eksklusif.

Saya melihat, saat ini, dengan makin tingginya derajat kemajemukan dalam masyarakat, pandangan tentang “truth claim” yang tertutup makin banyak ditinggalkan. Masyarakat kita saat ini berada pada suatu perkembangan yang menarik di mana kontak antara pemeluk agama yang berbeda-beda makin sering terjadi, makin intensif.

Nyaris susah membayangkan saat ini ada suatu kasus di mana seseorang hanya hidup dengan orang-orang yang seagama sepanjang hayat. Pada satu titik dalam hidupnya, semua orang saat ini sudah pasti pernah berjumpa dan berinteraksi dengan orang-orang yang berlainan agama. Kontak semacam ini membuat pemahaman seseorang tentang orang lain yang berbeda keyakinan makin baik dan realistis. Prasangka-prasangka yang berasal dari warisan generasi lampau atau dari rumor yang tak jelas sumbernya, pelan-pelan bisa memudar.

Saya tentu akan salah besar jika mengandaikan bahwa kontak yang kian intensif semacam ini akan memudarkan seluruh prasangka buruk mengenai keyakinan lain. Sebagaimana kita tahu, kecanggihan komunikasi modern bukan saja membuka kemungkinan saling pengertian yang baik, tetapi juga membawa petaka yang benar-benar “sialan”, yaitu mudahnya virus kebencian antar kelompok ditularkan ke publik. Ini kita lihat dalam propaganda anti-Syiah sekarang. ‘

Sarana komunikasi yang baik memang belum tentu menjamin kian baiknya kualitas komunikasi antar orang-orang. Dalam kasus-kasus tertentu, teknologi komunikasi yang canggih bisa juga memfasilitasi mis-komunikasi dalam skala dan magnitude yang sangat besar. Ini adalah paradoks dari masyarakat komunikasi modern.

Tetapi, saya tetap memiliki optimisme, bahwa akal sehat masyarakat bisa menjadi “arbiter” atau hakim yang baik. Kebencian bisa ditularkan dan dipropagandakan. Tetapi jangan sekali-sekali kita memiliki anggapan bahwa propaganda itu akan ditelan mentah-mentah oleh semua orang. Sebab manusia bukanlah otomaton yang hanya menelan-tanpa-kunyah segala hal yang ia lihat, baca dan dengar.

Dengan optimisme terhadap watak manusia semacam ini, saya memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya, wawasan ekumenis tentang “truth claim” akan menang dan berjaya. Cepat atau lambat. Seberapapun naifnya keyakinan saya ini, dengan melihat realitas Indonesia sekarang, rasanya tidak berlebihan jika saya beranggapan bahwa pada akhirnya publik akan bersikap rasional dalam menyikapi paham-paham atau keyakinan yang berlainan.

Sekurang-kurangnya, publik akan pelan-pelan paham bahwa “truth claim” yang esklusif makin tidak bisa dipertahankan dalam masyarakat yang begitu majemuk. Mereka, dalam kehidupan sehari-hari, toh berjumpa dengan orang-orang Samaria yang baik dari agama-agama lain. Perjumpaan ini akan membuat mereka memiliki pandangan yang lebih realistis tentang “yang lain.” Semua orang, dengan keyakinan yang beragam, pada akhirnya toh memiliki kesamaan dalam satu hal: manusia. Mereka semua adalah manusia, dengan kelebihan dan kekurangannya.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.