JIL Edisi Indonesia

Misi Kenabian Gerakan Pembaruan Reportase Diskusi Kampus di Bandung

Oleh Saidiman Ahmad

Pemikiran kritis di dalam Islam sebenarnya sudah berlangsung lama. Dalam dunia Islam dikenal kelompok Mu’tazilah yang sangat rasional. Sekelompok penganut Syi’ah bahkan tak tanggung-tanggung mengkritik anggapan umum ummat Islam saat ini. Bagi sekelompok penganut Syiah, sebenarnya wahyu yang diterima oleh Muhammad itu salah alamat, mestinya wahyu itu diterima oleh Ali bin Abi Thalib.

01/09/2010 | Diskusi | Komentar (0) #

Filsafat Cahaya Suhrawardi dan Sejumlah Kritiknya Reportase Tadarus Ramadan JIL Sesi II

Oleh Saidiman

Isyraqiyyah, oleh Ulil, digambarkan mirip dengan ilham para nabi. Ia bukan kebenaran yang diperoleh secara gradual sebagaimana dalam tradisi filsafat demonstratif. Ia muncul dalam apa yang disebut “aha moment.” Meski ia datang seperti sekelebat cahaya, tapi sebenarnya bisa diuraikan secara panjang lebar. Isaac Newton, misalnya, memang menangkap ilham sekilas ketika ia melihat apel yang jatuh. Dalam sekejap ia menyadari sebuah kebenaran. Meski peristiwa itu sangat singkat, tetapi Newton kemudian berhasil membangun pengetahuan baru yang melandasi seluruh perkembangan ilmu pengetahuan setelahnya, yakni teori grafitasi. 

24/08/2010 | Diskusi | Komentar (6) #

Membubarkan FPI, Mungkinkah? Reportase Diskusi Kampus di Malang

Oleh Edi Purwanto

Indonesia yang terkenal dengan penduduk muslimnya terbesar di dunia seolah tidak memberikan jawaban bahwa Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian dan cinta kasih. Apalagi akhir-akhir ini sering kita mendengar dan bahkan melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kekerasan berbasis agama sudah semakin sering dilakukan, baik oleh individu terlebih kelompok. Tindakan-tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang cenderung main hakim sendiri menjadi salah satu contoh nyata betapa memang kekerasan telah semakin membudaya di diri sebagian bangsa ini. 

23/08/2010 | Diskusi | Komentar (10) #

Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal 1431 H “Mengaji Pada Para Sufi Liberal”

A. Mengaji Tasawuf Abu Yazid al-Busthami. Narasumber: Novriantoni Kahar & Media Zainul Bahri, Moderator: Saidiman. Kamis, 12 Agustus 2010. Jam 19.00.21.30.

B. Mengaji Tasawuf Suhrawardi al-Maqtul. Narasumber: Ulil Abshar-Abdalla & Mohammad al-Baqir. Moderator:  Taufik Damas. Kamis, 19 Agustus 2010. Jam 19.00-21.30 WIB.

C. Mengaji Tasawuf Abu Manshur al-Hallaj. Narasumber: Mohammad Guntur Romli & KH Husein Muhammad. Moderator: Malja Abrar. Selasa, 24 Agustus 2010. Jam 19.00-21.30 WIB.

Diskusi dimulai dengan acara buka puasa bersama di Teater Utan Kayu (TUK) Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Timur

16/08/2010 | Diskusi | Komentar (13) #

Negara Harus Menjamin Kebebasan Beribadah, Beragama dan Berkeyakinan

Tanggung jawab ini dapat dilakukan dengan membuat aturan hukum dan kebijakan yang menciptakan rasa aman bagi warga negara dalam melaksanakan ibadah, agama dan keyakinannya. Ini merupakan amanat hukum dan HAM, yaitu bahwa negara mempunyai kewajiban pokok terhadap Hak Asasi warga negara yaitu: melindungi (to protect), memenuhi (to fulfill) dan menghormati (to respect) hak asasi warga negara, dimana hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan turut di dalamnya.

16/08/2010 | Pernyataan Pers | Komentar (10) #

Puasa dalam Kritik al-Ghazali

Oleh Novriantoni Kahar

Maksud terdalam dari puasa—kata al-Ghazali lebih lanjut—adalah pengosongan (al-khawaa’) dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Lewat cara seperti itulah seseorang mampu beralih dari alam fisikal menuju alam spiritual. Dengan peralihan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini mampu mencapai level takwa. Pengurangan intensi pada aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.

16/08/2010 | Editorial | Komentar (13) #

Kembali ke Negara Mula-mula?

Oleh Saidiman Ahmad

Tilly menyebut peran sentral kelompok kriminal dalam pembentukan negara. Pada mulanya adalah kelompok kriminal atau gengster. Ada kebutuhan koalisi antar gengster untuk menjaga wilayah teritori dari serangan geng lain. Pada tingkat yang lebih besar, itulah yang kemudian menjadi negara. Mereka yang kuat kemudian memperoleh apa yang disebut legitimasi. Sementara yang kecil dan lemah akan disebut sebagai pemberontak.

16/08/2010 | Editorial | Komentar (5) #

Surat untuk Para Petinggi Negeri

Oleh Djohan Effendi

Pernahkan kita membayangkan bagaimana kalau nasib yang dialami warga negara yang teraniaya dan terzalimi ini justru menimpa kita sendiri? Pernahkan kita membayangkan betapa perihnya hati kita jika kebebasan kita untuk beriman dan beribadah menurut ajaran yang kita yakini akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat kelak direnggut hanya karena kita berbeda dengan keyakinan mayoritas?

10/08/2010 | | Komentar (26) #

Khadijah Tak Berpuasa Ramadan

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. 

05/08/2010 | Editorial | Komentar (30) #

Membumikan Gagasan “Civil Islam”

Oleh Sumanto Al Qurtuby

Di tengah maraknya gerakan “uncivil Islam” yang anti-demokrasi, anti-minoritas, dan anti-pluralisme dewasa ini seperti dilakukan oleh kaum Salafi-Wahabi, dan di tengah berbagai aksi “kekerasan berbaju agama” yang dilakukan secara istiqamah oleh kelompok “Islam ekstrim”, maka umat Islam harus bersatu membangkitkan sekaligus membumikan gagasan “civil Islam” yang demokratis, toleran-pluralis, damai, inklusif, serta peka terhadap kemajemukan bangsa. 

04/08/2010 | Kolom | Komentar (8) #
Halaman: 1 dari 113  1 2 3 >  Last »