Home » Gagasan » Renungan tentang Barang Bekas
(Photo: flaglerlive.com)
(Photo: flaglerlive.com)

Renungan tentang Barang Bekas

4.43/5 (23)

IslamLib – Mereka yang memiliki rumah kecil (dan rumah-rumah kita memang secara umum makin mengecil sekarang, karena problem kelangkaan lahan dan mahalnya harga tanah), tentu akan menghadapi problem berikut ini: menumpuknya barang-barang bekas. Rumah kecil tentu tak bisa menampung barang yang banyak, sementara kerapakali kita tak memiliki banyak waktu untuk terus-menerus melakukan “stock opname”, meneliti dan menyortir barang-barang yang sudah tak lagi terpakai.

Padahal, nafsu kita untuk menimbun barang tak pernah padam, bahkan makin menggila dari waktu ke waktu. Kultur konsumerisme modern membuat orang-orang modern memiliki suatu perangai yang agak janggal: mereka membeli bukan karena kebutuhan, tetapi membeli sebagai kegiatan yang dinikmati pada dirinya sendiri. Ada kepuasan dalam tindakan membeli yang unik. Dalam membeli, ada pengalaman tentang “novelty” atau kebaruan yang merupakan ciri khas kapitalisme modern.

Membeli barang sama saja dengan memiliki hal yang baru. Pengalaman dengan hal baru inilah yang, saya kira, membuat orang tak segan-segan membelanjakan uang dalam jumlah besar.

Tentu saja, sensasi dalam tindakan membeli ini bukan hal yang cuma-cuma. Dia mensyaratkan hal yang minimal: yaitu tersedianya uang lebih untuk dibelanjakan. Tanpa adanya sisa uang dari belanja sehari-hari, dengan kata lain tanpada ada“purchasing power” atau daya beli yang memadai, kesenangan dan kepuasan membeli ini tentu tak bisa dilakukan.

Tetapi, kapitalisme modern mengalami perkembangan begitu rupa sehingga dia begitu lentur dan fleksibel. Dia mampu memproduksi barang yang sesuai daya beli masing-masing kelas sosial. Setiap segmen dalam masyarakat disuguhi barang-barang yang sesuai dengan jumlah uang yang ada di dompet mereka. Perkembangan penting dalam kapitalisme modern bukan saja muncul gejala produksi barang secara massal. Tetapi juga lahirnya aspek “affordability”: barang kian murah dan terjangkau oleh kelas sosial yang beragam.

Akses atas barang mengalami demokratisasi dalam masyarakat kapitalis modern, antara lain karena barang-barang yang kian murah dan tersedia secara melimpah. Ini yang menjelaskan kenapa kontributor tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi modern bukan lagi sektor produksi, melainkan konsumsi.

Akibatnya, makin menumpuklah barang-barang di rumah kita yang makin mengecil ukurannya. Salah satu kontras yang menarik antara masyarakat dulu dan sekarang adalah berikut ini. Dulu, di kampung saya, rumah-rumah penduduk umumnya berukuran besar. Ini terjadi, mungkin, karena harga tanah masih murah, dan lahan masih tersedia dengan melimpah. Rumah limasan Jawa, misalnya, berukuran besar. Juga ramah gadang di Sumatera Barat.

Tetapi, jangan keliru-kira bahwa rumah besar itu berisi banyak barang. Rumah-rumah tradisional yang besar itu tidak berisi banyak barang. Rumah-rumah itu diperbesar ukurannya bukan untuk menampung barang, tetapi untuk memberikan ruang kepada manusia. Rumah-rumah tradisional yang besar itu berkorelasi dengan bentuk keluarga tradisional yang umumnya berciri khas “extended family”, keluarga besar. Bukan “keluarga batih” (nucleus family) seperti yang kita lihat sekarang.

Sementara itu, rumah-rumah sekarang makin mengecil ukurannya. Ini sebagian disebabkan oleh  harga lahan yang mahal, sebagian karena tanah yang langka, dan sebagian yang lain karena kesadaran (yang agak tragis) bahwa rumah besar toh tak ada gunanya. Anak-anak pada akhirnya akan mencari rumah sendiri, ogah tinggal bersama orang tua, seberapapun besarnya rumah itu. Etos mandiri dan otonomu kian membesar dalam generasi baru. Etos itu berkembang dalam bentuk perasaan bangga karena bisa membangun rumah baru, jauh dari pelototan mata orang tua atau mertua.

Yang ironis ialah rumah yang makin mengecil itu justeri disesaki dengan banyak barang. Bukankah ini sebuah paradoks yang aneh? Rumah-rumah kakek kita dahulu besar-besar tetapi sedikit barang; manusia lah yang lebih banyak di sana. Sementara rumah-rumah generasi kita sekarang makin mengecil ukurannya, tetapi penuh dengan barang-barang.

Rumah-rumah kita sekarang, jika dilihat dari sudut tertentu, mirip dengan sebuah warehouse, gudang. Hanya saja, ini gudang gratisan, sebab barang yang ada di sana adalah milik kita sendiri. Jika manusia dari zaman berburu yang hidup ratusan ribu tahun yang lalu mampir di zaman kitasekarang, mungkin mereka akan merasakan hal yang aneh. Mereka mungkin akan berpikir: Betapa bodohnya manusia modern. Mereka membebani diri dengan barang-barang bekas yang justeru merepotkan diri sendiri!

Kita sekarang hidup dalam abad yang boleh kita sebut sebagai “abad menimbun”: the hording age. Kombinasi antara faktor-faktor seperti produksi barang secara massal dalam kapitalisme modern, “affordability”/ketersediaan barang yang melimpah dan murah, serta naiknya tingkat daya beli masyarakat secara umum (fenomena kelas menengah) – semua faktor itu menciptakan arus-arus yang bermuara pada arus besar bernama “kebudayaan menimbun” barang-barang.

Ini diperparah lagi oleh sikap masyarakat kita (maksud saya masyarakat Indonesia) terhadap barang bekas. Ada perbedaan besar antara sikap masyarakat kita terhadap barang bekas dengan masyarakat lain. Ambil contoh: masyarakat Amerika, misalnya. Sama dengan di Indonesia, kebudayaan menimbun barang ada di Amerika. Ini adalah fenomena global.

Tetapi, ada kebiasaan yang unik di masyarakat Amerika yang tak saya lihat di sini: mereka gemar menimbun barang, tetapi juga gampang melepasnya ke pasar barang-barang bekas.

Salah satu perkembangan menarik di era digital sekarang adalah lahirnya bisnis barang bekas yang luar biasa besar di Amerika. Sejumlah platform lahir di sana untuk menampung perdagangan barang-barang ini, mulai dari yang “community based” seperti Craigslist atau eBay, hinga ke platfrom yang dikelola secara profesional dan menjadi bisnis besar, seperti Amazon.com yang memperdagangkan buku-buku bekas (selain, tentu, buku-buku baru).

Sementara itu, hampir di semua kota Amerika akan kita jumpai apa yang disebut toko-toko pakaian bekas, thrift stores. Di Jakarta memang ada banyak pedagang pakaian bekas. Tetapi ini beda sekali dengan konsep thrift store yang saya lihat di Amerika.

Salah satu peristiwa sosial di akhir minggu yang sering saya lihat di Amerika adalah apa yang disebut dengan “garage sale”. Orang-orang melakukan “cuci gudang” dengan cara menjual barang-barang bekas yang menyesaki rumah mereka. Tentu dengan harga yang sangat murah. Bagi mahasiswa asing yang kuliah di Amerika, momen “garage sale” ini selalu ditunggu. Mereka bisa mendapat barang yang berkualitas baik dengan harga yang cukup murah.

Saya jarang menjumpai fenomena “garage sale” ini di Indonesia, bahkan di Jakarta sekalipun. Menjual barang bekas belum menjadi semacam kultur di sini. Satu-satunya pasar barang bekas yang ramai dan meriah di Indonesia hanyalah pasar mobil bekas dan handphone. Sementara pasar buku bekas belum semeriah kedua komoditas itu. Boleh jadi ini karena masyarakat kita belum terlalu gemar membaca. Atau, boleh jadi, mereka begitu sayang pada buku sehingga enggan melepasnya ke pasar buku bekas.

Saya memiliki kesan, orang-orang Indonesia gemar menumpuk barang, tetapi enggan melepaskannya. Ini menjadikan rumah mereka yang kecil menjadi sarang barang bekas yang kian tak ketulungan.

Tetapi, keengganan ini mungkin juga berkaitan dengan hal lain. Tidak seperti di Amerika, mobilitas orang-orang Indonesia untuk pindah tempat tinggal dari satu kota ke kota lain tak setinggi di negeri-negeri maju. Orang Indonesia lebih “sedentary”, menetap di sebuah tempat dalam waktu yang lama, dibandingkan masyarakat Ameriaka, misalnya. Di negeri-negeri maju, tingkat mobilitas orang cukup tinggi, antara lain karena tuntutan pekerjaan.

Mobilitas yang tinggi membuat orang-orang di Amerika enggan menyimpan barang bekas. Begitu mereka pindah ke tempat lain, seluruh barangnya akan dihibahkan ke tempat-tempat penampungan barang bekas (seperti Salvation Army yang biasa menampung baju bekas), atau dijual lewat garage sale.

Faktor musim, saya kira, juga ikut memiliki kontribusi di sini. Di negeri-negeri tropis yang hanya mengenal dua musim saja seperti Indonesia, orang cenderung tak terlalu banyak berganti model pakaian. Sepanjang tahun, orang Indonesia bisa hanya memakai baju dengan ketebalan yang konstan, dan model yang tak terlalu banyak berubah. Sementara di negeri dengan empat musim seperti Amerika, orang-orang akan cenderung berganti model pakaian setiap musim. Pergantian musim dimanfaatkan benar oleh industri pakaian untuk menawarkan pelbagai produk busana.

Di ujung musim panas, orang-orang di Amerika akan cenderung membuang baju-baju tipis yang hanya bisa dipakai di musim itu. Mereka tak akan mau menyimpan baju-baju itu di musim dingin, karena akan hanya memenuhi apartemen mereka yang umumnya tak cukup besar.

Masyarakat kapitalis modern tampaknya gemar membuang barang bekas, atau lebih tepat jika kita katakan: sampah. Evolusi homo sapiens sekarang ini telah mencapai tahap yang justru mengancam lingkungannya sendiri, karena pelbagai jenis sampah yang ia produksi  tanpa henti. Termasuk sampah barang bekas. Manusia bukan saja homo sapiens, makhluk yang bijak, tetapi juga homo purgamentum, makhluk yang gemar “nyampah”.

Mungkin ada baiknya kita sekarang mendengarkan etos lain yang kontras dengan etos dalam masyarakat konsumeristis. Yakni: etos keugaharian (frugality), semangat berhemat dan membeli barang-barang yang memang benar-benar diperlukan. Bukan membiarkan nafsu kita untuk mengalami sensasi akan “kebaruan”, novelty, berkembang liar, sehingga barang-barang bekas dan sampah tak terlalu menyesaki rumah-rumah kita yang kian mengecil, kian

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.