Home » Gagasan » Revitalisasi Peran Pelajar Islam Indonesia
Para pelajar di sebuah sekolah Islam (Foto: IslamLib)
Para pelajar di sebuah sekolah Islam (Foto: IslamLib)

Revitalisasi Peran Pelajar Islam Indonesia

4/5 (7)

IslamLib – Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah sebuah organisasi Islam esktra-sekolah yang mewadahi para pelajar serta mahasiswa. Organisasi ini berdiri secara independen, berasaskan Islam, bergerak dalam dunia pendidikan. PII bukanlah sebuah organisasi politik.

PII didirikan untuk menciptakan kader-kader Muslim cerdas cendekia yang memiliki jiwa kepemimpinan. Tujuan organisasi ini adalah kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan  yang sesuai  dengan umat Islam. Organisasi ini terbuka untuk segenap bangsa Indonesia dan umat manusia.

Lahirnya PII dilatarbelakangi ketegangan yang menguat akibat dari dualisme sistem pendidikan saat itu: pendidikan model pesantren dan sekolah umum. Pesantren berorientasi eskatologis, sementara sekolah umum lebih berorientasi pada kehidupan dunia.

Dualisme sistem pendidikan tersebut mengakibatkan pelajar terpecah-belah, seringkali saling menghujat. Mereka yang belajar di sekolah umum terkena stigma “pelajar kafir” dan dianggap sekular karena tidak percaya kepada Tuhan. Di lain pihak, pelajar pesantren dianggap ketinggalan zaman. Mereka dilabeli santri kolot atau santri teklekan.

Maka pada hari Mingggu, tanggal 4 Mei 1947, diadakan sebuah pertemuan di kantor PII Yogyakarta. Hadir dalam pertemuan itu Joesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasji, Multazam, Shawabi, Dida Gursida, dan Supomo NA. Hasil dari pertemuan tersebut adalah berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia untuk mempersatukan para pelajar di negeri ini.

Kemudian tanggal 31 Juli 1963, PII Wati didirikan. Tujuannya untuk meningkatkan peran dan kualitas kader PII perempuan. Sekaligus menghapus tradisi negatif tentang wilayah perempuan yang melulu di sektor konsumsi. Selain itu, pandangan bahwa anggota PII perempuan relatif terbatas usaha pengembangan dirinya dibanding PII putra, bisa diminimalisir.

Peranan dan fungsi pelajar sebagai salah satu agen perubahan dan pejuang pendidikan tidak dapat dikesampingkan. Sebab, sejak zaman dahulu pemudalah yang mempelopori perubahan dan reformasi. Misalnya KH. Ahmad Dahlan, Soekarno, dll.

Namun sayangnya pada era Orde Baru, suara PII seakan terpasung. Bahkan sampai sekarang, mereka yang mewarisi karakter Orba masih mendiskreditkan suara para pelajar. Mereka menganggap para pelajar belum memiliki kapasitas dan kapabilitas menyalurkan pendapat maupun kontribusi dalam bentuk lain, demi sebuah perubahan.

Dunia seolah-olah lupa bahwa pelajar dengan kecerdasan intelektualnya itu mampu membuat analisis dan kritik. Paul Baran pernah mengatakan, seorang intelektual pada asasnya adalah kritikus yang akan mengidentifikasi, menganalisis, serta membantu mengatasi segala permasalahan yang ada di masyarakat.

Maka, pelajar yang baik adalah mereka yang senantiasa peka terhadap situasi sosial di sekelilingnya. Mereka tidak hanya manut pada dogma dan pengetahuan dari sang guru, tetapi juga bersikap kritis, seiring mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks itu, seyogyanya para pelajar yang tergabung dalam PII mampu mendefinisikan-ulang peran organisasi pelajar tertua di Indonesia ini. Langkah-langkah strategis perlu dirumuskan demi menghadapi berbagai tantangan zaman.

Revitalisasi perannya di masyarakat sebagaimana disampaikan Pengurus Besar PII beberapa waktu lalu, perlu diperhatikan. Ada beberapa langkah yang telah dirumuskan, di antaranya: Pertama, mendidik para anggota agar taat kepada Allah swt. Kedua, menumbuhkan kecerdasan, kreativitas, ketrampilan, minat, serta bakat dari para anggota. Ketiga,  mendidik anggotanya menjadi independen, mampu berdiri di kaki sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Keempat,  Mendidik mental serta menumbuhkan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kelima, mendidik anggotanya untuk dapat mengelola informasi global seraya melindungi mereka dari dampak negatifnya.

Keenam, membantu anggotanya dalam mengembangkan minat dan memecahkan masalah pelajar. Ketujuh, menyelenggarakan aktifitas sosial keislaman untuk umat Islam dan NonIslam. Kedelapan, mengembangkan semangat dan kemampuan anggotanya  dalam menguasai serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan manusia.

Kesembilan, mengembangkan kemampuan anggotanya untuk mempelajari, memahami, mengapresiasi, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kesepuluh, menciptakan pemimpin yang memiliki pandangan hidup Islami, wawasan yang luas di berbagai bidang dan berkepribadian muslim .

Bagi PII, pelajar merupakan ujung tombak perubahan peradaban. Masyarakat menaruh harapan besar terhadap para pelajar. Generasi masa depan yang berkualitas dan peka terhadap persoalan sosial sangat dibutuhkan.

Pelajar yang baik tak ragu untuk melakukan kritik terhadap lingkungan sosialnya. Melalui menulis, misalnya, ia bisa menyampaikan saran atau ide-ide cemerlang terkait berbagai persoalan di masyarakat. Inilah peran aktif pelajar yang harus terus dikembangkan.

Begitu juga terhadap kebijakan pemerintah. Terkait yang satu ini, para pelajar harus berani menyuarakan pendapatnya. Ini telah dilakukan PII saat menyikapi kebijakan Ujian Nasional (UN), misalnya.

Ketika itu PII menyeru agar UN seyogyanya dikondisikan dengan kemampuan para pelajar dan tidak melupakan pentingnya penguatan karakter mereka. Jangan sampai adanya UN justru membuat pelajar merasa kehilangan percaya diri dan memilih jalan-jalan instan demi mencapai kelulusan.

PII juga menyeru pemerintah untuk lebih memerhatikan sektor pendidikan. Sebab, pendidikan mampu menentukan maju tidaknya sebuah peradaban. Selain itu, pendidikan merupakan pondasi kuat untuk membangun bangsa yang adil, makmur, berdaulat, serta merdeka.

Masalah di sektor pendidikan bukan semata-mata soal anggaran. Namun, keselamatan jiwa anak-anak adalah hal yang utama. Jangan sampai karena minimnya anggaran, maka infrastruktur sekolah atau madrasah diabaikan. Para pelajarlah yang lantas menjadi korbannya.

Selain itu pemerintah seyogyanya membangun sekolah-sekolah yang dekat dengan kawasan pedalaman. Disertai fasilitas dan perangkat yang memadai tentunya. Dengan demikian, anak-anak di pedalaman tersebut dapat menggapai asa yang tinggi serta memiliki kesempatan yang sama dalam perubahan nasibnya ke depan.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.