Home » Gagasan » Ya Allah, Inikah Wajah Islam?
khadija

Ya Allah, Inikah Wajah Islam?

4.18/5 (11)

IslamLib – Anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci, orangtuanya lah yang menjadikannya islam, nasrani, atau majusi. Kurang lebih begitulah bunyi salah satu hadits Rasulullah. Aku lahir dari orang tua yang beragama islam. Maka, orang tuaku mengenalkanku kepada satu Tuhan yaitu Allah Swt dan mendidikku dengan iman Islam.

Di usiaku sudah berkepala dua, untuk pertama kalinya aku menonton film Life of Pi. Jika orang-orang terkesan dengan pengalaman Pi mempertahankan hidupnya di lautan lepas bersama seekor harimau, aku justru lebih terkesan dengan perjalanan keimanan Pi. Pi kecil adalah seorang Hindu, yang kemudian bersinggungan dengan agama Kristen dan Islam.

Perkataannya yang tak pernah kulupa adalah:

Terima kasih Wisnu, karena telah mengenalkanku pada Kristus” dan “aku belajar cinta dan kasih sayang dari Kristen dan ketundukan yang besar pada Tuhan serta persaudaraan ketika aku salat.

Ketika Pi sudah dewasa dan ditanya seorang temannya karena dirinya mengucap “amin” (yang tidak umum bagi umat Hindu), Pi menjawab bahwa hal itu memang tidak umum kecuali bagi seorang Katolik-Hindu.

Kita tidak akan mengenal Tuhan sampai seseorang mengenalkannya pada kita. Aku pertama kali dikenalkan dengan Wisnu oleh orangtuaku.” — Pi

Usai menonton film itu, aku lantas berkaca pada diriku sendiri. Aku mencoba kembali ke waktu-waktu sebelumnya. Ketika kita masih kecil, atau setidaknya sebelum akil balig, peran orang tua dalam keyakinan agama anaknya sangatlah besar.

Sadarkah kalian, darimana kalian mengenal Tuhan yang selama ini kalian sembah, jika bukan dari orang tua kalian? Siapakah yang mengenalkan Allah kepada kita jika bukan orang tua kita? Mungkin sebagian dari kita ada yang menjawab ustadz, guru ngaji di TPA, atau guru agama, tapi tetap saja orangtualah yang melabeli diri kita dengan Islam.

Atas seizin mereka, kita bisa menyebut diri kita Muslim, belajar salat, pergi ke TPA, sampai ikut takbiran keliling. Maka beragamanya kita ketika kita masih kecil adalah template dari orang tua kita. Atau seperti yang pernah ku dengar yaitu istilahnya agama warisan. Given.

Semakin aku beranjak dewasa, aku semakin menyadari bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang dapat diwariskan. Dia harus dicari, dipahami, diyakini, untuk kemudian berubah menjadi perbuatan. Tentu saja, kita tidak akan mungkin sanggup menjalankan ritual ibadah kita sepanjang hayat tanpa keyakinan dan memilihnya secara sadar.

Boleh dibilang, selama kuliah aku mengeksplorasi keimananku. Aku mengeksplorasi agamaku. Aku ingin memahami Islam dan melihatnya dari dekat. Meskipun itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Karena banyaknya aliran-aliran ataupun ideologi pergerakan yang berbeda-beda dari setiap aliran.

Aku belajar bahwa Islam adalah agama kedamaian dan menenangkan dari dakwahnya teman-teman tarbiyah. Aku mendapat pemahaman Islam sebagai sebuah ideologi dari para syabah dan syabab HTI. Aku merasakan spirit perjuangan Islam ketika diundang acara buka bersama dengan kakak-kakak KAMMI.

Dari luar dunia kampus, aku menemukan arti keterbukaan pemikiran. Aku juga memahami bahwa Muslim harus cerdas dari sosok Alm. Gus Dur. Aku menemukan kefitrahan Islam melalui esai-esai Cak Nun dan acara Mocopat Syafa’at-nya. Aku melihat persinggungan Islam dengan Sosialisme dari buku-buku Tan Malaka.

Pada akhirnya aku melihat wajah Islam yang berbeda-beda. Dari cara berpakaian hingga gaya komunikasi. Dari pemikiran sampai pensikapan atas suatu masalah. Aku menyerap semua keragaman itu dan kubiarkan pikiranku untuk menilai sendiri masing-masing pemikiran itu. Asal masih mengimani rukun Iman dan menjalankan rukun Islam, tidak penting bagi ku mana yang benar dan mana yang salah.

Sayangnya, aku tidak mampu menyelami semua keragaman tafsir itu. Pengetahuanku juga masih dangkal. Tapi satu hal yang pasti, keragaman tafsir ini nampaknya belum membuahkan hasil bagi dunia Islam.

Karena dunia Islam yang kukenal saat ini adalah dunia nomor sekian. Zakat ada untuk menjamin perputaran uang, tapi di sisi lain kemiskinan justru mewarnai setiap kantong-kantong penduduk Muslim. Belum lagi label terorisme yang, sampai sekarang pun aku tidak tahu, kenapa selalu dihubung-hubungkan dengan Islam.

Aku alumni Biologi, dan ketika aku masih kuliah, aku terbiasa mencari literatur jurnal-jurnal ilmiah, tapi di saat yang sama aku tak terbiasa menemukan jurnal yang ditulis seorang Muslim atau yang berasal dari negeri Muslim.

Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang ukhuwah islamiyah. Media sosial yang mestinya dimanfaatkan untuk mengeratkan ukhuwah malah jadi sarana unjuk gigi golongan siapa yang paling benar.

Kaum Muslim sibuk berteriak atas nama golongannya masing-masing. Saling tuding, fitnah, dan menyalahkan atas segala situasi hingga mereka sibuk mengaduk-aduk persoalan umat saat ini. Hanya melahirkan perdebatan-perdebatan tanpa kesimpulan apalagi solusi.

Keragaman tafsir ini tidak dipahami sebagai hasil sebuah pengkajian, aktivitas intelektual, serta progresivitas. Tetapi terus dijadikan sumbu untuk saling terpecah-belah.

Kadang aku berpikir, kalau ulama-ulama atau cendekiawan-cendekiawan Muslim itu jumlahnya banyak dan mereka mampu menerbitkan buku-buku fiqh ibadah, tuntunan salat Nabi, bisnis ala Rasulullah, perbankan syariah, atau bagaimana membangun keluarga sakinah, mengapa mereka tidak bisa menelurkan pemikiran-pemikiran untuk solusi permasalahan umat saat ini?

Ketika aku mempelajari Islam lalu kutemukan beraneka warna Islam, aku melihatnya sebagai wajah Islam yang beragam. Islam yang hidup oleh buah pemikiran para ulama dan cendekiawannya. Tetapi melihat realita nasib umatku, aku mulai berpikir inikah wajah Islam yang sesungguhnya?

Keragaman Islam itu ternyata hanyalah topeng yang indah dari wajahnya yang sebenarnya. Topeng yang menghalangi kita untuk melihat wajah yang asli. Bahwa keterpurukan dunia Islam adalah kenyataan.

Aku berdoa semoga kelak ada tangan-tangan yang kuat untuk melepaskan topeng itu. Dan semoga aku termasuk didalamnya.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.