Home » Gagasan » Yang Panas di IslamLib
[Sumber: newslaundry.com]
[Sumber: newslaundry.com]

Yang Panas di IslamLib

4.04/5 (24)

Sebagai sebuah situs web yang mengangkat tema agama dalam tulisan-tulisannya, IslamLib cukup mampu menarik perhatian banyak masyarakat. Bagi saya, selain tulisan, ada sesuatu yang menarik dari IslamLib, yakni komentar-komentar yang berada di bawah tulisan yang diterbitkan.

Beberapa waktu lalu cerpen saya pernah dimuat di situs ini. Judulnya: ‘Satu Minggu Menjadi Ateis’. Lumayanlah, dilihat lebih dari seribu kali. Komentarnya pun ‘asik-asik’. Ada yang pedas, asem dan manis. Persis kripik balado.

Kadang saya tersenyum kecut membaca komentar dari pembaca. Di cerpen itu ada yang berkomentar, harusnya endingnya begini, harusnya begitu. Lho? Ini cerpen, Mas. Cerita yang berangkat dari imajinasi penulis. Cerpen pun bukan pembenaran. Setidaknya penulis berharap tulisannya mampu memicu pembaca untuk lebih mengembangkan persepsi yang disampaikan di dalam cerita.

Saya pun tak terlalu mempermasalahkan itu. Namun, ada beberapa kali saya melihat komentar pahit dari sejumlah pembaca di tulisan-tulisan penulis IslamLib lainnya. Sampai-sampai ada yang nyebut-nyebut beragam nama binatang segala, menyudutkan penulis, menghujat hingga memperkeruh suasana di kolom komentar.

Istilahnya, masih banyak yang merasa diri paling benar.

Nah, dengan melihat gambaran cuap-cuap pembaca di kolom komentar, saya banyak belajar. Belajar tentang manusia. Terkadang saya merasa aneh melihatnya dan menimbulkan satu pertanyaan untuk mereka yang ‘ribut’ di kolom komentar, “Anda yakin sudah memiliki keyakinan?”

Agama adalah ajaran yang berdasarkan keyakinan yang teguh di dalam diri. Itu menurut saya. Saya yang tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni ini. Kemudian, keyakinan menjadi sesuatu yang amat pribadi pada diri. Bukan untuk berkoar-koar dan mencitrakan diri paling alim, paling dalam ilmunya atau paling taat ibadahnya.

Buat apa? Toh, intinya adalah ikhlas. Kalau bisa, tak ada satupun manusia yang tahu kalau Anda rajin ibadah dan mendekatkan diri pada-Nya. Mau kita dinilai oleh manusia lain sebagai orang sesat, kafir dan apalah namanya, memangnya kenapa? Hebat sekali seorang manusia itu jika ia bisa menilai kapasitas manusia lain dalam berkeyakinan.

Demikianlah misalnya jika komentar yang ditulis hanya membuat keruh suasana. Tulisan yang sudah ditulis dengan kemampuan olah pikir dan tak jarang juga memakan waktu tidur, terpaksa kehilangan kekuatan untuk pengembangan makna karena tertutup dengan komentar yang entah kemana-mana larinya.

Menurut saya, komentar yang muncul terkadang tak lebih dari perang ego. Ya, balik lagi ke yang tadi, merasa diri paling benar dan sudah benar. Mana ada manusia bumi yang telah benar (100 persen)? Kalau memang sudah benar sepenuhnya, pastilah bukan di bumi ini tempatnya. Setidaknya mereka sudah berpulang ke sisi-Nya.

Bukan di IslamLib saja saya rasa permasalahan komentar yang berlanjut menjadi ajang debat kusir bendi ini, namun di media sosial hal ini juga marak terjadi. Satu persatu manusia menegakkan egonya. Tak mau kalah. Kalau bahas agama, dan merasa tersudut, jurus hadis dan sejenisnya pun dikeluarkan.

Ini tentang keyakinan. Jika ada pihak yang meyakini bahwa A adalah cara untuk lebih dekat dengan-Nya, B adalah cara berdoa yang tepat, C adalah amalan yang bagus, lalu kenapa harus diperdebatkan?? Toh keyakinan adalah milik pribadi.

Di sisi lain, apakah perdebatan di kolom komentar ini adalah candu? Merasa ada yang kurang kalau sehari itu tidak perang di kolom komentar? Atau, memang peradaban manusia sekarang adalah peradaban yang mengagungkan perselisihan dan menikmatinya bagai sebuah kebutuhan primer?

Jika memang misalnya kita tak suka perselisihan, kenapa harus bersikap untuk memicu perselisihan? Sama halnya dengan tradisi bully di masa kini, apakah demikian juga manfaat kolom komentar untuk kita?

Satu hal mungkin yang tidak disadari oleh mereka yang suka berkomentar pahit dan membuat keruh suasana, yakni sikapnya yang hanya akan menjadi lelucon bagi pembaca lain. Istilahnya, komentar-komentar demikian menjadi hiburan tersendiri bagi yang tidak mau ikut dalam pergolakan perang ego itu.

Ada satu kemungkinan lain menurut saya. Para haters di kolom komentar mungkin sengaja merendahkan pemikiran penulis agar mereka bisa berada di posisi yang lebih tinggi dari penulis?

Oh iya, satu hal lagi. Komentator yang suka bersikap reaktif, negatif, sinis, menyerang pribadi penulis, mencela isi tulisan, merasa lebih pandai dari penulis dan tidak punya karya apa-apa, adalah ciri-ciri pengidap psikopat.

Ya begitulah kira-kira. Tulisan ini hanya sebuah intermezzo belaka di antara tema-tema berat yang diusung oleh penulis lain. Semoga komentator-komentator semakin bersemangat untuk saling berdialog dan menggali sebuah karya tulis guna menemukan pemahaman yang lebih dalam. Peace!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.